
"Halo, There. Kamu cantik sekali memakai gaun itu," puji Jonathan ketika sang istri tiba di apartemennya. Theresia memang tampil begitu menawan mengenakan gaun tanpa lengan berwarna merah marun dengan kombinasi hitam yang elegan.
Gaun tersebut begitu pas melekat pada tubuhnya yang ramping. Pakaian barunya itu dibelinya siang tadi di mal dan langsung dibawanya ke laundry eksekutif yang menyediakan layanan premium dalam waktu dua jam saja.
"Terima kasih, Mas," jawab wanita itu senang. Dipandanginya sang suami yang menatap takjub ke arahnya. "Kamu bawa apa itu, kok banyak sekali? Sini kubantu," kata sang tuan rumah. Dengan sigap diambil-alihnya seluruh barang bawaan tamunya dan diletakkannya di atas meja makan.
Pandangan Theresia terarah pada sebuah cheese cake bertaburan buah stroberi segar di atas meja tersebut. Ada dua buah lilin dengan angka tiga dan empat berdiri dengan manis di atas cake. Wanita itu terharu sekali. Rupanya sang suami masih mengingat kue kesukaannya.
"Oya, kuucapkan lagi selamat ulang tahun, ya. Kudoakan semua yang terbaik untukmu, There," ucap sang tuan rumah tulus sembari mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Wanita di hadapannya menyambut uluran tangan itu. Ingin sekali rasanya dia memeluk laki-laki itu, namun akal sehatnya mengatakan bahwa ini bukan waktu yang tepat. Jangan sampai Jonathan mencurigai maksud kedatangannya yang sesungguhnya.
"Terima kasih banyak, Mas. Aku senang sekali kau mau menemaniku merayakan ulang tahun. Kamu tahu sendiri, aku sudah membatasi lingkungan pertemananku. Sekarang hanya Mas Jon yang benar-benar kuanggap sebagai sahabat sejatiku."
Jonathan tersenyum senang. Dia bersyukur istrinya sudah benar-benar lepas dari geng sosialita yang dulu sering memprovokasinya dengan pamer ini-itu yang tak ada artinya. Syukurlah sekarang There sudah bisa memilah-milah mana yang baik dan tidak bagi dirinya, batinnya lega.
"Kamu bawa makanan apa saja ini? Banyak sekali. Ada wine juga...."
"Hehehe..., itu iseng aja, Mas. Buat minum dikit-dikit. Nggak apa-apa, kan?"
"It's ok," jawab laki-laki itu tanpa curiga. "Kebetulan aku sudah lama nggak minum wine. Dulu waktu masih bekerja di kantor Papa kan banyak melobi pejabat dan pengusaha-pengusaha papan atas. Jadi sering sekali minum beginian. Sekarang pangsa pasar bisnisku sudah berbeda. Tidak terlalu membutuhkan lobi-lobi seperti itu. Jadinya ya jarang sekali minum wine."
"Kalau begitu, nanti dihabiskan saja. Mumpung ini hari istimewa. Masih sanggup kan, habisin sebotol?" tantang Theresia dengan mata berbinar-binar. "Aku nanti minum sedikit. Mas kan tahu aku dianjurkan psikiater untuk menghindari minum minuman beralkohol. Kalau sedikit-sedikit sih, nggak apa-apa."
__ADS_1
Jonathan manggut-manggut. Dia lalu menanyakan sesuatu, "Oya, kamu masih rutin konseling dengan psikiater yang dulu itu?"
Istrinya menggeleng. "Sudah lama nggak. Aku sudah mampu menyelami terapi meditasi, Mas. Rasanya tenang sekali. Cuma memang kadang-kadang kalau sedang ada masalah berat, sakit kepalaku suka kambuh. Ya waktu itulah kuminum obat pereda nyeri dari psikiater. Tapi sudah jarang sekali. Melakukan meditasi secara rutin setiap hari benar-benar obat yang mujarab bagi kejernihan pikiran dan batinku."
Sang suami mengangguk-angguk setuju. "Kulihat kamu juga semakin dewasa, There. Sikap dan tindak-tandukmu semakin bijaksana. Aku turut bersyukur kamu akhirnya memperoleh kedamaian."
Pasangan suami-istri itu saling berpandangan. Jonathan tampak tulus sekali tersenyum pada istrinya. Namun Theresia dapat merasakan bahwa senyuman itu lebih mengarah pada persahabatan daripada cinta kasih seorang pria terhadap lawan jenisnya.
