
“Wah!” komentar Jonathan terkejut.
Karin lalu bercerita terus terang mengenai perselingkuhan yang dilakukan mantan pacarnya itu. Juga kenyataan bahwa janin yang dikandung wanita selingkuhannya ternyata bukan darah daging Eric.
“Tragis sekali nasib mantan pacarmu itu, Rin. Karena kekhilafan sesaat, akhirnya kehilangan gadis yang dicintainya. Apakah kamu tidak terpikir untuk memaafkan dan kembali padanya?”
“Saya sudah lama memaafkannya, Pak. Tapi untuk kembali menjalin hubungan dengannya sudah nggak mungkin.”
“Kenapa?”
“Saya sudah tidak mempercayainya lagi.”
“Karin, di dunia ini nggak ada orang yang sempurna. Eric sudah mendapatkan hukuman dengan ditipu oleh perempuan selingkuhannya itu. Dia layak memperoleh kesempatan kedua. Siapa tahu pertemuanmu dengannya di mal dan kantor properti sebenarnya merupakan cara Tuhan untuk mempersatukan kalian kembali.”
“Saya sudah tidak mencintainya, Pak.”
“Oh, secepat itukah, Rin? Bukankah kalian baru putus beberapa bulan yang lalu?”
“Jatuh cinta lagi kan tidak mengenal waktu dan tempat, Pak.”
“Lho, kamu udah jatuh cinta lagi? Sama siapa?”
Karin jadi gelagapan sendiri sekarang. Aduh, pertanyaan macam apa ini? Salahku sendiri keceplosan tadi, keluhnya dalam hati. Pelipisnya mulai berkeringat. Posisi duduknya menjadi agak canggung. Jonathan yang melirik di sampingnya jadi geregetan sendiri. Dia menyembunyikan perasaan senangnya dalam hati.
Tak terasa mobil yang dikemudikannya sudah sampai di depan pabrik catnya. Ia memarkirnya di tempat parkir khusus untuk direktur utama. Akhirnya pasangan bos dan sekretaris itu keluar dari dalam mobil dan membiarkan pertanyaan Jonathan tadi menggantung tanpa memperoleh jawaban.
***
__ADS_1
"Pengacaraku itu perempuan, Bro,” kata Mina ketika ditanyai Jonathan di pusat kebugaran D-Mall. Ada Bastian juga seperti biasa berlatih bersama mereka.
“Nggak apa-apa, Min. Udah ditolak tiga pengacara laki-laki dengan alasan macam-macam, capek banget! Pengacara perempuan no problem, deh,” cetus Jonathan pasrah.
“Ya udah, sekarang kukirimkan no WA-nya ke nomormu, ya. Biar besok pagi kamu kontak dia sendiri. Bilang aja tahu dari Mina Sunyoto. Siapa tahu dikasih diskon. Hahaha….”
“Thanks ya, Min.”
“Your welcome.”
Bastian lalu menyeletuk. “Kamu sudah benar-benar mantap dengan keputusanmu, Bro? Nggak nyesel?”
Yang ditanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Ini bukan pertama kalinya aku berniat menceraikan There. Tiga bulan lalu aku mengurungkan niatku demi menghormati maksud baik ayah mertuaku untuk merukunkan kami berdua kembali. Kukira usahanya itu berhasil. There sudah berubah perangainya dan perkawinan kami masih bisa diselamatkan. Ternyata…yah, kamu lihat sendiri kan Min, bagaimana dia dengan jahatnya mendorong Karin di acara hari Sabtu kemarin? Aku muak sekali melihatnya.”
Mina menjadi bengong mendengar penuturan sahabatnya itu. “Lho, Bro. Istrimu kan sebenarnya bermaksud menyerangku, tapi dihalang-halangi Karin. Makanya sekretarismu itu terdorong dan jatuh ke lantai. Berarti kamu menceraikan There karena marah dia sudah menyakiti Karin?” tanya wanita yang rambutnya masih hitam legam dan panjang lurus akibat hair extension itu.
“Pantas waktu dulu kutanya apa nggak terpikir untuk bercerai, kamu selalu bilang nggak tegalah, udah nikah secara Katolik nggak boleh cerailah, bla-bla-bla. Tapi sejak ketemu Karin, kamu jadi gampang banget mengucapkan kata keramat itu, Bro. Hebat banget ya, gadis itu. Pesonanya sudah berhasil menjerat hatimu. Ternyata dugaan Mimin dulu benar. Tos!” seru Bastian seraya mengajak Mina saling memukulkan kedua telapak tangan mereka.
