
Pasangan suami-istri itu tak saling menyapa. Sang suami bahkan berpura-pura tak melihat wanita yang selama seputluh tahun menjalani rumah tangga bersamanya. Saat proses mediasi dilakukan, dia dengan tegas menolak bersatu kembali dengan Theresia dengan alasan sudah tidak ada kecocokkan. Sang istri yang merasa gengsi juga menyatakan hal yang sama.
Sidang pun ditunda hingga waktu yang akan ditentukan kemudian. Sang penggugat menghela napas lega. Setidaknya sidang pertama sudah kulalui dengan baik, ucapnya bersyukur dalam hati. Dia lalu berbicara pelan dengan pengacaranya supaya tidak terdengar oleh Theresia dan kuasa hukumnya.
Sang tergugat yang secara diam-diam memperhatikan suaminya sejak tadi mendadak hatinya jadi terbakar melihat kedekatan laki-laki itu dengan pengacaranya. Jangan-jangan mereka mempunyai hubungan lebih dari sekedar klien dan kuasa hukum, pikir wanita obsesif itu curiga. Wajahnya langsung berubah cemberut. Sinar matanya menyala-nyala dengan buas seakan-akan hendak menerkam habis pengacara wanita itu.
Begitu keluar dari ruang sidang, Theresia langsung mendekati suaminya dan berkata, “Sampai kapan kau menganggapku tak ada, Mas Jon?” sindirnya ketus. Jonathan kaget langkahnya dihadang oleh wanita yang masih berstatus istri sahnya tersebut. Spontan dia menyahut, “Oh, halo, There. Ada apa?”
“Nggak usah basa-basi. Sombong sekali kamu memblokir nomor teleponku. Tak kusangka selama ini aku menikah dengan laki-laki yang tak punya hati!”
Lusia yang tidak suka melihat kliennya dimaki-maki segera menengahi, “Maaf, Bu Theresia. Saya adalah kuasa hukum Pak Jonathan. Kalau ada hal yang penting, sebaiknya dibicarakan dengan dengan saya saja melalui kuasa hukum Anda.”
“Apa maksud Anda? Saya ini masih istri sah Jonathan Aditya! Anda hanyalah orang yang dibayar untuk menangani kasusnya. Berani-beraninya belagu di hadapan saya. Anda tahu saya ini siapa? Saya Theresia Hidayat, putri tunggal konglomerat ternama Simon Hidayat!” tukas Theresia dengan sikap menantang. Suaranya yang keras mulai menarik perhatian orang-orang di dalam gedung pengadilan.
Pengacaranya mulai mendekatinya dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Theresia semakin murka, “Apa-apaan kau menyuruhku meninggalkan tempat ini? Dasar pengacara bodoh. Nggak punya otak! Masa kamu tidak bisa melihat dua orang ini ada apa-apa?! Mereka bukan hanya pasangan pengacara dan klien semata. Hubungan mereka pasti lebih dari itu!”
Jonathan dan Lusia sama-sama terbelalak mendengar tuduhan-tuduhan Theresia yang sangat mengejutkan itu. Orang ini benar-benar tak masuk akal, pikir Lusia logis. Pantas suaminya mau menceraikannya. Pria mana yang tahan menikah dengan wanita bebal dan tak punya etika seperti ini!
__ADS_1
“Mari, Pak Jonathan. Kita tinggalkan tempat ini segera sebelum ada yang merekam dan jadi viral di mana-mana,” ajaknya tegas. Jonathan mengangguk setuju. Dengan cepat kedua orang itu melangkah meninggalkan gedung pengadilan.
Sementara itu pengacara Theresia berusaha menghalang-halangi kliennya untuk mengejar mereka. Kalau saja wanita ini bukan anak kandung Bapak Simon Hidayat, sudah kutolak dari awal kasus perceraiannya ini, keluhnya dalam hati. Kasus yang sangat mudah sebenarnya. Pihak penggugat sangat kooperatif dan tak menuntut apapun. Hanya saja Theresia yang sampai sekarang belum dapat menerima kenyataan bahwa suaminya sudah tak menginginkannya lagi. Aku harus memberitahu Bapak Simon agar memperingatkan putrinya supaya tidak membuat keributan lagi di pengadilan. Kalau sampai diliput oleh pers, sungguh memalukan sekali!
