Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Musibah Lagi


__ADS_3

Mila mengangguk mengiyakan ucapan Theresia. Lalu dia menjawab keibuan, “Tante ikut saja kemana kamu mau tinggal, There. Kecuali kalau kamu merasa terganggu dengan kehadiran Tante. Hehehe….”


Anak sambungnya merangkulnya dengan penuh kasih sayang. “Sekarang tinggal kita berdua di dunia ini, Tante. Sesuai pesan Papa sebelum menghembuskan napas terakhir, kita harus saling mendukung satu sama lain. Terima kasih atas support Tante selama ini. Kalau tidak ada Tante, barangkali There tidak akan bisa bertahan sampai sekarang….”


Mila tersenyum. Dia bahagia akhirnya anak tirinya ini dapat merasakan kasih sayangnya. Lindungilah kami berdua, Tuhan, doanya dalam hati. Agar mampu saling mengisi kekosongan dalam hati akibat kepergian Mas Simon….


***


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Keesokkan paginya Theresia yang bermaksud mencari Mila di dalam kamarnya untuk mengajaknya sarapan bersama dikejutkan oleh musibah yang membuatnya semakin terpuruk.


Ibu sambungnya itu tak nampak di dalam kamar tidurnya. Lalu Theresia masuk ke dalam kamar mandi di dalam kamar tersebut. Seketika terdengar jeritan histeris. Mila ditemukannya tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi dengan kepala berlumuran darah!


Wanita yang baru saja kehilangan ayah kandungnya itu terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan wajah bersimbah air mata. “Ya, Tuhan!” isaknya penuh kepedihan. “Cobaan apa lagi yang Kau timpakan pada hambaMu ini? Aku sekarang hanya punya Tante Mila. Kalau dia Kau panggil juga, kepada siapa lagi aku bisa bersandar….”


Dia lalu segera keluar untuk mencari pertolongan. Papa di surga, kumohon doakan supaya Tante Mila tidak apa-apa. There tak sanggup hidup sendirian di dunia ini…,  tangisnya dalam hati.


***


Siang itu Jonathan tengah berbicara dengan Karin di ruangan kerjanya ketika tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi.


“Theresia,” ucap pria itu saat melihat nama istrinya terpampang pada layar ponsel. Dada Karin berdesir mendengar kekasihnya menyebut nama itu. Tapi dia berusaha mengusir prasangka buruknya jauh-jauh. Siapa tahu Bu There menelepon untuk mengatakan sudah siap melanjutkan proses perceraian ke sidang kedua, hiburnya pada dirinya sendiri.


“Halo, There,” sapa Jonathan tenang. Namun selanjutnya ekspresi wajahnya tampak serius. Kemudian dia mengucapkan kalimat ya, Tuhan…, kasihan sekali, dan aku turut berduka. Karin memperhatikannya dengan raut wajah tegang. Ada musibah apa lagi ini? batinnya penasaran.


Setelah Jonathan meletakkan ponselnya, gadis itu tak kuasa menahan perasaan ingin tahunya. “Ada apa, Mas?” tanyanya cemas.


Sang kekasih menghembuskan napas panjang. Dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda prihatin. “Tante Mila ditemukan There tergeletak di kamar mandi dalam kamar tidurnya. Kepalanya berlumuran darah….”


“Ya, ampun!” seru Karin seraya menutup mulut dengan kedua tangannya. “Kasihan sekali. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

__ADS_1


Pria di depannya menatapnya sedih. “Beliau sudah beristirahat dengan tenang sekarang,” jawabnya penuh duka. Kedua matanya berkaca-kaca. “Tante Mila adalah seorang istri yang sangat mengabdi pada suaminya. Barangkali ini jalan Tuhan agar dia bersatu kembali dengan Papa di surga. Menurut dokter ada kemungkinan vertigonya kambuh ketika sedang berada di kamar mandi. Lalu dia terjatuh dan kepalanya mengenai bagian ujung keramik bath tub yang tajam. Otaknya mengalami pendarahan dan langsung meninggal di tempat….”


“Semoga amal-ibadahnya diterima Bapa di surga,” kata Karin berempati.


“Amin.”


Selanjutnya Jonathan menatap kekasihnya gamang.


“Rin….”


“Iya, Mas?”


“Sepertinya aku harus segera menemui Theresia sekarang. Dia…dia kedengarannya rapuh sekali tadi di telepon. There sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Aku kasihan padanya. Ingin kubantu….”


Kalimat Jonathan terhenti seketika. Jari-jemari lembut Karin menutup mulutnya. Laki-laki itu tersenyum. Diraihnya tangan kekasihnya tersebut. Diciuminya penuh kasih. Dia tahu gadis berhati welas asih  itu takkan keberatan dirinya membantu Theresia mengurus jenazah ibu sambungnya.


