
Malam itu benar-benar hari yang membahagiakan bagi Theresia. Ia sangat menikmati makan, minum, dan berbincang-bincang santai dengan suaminya. Apapun mereka bicarakan. Kecuali hal-hal yang tak menyenangkan seperti perceraian, Karin, dan sebagainya.
Derai tawa tak henti-hentinya keluar dari mulut Theresia setiap kali suaminya membuat lelucon demi menyenangkan hatinya di hari istimewa ini. Wanita itu terus-menerus menuangkan wine ke dalam gelas Jonathan. Laki-laki itu merasa tak enak hati menolaknya. Tak apalah, pikirnya menolerir. Toh, perayaan ini cuma terjadi setahun sekali. Belum tentu tahun depan kami merayakannya bersama lagi.
Akhirnya pria itu selalu menenggak gelasnya yang diisi penuh oleh Theresia setiap kali isinya berkurang . Wanita itu sendiri tidak minum banyak, dengan alasan dilarang oleh psikiaternya.
Ketika Jonathan meninggalkan Theresia untuk pergi ke kamar mandi, wanita itu segera menjalankan aksinya. Ditaburkannya bubuk halus berwarna putih ke dalam gelas suaminya yang penuh berisi wine. Benda itu adalah obat perangsang yang diperolehnya dari ahli farmasi kenalannya. Hebatnya bubuk itu tidak berbau dan tidak berasa, sehingga orang yang menenggak minuman yang sudah dicampur obat itu takkan merasa curiga. Tak ada perbedaan sedikit pun pada rasa minuman tersebut.
Demikianlah, Jonathan yang sudah kembali dari kamar mandi melanjutkan percakapannya dengan wanita yang berulang tahun. Setiap kali gelasnya berkurang isinya, selalu ditambahi wine oleh Theresia. Hingga akhirnya pria itu mabuk dan mulai kehilangan kesadaran. Matanya terpejam seperti tertidur.
Theresia panik menyaksikan suaminya tak sadarkan diri. Aduh, kok malah jadi begini? batinnya galau. Harusnya Mas Jon kan terangsang padaku. Kok malah tak sadarkan diri?
Dia lalu bangkit dari kursinya. Dihampirinya Jonathan yang kepalanya tertelungkup di atas meja makan. Dengan sekuat tenaga berusaha dipapahnya laki-laki itu.
"Aduh, berat sekali," keluhnya. Napasnya mulai ngos-ngosan. "Mas Jon, Mas Jon, ayo bangun. Kupapah masuk ke dalam kamar, ya," katanya berusaha membangunkan suaminya.
Rupanya laki-laki itu tak sepenuhnya tidak sadarkan diri. Dia berdeham mengiyakan kata-kata istrinya. Kakinya berusaha digerakkan untuk mengikuti langkah kaki Theresia yang tengah memapahnya. Sesampainya di dalam kamar, wanita itu langsung membaringkan suaminya di atas tempat tidur.
Badan suamiku bertambah kekar semenjak berpisah denganku, cetus wanita itu dalam hati. Untung dia masih separuh sadar jadi bisa melangkahkan kakinya menuju kamar ini.
Wanita itu lalu bangkit berdiri untuk mencari remote control guna menyalakan AC. Ini dia, batinnya senang begitu menemukan benda yang dicarinya. Ditekannya tombol On, lalu menyalakan alat pendingin itu.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar erangan Jonathan. Mata lelaki itu terpejam tapi mulutnya meracau.
"Jangan pergi, Karin. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku sangat merindukanmu. Tahukah kamu, aku kesepian sekali hidup seorang diri tanpa kehadiranmu...."
Theresia tertegun mendengar racauan pria yang sangat dicintainya itu. Mas Jon masih memikirkan perempuan ****** itu! batinnya terluka. Matanya berkaca-kaca. Setelah semua yang kulakukan selama ini, dia masih belum juga dapat melupakan Karin. Padahal di depanku dia sudah tak mau membahas tentang gadis itu lagi. Ternyata lain di mulut, lain di hati.
Tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya. Dilihatnya wanita di depannya dengan mata berbinar-binar. "Kamu cantik sekali memakai gaun itu, Sayang. Oh, bahkan sebenarnya di mataku kamu selalu cantik dalam keadaan apapun...."
Entah mendapat kekuatan dari mana, Jonathan bangkit merengkuh tubuh Theresia dan membaringkannya di atas ranjang. Diciuminya dahi, pipi, dan bibir wanita itu dengan hasrat yang bergelora. Sang istri yang sebelumnya merasa terpukul dianggap sebagai Karin olehnya akhirnya menyerah.
