
“Yes! Senang deh, kamu masih ingat aku. Sama siapa kamu kemari? Istrimu?”
“Oh, nggak. Sama temanku. Kenalkan, ini Bastian.”
Bastian yang memakai treadmill di samping Jonathan tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya. Mimin alias Mina tersenyum nakal sambil menerima uluran tangan laki-laki itu, “Mina. Tapi teman-teman sekolahku biasa memanggilku Mimin.”
“Kupanggil apa ya, enaknya?” tanya Bastian sopan.
“Mina aja. Terdengar lebih keren. Hehehe….” jawab wanita itu kenes seraya melepaskan tangannya kembali. Kemudian dia memalingkan wajahnya pada Jonathan lagi. “Aku sudah enam bulan lebih berolahraga di sini kok baru melihatmu sekarang ya, Jon? Apakah kamu member baru?” tanyanya keheranan.
Sebelum yang ditanya sempat menjawab, Bastian menyeletuk duluan, “Dia sih sebenarnya udah lama join di sini, saking jarang sekali datang.”
“Kenapa?”
“Ada yang nggak suka.”
“Oya? Siapa?”
Jonathan sontak memelototi sahabatnya. Bastian hanya nyengir melihatnya. “Jangan dengerin dia, Min,” sela Jonathan sebelum sahabatnya mengoceh lebih jauh. “Kamu sendiri sama siapa kemari?”
Mina menjawab santai, “Hari ini kebetulan sendirian. Biasanya ya sama teman-teman yang kenal di sini. Aku setelah nikah nggak pernah nge-gym, Jon. Ya, baru di sini ini mulai lagi.”
“Oya? Mana suamimu?”
“Baru seminggu yang lalu aku resmi menjanda.”
Jonathan terperangah mendengar pengakuan teman SMA-nya itu. Sementara itu Bastian memutuskan menjadi seorang pendengar yang baik saja.
“Ehm, sori, Min. Aku nggak tahu,” ucap Jonathan canggung.
“No problem. Dah biasa, kok. Justru setelah berpisah sama dia, aku jadi bebas melakukan apapun yang kuinginkan. Nge-gym misalnya. Dulu apapun yang kulakukan harus selalu sesuai dengan kehendaknya. Bahkan gaya dan warna rambutku pun harus atas persetujuannya. Sebel, kan?”
Jonathan mengangguk setuju. Pantas kamu sekarang hobi gonta-ganti warna rambut, batin laki-laki itu dalam hati. Barangkali untuk mengekspresikan kebebasan yang tak kauperoleh selama menikah.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, anak-anakmu ikut siapa, Min?” tanya Jonathan ingin tahu.
Mina tertawa terbahak-bahak. “Aku belum punya anak, Jon. Udah lima tahun menikah dan nggak dikaruniai keturunan. Dokter memvonisku mandul.”
Lagi-lagi Jonathan terperangah. Mimin jujur sekali mengungkapkan keadaannya, pikir laki-laki itu keheranan.
“Sori, Min. Lagi-lagi aku salah ngomong.”
“It’s ok. Kamu kan nggak tahu apa-apa. Kamu sendiri udah berapa tahun menikah, Jon?”
“Sepuluh tahun.”
“Wow!” seru Mina kaget sampai menutup mulutnya sendiri. “Udah sepuluh tahun menikah tapi kelihatan masih sayang banget sama istrimu. Hebat!”
Giliran Bastian yang tertawa terbahak-bahak. Mina sampai keheranan melihatnya. Jonathan buru-buru mengalihkan perhatian perempuan itu.
“Yah, namanya istri sendiri mesti disayang, kan?”
“Beruntung sekali istrimu itu, Jon.”
Jonathan kembali mendelik. Sahabatnya justru menyeringai nakal. Mina sendiri menjawab pertanyaan Bastian dengan ekspresi wajah muram, “Yah, udah sepuluh tahun menikah tapi masih bisa nonton berdua kayak masih pacaran.”
“Lha, mereka berdua memang pacaran terus setiap hari. Kan masih belum punya anak!”
Mina terbelalak mendengar jawaban Bastian yang to the point itu. Lalu dia menatap lelaki satunya dengan penuh tanda tanya. “Sori sebelumnya. Kalau sudah lama menikah tapi belum dikaruniai keturunan, kalian pasti sudah konseling ke berbagai dokter spesialis kandungan. Kalau boleh tahu, siapa yang bermasalah, Jon?”
