Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Apa Kabar, Karin?


__ADS_3

Mina berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab, “I think so. Hahaha…, tapi pada dasarnya aku ini tipe orang yang suka bereksperimen. Nggak apa-apa, kan? Mumpung masih muda.”


“Agree!” jawab Bastian mendukung. Jonathan cuma nyengir saja. Dia mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Tiba-tiba pandangannya terpaku pada sesosok tubuh ramping dan rambut lurus panjang yang dikenalnya. “Sebentar, ya,” pamitnya pada kedua sahabatnya.


“Eh, mau ke mana?” tanya Mina penasaran. “Mau nyapa orang,” jawab Jonathan langsung ngeloyor pergi. Didekatinya perempuan muda yang dikenalnya itu.


“Halo, Karin,” sapanya ramah. Rupanya gadis itu adalah keponakan Rosa dan dalam waktu dekat akan menjadi sekretaris barunya.


“Oh, Pak Jonathan? Apa kabar?” sahut Karin canggung. Dia merasa agak risih bertemu calon bosnya dengan kostum santai untuk berolahraga.


“Baik. Kamu sering berlatih di sini? Kok nggak pernah kelihatan?”


“Ehm, saya baru kali ini datang kemari kok, Pak. Kebetulan diajak teman saya. Dia dikasih sama customer service di sini dua voucher free trial untuk nge-gym. Saya diminta untuk menemaninya. Padahal, hehehe…saya nggak suka berolahraga, Pak.”


“Oh, gitu. Terus teman kamu sekarang ada di mana?”


“Itu dia lagi ikut aerobik. Saya mau ke toilet sebentar terus balik lagi nungguin dia.”


“Oh, gitu. Ya udah buruan ke toilet, deh. Ngomong-ngomong, kapan kamu mulai masuk kerja, Karin?”


“Besok pagi, Pak.”


“Heh?! Secepat itu?” seru Jonathan terkejut. Lalu dia jadi menyesal sendiri ketika dilihatnya ekpresi gadis di depannya tampak tersipu. Segera dikoreksinya ucapannya, “Ehm…ok deh, Karin. Sampai ketemu besok di kantor, ya. Semoga kamu betah.”


Pria itu spontan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Karin menerimanya dan tersenyum manis. Hati Jonathan dag dig dug melihatnya. Ia memandang terpesona gadis itu sampai sosoknya menghilang di balik pintu toilet.


“Hai, bocah tua lagi jatuh cinta! Ke sini mau berlatih atau mau ngeliatin cewek?”


Jonathan kaget mendengar suara cempreng yang sangat dikenalnya. Dilihatnya Mina sudah berdiri di sampingnya sambil cengengesan. “Ngomong apaan sih, lu? Ngawur aja,” gerutu laki-laki itu seraya berjalan kembali menuju ke tempatnya tadi berlatih. Mina tertawa terbahak-bahak sambil berjalan mengikuti sahabatnya.


Sesampainya di sana, Bastian mengerling nakal dan bertanya, “Siapa cewek tadi, Jon?”


“Karin!” sahut Mina cepat. Jonathan mendelik melihatnya. “Kamu tadi nguping, ya?”

__ADS_1


Mina mengelak tidak terima, “Enak aja nuduh! Salah sendiri ngomong keras-keras di tempat umum. Bukan aku doang yang dengar, tau!”


Bastian tertawa terpingkal-pingkal. “Itu toh, Karin. Well, she looks very nice.”


“Lho, kamu tahu cewek itu?” tanya Mina keheranan.


“Pernah dengar si Jon cerita, tapi baru kali ini lihat orangnya. Karin itu calon sekretaris barunya Mas Ganteng kita ini. Hehehe….”


“OMG!” seru perempuan itu seraya menutup mulutnya dengan tangan. Kedua matanya melotot tak percaya. “Bener, Jon? Cewek itu yang akan mendampingimu di kantor lima hari dalam seminggu, mulai Senin sampai Jumat?”


Yang ditanya hanya mengangguk dengan perasaan dongkol. Apa-apaan sih, ini? Kok jadi heboh semua kalau menyangkut soal Karin. Dulu Bastian, sekarang Mimin. Aneh!


Bastian jadi penasaran dengan reaksi Mina. “Memangnya kenapa, Min? Cewek kayak Karin nggak cocok jadi sekretaris, ya?” tanyanya ingin tahu.


Mina berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. “Ehm….”


“Ahm, ehm, ahm, ehm! Ngomong langsung aja kenapa, sih!” semprot Jonathan sewot.


