Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Ingin Bertemu Karin


__ADS_3

Disentuhnya bahu wanita itu. Theresia tersentak. Ia bagaikan tersengat arus listrik. Perlahan dia mengambil sikap menjauh. Rosa yang jauh lebih banyak makan asam garam kehidupan berusaha  memahami sikap putri orang yang dahulu sangat dihormatinya itu.


"Kalau di hatimu masih tersimpan rasa tidak puas, katakan saja semuanya sekarang, There. Mumpung Tante masih berada di sini. Jadi semuanya bisa kita diskusikan bersama hingga mencapai titik temu," ucap wanita setengah baya itu bijak.


Theresia menggeleng. "Kata-kata saya tadi sudah cukup mewakili isi hati saya, Tante. Sekarang silakan Tante yang bicara. Kepala saya pening sekali tadi. Pertanda bahwa saya harus mengendalikan emosi," jawab wanita itu menjelaskan.


Rosa manggut-manggut mendengar penuturan Theresia. Lalu wanita itu bercerita tentang kedatangan Jonathan ke kantornya untuk memberitahukan hubungan dekatnya dengan Karin.


"Aku sendiri sangat terkejut mendengarnya, There. Tak pernah kuduga hubungan Pak Jon dan Karin akan berkembang menjadi percintaan. Dulu aku merekomendasikan Karin untuk menggantikan posisiku sebagai sekretaris Pak Jon, karena menginginkan anak itu memperoleh masa depan yang lebih baik. Pak Jon bos yang baik dan sangat murah hati. Daripada orang lain yang tak dikenal menggantikan posisiku, kan lebih baik Karin saja yang merupakan keponakanku sendiri. Tak pernah kuduga, rupanya kenyataan berkata lain...."


Mata Rosa berkaca-kaca. "Karin sudah menjadi yatim piatu semenjak remaja. Akulah satu-satunya sanak keluarganya yang mampu secara finansial untuk mengasuhnya. Sudah kuanggap dia seperti putri kandungku sendiri. Dan benar katamu tadi, There. Almarhum ayahmu memberikan santunan yang tidak sedikit atas kematian orang tua Karin. Kami benar-benar berterima kasih...."


Kini pipinya mulai basah. Namun wanita itu tetap melanjutkan ucapannya. "Selama ini Karin selalu bersikap terbuka dalam segala hal terhadapku. Dia sudah menganggapku sebagai ibu kandungnya sendiri. Hanya satu yang ditutupinya dariku. Yaitu hubungan dekatnya dengan suamimu, There.... Aku sendiri tak pernah menduganya. Selama ini tak henti-hentinya  kuberi dia wejangan agar menjaga profesionalitas dalam bekerja. Sebagaimana diriku dulu dengan mendiang ayahmu. Tak pernah terjadi hal-hal yang menyimpang di antara kami. Hubunganku dengan beliau murni profesional atasan dan bawahan...."


Rosa meraih tisu di atas meja makan untuk menghapus air matanya. Theresia diam saja memperhatikannya. Rasa pening di kepalanya berangsur-angsur menghilang, namun dia masih butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. Kalau dipaksakan bicara, wanita itu kuatir akan menjadi emosional  dan rasa pening itu akan datang kembali.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf, There. Bukan maksudku menjembatani hubungan suamimu dengan keponakanku sendiri. Semua ini di luar kuasaku...."


Di luar kuasamu..., cibir Theresia sinis dalam hati. Itu juga alasan yang dikemukakan Mas Jon waktu memberitahukan kehamilan perempuan sundal itu padaku! Di luar kuasa kalian.... Enak sekali mengucapkannya! Memangnya kalian semua tidak bisa berpikir apa? Otaknya memang ditaruh di mana? Sudah jelas-jelas status masih suami orang, tapi sudah berhubungan intim dengan perempuan lain. Dasar tidak tahu malu!


Tapi kenapa aku masih menginginkan laki-laki itu? keluhnya dalam hati. Bahkan Papa sendiri sudah mengatakan bahwa hati Mas Jon sudah bukan untukku. Tapi...aku benar-benar tak sanggup merelakannya bersanding dengan perempuan lain. Benar-benar tak sanggup!


