
“Mau pergi ke mana, There?” tanya Simon begitu melihat putrinya keluar dari kamar tidurnya. Penampilan Theresia seperti mau keluar rumah.
Istri Jonathan itu menoleh ke arah ayahnya yang sedang duduk menonton televisi bersama istrinya. Perempuan cantik itu lalu berjalan mendekati ayahnya dan duduk di sampingnya.
“There mau mengunjungi Mas Jon, Pa. Sudah satu setengah bulan kami nggak saling kontak sama sekali. Kondisinya seperti apa sekarang ini, There nggak tahu. Cuma dengar cerita dari Papa sama Tante Mila aja.”
“Hehehe…, akhirnya kamu merasa kehilangan suamimu juga, Anakku. Baru terasa ya, kalau sudah nggak serumah seperti sekarang?”
Theresia mengangguk lalu menundukkan wajahnya. Sebenarnya dia sudah lama merindukan kehadiran suaminya, tapi ayahnya selalu melarangnya untuk menghubungi Jonathan meskipun hanya melalui chat WA. Simon benar-benar ingin anaknya mengambil hikmah dari perpisahan sementaranya dengan suaminya. Bahwa tidak enak kalau sepasang suami istri hidup terpisah. Jadi kelak kalau mereka sudah hidup bersama kembali, Theresia akan jauh lebih menghargai pasangan hidupnya dan tidak berbuat sewenang-wenang lagi.
Hampir setiap malam wanita itu menangisi kepergian suami tercintanya. Sesekali ia membuka-buka album foto pernikahan mereka sepuluh tahun yang lalu. Juga file-file lama dalam laptop-nya yang berisi foto-foto romantis semasa pacaran dulu. Keduanya tampak bahagia sekali waktu itu. Senyuman manis maupun tawa lebar seringkali menghiasi foto-foto lama tersebut. Sudah lama sekali rasanya mereka berdua tidak pernah berfoto berdua lagi, bahkan lewat kamera ponsel sekalipun.
Sepertinya kami harus berlibur di suatu tempat yang romantis sebagai bulan madu kedua, pikir Theresia setiap kali terkenang masa-masa indahnya bersama suaminya. Dulu mereka menikmati bulan madu keliling Eropa sebagai hadiah pernikahan dari ayahnya. Setelah itu mereka beberapa kali berlibur di negara-negara yang tak jauh dari Indonesia, seperti Malaysia, Singapore, Thailand, dan Cina.
Cina…, batin Theresia getir. Terakhir kali aku pergi ke sana untuk menjalani terapi akupuntur yang benar-benar tak nyaman supaya bisa mempunyai keturunan. Yah, kalau kupikir-pikir, Mas Jon selama ini memang sudah bersikap sangat sabar kepadaku, ucapnya dalam hati mengakui. Dia menerima diriku apa adanya. Mas Jon bahkan tidak keberatan kalau kami mengadopsi seorang anak. Tapi…, apakah aku sangguh mengasuh anak yang bukan berasal dari rahimku sendiri? batinnya ragu-ragu.
“Kamu sedang memikirkan apa, Nak?”
Theresia tersentak. Dia buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya. “There kangen sama Mas Jon, Pa…,” ucapnya sedih. Air matanya menitik membasahi pipinya yang mulus. Simon merasa terenyuh melihat kesungguhan hati putrinya. Kemudian dia berkata lirih, “Apakah kamu sudah siap berkumpul lagi dengan suamimu, There? Papa tidak akan melarang asalkan kamu sanggup menjaga perilakumu agar tidak menyakiti Jonathan lagi. Bagaimana?”
Theresia tercenung mendengar ucapan ayahnya. Aku kok jadi takut, ya, pikirnya galau. Seakan-akan aku memikul beban yang berat untuk bersikap tanpa cela di depan suamiku sendiri. Aduh, bagaimana ini?
__ADS_1
Simon manggut-manggut seolah-olah dapat membaca isi hati anak tunggalnya itu. “Sepertinya kamu belum siap, Nak. Kalau begitu, sebaiknya kamu kirim pesan WA saja kalau ingin menghubungi suamimu. Pakailah kata-kata yang baik. Tak ada salahnya sesekali kamu menggunakan kata-kata seperti tolong, maaf, dan terima kasih pada suamimu. Jadi dia akan merasa dihargai oleh istrinya sendiri. Tante Mila juga sering mengucapkannya pada Papa. Bukankah begitu, Mila?”
