Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Datang Melayat


__ADS_3

“Kurasa nggak masalah,” timpal Jonathan. “There sekarang sudah agak berubah. Nggak seemosional dulu. Papa sudah menasihatinya menjelang akhir hayatnya. Kalau Mimin mau, dia bisa datang bersama Karin. Tapi jangan dipaksa lho, Bas. Nggak enak.”


“I see. Dia pasti mau. Malah dia merasa sungkan sama kamu karena nggak datang. Sesama rekan bisnis, kan.”


“Ok. Thanks, Bro.”


“Your welcome.”


Dan benar saja. Keesokkan harinya tampak Mina datang bersama Karin, Rosa, dan Bernard. “Turut berduka cita ya, There,” ucap Rosa seraya menyalami lalu memeluk Theresia yang sangat berduka.


“Terima kasih, Tante Rosa,” jawab putri Simon itu lirih. Dia lalu menyalami Bernard, suami mantan sekretaris ayahnya itu. Kemudian dilanjutkan dengan Karin.


“Turut berduka cita, Bu Theresia. Semoga Ibu sekeluarga diberi ketabahan,” ucap gadis itu agak takut-takut. Entah kenapa hatinya deg-degan berhadapan dengan istri sah kekasihnya ini. Ada sedikit perasaan bersalah menyeruak dalam dadanya tatkala pandangan mata mereka beradu.


Theresia yang tak merasa curiga menerima uluran tangan gadis itu. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ketika tiba giliran Mina yang menunjukkan rasa belasungkawanya, wanita itu berusaha keras untuk tersenyum dan menyalaminya. Ini acara penghormatan buat Papa, batinnya menenangkan diri. Aku tidak boleh membuat keributan. Mina adalah teman Mas Jon, wajar saja kalau dia datang untuk melayat Papa. Bagaimanapun juga Mas Jon masih berstatus sebagai suamiku yang sah.


“Terima kasih, Mina,” sahutnya pendek. Sang tamu merasa lega kedatangannya diterima dengan baik. Theresia lalu mempersilakan mereka untuk duduk di bangku-bangku yang masih kosong. Selama beberapa saat dia menemani tamu-tamunya itu mengobrol hingga tiba-tiba Jonathan muncul bersama seorang wanita berambut sangat pendek di belakangnya.


Mina yang melihatnya sangat terkejut. Lusia, batinnya gundah. Aduh, kok dia bisa datang sekarang, ya. Gawat!


“There, ini Lusia datang,” beritahu Jonathan pada istrinya. Theresia mendongak. Oh, itu pengacara Mas Jon yang tempo hari mau kudatangi kantornya, batinnya sedih. Seandainya aku tidak keras kepala mau menemuinya, Papa pasti masih hidup sekarang.


Wanita itu memaksakan diri untuk tersenyum. Disapanya kuasa hukum suaminya itu dengan ramah, “Terima kasih atas kehadirannya, Bu Lusia.”

__ADS_1


Sang pengacara menyalami Theresia dan berkata diplomatis, “Saya turut berdukacita, Bu Theresia. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.”


“Terima kasih.”


Selanjutnya wanita itu mempersilakan Lusia duduk. Dia sendiri mengucapkan permisi pada tamu-tamu itu untuk mengurus hal lain. “Mas Jon tolong temani Tante Rosa dan semuanya ngobrol di sini, ya,” pintanya meminta bantuan. Suaminya menatapnya takjub lalu mengangguk. Entah sudah berapa kalinya selama dirinya berada di tempat persemayaman ini istrinya itu mengucapkan kata tolong. Sepertinya dia berusaha menunaikan pesan-pesan Papa sebelum meninggal,  pikir Jonathan senang. Mila telah menceritakan padanya tentang amanah Simon pada putrinya sebelum menghembuskan napas terakhir. Pria itu meminta Theresia menjadi pribadi yang tegar, dewasa, dan mandiri. Juga mencapai keinginannya dengan elegan dan mengutamakan logika.


Setelah meninggalkan tamu-tamunya, tiba-tiba perut Theresia terasa mulas. Ah, sebal, keluhnya dalam hati. Masih repot begini kok ususku nggak bisa diajak kompromi. Lalu dia melangkah menuju ke toilet untuk buang air.


Sementara itu Jonathan memperkenalkan Lusia pada Rosa dan Bernard. “Kenalkan ini pengacara saya. Lusia namanya. Karin dan Mimin sudah kenal, kan?”