Sabar, There. Sabar..., batinnya menenangkan dirinya sendiri. Tinggal sedikit lagi tujuanmu akan tercapai. Slow but sure....
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan. Jonathan tertawa keras sambil menepuk-nepuk bagian tengah tubuhnya yang rata itu. "Wah, kamu nggak sabar rupanya mau makan masakan enak yang dibawa tamu spesial kita," selorohnya bergurau pada perutnya sendiri.
Theresia terkekeh geli. Dia langsung berkata, "Aku cuci tangan dulu ya, Mas. Terus buka bungkusan-bungkusan itu. Hari ini kita pesta mie goreng dan seafood campur favoritmu. Kurasa kamu sudah lama nggak makan itu karena lokasi restorannya kan jauh dari sini."
Tiba-tiba ucapannya terhenti. Laki-laki itu merasa tak nyaman melanjutkannya. Sesungguhnya dia tak pernah lagi pergi ke restoran seafood tersebut semenjak angkat kaki dari rumah Theresia.
"Semenjak kamu tinggal di apartemen ini...," jawab sang istri mencairkan suasana. Dia tersenyum manis sekali. "Udah, ah. Aku juga sudah lapar. Sebentar cuci tangan dulu."
Jonathan memperhatikan istrinya yang tengah membersihkan tangannya di kitchen sink. Kepergian Papa dan Tante Mila benar-benar membawa perkembangan yang signifikan terhadap kepribadian There, batinnya senang. Dia kini lebih perhatian terhadap orang lain. Bahkan di hari ulang tahunnya sendiri There malah membeli menu seafood yang sebenarnya bukan kesukaannya.
Untung saja aku tadi sempat membelikan cheese cake favoritnya, cetus pria itu bersyukur dalam hati. Setidaknya ada hidangan yang digemari There di hari ulang tahunnya selain mie goreng.
__ADS_1
Selesai mencuci tangan, Theresia mulai membuka bungkusan-bungkusan yang dibawanya dan memindahkan isinya pada mangkuk-mangkuk besar yang sudah disediakan Jonathan di atas meja.
Setelah semuanya tertata dengan manis, Jonathan mendekatinya dan berkata, "Ayo tiup lilin dulu, There. Biar kupotret buat kenang-kenangan."
Sang istri mengangguk. Diperhatikannya pria itu memantik korek api untuk menyalakan lilin berangka tiga puluh empat di atas cheese cake. "Make a wish dulu baru tiup lilin," kata Jonathan mengingatkan.
Theresia mengangguk. Dia menutup matanya. Terima kasih atas perayaan ulang tahun yang indah ini, Tuhan. Kumohon persatukan aku dengan suamiku malam ini. Amin, doanya dalam hati.
Jonathan yang tak merasakan firasat apapun dengan tenang memotret istrinya ketika berdoa, meniup lilin, dan tersenyum menghadap kamera ponselnya.
"Mas Jon punya tongsis?" tanya Theresia tiba-tiba.
Suaminya itu mengangguk. "Ada. Tapi jarang dipakai," jawabnya datar. Dulu aku sering memakainya untuk berfoto dengan Karin, keluhnya dalam hati. Tapi semua foto itu sudah kumusnahkan supaya aku dapat melupakan perempuan itu sepenuhnya.
"Kita foto berdua, yuk," ajak Theresia dengan wajah berseri-seri. "Buat kenang-kenangan."
Jonathan yang tak merasa keberatan mengangguk setuju. Dia lalu masuk ke dalam kamar tidurnya. Tak lama kemudian tongkat panjang berwarna putih yang gunanya untuk memotret diri sendiri dari jarak agak jauh itu sudah berada di tangannya.
Kedua anak manusia yang pernah saling mencintai itu lalu duduk berdampingan sambil tersenyum lebar. Theresia berusaha menahan keinginan hatinya untuk mengecup pipi sang suami yang begitu dekat dengan wajahnya.
Sabar, There. Sabar..., ucapnya kembali dalam hati. Bersikaplah biasa. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan Mas Jon-mu. Kalau tidak, rencanamu bisa gagal.
__ADS_1
"Cheese!" seru Jonathan memberi aba-aba. Laki-laki itu memotret beberapa kali dirinya beserta istri yang tengah tersenyum lebar. Theresia merasa puas. Terima kasih, Tuhan, batinnya penuh sukacita. Malam ini akan menjadi saat bersejarah bersatunya kembali diriku dengan suami tercinta.
***