
Pada suatu pagi yang cerah, Simon dan Mila sedang menikmati sarapan bersama istrinya di rumah Theresia.
“There belum bangun, ya?” tanya pria tua itu kepada istrinya. “Bukankah nanti dia ada jadwal konseling dengan psikiater?”
“Sebentar, Mas. Aku coba lihat di kamarnya dulu,” jawab Mila seraya bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar anak tirinya.
Wanita itu mengetuk pintu kamar pelan sambil memanggil nama si empunya kamar. Beberapa kali dilakukannya hal itu tapi tidak ada jawaban dari dalam. Lalu diberanikannya untuk membuka pintu dan menengok ke dalam.
“There…,” ucapnya pelan. Ruangan itu gelap. Dilihatnya tempat tidur masih ada penghuninya dan berselimutkan bed cover. Perempuan yang berbaring di atas ranjang masih memejamkan mata dan tak bereaksi apapun.
Mila berinisiatif mendekati Theresia dan bertanya lembut, “There, bukankah pagi ini kamu ada jadwal konseling dengan psikiater?”
Yang ditanya masih memejamkan matanya. Tiba-tiba dia mengerang pelan. Kedua matanya perlahan-lahan terbuka.
“Hmm…panas sekali di sini…,” erangnya pelan.
Mila mengernyitkan dahinya. Menurutku kamar ini malah terlalu dingin, ucapnya dalam hati. AC-nya dinyalakan dengan suhu yang terlalu rendah.
“Kamu kepanasan, There?” tanya istri Simon itu cemas.
“Iya…Tante…,” jawab anak tirinya itu sambil masih terkantuk-kantuk.
Mila menyentuh dahi Theresia dan terkejut sekali. Lalu disentuhnya leher, tangan, dan kakinya. Panas sekali, pikirnya kuatir.
“There, badanmu panas sekali. Tante rasa sebaiknya kita pergi ke dokter. Bagaimana?”
Wanita yang terbaring lemah itu mengangguk. Ia sudah benar-benar tak berdaya sekarang. Apapun yang diusulkan ibu tirinya akan diturutinya.
“Kamu suka kerokan, nggak?” tanya Mila perhatian.
__ADS_1
“Boleh, Tante.”
“Ok. Sebentar Tante ambilkan koin sama minyak kayu putih, ya.”
“Terima kasih, Tante.”
Mila mengangguk dan kemudian beranjak keluar kamar. Simon keheranan melihat-lihat istrinya sedang sibuk mencari-cari sesuatu di kotak obat.
“Apa yang sedang kaucari? There sudah bangun?”
“Sudah, Mas. Cuma badannya panas sekali. Aku menawarinya untuk kerokan. Dia mau.”
“Oh, begitu.”
“Nah, ini dia!” seru wanita itu kegirangan. Ia sudah menemukan sebuah koin bersih dan minyak kayu putih yang dicarinya. Dicucinya sebentar koin itu dengan sabun, lalu dibilasnya dengan air panas. Selanjutnya dia berpaling pada suaminya dan berkata, “Nanti kalau sudah kerokan dan minum paracetamol ternyata panasnya belum turun juga, kurasa sebaiknya kita ajak dia ke dokter. Aku kuatir sekali. Sekarang kan musim hujan, Mas. Banyak penyakit aneh-aneh.”
Suaminya mengangguk setuju. Diperhatikannya istrinya melangkah menuju ke kamar Theresia sembari membawa perlengkapan untuk mengerok dan segelas air putih. Apa jadinya masa tuaku tanpa kehadiran dirimu, Mila-ku Sayang, ucap Simon bersyukur dalam hati. Semoga keberadaanmu di sini memberikan contoh yang baik bagi anakku bagaimana menjadi seorang istri teladan.
Sore harinya Jonathan yang sedang berdiskusi dengan kedua sekretarisnya menerima telepon dari ayah mertuanya.
“Apa, Pa? There masuk rumah sakit?” tanyanya panik. Kedua matanya terbelalak saking terkejutnya.
Lalu pria bertubuh tegap itu terdiam selama beberapa saat mendengarkan penjelasan Simon di telepon. Tak lama kemudian dia mengangguk dan berkata tegas, “Baik, Pa. Nanti saya jenguk There di rumah sakit itu. Terima kasih banyak ya, Pa.”
Jonathan mematikan sambungan teleponnya dan kemudian menghela napas panjang. Rosa yang cepat tanggap langsung menutup berkasnya dan berkata, “Pak Jon, saya rasa sudah cukup diskusi kita sore ini. Besok masih bisa dilanjutkan lagi karena juga tidak terlalu mendesak. Bapak silakan pulang saja menjenguk Theresia. Sakit apa dia, Pak?”
Karin memandang bibinya keheranan. Kok Tante Rosa menyebut istri Pak Jon dengan namanya langsung, tanpa embel-embel Ibu? tanyanya heran dalam hati.