Mina mengangguk. Lalu spontan dia berdiri dan berkata mau pergi ke kamar kecil. “Mau kutemani, Mbak?” kata Karin menawarkan diri. Mina menggeleng pelan. “Nggak usah. Aku nggak lama, kok. Kamu di sini saja. Temani Tante Rosa dan Om Bernard. Permisi dulu Tante, Om, Lusia. Yuk, Bro.”


Jonathan langsung menyadari sahabatnya itu merasa tidak nyaman berada di dekat sang pengacara yang dulu pernah hampir menciumnya. Laki-laki itu merasa sedikit menyesal mengajak Lusia duduk bersama rombongan Mina. Dia tadi sama sekali lupa akan kejadian tidak mengenakkan yang dulu menimpa sahabatnya. Tapi sudah telanjur. Mina sudah ngeloyor pergi menuju ke toilet.


Jonathan dan Karin tercengang menyaksikan pengacara tersebut seolah-olah mau mengejar Mina. Ya sudahlah, batin Jonathan pasrah. Biarlah Mimin dan Lusia menyelesaikan persoalan mereka sendiri.


Lalu laki-laki itu mulai duduk di samping Bernard dan mengajaknya mengobrol. Karin menundukkan wajahnya. Dia merasa kikuk duduk berhadapan dengan kekasihnya. Gadis itu tahu Rosa yang duduk di sebelahnya diam-diam memperhatikan gerak-geriknya….


***


Sesampainya di toilet, Mina menghela napas lega. Tak ada orang sama sekali di sana. Dia memandangi wajahnya di cermin sambil berkata menyemangati dirinya sendiri, “Ayo semangat Mina! Jangan galau bertemu Lusia. Biasa saja seolah tak pernah terjadi apa-apa.”


“Memangnya pernah terjadi apa?” tanya sebuah suara perempuan tiba-tiba menimpali perkataannya.

__ADS_1


Mina terkejut. Wanita yang dihindarinya tiba-tiba muncul tepat di hadapannya. “Mau apa kamu kemari?” tanyanya dongkol. Dia mundur beberapa langkah.


Lusia terkekeh geli. “Ini kan toilet umum buat perempuan. Boleh-boleh saja dong, aku masuk kemari,” sahutnya enteng. Dia lalu mencuci tangannya di wastafel.


Setelah mengeringkan tangannya di mesin pengering, pengacara itu berkata lirih, “Aku mau minta maaf lagi atas kejadian dulu itu, Mina. Benar-benar khilaf aku waktu itu. Jangan kuatir, takkan kuulangi lagi.”


Mina menatapnya tak percaya. Tapi sorot mata Lusia tampak bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Mau tak mau hati Mina tergerak juga. “Baiklah, kumaafkan. Tapi tolong Lusia, aku tidak bisa berteman dengan ehm…sori…penyuka sesama jenis. Jujur saja rasanya kurang nyaman. Harap dimengerti,” pintanya sopan namun tegas.


“Begitu, ya. Baiklah. Aku menghargai kehendak orang yang tidak ingin menjalin persahabatan denganku. Tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu?”


“Apa itu?”


“Apakah kau menjalin hubungan spesial dengan Jonathan? Kalau iya, aku justru senang sekali kau bisa bahagia bersamanya. Dia pria yang baik.”


“Apa? Hahaha….”


Mina tertawa terpingkal-pingkal sampai hampir keluar air mata. Kini giliran Lusia yang tertawa. Sebagai seorang pengacara handal, sedikit banyak dia bisa membaca pikiran seseorang melalui sikap yang ditunjukkannya. Dari cara Mina tertawa, dia sudah dapat membaca bahwa wanita yang pernah memikat hatinya ini tidak memiliki hubungan istimewa dengan kliennya.


“Ok, aku tahu sudah,” cetusnya setelah berhenti tertawa. “Kalian cuma bersahabat biasa. Maafkan dugaanku tadi. Jujur saja aku mau menangani kasus perceraiannya karena kulihat dia orang baik dan temanmu juga. Seandainya kalian bersama, aku akan sangat bahagia. Setidaknya aku bisa menebus kesalahanku dulu padamu.”


“Dengan mengurus perceraiannya supaya dia bisa bersatu denganku? Hehehe…, Lusia, Lusia. Dugaanmu keliru. Bukan aku wanita yang bisa menaklukkan hati Jonathan.”


“Oya? Lalu siapa yang bisa?”

__ADS_1


“Hehehe…kau tadi sudah diperkenalkan padanya. Jon tadi memang tidak menyebutkan status gadis itu karena ada Theresia. Tapi di kantor semua orang sudah tahu kalau mereka lagi pacaran.”


__ADS_2