
Karin sudah mempersiapkan jawabannya. "Itu karena aku ternyata masih mencintainya, Mas. Akhirnya kusadari bahwa dirimu cuma sekadar pelampiasan saja bagiku. Untuk melupakan Eric yang telah begitu menyakitiku. Maafkan aku...."
"Aku tak percaya! Kesucianmu bahkan kau serahkan padaku. Bagaimana mungkin kau menganggapku cuma sebagai pelampiasan saja?!"
Gadis itu mulai tersudut. Namun dia berusaha tetap tenang. "Justru karena aku tak bisa melupakan Eric, maka kurelakan kehormatanku," katanya menjelaskan. "Supaya aku tak lagi merindukannya. Tapi ternyata waktu bertemu dia kembali, aku menyadari bahwa semua yang kulakukan untuk melupakannya sia-sia belaka. Aku...aku masih mencintainya...."
Air mata mulai keluar dari pelupuk mata gadis itu. Dia telah mengucapkan kebohongan terbesar dalam hidupnya. Hatinya sakit sekali.
Jonathan ternganga melihatnya. "Jadi...semua yang kita jalani selama ini palsu? Kau hanya berpura-pura mencintaiku? Pantas akhir-akhir ini kau menjauhiku! Rupanya kau sudah bersama kembali dengan tambatan hatimu! Kau...kau benar-benar mengerikan, Karin! Mengerikan!"
Laki-laki itu bangkit berdiri. Ia mengacung-acungkan jari telunjuknya pada Karin, seolah-olah gadis itu adalah terdakwa, sedangkan ia sendiri adalah jaksa penuntut umum. Saat ini Jonathan benar-benar mengharapkan kehadiran Tuhan sebagai hakim yang adil untuk menghukum perempuan yang telah mempermainkan perasaannya ini.
"Tangisanmu itu menjijikkan sekali! Buat apa kamu berpura-pura sedih telah menyakitiku? Buat apa?! Dasar ular berbisa! Dari luar saja pembawaanmu seperti gadis baik-baik, tapi hatimu ternyata culas sekali! Aku sungguh menyesal telah mengenalmu, Karin. Menyesal!"
Jonathan berteriak-teriak histeris bagaikan orang kesurupan. Hatinya terluka sekali. Disangkanya Karin adalah cinta terakhir dalam hidupnya. Dikiranya hari-hari indah yang mereka lalui itu nyata adanya. Ternyata semuanya itu palsu. Palsu!
Tiba-tiba suatu hal yang sangat penting mengusik benaknya. Ditatapnya tajam Karin yang masih duduk diam menahan tangisnya.
__ADS_1
"Kalau kau mau pergi, silakan! Takkan kuhalang-halangi. Aku tak suka memaksa orang lain untuk bertahan bersamaku. Tapi aku menghendaki janin yang kau kandung. Dia darah dagingku! Lahirkan anak itu dengan selamat, lalu enyahlah dirimu jauh-jauh dari kehidupanku! Aku tak peduli kau akan kembali bersama Eric atau laki-laki lain yang dapat kau tipu dengan lagak-lagumu yang sok suci!"
Raut wajah Karin tiba-tiba berubah. Dia menatap nanar pria yang tengah meluapkan emosi dengan memaki-maki dirinya itu. Bibirnya terbuka dan mengucapkan kalimat yang bagaikan guntur menggelegar di telinga Jonathan, "Aku telah melakukan aborsi kemarin sepulang dari pameran...."
Laki-laki di depannya ternganga. Seketika matanya berkaca-kaca. Dihempaskannya tubuhnya kembali di sofa. Ditangkupkannya kedua telapak tangannya pada dahinya. Kepalanya terasa berat sekali. Perasaannya sungguh terpukul. Sampai berdarah-darah rasanya. Ingin sekali dihajarnya perempuan ini. Perempuan yang dulu dikiranya akan menemani dirinya sepanjang sisa hidupnya. Perempuan yang berhasil memberikannya keturunan. Perempuan yang.... Aaargh! Pada akhirnya sungguh membuatnya kecewa. Meremukkan hatinya sampai hancur berkeping-keping....
Air mata Jonathan mengalir begitu saja tak tertahankan. "Kalau kau...ah...," katanya sedih sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau kau memang tak menghendaki anak itu...kenapa tidak kau katakan saja sejujurnya? Aku bersedia mengasuhnya seorang diri. Takkan sekalipun aku menyusahkanmu. Kenapa kau tega membunuhnya, Karin? Dia darah dagingmu sendiri! Kau...kau memang perempuan jahanam! Dosamu sungguh tak terampuni!"