“Terima kasih, Sayang,” ucapnya lembut.


Sang kekasih tersenyum lebar. “Mengizinkanku mendampingi Theresia melalui masa-masa sulitnya,” jawabnya lugas.


Karin tersenyum pahit. “Apakah aku punya pilihan lain, Mas?” tanyanya getir. “Seandainya kularang pun, apakah kamu bisa duduk tenang tidak memikirkan Bu Theresia?”


Jonathan tercengang mendengar pernyataan gadis yang biasanya selalu pasrah ini. “Apakah kamu cemburu, Rin? Percayalah. Aku hanya sekadar berempati pada nasib There yang bagaikan sudah jatuh masih tertimpa tangga pula. Tak terbersit sedikit pun niat dalam hatiku untuk rujuk dengannya.”


Laki-laki itu lalu berdiri dan melangkah menghampiri gadis itu. Dibungkukkannya tubuhnya dan dikecupnya pipi mulus Karin. Lalu dia merengkuh tubuh ramping itu penuh cinta. Diciuminya ubun-ubun sang kekasih mesra. Karin berusaha melepaskan diri dari pria itu.


“Nggak enak, Mas,” sergahnya kuatir. “Gimana kalau nanti ada yang masuk?”


“Hehehe…. Orang-orang di kantor ini kan sudah pada tahu kita berdua bukan lagi sekadar pimpinan dan karyawan biasa. Kujamin nggak ada yang berani masuk ke ruanganku setiap kali kamu udah masuk duluan.”

__ADS_1


“Sok tahu!”


Sikap Karin yang agak panik itu justru membuat sang kekasih semakin gemas. Diciuminya bibir merah merekah itu penuh hasrat. Tiba-tiba terbersit sebuah gagasan dalam benaknya. Dilepaskannya bibir sang kekasih lalu dia berkata mesra, “Aku ingin punya anak darimu, Rin.”


Gadis di hadapannya tercengang. Belum resmi cerai dari istrinya kok mau punya anak denganku! gerutunya dalam hati. Jadi anak haram dong, anak kita.


“Kamu kenapa diam saja?” tanya Jonathan lembut. “Nggak suka anak kecil?”


“Suka. Tapi kita kan belum nikah, Mas. Statusmu masih suami orang gitu,” balas Karin sewot. Mulutnya cemberut pertanda merajuk.


Pria di hadapannya tertawa geli. Lalu dia berkata riang, “Tenang saja. Setelah Tante Mila dimakamkan, akan kuminta Lusia untuk segera mengejar jadwal sidang kedua.”


“Kalau Bu There minta waktu lagi gimana?”


Jonathan menggeleng. “Akan kuberi dia pengertian, bahwa aku sudah menunggu terlalu lama. Nasibnya kan juga terkatung-katung tidak jelas. Kalau sudah resmi bercerai, dia jadi bebas menempuh hidup baru dengan orang lain.”


Karin menelan ludah. “Aku sangsi Bu There bisa membuka hatinya untuk pria lain,” akunya terus terang.


“Kenapa begitu?” tanya kekasihnya tak mengerti.


“Karena…,” jawab gadis itu sembari menatap mata pria itu lekat-lekat. “Hatinya hanya untuk Jonathan Aditya.”


Kekasihnya tertawa geli. Lalu dia menjawab penuh cinta, “Tetapi hati Jonathan Aditya sekarang hanya untuk Karin Susilo.”


“Janji?” tanya Karin seraya memajukan jari kelingkingnya.


“Janji!” jawab Jonathan mantap. Dikaitkannya jari kelingkingnya pada jari gadis itu. Keduanya lalu tertawa bersamaan dan berpelukan erat sekali.


***

__ADS_1


Demikianlah Jonathan kembali mendampingi istrinya mengurus persemayaman dan pemakaman Mila. Karin tidak datang melayat. Semula dia mengajak Rosa pergi bersama-sama ke tempat persemayaman jenazah. Namun tiba-tiba dia merasa tidak enak badan. Tubuhnya meriang dan perutnya terasa mual.


“Sepertinya Karin masuk angin, Tante,” jawabnya di telepon ketika ditanya bibinya. “Akhir-akhir ini Karin suka begadang untuk menyelesaikan tugas-tugas di kantor. Banyak draft promosi yang harus dikerjakan. Minggu depan kami akan mengadakan pameran tunggal properti di mal. Ini untuk pertama kalinya. Jadi persiapannya agak ekstra.”


__ADS_2