Sahabatnya itu menyambutnya dan lagi-lagi mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Jonathan diam saja tak menanggapi. Hanya wajahnya tampak memerah digoda terus-terusan oleh kedua teman karibnya itu.
Sepertinya mereka berdua benar, akunya dalam hati. Pesona Karin sudah menawan hatiku, bahkan mungkin sejak pertama kali aku melihatnya. Menilik sikapnya tadi sore di dalam mobil, aku pun yakin dia mempunyai perasaan yang sama denganku, pikirnya penuh percaya diri.
“Saranku, Bro,” cetus Mina tiba-tiba. “Tuntaskan dulu perceraianmu dengan Theresia, baru melakukan pendekatan pada Karin. Dia gadis baik-baik. Jangan sampai Karin dianggap sebagai orang ketiga dalam biduk rumah tanggamu. Kasihan….”
Jonathan manggut-manggut tanda mengerti. Mina lalu mengerling nakal. “Lihat itu, Bas. Bro Jon mengiyakan omonganku barusan. Berarti dia memang lagi falling in love sama sekretarisnya sendiri. Hahaha…, ayo tos lagi!”
Kini giliran Jonathan yang langsung memukulkan telapak tangannya pada telapak tangan Mina. “Iya, iya. Kurasa aku akhirnya harus mengakui memang menaruh hati pada Karin. Tapi sungguh, aku nggak sengaja melakukannya. Ini benar-benar di luar kehendakku.”
__ADS_1
Bastian nyengir geli mendengar pengakuan temannya sejak kecil itu. “Namanya cinta ya kebanyakkan nggak disengaja, Bro. Bisa datang kapan saja, dimana saja, dan sama siapa saja. Tergantung orang yang merasakannya mau meneruskannya apa nggak. Apalagi kalau statusnya sudah sold out, alias menikah. Tapi kamu beneran belum menjalin hubungan apapun dengan sekretarismu itu, kan? Cuma menyimpan perasaan dalam hati saja?” tandas laki-laki itu seraya menatap tajam Jonathan.
Sahabatnya itu mengangguk membenarkan. “Ya sudah kalau begitu,” pungkas Bastian seraya mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang dibawanya. Lalu diminumnya sebotol air mineral untuk melepaskan dahaganya akibat sudah berlatih kebugaran selama satu jam.
“Menurutmu sendiri gimana, Min?” tanya Jonathan seraya berpaling pada sahabat perempuannya.
“Gimana apanya?”
“Aku punya peluang nggak mendekati Karin?”
“Heh? Kok nanya aku?”
“Kamu kan agak dekat dengannya akhir-akhir ini. Sampai dipercaya merias dirinya di hari pernikahan tantenya. Masa dia nggak pernah ngomong apa-apa tentang aku?”
“Ya ampun, Jon! Kamu ini udah bener-bener kesengsem rupanya sama sekretarismu itu. Aku bilang apa dulu. Kalau aku jadi istrimu kularang deh, kamu punya sekretaris kayak Karin!”
“Sudah terlambat! Waktu itu Karin udah kuterima kerja. Yah, mungkin udah jodoh dari Yang Di Atas kali, ya?”
“Gundul! Enak di kamu, nggak enak di There!”
Jonathan dan Bastian spontan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ceplas-ceplos sahabat mereka yang lucu itu.
***
Karin tidak bisa tidur malam itu. Ingatannya terngiang-ngiang akan pertanyaan Jonathan di mobil tadi sore yang tak mampu dijawabnya. “Lho, kamu sudah jatuh cinta lagi? Sama siapa?”
Gadis itu menggigit bibirnya getir. Ternyata benar kata orang. Kalau cinta sudah datang menghampiri, tak seorang pun sanggup mencegahnya. Dia sendiri tidak tahu sejak kapan mulai menaruh hati pada bosnya itu. Yang jelas semakin hari dirinya merasa semakin nyaman bekerja mengabdi pada Jonathan apalagi kalau pergi berdua saja dengannya untuk urusan pekerjaan.
__ADS_1
Dibandingkan Eric, atasannya itu memang jauh lebih tua usianya dan sebenarnya tidak lebih tampan. Namun ada pesona lain yang menarik hati gadis itu. Kesederhanaan kepribadian Jonathan di balik setelan jasnya yang mahal dan berkelas telah membuat Karin menaruh perasaan kagum yang lambat laun berkembang menjadi cinta.