Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Akhirnya Karin Tahu


__ADS_3

Jonathan terperangah. Benar kata Mimin, cetusnya dalam hati. Karin sudah bukan gadis lugu seperti dulu. Penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun telah mengasahnya sedemikian rupa sehingga menjadi seorang wanita dewasa yang tegas dan berkarakter kuat.


Sorot mata tajam gadis itu membuat hati Jonathan menciut. Dia menghela napas panjang lalu berkata, "Aku minta maaf sudah mengganggumu, Rin. Seandainya bukan karena terpaksa sekali, aku pun takkan datang menemuimu...."


Jonathan menelan ludahnya. Dia merasa tak percaya diri berhadapan dengan gadis yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Pria itu menunduk, tak berani menatap wajah Karin.


Rupanya gadis itu tersentuh dengan perkataan mantan kekasihnya. Sikapnya mulai melunak. "Duduklah, Mas," katanya datar. "Ceritakan maksud dan tujuanmu datang kemari."


Pria tersebut mengangguk. Dia lalu duduk di salah satu bangku. Sementara itu Karin menarik salah satu bangku dan duduk sekitar tiga meter di depan tamunya.


Setelah menguatkan hatinya, Jonathan mulai bertutur, "Aku tahu tempat kerjamu ini dari Mimin. Sebenarnya sudah lama aku menanyakan keberadaanmu padanya, tapi dia tak pernah bersedia memberitahuku. Baru setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri keadaan Theresia, akhirnya Mimin merasa kasihan dan mengatakan padaku bahwa kau bekerja sebagai guru bahasa Mandarin di tempat ini."


Dahi Karin berkerut. Mbak Mina merasa kasihan pada Bu Theresia? tanyanya dalam hati. Memangnya apa yang terjadi pada wanita yang telah mengambil anakku itu?


Seperti dapat membaca isi hati gadis di depannya, Jonathan melanjutkan ceritanya, "Theresia sakit parah, Karin...."


Jantung Karin seakan mau melompat mendengar berita itu. Ditatapnya Jonathan tak berkedip.

__ADS_1


"Dua tahun yang lalu dia didiagnosis terkena kanker otak stadium tiga. Kami telah mengupayakan pengobatan secara intensif baginya di Singapore. Lumayan, sel-sel kankernya dapat dihambat sehingga tidak langsung menyebar ke organ-organ tubuh lainnya. Namun lambat-laun tubuh istriku tak mampu menahan efek negatif dari kemoterapi. Tubuhnya semakin melemah. Mual, muntah, susah makan. Rambutnya rontok hingga habis sama sekali. Akhirnya kemoterapi dihentikan. Sel-sel kankernya mulai menyebar. Kini kankernya sudah stadium empat. Keadaannya...keadaannya sangat menyedihkan. Keinginan terakhirnya adalah bertemu denganmu untuk meminta maaf."


Akhirnya...akhirnya Tuhan memberikan keadilanNya, batin gadis itu puas. Bertahun-tahun aku terpaksa mengungsi ke negeri orang demi melupakan anak dan laki-laki yang kucintai. Hatiku sebenarnya berdarah-darah sewaktu memberikan Valentina pada perempuan jahat itu! Tapi terpaksa kulakukan demi masa depan anakku. Agar dia bisa hidup tenteram dalam sebuah keluarga yang dilandasi ikatan perkawinan yang sah. Tidak dihujat sebagai anak haram karena lahir di luar nikah!


"Yang dibutuhkan istrimu adalah dokter, sinshe, atau ahli pengobatan lainnya untuk memperpanjang umurnya, Mas Jon," tukas gadis itu acuh tak acuh. "Bukan aku."


"Aku tahu kau telah begitu menderita selama ini, Karin. Tapi ketahuilah, kau tidak sendirian. Theresia, aku, dan bahkan Valentina juga menanggung penderitaan masing-masing...."


Karin tersentak. "Apa maksudmu, Mas Jon? Bagaimana mungkin Valentina bisa menderita? Aku menyerahkannya pada istrimu agar dia dapat hidup bahagia! Kenapa akhirnya dia masih menderita?"


Jonathan lalu mengungkapkan cacat bawaan yang dialami buah cinta kasih mereka. Karin terbelalak. Mulutnya ternganga. Kenapa Mbak Mina tak pernah menceritakannya padaku? jeritnya dalam hati. Padahal aku sudah enam bulan ini berada di Surabaya!


