
Dia pernah mendengar dari Rosa bahwa dulunya Jonathan dan Theresia adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Perkawinan keduanya tampak harmonis di depan umum. Sungguh tak diduga rumah tangga yang telah dibina sepuluh tahun itu akhirnya hancur juga.
Lalu bagaimana dengan hubunganku dengan Mas Jon? tanya Karin cemas dalam hati. Apakah mampu bertahan selamanya atau juga hanya akan seumur jagung?
Ditatapnya pria yang masih tidur lelap itu penuh cinta. Ya Tuhan, siapa yang sanggup menolak cinta pria yang begitu gagah dan baik hati seperti ini? keluhnya dalam hati. Bahkan di saat dia berada di titik terendah dan memulai segala sesuatunya dari awal lagi, aku bersedia mendampinginya. Sekarang kantor yang kami rintis bersama Mas Bastian dan Mbak Mina sudah menunjukkan perkembangan. Banyak proyek properti yang dipercayakan pada kami. Aku senang sekali melihat wajah Mas Jon berseri-seri akibat kemajuan bisnisnya. Cuma satu yang menghalangi hubungan kami berdua, yaitu perceraiannya dengan Bu Theresia. Sampai kapan wanita itu tidak mau melepaskan suami yang sudah tak mencintainya ini?
Terdengar ******* lembut Jonathan. Karin tersadar dari lamunannya. Dia tersenyum menyaksikan kekasih tercinta membuka mata dan menatapnya. “Oh, kamu sudah datang, Sayang. Sini, biar kupeluk. Kangen sekali rasanya,” ucap pria itu seraya mengambil posisi duduk dan memeluk gadis pujaan hatinya. “Sori ya, akhir-akhir ini kamu agak terabaikan. Sekarang urusan tentang Papa sudah selesai. Kamu nginap di sini aja, yuk. Besok kan hari Sabtu, kantor libur. Biar malam ini kamu kumanjakan, kusayang-sayang. Buat nebus yang kemarin-kemarin,” pinta Jonathan manja. Dibelai-belainya rambut halus Karin. Diciuminya leher sang kekasih sehingga membuat gadis itu kegelian.
“Sepertinya kamu yang butuh dimanjain deh, Mas,” celetuk Karin berusaha melepaskan diri. “Aku masih baru, belum mandi.”
“Kalau gitu, ayo mandi sama-sama.”
“Heh? Kamu kan sudah mandi.”
__ADS_1
“Iya, sendirian. Sekarang mau mandi bareng.”
Tanpa ba bi bu lagi Jonathan langsung turun dari atas ranjang dan menggendong Karin masuk ke dalam kamar mandi. “Aduh, Mas. Mandinya jangan lama-lama, ya. Aku lapar. Mau cepat makan malam,” pinta gadis itu dengan ekspresi pura-pura merajuk.
Jonathan tidak mengiyakan. Ia hanya tertawa keras menanggapi permintaan gadis yang dicintainya itu. Sesampainya di kamar mandi, diturunkannya sang kekasih. Mereka berdiri berhadapan dan saling menatap penuh cinta. Lalu sang gadis mengalungkan tangannya pada leher pria di depannya. Wajah mereka saling berdekatan. Mata terpejam dan lidah bertautan dengan mesra. Tangan sang pria lalu mulai bergerilya melucuti satu per satu pakaian yang dikenakan kekasihnya.
***
Jonathan mengangguk mengiyakan pertanyaan gadis itu. Dia tadi menceritakan tentang pembicaraannya dengan istrinya setelah pemakaman Simon. “There kelihatan tulus sekali waktu mengatakannya. Dia berjanji tidak akan mengulur-ulur perceraian lagi. Tapi minta diberi sedikit waktu demi menghormati Papa yang baru meninggal dunia. Aku setuju saja. Tak tega rasanya menolak permintaannya. Bahkan aku juga menyanggupi untuk tidak memblokir nomor ponselnya lagi.”