Sang gadis menjawab dengan terbata-bata, "Aku...aku tak kuat menjalani hari-hariku dalam kondisi mengandung. Meriang, mual, muntah.... Semuanya itu benar-benar mengganggu," dalihnya berpura-pura. "Akhirnya kusadari aku belum siap menanggung beban seberat ini. Umurku masih muda. Masa depanku masih terbentang luas. Aku masih ingin hidup bersenang-senang tanpa beban. Eric juga mendukung keputusanku ini."
Karin bangkit berdiri. Ia melangkah sampai di depan pintu. Dilihatnya Jonathan membuka pagar dengan kasar. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya keras sekali. Beberapa saat kemudian mobil Sigra hitam itu meluncur sangat kencang meninggalkan rumahnya.
Gadis itu meraih ponselnya dan menelepon seseorang. "Saya telah menepati janji. Suami Anda sudah pergi untuk selamanya dari hidup saya. Selanjutnya jagalah dia baik-baik," ucapnya sendu.
Telepon langsung dimatikannya tanpa menunggu reaksi dari lawan bicaranya. Gadis itu lalu menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Tangisannya terdengar begitu memilukan. Mina dan Eric yang sejak tadi mendengarkan pertikaian Karin dan Jonathan muncul. Mereka menghampiri gadis yang perasaannya tengah terluka itu.
"Karin...," ucap Minat dengan suara parau. Tak tega rasanya menyaksikan gadis yang sudah dianggapnya bagaikan adik sendiri ini menderita seperti ini. "Yang sabar, ya. Jangan kuatir. Aku dan Eric akan selalu mendukungmu...."
__ADS_1
Kedua tangan Karin yang menutupi wajahnya terbuka. Ditatapnya Mina dengan sendu. "Tolong jaga Mas Jonathan ya, Mbak. Pastikan dia nanti hidup bahagia dengan anak kami dan Ibu Theresia."
Mina menghela napas panjang. Dia tak menjawab karena tak berani menjanjikan apapun. Yang dapat dilakukannya adalah menyediakan bahunya sebagai tempat Karin bersandar selama menanti saat-saat kelahiran buah hati yang akan diserahkannya pada istri sah sang kekasih.
Sementara itu Theresia yang sejak tadi mengintai rumah Karin dari kejauhan tersenyum puas. Dia telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa suaminya meninggalkan rumah sang kekasih dengan kondisi marah luar biasa. Ditambah telepon dari gadis itu barusan yang menyatakan bahwa Jonathan telah pergi dari kehidupannya untuk selama-lamanya.
Rencanaku sudah separuh berhasil, pikirnya senang. Sekarang waktunya untuk pulang dan beristirahat. Besok pagi akan kujalankan strategi selanjutnya.
Theresia menyalakan mesin mobilnya. Dikemudikannya mobil sedan berwarna hitam dan berkaca riben gelap itu meninggalkan rumah yang menjadi titik balik bersatunya dirinya kembali dengan sang suami. Mobil itu tak dikenali Jonathan karena memang sengaja disewa istrinya dari rental mobil. Wanita itu tak ingin ada cacat cela sedikit pun dari rencananya. Dia tahu suaminya orang yang detil dan tak mudah dimanipulasi.
Dan hal itu rupanya disadari pula oleh Karin. Gadis itu sengaja memanfaatkan Eric untuk menimbulkan kecemburuan Jonathan sehingga akal sehatnya tak lagi setajam biasanya. Rasa cemburu dan kepedihan akibat dikhianatilah yang akhirnya membuat Karin berhasil membuat laki-laki itu percaya bahwa dia telah menggugurkan kandungannya....
Pria itu tidak tahu bahwa dua jam setelah kepergiannya, Karin mengalami pendarahan. Untunglah Mina memutuskan untuk menginap malam itu demi menemani gadis malang tersebut. Dengan sigap diantarkannya Karin yang pucat pasi ke rumah sakit ibu dan anak.
Gadis itu segera dirawat secara intensif. Untunglah pendarahannya dapat dihentikan. Kandungannya dinyatakan tidak apa-apa. Namun si ibu hamil itu harus menjalani rawat inap selama dua hari supaya dapat beristirahat sepenuhnya. Sekeluarnya dari rumah sakit, dia tetap harus menjalani bed rest sedikitnya dua minggu. Sejak saat itu Karin menghilang dan tak terdengar kabarnya lagi....
***
__ADS_1