"Aku sudah menasihati keponakanku agar mempertimbangkan kembali hubungannya dengan suamimu, There. Aku tidak pernah merestui mereka. Namun aku juga tak sanggup melarang Karin. Dia sudah dewasa dan berhak menentukan pilihannya sendiri...."


"Meskipun itu berarti mengorbankan kebahagiaan orang lain?" tanya Theresia gemas. Dia mulai tak sabar mendengarkan penuturan Rosa yang menurutnya sangat bertele-tela.


"Tentu saja Tante lebih membela keponakan sendiri daripada istri yang teraniaya seperti saya!"


Rosa menghela napas panjang. Percuma rasanya membuat anak ini mengerti saat ini, pikirnya berusaha memaklumi. Dia sekarang sedang diliputi duka yang teramat dalam akibat ditinggalkan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Ayah kandung dan ibu sambungnya. Tentu saja dia bermaksud mempertahankan satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa, yaitu sang suami tercinta.


"Terima kasih sudah memberitahuku tentang kehamilan Karin. Anak itu pasti tak berani mengungkapkannya padaku meskipun lama-lama akan ketahuan juga. Maafkan Tante, There. Bukannya Tante bermaksud egois. Tapi di dalam rahim Karin sekarang sudah ada benih-benih cintanya dengan Pak Jon. Ini kenyataan yang harus kau terima dengan lapang dada, Nak...."

__ADS_1


Theresia mendelik. Dia tak terima dengan perkataan Rosa yang dianggapnya berat sebelah itu. "Apakah Tante sedang meminta saya untuk mengikhlaskan hubungan terlarang mereka begitu saja? Hanya karena keponakan Tante sudah hamil? Enak saja! Saya tidak terima. Benar-benar tidak terima!"


Rosa mendesah. "Lalu apa yang kau inginkan, There? Tante tidak melihat jalan lain kecuali mengikhlaskan hubungan Pak Jon dengan Karin. Dalam hal ini ada seorang anak tak berdosa yang akan menjadi korban. Tegakah kau melihat dia menderita akibat perbuatan terlarang orang tuanya?" tanyanya gundah.  Dipandanginya Theresia dengan tatapan memohon.


Theresia menggeleng kuat-kuat. "Saya mempunyai rencana yang jauh lebih baik, Tante. Akan menjadi win-win solution bagi semua pihak. Karin takkan dicap sebagai pelakor dan anak dalam kandungannya akan baik-baik saja. Semua itu bisa dicapai apabila Tante mendukung rencana saya."


"Rencana apa itu, There?" tanya Rosa penasaran. "Kalau memang membawa kebaikan bagi semua pihak, tentu saja akan kudukung dengan sepenuh hati."


Tiba-tiba pintu ruangan VIP itu terbuka. Muncullah pelayan membawa kantung kresek yang di dalamnya terdapat kotak-kotak berisi hidangan yang tadi minta dibungkus.


"Terima kasih," ucap Theresia pada pelayan tersebut. Ia lalu memberikan kartu kreditnya pada perempuan itu untuk membayar tagihan. "Ini langsung digesek aja," pintanya singkat. Pelayan mengangguk tanda mengerti. Ia menerima kartu tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Dengan segera ditinggalkannya ruangan itu dan pintu ditutup kembali.


Theresia menatap Rosa begitu tajam hingga perempuan itu merasa sedikit risih. "Saya pegang kata-kata Tante tadi. Bahwa Tante akan mendukung rencana saya jika membawa kebaikan bagi semua pihak. Saya anggap itu sebagai bentuk penyesalan Tante yang secara tidak langsung telah menyeret suami saya pada hubungan yang tidak semestinya dengan keponakan Tante."


Rosa mengangguk dengan berat hati. Sejujurnya ia memang merasa turut bertanggung jawab terhadap cinta segitiga yang terjadi di antara Jonathan, Theresia, dan Karin.

__ADS_1


Wanita di hadapannya tersenyum puas. Dia berkata dengan penuh percaya diri, "Kalau begitu, bisakah Tante mempertemukan saya dengan Karin secepatnya? Saya ingin bicara dari hati ke hati dengan gadis itu. Akan lebih baik lagi jika Tante Rosa ikut hadir dalam pertemuan itu. Jadi bisa bertindak sebagai penengah apabila terjadi keributan."


__ADS_2