Dibalasnya ciuman laki-laki itu penuh gairah. Sudah lama sekali dia tak merasakan sentuhan Jonathan yang memabukkan jiwanya. Tak dipedulikannya racauan laki-laki itu yang berkali-kali menyebut nama perempuan lain.
Persetan dengan perempuan murahan itu! jeritnya dalam hati. Akan kunikmati momen yang sangat kunanti-nantikan ini. Benar-benar kunikmati setiap detiknya....
"Ya, Tuhan! Apa yang telah kita lakukan?!" seru Jonathan saat terbangun keesokkan paginya. Dirinya tengah berbaring di atas ranjang yang sama dengan Theresia. Tubuh mereka ditutupi selimut yang sama dan...tanpa busana!
Terdengar suara isak tangis wanita itu. Suaminya tersentak. "There..., apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanyanya meminta penjelasan. "Kenapa kita bisa dalam keadaan seperti ini?"
Sambil tetap menangis, wanita itu menjawab lirih, "Kamu mabuk kemarin malam, Mas. Terus kupapah masuk ke kamar ini. Kubaringkan di atas ranjang. Waktu aku mau pulang, tiba-tiba kamu terbangun dan...dan...." Tangis wanita itu semakin keras.
"Maafkan aku, There," ucap Jonathan penuh penyesalan. "Aku benar-benar tak menyadari perbuatanku. Sori. Aku benar-benar menyesal...."
__ADS_1
"Kamu menyebut-nyebut nama Karin...," cetus Theresia cemburu. "Kamu menganggapku sebagai dia, Mas. Lalu kau peluk aku. Kau ciumi aku sambil terus meracau tentang gadis itu."
Jonathan terperangah. Benarkah apa yang kudengar ini? Aku meracau tentang Karin waktu mabuk kemarin? Ya, Tuhan!
"Aku berteriak-teriak, Mas. Berusaha menyadarkanmu bahwa diriku bukan Karin, melainkan Theresia. Tapi kau tidak peduli. Bahkan menindih tubuhku semakin kuat. Aku akhirnya hanya bisa pasrah...."
Oh, My God! Jadi aku sudah memperkosa Theresia? Betapa bejadnya dirimu, Jonathan! Dasar laki-laki laknat! katanya memaki-maki dirinya sendiri dalam hati.
Theresia yang bersimbah air mata menatapnya dengan sorot mata terluka. "Mas Jon, kalau sudah begini, apa tindakan kita selanjutnya?" tanyanya sendu. Dia bersikap seolah-olah telah menjadi korban. Korban yang tengah menanti keputusan orang yang telah merenggut kehormatannya.
Aku telah memperkosa Theresia! pikir Jonathan muak pada dirinya sendiri. Tapi...secara hukum dia masih berstatus sebagai istriku yang sah. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku ini? pikirnya kebingungan. Ditatapnya wanita itu seperti orang linglung. Laki-laki itu sudah hilang akal rasanya menghadapi persoalan ini.
"Terserah...terserah apa yang kau inginkan untuk menghukumku, There. Aku menurut saja," sahutnya kemudian. Dia sudah pasrah sekarang. Biarlah Theresia yang mengambil keputusan yang terbaik bagi mereka. Jonathan sudah tak mampu berpikir secara rasional lagi. Musibah bertubi-tubi yang dialaminya telah menjadikan otaknya buntu.
Sang istri tersenyum dalam hati. Dengan hati-hati dia berkata, "Barangkali ini pertanda dari Tuhan, Mas Jon...."
"Apa maksudmu?" tanya sang suami tak mengerti. Pertanda apa? Pertanda bahwa aku laki-laki tak tahu diri yang dengan mudahnya memuaskan nafsu pada perempuan manapun yang berada di depanku?! batinnya mengutuk dirinya sendiri.
Theresia menghela napas panjang. "Barangkali ini pertanda bahwa Tuhan menghendaki kita bersatu kembali...."
"Apa katamu?!" seru laki-laki itu terkejut. Matanya terbelalak tak percaya. Bersatu kembali dengan istrinya ini? Mungkinkah itu? batinnya tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Mas, "jawab wanita itu sambil mengangguk penuh keyakinan. "Kamu sudah ditinggalkan Karin dan aku masih tetap sendirian. Lalu terjadi insiden ini. Apa lagi namanya kalau bukan pertanda dari Tuhan agar kita rujuk?"
Rujuk? Mungkin istilah itu kurang tepat, pikir Jonathan. Bagaimanapun juga aku dan There belum resmi bercerai. Kami berdua masih pasangan suami-istri yang sah.