
Diajaknya Theresia masuk ke dalam kamar tidurnya. Jonathan langsung duduk membelakangi wanita itu. Dibukanya kaos oblong warna putihnya. Jantung Theresia berdegup kencang menyaksikan tubuh kekar yang dulu selalu menjadi tempatnya bersandar.
Istri Jonathan itu menelan ludah. Ingin sekali dia merengkuh punggung perkasa itu untuk memberi sang suami kekuatan. Namun ditahannya keinginannya tersebut. Ia tak mau laki-laki itu curiga dengan maksud sebenarnya dirinya datang kemari.
Dikeluarkannya sekeping koin dan sebotol kecil minyak kayu putih kesukaan Jonathan dari dalam tasnya. Setelah menghela napas panjang, Theresia mulai mengeroki kulit kuning langsat di depannya dengan perlahan-lahan, membentuk garis miring-miring berwarna merah tua. Jonathan diam saja tak mengeluh sama sekali. Rasa sensitif pada sensorinya berkurang jauh akibat kondisi meriang dan menggigil yang dialaminya.
"Minum-minum itu boleh, Mas. Tapi jangan berlebihan. Sayangilah tubuhmu," nasihat Theresia pada suaminya sambil terus mengerok. Laki-laki itu diam saja. Dia menikmati kehangatan minyak kayu putih yang mulai merasuk ke sekujur tubuhnya. Gerakan-gerakan mengerok Theresia mulai membuat tubuhnya mengeluarkan keringat. Rasa menggigilnya mulai berkurang.
"Terima kasih, There," katanya sambil tetap memunggungi sang istri. "Kalau tidak ada kamu, mungkin aku masih terkapar tak berdaya di atas tempat tidur."
"Bukankah Mas Jon biasanya kuat minum?" tanya Theresia berpura-pura heran. "Baru minum bir hitam saja kok sudah ambruk begini."
Pria itu mendesah panjang. Dia teringat kembali akan pengkhianatan Karin. Hatinya luar biasa terluka. Barangkali lama sekali baru akan sembuh. Perasaan kehilangan gadis yang teramat dicintainya sekaligus buah hati yang menjadi harapannya benar-benar membuatnya terpuruk sekali.
Jonathan sempat merasa berada di awang-awang ketika pertama kali mengetahui tentang kehamilan Karin. Dirinya merasa sangat bersyukur masih diberi Tuhan kesempatan mempunyai keturunan dari rahim wanita yang sangat dikasihinya. Namun dalam sekejap semuanya itu musnah. Kekasihnya berkhianat dan sekaligus menghilangkan nyawa buah cinta kasih mereka.
"Karin meninggalkanku, There," aku laki-laki itu terus terang. Dia merasa tak ada gunanya menyembunyikan kenyataan tersebut dari sang istri. "Supaya dapat bersatu kembali dengan mantan pacarnya. Yang lebih menyedihkan, dia menggugurkan kandungannya tanpa memberitahuku terlebih dahulu...."
Theresia menghentikan aktivitas mengeroknya. Dia beringsut dari posisi duduknya untuk berada persis di sebelah sang suami.
Jonathan terus mencurahkan isi hatinya. "Kalau Karin memang tak ingin mengasuh anak kami...," katanya dengan mata berkaca-kaca. "Aku sama sekali tak keberatan menjadi orang tua tunggal. Akan kuasuh anak itu sendirian. Tindakan Karin itu benar-benar menghancurkan hidupku! Aku merasa ditusuk dari belakang...."
__ADS_1
Air mata laki-laki itu jatuh bercucuran. Dia sudah tak malu-malu lagi menangis di hadapan istrinya. Tak peduli dirinya akan direndahkan dan dihina sebagai laki-laki yang cengeng.
Sontak Theresia memeluk suami yang teramat dicintainya itu. "Nggak apa-apa, Mas. Menangislah sepuasnya. Aku memahami isi hatimu. Percayalah, aku mengerti...."
Hati wanita itu terasa lega ketika sang suami menyambut pelukannya. Maafkan aku sudah membuatmu menderita seperti ini, Mas Jon, batinnya merasa bersalah. Aku berjanji akan menebus kehancuran hatimu saat ini dengan menjadi wanita yang selalu setia di sampingmu apapun yang terjadi....
***
Hubungan Theresia dan Jonathan menjadi semakin dekat. Laki-laki itu menganggap istrinya seperti sahabat yang setia mendampinginya saat berada dalam kesusahan. Hingga akhirnya suatu ketika Lusia meneleponnya untuk memberitahu jadwal sidang kedua perceraiannya. Jonathan segera menghubungi Theresia untuk mengkonfirmasi hal itu.