Jonathan menjawab pertanyaan sekretaris seniornya dengan nada kuatir, “Kata Papa, There terkena demam berdarah. Tadi tiba-tiba demam tinggi. Sudah dikeroki sama Tante Mila dan minum paracetamol, tapi panasnya masih belum turun. Akhirnya dibawa ke rumah sakit dan didiagnosa positif demam berdarah.”
__ADS_1
“Oh, kasihan sekali. Tadi pagi sewaktu Pak Jon berangkat ke kantor There masih baik-baik saja?” tanya Rosa ingin tahu.
Bosnya terpaku mendengar pertanyaan yang bagaikan menohok dirinya itu. Dia tidak mungkin berkata bahwa sudah dua bulan lebih tidak serumah dengan istrinya. Laki-laki itu pun terpaksa berbohong, “Hmm…, tadi pagi aku pergi terburu-buru. Dia masih tidur pulas.”
“Oh, begitu. Di rumah sakit mana, Pak?"
Jonathan menyebutkan nama rumah sakit tempat istrinya dirawat. Lalu Rosa kembali berkomentar, “Oh, ini rumah sakit dekat rumah Pak Jon, kan? Untung Pak Simon dan Bu Mila tinggal dekat There dan Pak Jon, ya. Jadi kalau ada apa-apa bisa saling kontak minta bantuan. Barangkali tadi There tidak mau menganggu aktivitas Pak Jon jadi terpaksa minta tolong papanya.”
Sang direktur manggut-manggut saja menanggapi analisa sekretaris seniornya tersebut. Whatever, pikirnya cepat. Asalkan dirimu jangan bertanya terlalu jauh sehingga aku terpaksa berbohong lagi.
“Kalau begitu,” ucap pimpinan perusahaan itu dengan terburu-buru. “Diskusi ini kita lanjutkan besok saja. Saya harus segera pulang sekarang.”
“Siap, Pak,” sahut Rosa dan Karin berbarengan. Keduanya lalu saling berpandangan dan tersenyum simpul. Begitu mereka sudah meninggalkan ruangan Jonathan, Karin langsung bertanya kepada bibinya, “Tante kok menyebut nama istri Pak Jon langsung, tanpa embel-embel Ibu?”
Rosa menatap keponakannya sambil tersenyum penuh arti, “Aku sudah bekerja di sini semenjak There masih berumur sembilan tahun, Rin. Sudah terbiasa memanggil namanya langsung dan dia sendiri memanggilku dengan sebutan Tante. Waktu itu ibu kandungnya masih hidup dan sering membawanya datang ke kantor menemui ayahnya. Pak Simon itu orangnya gila kerja, sampai kadang Tante merasa kasihan pada keluarganya karena kurang diperhatikan.”
Karin manggut-manggut mendengarkan penuturan bibinya. Tapi Pak Jon kelihatannya berbeda dengan ayah mertuanya, pikirnya mengambil kesimpulan. Dia jarang sekali lembur dan tadi kelihatan begitu panik mendengar istrinya sakit demam berdarah.
“Seperti apa Bu Theresia itu orangnya, Tante? Cantikkah?” tanyanya penasaran.
“Cantik sekali seperti ibunya. Ditambah anak orang kaya, jadi kulit wajah dan tubuhnya sangat terawat. Penampilannya juga keren. Waktu dulu dia masih rutin ngantor, banyak karyawan yang terpesona melihatnya.”
“Oya? Wah, Karin jadi penasaran ingin segera bertemu dengannya.”
Rosa mengangguk dan berkata, “Besok sore sepulang dari kantor kita berdua datang menjenguknya di rumah sakit. There itu sebenarnya baik orangnya, cuma agak manja dan egois. Maklum, anak tunggal seorang konglomerat! Ditambah ibunya meninggal dunia sewaktu dia masih berumur sepuluh tahun dan ayahnya terlalu sibuk bekerja, jadinya mental anak itu kurang terbimbing dengan baik. Kalau marah, suka melontarkan kata-kata yang kurang pantas di depan umum dan membuat orang sakit hati mendengarnya.”
“Oh, begitu. Jadi lebih enak bekerja di bawah pimpinan suaminya, ya?”
“Jauh,” jawab Rosa sambil terkekeh. “Pak Jon dan Pak Simon itu sama-sama baiknya. Cuma Pak Jon lebih murah hati terhadap karyawan. Mungkin karena ayah mertuanya merintis perusahaan sedari awal sehingga beliau sangat perhitungan terhadap pengeluaran sekecil apapun.”
__ADS_1
“Bu Mila itu siapa, Tante?”
“Itu istri kedua Pak Simon. Dengar-dengar mereka dulu pernah menjalin hubungan semasa muda tapi putus di tengah jalan. Setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka bertemu kembali setelah masing-masing kehilangan pasangan. Bu Mila itu seorang janda tanpa anak. Orangnya baik sekali dan melayani suaminya dengan sepenuh hati.”