"Theresia menyayangi Valentina setulus hati bagaikan darah dagingnya sendiri, Rin. Dia benar-benar mengupayakan pengobatan yang terbaik bagi anak kita. Di Surabaya, Malaysia, Singapore.... Biaya perawatan, terapi, dan akomodasi untuk tinggal di negara-negara itu ditanggung sepenuhnya oleh There tanpa perhitungan denganku. Tenaga dan waktunya benar-benar dicurahkan untuk mendampingi Valentina menjalani terapi ataupun bahkan melatihnya ulang di rumah. Kesehatan dan kehidupan sosialnya sendiri sampai diabaikan. Dia sungguh telah berubah. Kehadiran Valentina menjadikannya seorang wanita yang tabah, istri yang baik, dan ibu yang luar biasa...."


Karin termangu. Ibu yang luar biasa? batinnya terpukul. Kalau dia memang ibu yang luar biasa bagi anakku...kenapa Kau memberinya penyakit kritis yang susah disembuhkan ya, Tuhan?


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak gadis itu. Setelah empat setengah tahun menetap di Beijing, dia akhirnya dapat mengikhlaskan masa lalunya yang kelam. Tak sekali pun dirinya berusaha mencari tahu tentang putrinya tercinta. Gadis itu memang masih intens berhubungan dengan Mina, namun tak pernah sekalipun mereka membahas tentang Jonathan, Theresia, maupun Valentina.

__ADS_1


Mina hanya bercerita bahwa dirinya akhirnya dilamar oleh Eric. Mereka menikah dan mengadopsi dua orang keponakan Eric yang orang tuanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Keluarga kecil itu hidup bahagia. Eric sudah bergabung di kantor istrinya dan menjadi kepala proyek-poyek properti primary, yaitu yang masih dipasarkan langsung oleh developer.


Ya, hal-hal mengenai dirinya dan keluarganyalah yang biasa diceritakan Mina pada Karin. Oleh karenanya tak pernah sedikitpun tercetus dalam benak gadis itu bahwa ada sesuatu yang tidak beres menimpa putri kandungnya. Dikiranya selama ini Valentina hidup baik-baik saja bersama ayah kandung dan ibu tirinya.


***


"Aku tak sampai hati mengatakannya padamu, Rin," aku Mina jujur ketika Karin datang ke rumahnya malam itu. "Kamu tak pernah sekali pun menanyakan keadaan Valentina. Jadi kuanggap dirimu telah melupakannya dan benar-benar menjalani hidup baru."


Wanita yang telah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri itu terkejut melihat kedatangan gadis itu tanpa memberitahu terlebih dahulu. Merasa ada yang tidak beres, dia langsung meminta Eric menemani putra dan putri angkat mereka belajar. Sementara dia sendiri menemani Karin di ruang tamu.


Karin terdiam mendengar penuturan Mina. Gadis itu mulai menyesali diri. Seandainya dia sekali saja pernah menanyakan kabar Valentina, barangkali hati Mina akan tergerak untuk memberitahunya tentang cacat bawaan yang dialami putri kandungnya itu.


"Maafkan aku ya, Rin," kata Mina setulus hati. "Sudah memberitahu Jonathan tentang tempatmu bekerja. Baru kemarin aku memberitahukannya setelah menjenguk Theresia di rumahnya. Tak kuduga Jonathan langsung menemuimu hari ini."


"Benarkah keadaan Bu Theresia separah itu, Mbak? Dia...dia sudah tinggal menunggu waktu saja?" tanya Karin terbata-bata.


Wanita yang duduk di sebelahnya mengangguk. "Kalau kau melihatnya dengan mata kepala sendiri, hatimu pasti akan tersentuh, Rin. Apapun yang diinginkannya pasti takkan sanggup kau tolak. Dia sendiri yang memohon padaku untuk memberitahukan keberadaanmu saat ini. Dia tahu kau pasti sudah selesai belajar bahasa Mandarin di Beijing. Ada kemungkinan kau bekerja di negara itu atau bahkan pulang kembali ke Indonesia."

__ADS_1


Karin meringis mendengar penuturan Mina barusan. Dia memang sudah satu tahun ini berada di Indonesia. Sebelumnya dia diterima bekerja di lembaga pendidikan bahasa Mandarin di Jakarta. Dia cukup betah mengajar di sana dan tinggal di mess yang disediakan pemilik lembaga. Namun kemudian dia ditugaskan untuk mengajar di cabang Surabaya yang kebetulan membutuhkan guru tambahan karena murid-muridnya semakin banyak.


__ADS_2