"Aku juga sudah diberitahu pengacaraku, Mas," jawab wanita itu datar. "Dua hari lagi kan, sidangnya?"
"Betul," jawab suaminya mantap. "Sampai ketemu di pengadilan, ya, There."
Jonathan termenung sejenak. Dilihatnya kalender yang tergantung di dinding ruang kerjanya. "Hari Selasa, kan?" ujarnya menjawab pertanyaan sang istri.
"Betul hari Selasa. Hehehe..., sekaligus hari ulang tahunku yang ketiga puluh empat," jawab Theresia sambil terkekeh.
"Oh, sori aku lupa," sahut Jonathan seraya menepuk jidatnya. "Selamat ulang tahun ya, There. Semoga diberkahi panjang umur, kesehatan, dan kebahagiaan selalu."
"Terima kasih banyak, Mas Jon," jawab wanita itu ceria. Hatinya berbunga-bunga sekali. "Maukah kamu menemaniku merayakannya, Mas? Cuma makan-makan aja di rumah malam ini. Bagaimana?"
__ADS_1
Jonathan terdiam mendengar permintaan istrinya. Dia memang merasa nyaman sekarang bersahabat dengan wanita yang tak lama lagi akan bercerai dengannya itu. Tapi janggal sekali rasanya kalau dirinya merayakan ulang tahun Theresia di rumah mereka dulu. Laki-laki itu kuatir kenangan-kenangan lama akan terngiang kembali saat mereka berduaan di sana.
Bagi Jonathan sekarang hidup lebih praktis jika tidak berhubungan terlalu dekat dengan wanita. Kegagalan perkawinannya dengan Theresia yang disusul dengan pengkhianatan Karin telah menorehkan luka yang teramat menyakitkan dalam sanubarinya. Cukup sudah bergelut dalam hubungan asmara, putusnya dalam hati. Selanjutnya akan kufokuskan hidupku untuk kerja, kerja, dan kerja.
Tapi..., sekarang hari besar There. Masa aku sampai hati mengecewakannya? oikirnya galau. Lagipula ulang tahun kan hanya setahun sekali. Mungkin bisa kuusulkan untuk dirayakan di tempat lain saja.
"Gimana, Mas Jon? Sampai ketemu di rumah jam tujuh malam ini, ya?"
"Hmm..., sori, There. Bisakah kalau dirayakan di tempat lain saja? Jangan di rumah. Aku...aku merasa kurang nyaman dilihat Bi Sum dan pembantu-pembantu lainnya."
"Oh, begitu...," jawab sang istri kecewa. Namun bukan Theresia Hidayat namanya kalau mudah putus asa. "Kalau begitu bolehkah di apartemenmu saja, Mas? Aku akan bawa makanan dan minuman. Kamu nggak usah siapin apa-apa. Begitu selesai, aku akan langsung pulang ke rumah. Bagaimana?"
Jonathan mengernyitkan dahi. Kenapa harus di aperartemenku? Apa nggak ada tempat lain? Kan bisa makan di kafe atau resto saja? pikirnya heran. Namun kemudian ingatan akan kebaikan Theresia mengeroki tubuhnya dan menemaninya di kala patah hati membuat laki-laki itu mengurungkan niatnya mengusulkan tempat lain.
Dengan pasrah, dia berkata lirih, "Ok, There. Jadinya di apartemenku saja, ya. Jam setengah tujuh malam. Karena biasanya aku sampai sana baru jam enam."
"Terima kasih banyak, Mas Jon," jawab istrinya dengan hati berbunga-bunga. Dia sudah merencanakan akan membawa seafood kesukaan suaminya beserta wine untuk memeriahkan makan malam istimewa itu.
Wanita itu lalu beranjak ke kamar tidurnya. Ia mau berdandan untuk pergi ke mal. Tujuannya mencari gaun yang cocok untuk merayakan ulang tahunnya bersama suami tercinta nanti malam. Gaun itu harus spesial, keren, dan membuatnya tampil mempesona.
Malam ini adalah penentuan bagiku untuk meraih suamiku kembali dalam pelukanku, tekadnya bulat dalam hati. Raut wajahnya mengeras, menunjukkan kesungguhan hatinya yang sudah tak dapat ditawar-tawar lagi.
__ADS_1
"Akan kukerahkan segenap kemampuanku agar Mas Jon menjadi milikku kembali. Sidang perceraian yang kedua besok lusa akan dibatalkan dan takkan ada lagi orang yang bisa mengusik perkawinan kami!"
***