Teman SMA-nya diam saja tak menjawab. Pria itu merasa tak enak hati membuka masalah keluarganya di depan orang luar. Bastian pun tak berani menyeletuk lagi. Mina akhirnya berbicara sendiri, “Aku ini menggugat cerai suamiku karena dia berselingkuh dengan perempuan lain. Alasannya dia menghendaki seorang anak dari darah dagingnya sendiri. Kekasihnya akhirnya mengandung dan tidak keberatan dijadikan istri kedua. Aku yang nggak mau! Seandainya dia yang mandul, aku akan menerimanya dengan lapang dada. Toh, di dunia ini banyak sekali anak yang terlantar. Kami bisa mengadopsi salah satunya dan mengasuhnya bagaikan anak kandung sendiri. Tapi yah…namanya orang, punya prinsip masing-masing.”
“Istriku yang bermasalah dengan rahimnya, Min,” ujar Jonathan akhirnya mengaku. Ia merasa bersimpati terhadap Mina yang telah dengan terus terang mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya.
“Oh, begitu,” sahut Mina kini mengerti. “Lalu bagaimana reaksimu menghadapinya?”
Jonathan menghela napas panjang dan berkata, “Aku memang sempat kecewa, tapi akhirnya bisa menerimanya dengan besar hati. Bahkan aku tidak keberatan untuk mengadopsi anak, tapi istriku tidak setuju.”
__ADS_1
Mina manggut-manggut tanda mengerti. Kadang memang ada perempuan yang tak bisa mengasuh anak yang bukan darah dagingnya sendiri, batinnya memahami.
“Eit, sudah jam setengah delapan malam. Aku sudah lama di sini. Pulang dulu ya, Jon, Bas. Lain kali kita ngobrol-ngobrol lagi. Oya, mumpung nggak ada istrimu di sini, aku boleh minta nomor ponselmu, Jon?”
Terdengar suara Bastian tertawa terpingkal-pingkal mendengar permintaan Mina. Jonathan hanya bisa menyebutkan nomor ponselnya dengan pasrah.
“Tenang aja,” kata Mina sambil mengerling nakal. “Aku nggak akan nelepon maupun chat kamu di luar jam kerja. Takut aku nanti diterkam istrimu. Hahaha….”
Wanita itu lalu melangkah ringan meninggalkan kedua pria dewasa itu. Begitu sosoknya yang menarik perhatian lenyap dari pandangan, Bastian langsung berkomentar, “Kelihatannya saja penampilannya agak urakan, Jon. Tapi dia sesungguhnya seorang wanita yang baik.”
“Kelihatannya sih, begitu,” jawab sahabatnya membenarkan.
“Kasihan ya, nasibnya. Mestinya There berada di sini supaya bisa mendengar kisah hidup Mina tadi.”
“Buat apa? Malah bikin dia tambah sedih teringat keadaannya.”
“Bukan itu maksudku.”
“Jadi apa, dong?”
“Supaya istrimu itu merasa bersyukur mempunyai seorang suami yang mau menerima kekurangannya sebagai wanita. Bukannya malah berselingkuh seperti yang dilakukan mantan suami Mina.”
“Ah, sudahlah, Bas. There sendiri juga menderita.”
“I see. Mudah-mudahan dia benar-benar berusaha merubah perangainya sebagaimana yang diceritakan mertuamu, ya.”
Jonathan mengangguk. Mudah-mudahan…, batinnya penuh harap.
***
Selanjutnya Jonathan seringkali menghabiskan waktunya di pusat kebugaran tersebut sepulang bekerja. Bisa sendirian atau ditemani Bastian. Sesekali mereka bertemu dan berbincang-bincang dengan Mina. Hubungan ketiganya lambat-laun menjadi akrab dan wanita itu pun menganggap kedua laki-laki tersebut sebagai sahabat-sahabatnya. Mina benar-benar memenuhi janjinya untuk menghubungi Jonathan pada jam-jam kerja saja dan akhirnya hal itu diberlakukan juga pada Bastian.
Ketiga orang itu akhirnya saling membuka diri mereka masing-masing. Bastian mengulas statusnya sebagai seorang suami dan ayah dari dua orang anak perempuan yang masih kecil-kecil, Jonathan mengungkapkan tentang depresi yang dialami istrinya, sedangkan Mina sendiri menceritakan impiannya untuk menjadi seorang make-up artist ternama.
__ADS_1
“Mantan suamiku itu cemburuan. Dia nggak suka aku berdandan cantik. Aku terpaksa menurutinya karena malas bertengkar terus. Untung aku masih diperbolehkan meneruskan pekerjaanku sebagai staf akunting di sebuah showroom keramik. Soalnya bekerja di belakang layar, bukan sebagai marketing.”
Jonathan dan Bastian tertawa geli mendengar penuturan wanita itu.