Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Akhirnya Theresia Tahu


__ADS_3

“Maksudmu Karin yang tadi duduk bersamamu?”


“Definitely,” jawab Mina tangkas sambil tersenyum lebar.


Lusia manggut-manggut mengerti. “Well, meskipun umurnya masih sangat muda, tapi gadis itu kelihatannya lemah lembut dan bisa memahami orang lain. Cocok juga bersanding dengan Jonathan.”


“Betul sekali!” tandas Mina. “Kepribadiannya bertolak-belakang dengan Theresia yang manja, egois, dan suka memerintah. Jon pernah cerita kalau kehidupannya bagaikan di roller coaster waktu masih tinggal serumah dengan istrinya itu. Emosinya naik-turun terus. Jauh berbeda dengan Karin yang membuatnya merasa tenang dan damai. Makanya, buruan selesaikan kasus perceraiannya. Supaya Jon dan Karin bisa segera menikah. Hubungan mereka sudah serius, lho.”


Sang pengacara mendesah. “Aku pun tak suka menangani kasus yang sebenarnya sederhana namun sengaja diulur-ulur. Tapi pihak tergugat entah sudah menghabiskan berapa banyak uang supaya sidang tak segera dijadwalkan. Setelah setengah tahun aku baru berhasil memperoleh jadwal sidang pertama. Jadwal yang kedua masih macet juga.”


Mina tersenyum dan berkata, “Kamu seorang kuasa hukum yang hebat, Lusia. Aku sudah membuktikannya. Aku percaya kau juga akan mampu menolong sahabatku.”


Wanita di depannya tersenyum senang. “Jadi kita sudah berbaikan, ya,” cetusnya sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. “Jangan kabur lagi kalau melihatku. Tak apa-apa kita tak berteman. Tapi jangan menganggapku seperti musuh kalau bertemu.”


Mina menerima uluran tangan sang pengacara. “Ok, deal.”

__ADS_1


Kemudian kedua wanita itu keluar meninggalkan toilet yang masih sepi. Setelah pintu keluar toilet ditutup, suasana menjadi hening. Beberapa saat kemudian pintu salah satu bilik di dalam ruangan itu terbuka. Seorang wanita keluar dengan wajah bersimbah air mata. Dia adalah Theresia….


***


“Hati Jonathan sudah bukan untukmu. Hanya keajaiban yang mampu mengembalikan dia padamu. Relakanlah dia….”


Terngiang-ngiang kembali di telinga Theresia ucapan sang ayah menjelang akhir hayatnya. Apakah Papa sudah mengetahui hubungan Mas Jon dengan Karin? batinnya curiga. Apakah cuma aku sendiri yang tak menaruh syak-wasangka terhadap gadis itu? Hatiku memang sempat tergetar melihat pesonanya di hari pernikahan Tante Rosa. Tapi aku tak menganggapnya spesial karena aku lebih cemburu pada Mina yang suka berpenampilan seksi.


Putri Simon itu tepekur di depan cermin meja riasnya. Sejak ditinggalkan Jonathan, dia pindah ke rumah ayahnya dan sampai sekarang masih menetap di sini. Rumahnya sendiri dibiarkan begitu saja dihuni para pembantu, termasuk Bi Sum. Jarang sekali dia mampir ke sana karena akan membuatnya terkenang pada suaminya.


“Benarkah sudah tak mungkin bagiku untuk bersatu kembali dengan Mas Jon? Apa gunanya punya uang banyak kalau tak bisa bersama dengan orang yang dicintai?” ujarnya pedih. Dipandanginya pantulan wajahnya di cermin. Matanya sembab, wajahnya pucat. Setiap hari dia menangis akibat kehilangan ayah tercinta. Tadi ketika tak sengaja mendengar pembicaraan Mina dan Lusia, dia tak sanggup menahan air matanya yang mengalir bagaikan air bah. Bahkan begitu keluar dari toilet, diputuskannya untuk langsung pulang ke rumah. Dia berpamitan pada Mila melalui telepon. Katanya keapalanya sakit sekali, tidak sanggup melayani tamu lebih lama lagi. Dititipkannya pesan untuk Jonathan, agar memberikan penjelasan kepada orang-orang kenapa dirinya pulang lebih dulu di hari terakhir persemayaman jenazah ayahnya.


