
Diraihnya kedua telapak tangan di depannya dan digenggamnya dengan penuh kasih sayang. “Papa dan Tante Mila akan membantumu menjadi seorang istri yang baik bagi seorang Jonathan Aditya. Benar kan, Mila?”
Istri tercintanya itu mengangguk dan tersenyum tulus. Hati Simon lega sekali melihatnya. Dia tak tahu bagaimana masa tuanya tanpa kehadiran istrinya yang berhati mulia ini. Mestinya anakku banyak belajar dari Mila bagaimana caranya melayani suami dengan penuh cinta kasih, pikirnya serius. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang timbul dalam benak pria tua itu.
“Mila, bagaimana kalau untuk sementara waktu kita berdua tinggal menemani There di sini? Ambillah seluruh perlengkapan sehari-hari kita di rumah dan bawalah kemari. Katakan pada Jonathan bahwa kita akan bertukar tempat tinggal untuk sementara waktu sampai There benar-benar siap bersatu kembali dengannya.”
Istri yang taat pada suami itu mengangguk setuju. Lalu ia berpamitan untuk mengambil barang-barang keperluan pribadinya dan Simon di rumah mereka. There memperhatikan ibu tirinya sampai sosok tubuh rampingnya tak kelihatan lagi.
“Tante Mila penurut sekali ya, Pa. Dia juga sangat telaten merawat Papa.”
Simon mengangguk mengiyakan. Kau pun akan kubentuk untuk menghormati dan menghargai suamimu seperti dia, Anakku, tekad laki-laki bijaksana itu dalam hati.
***
Tak terasa Jonathan sudah sebulan lebih tinggal di rumah mertuanya. Selama itu hidupnya terasa benar-benar nyaman dan tenteram. Ia tak perlu buru-buru pulang ke rumah sehabis bekerja. Bahkan tak jarang ia bekerja lembur. Persoalan besar di pabrik catnya akhirnya dapat diatasi dengan baik. Produk-produk catnya yang dikembalikan oleh para distributor telah diteliti. Hasilnya ditemukan bahwa ada satu jenis bahan cat yang diganti dengan bahan sejenis yang sekilas tampak serupa tapi ternyata kualitasnya lebih rendah. Hal itulah yang menyebabkan mutu produk-produknya menurun dan mengecewakan konsumen.
Setelah diusut, ternyata manajer pembelian menerima suap dari supplier bahan yang baru untuk menggunakan produk mereka sebagai pengganti produk lama yang harganya lebih mahal. Selisih harga pembelian bahan tersebut digelapkan oleh sang manajer selain dia sendiri juga masih memperoleh sejumlah komisi dari supplier tersebut.
Manajer senior tersebut akhirnya mengakui perbuatannya setelah Jonathan menunjukkan bukti-bukti kecurangannya selama enam bulan terakhir. Pria berusia lima puluh tiga tahun itu akhirnya dikeluarkan dari perusahaan dengan pesangon sebesar setahun gaji mengingat dedikasinya bekerja di perusahan tersebut selama dua puluh tahun lebih.
Beginilah kelakuan pegawai-pegawai senior eks bawahan Papa dulu, batin Jonathan dalam hati. Dikiranya aku ini anak bau kencur yang tidak berani menegur kesalahan para senior hanya karena mereka lebih dulu bekerja di perusahaan ini! Mereka tidak menyadari bahwa aku secara perlahan dan tak kentara telah menaruh orang-orangku di posisi-posisi strategis. Gunanya untuk berjaga-jaga jika terjadi kecurangan-kecurangan di perusahaan dapat segera dilacak.
__ADS_1
Hanya Bu Rosa satu-satunya eks pegawai senior Papa yang dapat kuandalkan, batin menantu Simon Iskandar itu prihatin. Beliau memang benar-benar bekerja dengan hati. Mudah-mudahan keponakannya nanti mewarisi dedikasi dan loyalitas tantenya.
Tiba-tiba peringatan Bastian terbersit di benaknya. “Kalau kamu masih berniat mempertahankan perkawinanmu, sebaiknya carilah seorang sekretaris yang sudah matang seperti Bu Rosa. Risikonya kecil.”
Ah, sudah telanjur, pikir suami Theresia itu tak menghiraukan peringatan sahabatnya itu. Bu Rosa sendiri yang menawarkan Karin untuk menggantikan posisinya sebagai sekretarisku. Aku benar-benar sungkan menolaknya. Kurasa Papa juga akan mengambil keputusan yang sama jika berada dalam posisiku, dalihnya dalam hati.