***
“Baiklah, akan kunasihati dia. Tapi tolong tetap tangani kasusnya sampai selesai. Nanti akan kutransfer dana ke rekeningmu. Terima kasih,” kata Simon setelah mendengar cerita sang pengacara mengenai perilaku putrinya tadi selepas menjalani sidang pertama perceraiannya.
Pria tua itu menghela napas panjang. “There…There…. Papa ini sudah tua,” keluhnya pada dirinya sendiri. “Sampai kapan Papa harus mencemaskan keadaanmu terus-terusan seperti ini?”
Tiba-tiba muncul sedikit rasa nyeri pada dada sebelah kirinya. Dia panik seketika. Dicari-carinya obat di laci samping tempat tidurnya. Tidak ketemu. Simon semakin panik. Lalu terdengar suara pintu kamar dibuka dari luar.
“Dadaku sakit lagi, Mila. Aku mencari-cari obatku tapi tidak ketemu.”
“Coba kucarikan, Mas. Kamu tenang saja.”
Tak butuh waktu lama bagi Mila untuk menemukan obat yang dimaksud suaminya. Kemudian diberikannya dua butir beserta segelas air putih yang selalu tersedia di samping tempat tidur.
__ADS_1
“Terima kasih, Istriku. Entah apa jadinya aku ini kalau tak ada dirimu,” ucap Simon setelah meminum obatnya. Rasa nyeri di dadanya berangsur-angsur menghilang.
Wanita di hadapannya tersenyum tulus. Senyuman yang selalu menenangkan hati sang suami dalam situasi apapun. “Walaupun tak ada aku, kau akan tetap tegar dan kuat menghadapi segala hal, Mas,” jawab Mila bersemangat. Dia tahu akhir-akhir ini suaminya banyak pikiran akibat terlalu meresahkan keadaan Theresia. Dua perusahaannya sendiri telah berhasil dijual dengan harga yang tinggi. Dalam hatinya, wanita itu merasa bersyukur juga perusahaan-perusahaan tersebut telah laku. Setidaknya dapat mengurangi beban pikiran pasangan hidupnya tersebut.
Laki-laki itu lalu memberitahu istrinya tentang informasi dari pengacara yang menangani kasus perceraian Theresia. “Aku harus menasihati There agar tidak mengulangi perbuatannya lagi, Mila. Jangan sampai perilakunya menjadi pemberitaan media dan menjatuhkan nama baiknya sendiri,” pungkas mantan pengusaha yang sangat disegani di kota Surabaya itu prihatin.
“Hati-hati bicara dengan There, Mas. Jangan sampai membuatnya tersinggung. Masalahnya bisa semakin runyam,” nasihat sang istri penuh perhatian. Seandainya There anak kandungku, dengan senang hati aku akan menasihatinya, cetusnya dalam hati. Tapi karena aku hanyalah ibu sambung, lebih baik tidak terlalu ikut campur supaya dia tidak berprasangka buruk terhadapku.
Simon mengangguk. Dirasakannya dadanya sudah tidak sakit lagi. Dengan perlahan dia lalu beranjak bangkit dari atas ranjang. Sang istri bermaksud membimbing tangannnya namun ditolaknya dengan halus. “Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri. Aku akan pergi ke kamar There sekarang. Kau tunggu di sini saja, Mila,” ucapnya lirih.
Istrinya yang setia itu mengangguk. Dalam hati dia berdoa agar semuanya berjalan baik-baik saja.
***
“There yakin Mas Jon punya hubungan spesial dengan pengacaranya itu, Pa,” ucap Theresia sambil terisak-isak. Ketika ayahnya tadi masuk ke dalam kamarnya, kondisi wanita itu sebenarnya sedang baik-baik saja. Namun waktu Simon menasihatinya agar bersikap tenang dan tidak membuat keributan lagi di dalam gedung pengadilan, dia menjadi naik darah. Lalu diceritakannya kecurigaannya bahwa Jonathan menjalin affair dengan kuasa hukumnya sendiri.
“Papa tidak percaya Jonathan melakukannya, Nak,” jawab sang ayah enteng.
__ADS_1
Theresia mendelik mendengar pendapat orang tuanya itu. “Kenapa Papa lebih mempercayai Mas Jon daripada There? Anak kandung Papa kan There. Bukan Mas Jon,” sergahnya tak mengerti.
Karena aku tahu siapa wanita yang telah merebut kedudukanmu di hati suamimu, Nak, batin Simon pedih. Dia adalah Karin, sekretarisnya sendiri. Bukan pengacaranya seperti yang kau duga.