Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Menonton Bioskop Bersama Pujaan Hati


__ADS_3

“Sebaiknya semua dokumen itu diberikan bersamaan, Pak. Supaya tidak ada yang tercecer dan mempercepat proses perceraian.”


“Baiklah kalau begitu. Saya usahakan dalam minggu ini semuanya sudah lengkap dan saya serahkan pada Ibu. Terima kasih banyak.”


“Sama-sama, Pak Jonathan. Silakan menghubungi saya lewat WA sewaktu-waktu kalau ada pertanyaan.”


Jonathan mengangguk mengiyakan. Ia lalu bangkit berdiri dan menyalami tangan pengacara cantik namun kelihatan tomboy itu. Ketika ia hampir membalikkan tubuhnya untuk melangkah keluar ruangan, tiba-tiba Lusia bertanya, “Oya, apakah Bapak sering bertemu dengan Mina?”


Jonathan terkejut. Ia lalu berpaling pada wanita itu lagi. Dijawabnya pertanyaannya dengan  sopan, “Kami berlatih kebugaran di tempat yang sama, Bu Lusia. Kalau saya sedang rajin berolahraga, ya kami bisa bertemu dua hingga tiga kali dalam seminggu.”


“Oh, begitu,” sahut Lusia lugas. Setelah berpikir sejenak, dilanjutkannya pertanyaannya, “Maafkan saya sebelumnya, Pak Jonathan. Kalau boleh saya tahu, apakah kalian berdua mempunyai hubungan spesial?”


Yang ditanya tertawa geli. “Mina itu teman SMA saya, Bu Lusia. Kami sebenarnya sudah lama kehilangan kontak. Tapi beberapa bulan yang lalu kami kebetulan bertemu kembali di gym. Sejak saat itulah kami bersahabat kembali, bersama seorang kawan laki-laki saya. Kami bertiga bersahabat karib. Bahkan saya tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Mina, karena sejak dulu dia selalu saya panggil Mimin.”


Lusia manggut-manggut mengerti. “Baiklah. Terima kasih atas keterangannya, Pak Jonathan.”


Kliennya mengangguk dan melanjutkan langkah kakinya keluar ruangan. Sebersit pertanyaan mengusik benaknya. Orang itu menyebut nama Mimin dengan sebutan Mina langsung, tanpa embel-embel Ibu. Pertanyaan yang diajukannya tadi juga menjurus pada hal yang bersifat pribadi. Padahal dia kan cuma sekedar pengacara yang pernah menangani kasus perceraian Mimin. Aneh, pikirnya keheranan.


Ah, sudahlah. Yang penting jalanku menuju perceraian sudah semakin terbuka lebar. Sekarang saatnya aku merilekskan pikiran dan perasaanku sejenak dengan menonton bioskop bersama Karin, gumam laki-laki itu dalam hati penuh semangat.


***


“Mau beli popcorn yang manis atau asin, Rin?” tanya Jonathan menawarkan. Mereka sudah berada di depan kedai bioskop untuk membeli makanan ringan.


“Nggak usah, Pak. Terima kasih. Saya sudah kenyang, kok.”


“Nggak apa-apa ngemil sedikit-sedikit. Kamu lho, nggak gemuk.”

__ADS_1


“Benar nggak usah, Pak.”


“Kalau begitu aku pesan sekotak besar popcorn campur asin manis aja, ya. Nanti kita makan sama-sama.”


Karin ternganga mendengar perkataan bosnya. Hah? Makan popcorn dalam kotak yang sama? Kayak orang pacaran, dong! serunya dalam hati. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin. Wajahnya bersemu merah.


“Mau pesan minuman apa, Rin?”


Gadis itu tersentak mendengar pertanyaan bosnya lagi.


“Minuman apa, Pak?” balasnya balik bertanya.


“Iya. Kamu mau minum apa pas nonton nanti? Pasti haus, kan?” cecar Jonathan


“Oh, iya Pak. Minum…minum apa, ya?”tanyanya kembali seperti orang linglung.


Pria di hadapannya tak kuasa menahan gelak tawanya. Karin jadi bengong melihatnya. “Kenapa tertawa, Pak? Ada yang lucu?” tanyanya polos.


“Hehehe…kamu barusan bilang mau pesan teh mineral.”


“Benar kan, Pak? Teh mineral. Eh, ya ampun! Teh mineral…. Hahaha….”