Mata Karin melotot. Jadi Bu Theresia sekarang bisa sewaktu-waktu menghubungi Mas Jon? pikirnya cemas. Perasaannya menjadi tidak enak sekarang. Dia takut kekasihnya akan berpaling lagi pada sang istri. Perubahan raut wajah gadis itu rupanya tak luput dari perhatian Jonathan. Dia menyentuh tangan Karin di atas meja. “Jangan kuatir, Sayang. There sudah berubah. Tak lagi egois dan emosional seperti dulu. Sebelum meninggal, Papa rupanya berpesan agar dia menjadi wanita yang dewasa dan mandiri. Kulihat There mematuhi amanah beliau dengan baik. Selama persemayaman dan pemakaman Papa, dia tampak tegar dan tidak frustasi berlebihan seperti dulu.”
Gadis itu merasa agak terhibur dengan pernyataan sang kekasih. Namun tiba-tiba terbersit sebuah pertanyaan dalam benaknya. “Mas, bagaimana Bu There bisa tahu tentang hubungan kita? Kemarin sewaktu aku dan Tante Rosa datang melayat, kulihat sikapnya biasa-biasa saja. Siapa yang telah memberitahunya, ya?”
__ADS_1
Jonathan mengangkat bahunya. “Aku tadi juga kaget sekali, Rin. Tapi There bicara terus dengan tenang sehingga aku tak terpikir untuk menanyakan dia mengetahuinya dari mana. Akhirnya aku merasa tak perlu bertanya. Yang penting kami sudah saling memahami sekarang. Setelah masa berkabung selesai, kami akan mengikuti sidang kedua dan ketiga, lalu resmi bercerai. Kita bisa segera menikah, Sayang,” kata laki-laki itu dengan mata berbinar-binar. Karin berusaha mempercayai kejutan yang baginya sangat luar biasa ini. Sudah tak sabar rasanya meningkatkan statusnya menjadi Nyonya Jonathan Aditya.
Semoga Bu Theresia menepati janjinya untuk melepaskan Mas Jon, batinnya harap-harap cemas. Dilanjutkannya makan malamnya dengan Jonathan. Senda gurau mereka terdengar di ruangan apartemen yang tidak terlalu besar itu. Selesai makan malam, mereka bercengkerama di atas tempat tidur sambil menonton televisi. Hubungan kedua insan berlainan jenis itu tak ubahnya sepasang suami istri baru yang tengah kasmaran. Semoga kebahagiaan kami ini berlangsung selama-lamanya ya, Tuhan, doa gadis itu dalam hati.
***
Hari-hari selanjutnya dijalani Theresia dan Mila dengan hati kelabu. Perasaan kehilangan ayah serta suami tercinta masih melekat dalam sanubari mereka, terutama ketika melewati tempat-tempat dimana Simon biasa menghabiskan waktunya.
Hati Theresia bagaikan teriris sembilu setiap kali melewati sofa ruang keluarga tempat ayahnya biasa membaca koran maupun menonton televisi. Rasa pedih juga dirasakannya ketika berada di taman belakang. Simon gemar berolahraga ringan di sana setiap pagi sambil menikmati indahnya bunga-bunga, air mancur, dan kolam ikan koi. Pun ketika Mila menghidangkan bubur ayam di meja makan untuk sarapan, Theresia terkenang akan ayahnya yang gemar menyantap hidangan itu setiap pagi. Yang tak kalah menyedihkannya adalah kamarnya sendiri. Tempat Simon marah besar dan memukulinya hingga mengalami serangan jantung yang mengakibatkannya menemui Sang Pencipta.
Akhirnya wanita itu menyerah juga. “Tante, bagaimana kalau kita pindah ke rumah There saja? Di sini terlalu banyak kenangan tentang Papa. Dada There terasa sesak rasanya setiap kali teringat beliau. Bagaimana dengan Tante sendiri? Apakah juga merasakan hal yang sama?”
Mila tercenung selama beberapa saat. Anak sambungnya ini tidak tahu bahwa setiap malam sebelum tidur dirinya selalu menangis mengenang almarhum suami tercinta. Baru kali ini wanita tua itu merasakan jiwanya bagaikan tinggal separuh. Kepergian suami pertamanya dulu tidaklah meninggalkan kepedihan sedalam ini dalam lubuk hatinya. Wanita itu kini menyadari bahwa perasaannya pada Simon Hidayat adalah cinta yang sejati.
__ADS_1