Kini perasaannya sedikit lega. Kepedihannya sudah ditumpahkan seluruhnya di dalam kamar mandi. Meskipun rasa sakit di hatinya masih terasa, namun Theresia mulai berusaha untuk berpikir jernih.


Ia kembali teringat petuah ayahnya. “Mulai sekarang kalau hendak mencapai sesuatu, gunakan cara yang elegan. Pakailah logika, jangan sekedar emosi….”

__ADS_1


“Pakai logika, pakai logika…,” ucapnya berkali-kali berusaha mencam-kan wejangan sang ayah. Kepalanya mulai terasa pening. Diambilnya obat penenang yang diberikan psikiater padanya. Diminumnya tepat sesuai dosis yang dianjurkan. Dia sudah tak lagi sembarangan mengkonsumsi melebihi kadar yang ditentukan. Dia ingin bangkit dan meraih kebahagiannya lagi. Merebut suaminya dari Karin, gadis yang tak disangka-sangkanya justru menjadi pihak ketiga dalam rumah tangganya!


***


Keesokan harinya jenazah Simon dimakamkan. Air mata putrinya sudah kering. Mila yang merangkulnya merasakan ada sesuatu yang berbeda dari anak sambungnya tersebut. Dia merasa Theresia berubah menjadi semakin dewasa semenjak kepergian ayahnya. Semoga hal ini berlangsung untuk seterusnya, doanya dalam hati.


Wanita tua itu sendiri merasakan jiwa raganya luar biasa lelah. Tiga tahun ini  dirinya berjibaku merawat suaminya sendiri. Memasakkan Simon makanan sehat setiap hari, mengingatkannya minum obat sesuai jadwal, menemaninya berolahraga ringan setiap pagi, menguatkan hatinya tatkala menghadapi persoalan berat, dan lain sebagainya. Sekarang belahan jiwanya itu telah tiada. Hatinya terasa hampa setiap bangun pagi tanpa keberadaan sang suami di sisinya.


Beginilah hidup. Tak ada yang abadi. Kalau tidak meninggalkan, ya ditinggalkan, batinnya pasrah. Mulai sekarang dia harus menunaikan amanah suaminya sebelum meninggal dunia, yaitu menjaga Theresia.


Jonathan ikut menyertai mereka di upacara pemakaman Simon. Theresia melihat kehadiran Rosa beserta suaminya juga. Tapi Karin tidak kelihatan. Barangkali dia tidak datang karena merasa tidak dekat dengan Papa. Tentu saja dia jauh lebih akrab dengan Mas Jon, batinnya cemburu. Sontak dibuangnya perasaan itu jauh-jauh. Pakai logika, There. Ingat pesan papamu. Pakai logika, jangan sekedar emosi! tekadnya bulat.


“Mas Jon, bisa bicara sebentar?” tanyanya ketika upacara pemakaman sudah selesai. Jonathan mengangguk. Diajaknya wanita yang masih berstatus istri sahnya tersebut berjalan menjauhi kerumunan.


“Ada apa There?” tanyanya ingin tahu. Ditatapnya istrinya dengan sorot mata bersahabat. Theresia menatap wajah suaminya lekat-lekat. Penampilan Mas Jon sangat bersih dan terawat, pujinya dalam hati. Dia kelihatan gagah dan berwibawa. Pantas Karin yang usianya jauh lebih muda sampai bertekuk lutut padanya. Gadis itu kelihatannya juga sangat menurut di depan suamiku. Itukah kelebihan dirinya yang berhasil merebut hati Mas Jon?

__ADS_1


“Mas,” katanya kemudian. “Mulai sekarang, bisakah kita berteman? Tolong jangan blokir nomor ponselku lagi. Aku setuju untuk bercerai. Tapi kumohon beri aku waktu untuk mengikuti sidang yang kedua. Hatiku masih berkabung atas kepergian Papa.”


Jonathan tak kuasa menolak permintaan istrinya. Dikeluarkannya ponselnya dari dalam saku celana panjangnya. Dibukanya blokir nomor ponsel Theresia tepat di hadapan wanita itu. “Terima kasih banyak, Mas,” ujar sang istri lega. “Aku berjanji takkan mengganggumu dengan telepon maupun chat WA yang tidak perlu.”


__ADS_2