Keduanya tertawa terbahak-bahak. Air mata Karin sampai keluar saking merasa ucapannya tadi sangat lucu. Ia lalu menganulir pesanannya menjadi air mineral. Tak lama kemudian pesanan mereka sudah dimasukkan ke dalam sebuah kantung kertas oleh pelayan kedai dan diserahkan pada Jonathan. Laki-laki itu lalu mengajak sekretarisnya pergi ke toilet dulu sebelum masuk ke dalam studio tempat film yang akan mereka tonton diputar.


Setelah keluar dari toilet masing-masing, keduanya lalu berjalan berdampingan menuju ke studio. Begitu masuk ke dalam ruangan besar yang remang-remang itu,  Jonathan mempersilakan sekretarisnya berjalan duluan di depannya. Karin yang sudah mengetahui letak tempat duduk mereka dari aplikasi langsung menurut. Ia berjalan di depan bosnya hingga ke bangku paling belakang. Tempat duduknya tepat di pinggir jalan, sedangkan Jonathan persis di sebelahnya.


Ruangan studio masih sepi. Hanya terlihat segelintir pengunjung. Karin tiba-tiba merasa gugup duduk begitu dekat dengan atasannya  yang ganteng itu.

__ADS_1


“Makan dulu, Rin,” tawar Jonathan sambil menyodorkan kotak popcorn yang sudah terbuka lebar.


Gadis di sebelahnya menjawab kikuk, “Saya…saya minum aja, Pak. Terima kasih.”


“Ok. Nanti kalau kamu mau makan langsung ambil aja, ya. Kupegang di sebelahmu sini supaya kamu gampang mengambilnya. Oya, ini air mineralmu.”


“Terima kasih, Pak.”


Diterimanya botol air mineral yang disodorkan bosnya. Dibukanya tutupnya dan diteguknya perlahan untuk membasahi kerongkongannya. Tak berapa lama kemudian film Hollywod romantis berbalut komedi mulai diputar di depannya. Karin tampak menikmati alur cerita film yang mengharu-biru diselingi kelucuan-kelucuan tak terduga. Tanpa sadar tangannya bergerak meraih popcorn di sampingnya.


Tiba-tiba jari-jemarinya bagaikan tersengat listrik saat bersentuhan dengan jari-jemari Jonathan. Ia langsung menarik tangannya tapi dicegah dengan gesit oleh pria di sampingnya. Sontak gadis itu berpaling memandang atasannya itu. Dilihatnya Jonathan menatapnya dengan serius lalu meraih tangannya di dalam kotak popcorn. Diciuminya jari-jemari yang lentik itu dengan lembut. Sang gadis  tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya diam diperlakukan demikian.


Setelah puas menunjukkan perasaan cintanya, Jonathan melepaskan tangan Karin dan memindahkan kotak popcorn ke pangkuannya. “Habiskan saja. Aku sudah makan banyak. Apakah minumanmu sudah habis? Mau kubelikan lagikah?” tanyanya penuh perhatian.


Karin yang merasa tersentuh hatinya menjawab dengan canggung, “Air mineral saya masih banyak, Pak. Terima kasih.”


Selanjutnya gadis itu sudah tak bisa berkonsentrasi lagi menikmati film yang diputar di depannya. Pikirannya melayang ke mana-mana. Padahal pria yang menjadi tokoh utama dalam benaknya berada tepat di sisinya….


***


Sepanjang perjalanan pulang, kedua anak manusia yang sama-sama dilanda panah asmara itu saling berdiam diri. Jonathan yang mengemudikan mobil berkali-kali melirik ke arah sekretaris yang duduk di jok sebelahnya. Sementara gadis itu sendiri tampak tegang memandang lurus ke depan.


“Karin,” ujar sang direktur berinisiatif memulai percakapan. “Maafkan perbuatan tidak sopanku tadi di dalam bioskop. Aku…aku spontan melakukannya. Sekali lagi maafkan aku, ya.”


Gadis di sebelahnya mengangguk. Tapi pandangannya tetap mengarah ke depan. Jonathan jadi cemas melihatnya. Dia lalu bertanya lagi, “Kamu marah ya, Rin?”


Karin menggeleng. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“Kamu mikirin apa, Rin?” tanya bosnya lagi. Laki-laki itu jadi geregetan sendiri. Dia sudah terbiasa dengan sikap Theresia yang ekspresif dan selalu blak-blakan mengutarakan isi pikiran dan hatinya. Sedangkan dengan Karin, pria itu merasa menghadapi teka-teki yang harus dipecahkan di balik sikapnya yang santun dan lemah lembut. Jiwa kelaki-lakiannya jadi merasa tertantang untuk menaklukkan hati sekretaris cantiknya itu.


__ADS_2