Mila mengangguk membenarkan ucapan suaminya. Dia tak berani menatap There, kuatir anak tirinya itu akan merasa tersinggung karena ibu tirinya itu sedang berada di atas angin. Sebenarnya istri Simon itu sangat menyayangi Theresia bagaikan putrinya sendiri. Namun dia memutuskan untuk tidak terlalu mencampuri masalah anak tirinya karena tahu perangai Theresia yang sensitif dan mudah tersinggung.
“Jadi There sudah boleh chat Mas Jon, Pa?” tanya Theresia kegirangan.
Simon mengangguk mengiyakan. Anaknya langsung mencium pipi ayahnya dan beranjak menuju ke kamar tidurnya kembali. Simon mengeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan tingkah kekanak-kanakkan putrinya.
Diremasnya jari-jemari istrinya dengan lembut sambil berkata, “Lihatlah, anak itu sudah berumur tiga puluh tiga tahun tapi sikapnya masih seperti gadis remaja yang baru jatuh cinta. Sepertinya dia sangat merindukan suaminya. Mudah-mudahan perpisahan sementara mereka ini benar-benar memberikan hikmah buatnya.”
Mila mengangguk setuju dan menjawab, “Semoga saja, Mas.”
“Kau sendiri apakah tidak jenuh tinggal di sini dan setiap dua hari sekali menengok rumah kita, Mila?”
“Terima kasih, Istriku,” ucap Simon seraya mengecup kening istrinya penuh cinta. “Kau benar-benar bisa menjadi role model istri teladan untuk dicontoh There, Mila. Tadi siang kalian sibuk apa di dapur?”
“Hehehe…, dia minta kuajari cara memasak soto daging, Mas. Katanya Jonathan paling suka makan soto daging buatanku. Theresia mau memasakkannya makanan yang enak-enak nanti kalau mereka sudah berkumpul kembali.”
“Syukurlah kalau begitu. Sikapnya memang kulihat sudah berubah banyak satu setengah bulan ini. Tapi aku masih merasa ada emosi yang terpendam dalam batinnya. Aku ingin itu dibereskan terlebih dahulu sebelum There bersatu kembali dengan suaminya. Sudah kukatakan pada psikiaternya waktu dua hari yang lalu aku menemaninya kontrol. Katanya memang butuh waktu bagi Theresia untuk mengendalikan emosinya. Yah, mudah-mudahan tidak terlalu lama, Mila. Karena….”
Kalimat pria tua itu berhenti tiba-tiba. Dahinya berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu. Istrinya menatapnya dengan perasaan heran. “Ada apa, Mas?” tanyanya ingin tahu.
__ADS_1
Yang ditanya menghela napas panjang. “Katamu pembantu rumah tangga kita mengatakan Jonathan akhir-akhir ini suka pulang malam seperti habis berolahraga. Bukankah begitu?”
Mila mengangguk mengiyakan. “Jonathan juga bilang padaku bahwa dia sekarang rutin nge-gym sama teman lamanya yang bernama Bastian, Mas.”
“Oh, Bastian. Aku kenal orang itu. Dia sudah seperti saudara sendiri bagi Jonathan. Tapi bukan itu yang kukuatirkan, Mila.”
“Lalu apa, Mas?”
“Jonathan itu laki-laki yang dewasa, sukses, dan tampan. Aku takut kesendiriannya sekarang ini dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab.”
“Perempuan lain maksudmu, Mas?”
“Begitulah.”
Mila menepuk-nepuk punggung tangan suaminya. “Jangan kuatir, Mas. Menantumu itu laki-laki yang baik. Kau pun menyukainya, bukan? Kalau tidak, masa dulu kau mengijinkannya menikahi Theresia?”
“Justru karena aku tahu dia laki-laki yang baik, maka setahun setelah dia berpacaran dengan anakku, kudesak dia untuk segera mengambil keputusan selanjutnya!”
“Maksud Mas Simon?”
Ayah Theresia itu kembali menghela napas panjang. “Akulah yang mendorongnya agar segera menikahi anakku atau tidak sama sekali.”
__ADS_1
Mulut Mila terbuka saking terkejutnya. Namun sebagaimana sikapnya yang selalu santun, perempuan tua itu segera menutupnya dengan tangan.
“Terkadang aku berpikir, apakah semua ini sebenarnya salahku karena telah menikahkan mereka di saat kepribadian There belum matang? Usianya baru dua puluh tiga tahun waktu itu. Baru setahun lulus kuliah dan membantuku bekerja di kantor. Aku terus terang merasa sebal melihat pacar-pacarnya terdahulu yang tidak dewasa sikapnya. Mau melarang anakku berhubungan dengan pemuda-pemuda itu, aku takut dia malah akan marah dan kabur. Untunglah mereka akhirnya putus dengan sendirinya….”