There, ngapain ya dia sekarang? batin Jonathan agak merindukan istrinya yang cerewet. Aku belum mengontaknya sama sekali semenjak pergi meninggalkan rumah. Papa melarangku menghubunginya supaya There benar-benar merasa kehilangan diriku dan merubah sifa-sifat buruknya. Dua hari sekali Tante Mila datang melihat-lihat keadaan rumahnya sambil bercerita tentang kondisi istriku. Katanya There rutin melakukan konseling dengan psikiater seminggu tiga kali dan menjalani terapi meditasi setiap hari. Dia juga sudah tidak bergaul lagi dengan teman-teman sosialitanya. Papa memintanya supaya tidak mengontakku sampai kondisi mentalnya benar-benar stabil sehingga kata-kata yang diucapkannya tidak lagi menyinggung perasaan.
Syukurlah kalau keadaan There semakin membaik. Sebenarnya dia harus banyak belajar dari Tante Mila bagaimana cara menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga yang baik, pikir laki-laki itu mengagumi ibu mertua tirinya. Tante Mila cakap sekali mengatur pembantu-pembantunya sehingga dapat bekerja dengan baik meskipun tanpa pengawasan sang majikan.
Rumahnya selalu bersih dan rapi. Makanan pun selalu siap pada jam yang sama dan rasanya lezat sekali. Benar-benar nyaman tinggal di rumahnya. Seperti sedang berlibur di sebuah vila saja, puji Jonathan dalam hati. Kalau di rumahku, yang cakap mengatur rumah tangga itu Bi Sum, bukan si nyonya rumah. Mudah-mudahan kedekatan There dengan Tante Mila setiap hari bisa membuatnya mengadopsi kelebihan-kelebihan yang dimiliki ibu tirinya itu.
Tiba-tiba ponsel Jonathan berbunyi. Tertera nama Bastian pada layarnya. Dengan segera dia menekan logo bergambar telepon dan menyahut ringan, “Halo, Bas.”
“Bujangan gundulmu! Hahaha….”
“Ceria sekali kamu kedengarannya. Hepi ya melajang selama sebulan lebih?”
“Kenapa memangnya? Mau tukeran?”
“Ogah, ah. Tukeran sebentar terus nti balikkan lagi untuk disemprot habis-habisan setiap hari! Siapa mau? Hahaha….”
__ADS_1
“Kata ibu mertuaku, There sikapnya jauh lebih tenang sekarang, Bas. Kelihatannya perpisahan sementara ini baik bagi kami berdua. Yah, untung mertuaku turun tangan. Kalau nggak, kami beneran udah bubrah tempo hari.”
“Syukurlah kalo begitu. Sekarang kamu masih di kantor? Belum pulang?”
“Ini baru mau pulang. Kenapa?”
“Nge-gym yuk, di D-Mall. Member-mu masih jalan, kan?”
“Masih, sampai tahun depan. Kamu udah di sana?”
“Otewe.”
“Ok, aku pulang dulu ambil perlengkapan terus nyusul, ya. Palingan sejam dari sekarang sampai sana.”
“Ok, Bro. Kutunggu.”
Sambungan telepon pun terputus. Iya, pikir Jonathan serius. Mumpung aku masih bebas saat ini, puas-puasin berolahraga saja. Kalaupun There kondisinya membaik saat nanti kami bersatu kembali, tapi belum tentu sifat cemburunya berkurang dan membiarkanku sering-sering nge-gym. Katanya di tempat itu sering terjadi hubungan tak pantas antara orang-orang yang sudah menikah. Dia mengambil kesimpulan itu dari teman-teman sosialitanya yang suka berolahraga di sana. Ada beberapa dari mereka yang selingkuh dengan instruktur atau dengan para member gym.
Lha, kalau udah tahu begitu kok dia dulu masih mau bergaul dengan ibu-ibu muda kurang kerjaan itu? pikirnya sebal. Mudah-mudahan There selamanya nggak akan berteman dengan mereka lagi.
***
__ADS_1
“Halo, Jon! Rupanya kamu nge-gym di sini juga,” sapa seorang wanita muda berambut pendek cepak berwarna merah terang.
Jonathan yang sedang berlari santai di atas treadmill melongo melihat seraut wajah yang dikenalnya tapi penampilannya berubah total itu.