Mina menghela napas panjang dan akhirnya berkata lirih, “Kalau aku ini istrimu, aku nggak mau gadis itu menjadi sekretarismu, Jon.”


“Memangnya kenapa?” tanya sahabatnya itu sengit.


“Karena…,” jawab Mina berhati-hati, “Karin itu sepertinya tipe gadis yang baik dan lemah lembut, sungguh bertolak-belakang dengan karakter istrimu.”


“So?” tanya Jonathan tak mengerti.


“Takutnya kelak kalau mengalami gesekan lagi dengan Theresia, kamu akan membandingkan istrimu itu dengan perempuan lain yang berada dekat denganmu, yaitu sekretaris muda nan cantik yang….”


“Sepanjang hari bekerja sama denganmu di kantor!” sela Bastian memotong ucapan Mina untuk menohok sahabat mereka.


Jonathan termenung selama beberapa saat. Bastian melanjutkan ucapannya lagi, “Aku udah pernah peringatin dia, Min. Kalau masih mau mempertahankan perkawinannya dengan There, sebaiknya nyari sekretaris yang udah matang kayak sekretaris lamanya. Tapi dia sungkan karena Karin itu keponakan sekretarisnya sendiri. Jadi ya udah…apapun yang terjadi, terjadilah….”


“Lho, mau pergi ke mana lagi, Jon?” tanya Mina ketika dilihatnya laki-laki itu ngeloyor meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Pulang. Udah malem!” sahut Jonathan ketus tanpa memalingkan muka lagi. Mina dan Bastian hanya geleng-geleng kepala melihat teman karib mereka itu ngambek.


***


“Selamat pagi, Pak Jon.”


“Selamat pagi, Bu Rosa, Karin.”


Kedua wanita itu mengangguk dan tersenyum sopan. Jonathan berpura-pura tak melihatnya. Ia segera masuk ke dalam ruangannya dan menyibukkan diri memeriksa laporan-laporan yang sudah disusun Rosa dengan rapi di meja kerjanya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara orang mengetuk pintu dan sang direktur berseru mempersilakannya masuk. Pintu dibuka dari luar dan muncullah Karin membawa sebuah baki kecil berisi sebuah cangkir kosong yang di dalamnya sudah ada teh celup dengan tali dan sebuah termos kecil berisi air panas. Jonathan memang suka menyeduh sendiri teh tawarnya.


“Saya antarkan tehnya, Pak,” ucap gadis itu seraya meletakkan bakinya di sisi kanan meja kerja Jonathan.


“Terima kasih, Karin. Bu Rosa mengajarimu begitu detil rupanya.”


“Betul, Pak. Masih banyak yang harus saya pelajari. Mohon maaf sebelumnya kalau ada yang tak berkenan.”


Pimpinannya mengangguk mengiyakan. Tercium bau harum parfum Karin yang lembut dan menyegarkan. Jonathan sangat menyukainya. Sungguh berbeda dengan parfum There yang terlalu kuat dan menusuk hidungku, komentarnya dalam hati. Seketika terngiang-ngiang nasihat kedua sahabatnya mengenai sekretarisnya ini. “Kalau kamu masih ingin mempertahankan perkawinanmu dengan Theresia, sebaiknya carilah sekretaris yang sudah matang supaya tidak berisiko terjadi affair.”


“Takutnya kelak kalau mengalami gesekan lagi dengan Theresia, kamu akan membandingkan istrimu itu dengan perempuan lain yang berada dekat denganmu, yaitu sekretaris yang sepanjang hari bekerja sama denganmu di kantor.”


Jonathan bergidik mengingat pernyataan-pernyataan Bastian dan Mina itu. Karin yang melihatnya jadi merasa heran. “Ada apa, Pak?” tanya gadis itu kuatir. “Apakah Bapak merasa kedinginan? AC-nya saya kecilkan aja, ya?”


“Oh, nggak usah, Karin. Kamu kembali saja bekerja. Terima kasih tehnya.”


Sang sekretaris cantik mengangguk dan kemudian membalikkan tubuhnya melangkah ringan meninggalkan sang bos yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Tak akan terjadi apapun antara aku dengan Karin,” ucapnya tegas kepada dirinya sendiri. “Dia hanyalah sekretaris biasa yang membantu pekerjaanku memimpin perusahaan. Dia cuma pengganti Bu Rosa. Yah, pengganti Bu Rosa.”


Hati suami Theresia itu menjadi lebih tenang setelah mengucapkan kata-kata keramat tersebut. Dia lalu menuangkan air panas ke dalam cangkirnya dan mulai menyeduh tehnya.


                                   ***

__ADS_1


__ADS_2