
Takutnya nanti di kantor timbul desas-desus yang tak mengenakkan. Sekretaris baru kok setiap hari diajak pergi bersama. Padahal sang bos mau bercerai dari istrinya!
“Ah, cueklah,” putusnya acuh tak acuh. “Toh, minggu depan aku sudah nggak ada hubungan dengan kantor ini lagi.”
Jonathan lalu menelepon sekretaris yang telah memikat hatinya itu untuk bersiap-siap pergi makan siang.
***
“Selamat ya, Pak Jon, akhirnya berhasil menyewa apartemen yang Bapak suka kemarin,” ucap Karin sambil tersenyum manis. Ia dan atasannya sedang menikmati makan siang di sebuah restoran masakan Cina.
“Aku juga sudah menghubungi pengacara yang dulu mengurus perceraian Mimin. Namanya Lusia. Tapi chat WA-ku belum dibaca. Mudah-mudahan segera ditanggapi.”
“Lho, pengacaranya perempuan, Pak? Bukankah Bapak lebih suka laki-laki supaya nggak baperan?”
“Pasrah aja deh, sekarang. Tiga pengacara laki-laki sudah menolak menangani kasusku. Ya sudahlah, apa adanya aja.”
“Hehehe…, sabar, Pak. Kalau memang kehendak Tuhan, segala urusan Bapak pasti berjalan lancar.”
“Amin, Rin. Thanks a lot for your support.”
“Your welcome, Sir.”
Keduanya lalu saling berpandangan dan tertawa berbarengan. Aku selalu merasa rileks setiap kali berduaan dengan gadis ini, batin sang direktur senang. Ucapan, sikap, dan tindak-tanduknya selalu membuatku tenang dan nyaman. Seakan-akan semua persoalan yang kuhadapi pasti mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Tanpa sadar ditatapnya Karin dengan sorot mata penuh cinta.
Gadis di hadapannya tak kuasa menatap balik. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam sembari menyendok makanannya. Aduh, Pak Jon kok menatapku seperti ini, ya? tanyanya dalam hati. Dirinya benar-benar salah tingkah. Karin tak menyadari pria matang di hadapannya itu justru merasa geli menyaksikan kecanggungan sikapnya.
Gimana kalau dia kuajak kencan sungguhan, ya? pikir Jonathan nakal. Selama ini kami kan cuma makan berdua. Itu pun masih dalam jam kantor. Barangkali aku bisa mengajaknya menonton bioskop. Ehm…, dia bakalan mau nggak, ya? tanya laki-laki itu dalam hati. Malu juga kalau ditolak.
Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi menandakan ada pesan WA masuk. Dibacanya pesan tersebut. Rupanya balasan WA dari pengacara.
Selamat siang, Pak Jonathan. Mohon maaf baru membalas WA Anda. Bisakah Anda datang ke kantor saya sekitar pukul tiga siang hari ini atau besok pada jam yang sama? Terima kasih.
Jonathan tersenyum lebar. Pertanda baik, gumamnya dalam hati. Ia lalu bertanya pada Karin apakah ada jadwal penting setelah ini. Sekretarisnya itu menggeleng pelan. Sang direktur segera membalas chat WA pengacara dengan penuh sukacita.
__ADS_1
Halo, Bu Lusia. Bagaimana kalau saya datang hari ini saja? Bisakah dikirimkan alamat lengkap kantor Ibu? Terima kasih banyak.
Beberapa saat kemudian dia menerima jawaban. Dibacanya alamat lengkap kantor pengacara tersebut dalam hati. Lokasinya cukup dekat dengan D-Mall, cetusnya dalam hati. Tiba-tiba sebuah gagasan bagus singgah dalam benaknya.
“Rin, setelah ini kita kembali ke kantor, ya.”
“Baik, Pak.”
“Dan kita cuma punya waktu dua puluh menit untuk membereskan pekerjaan. Setelah itu kamu ikut aku pergi ke kantor pengacara itu. Dia barusan menyanggupi bertemu denganku pukul tiga siang di kantornya. Kurasa akan memakan waktu agak lama berbicara dengannya. Jadi bawalah barang pribadimu, karena kita nggak akan kembali ke kantor lagi sehabis dari sana.”
“Oh, maksudnya sesudah urusan di kantor pengacara selesai, Bapak langsung mengantar saya pulang?”
“Nggak, aku ingin refreshing.”
“Hah?”
Jonathan nyengir malu. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya seketika terasa panas. Aduh, perasaanku sekarang kok seperti baru pertama kali mengajak cewek kencan, batin laki-laki itu geli sendiri. Jonathan, Jonathan. Umurmu sudah tiga puluh lima tahun. Tapi tetap saja canggung kalau sedang melakukan pendekatan dengan seorang perempuan.
Pria yang tak lama lagi akan menjadi seorang duda cerai itu berdeham sejenak. Ditatapnya gadis di depannya dengan sorot mata penuh cinta seperti tadi. Wajah Karin merona kemerahan. “Karin, maukah kamu menemaniku nonton bioskop sehabis dari kantor pengacara? Setelah itu kita makan malam. Terus kamu kuantar pulang ke rumah. Bagaimana?”
“Si…siap, Pak,” jawabnya gugup.
Sang bos menatapnya geli. “Kok gitu jawabannya? Seakan-akan aku sedang memintamu mengerjakan sebuah tugas penting. Hehehe….”
Ini memang penting buatku, sela gadis itu dalam hati. Tapi bukan tugas. Bagiku ini adalah sebuah harapan yang menjadi kenyataan!
“Gimana, Rin?”
“Eh…iya, Pak. Saya mau.”
“Terus kita nonton film apa enaknya, ya? Sebentar ku-check di aplikasi dulu. Film apa aja yang diputar di bioskop D-Mall sore ini.”
“Oh, nonton di D-Mall, Pak?”
__ADS_1
“Iya. Karena ternyata kantor pengacara dekat situ. Kamu keberatan?”
“Eh, nggak, kok. Terserah Bapak mau nonton film di mana. Saya ngikut saja.”
Beginilah wanita yang kuidam-idamkan, batin Jonathan lega. Menghormati dan menghargai seorang laki-laki.
“Ini ada lima film yang nanti sore diputar di D-Mall. Kamu suka yang mana?”
Sang bos lalu menunjukkan layar ponselnya. Dibiarkannya sekretarisnya yang cantik melihatnya satu per satu. Karin tampak gugup berada begitu dekat dengan atasannya. Tanpa sengaja ia menyentuh tangan Jonathan yang memegang ponsel menghadap ke arahnya.
“Eh, maaf, Pak.”
“Kenapa?”
“Anu, tadi nggak sengaja nyentuh tangan Bapak.”
“Berarti kamu harus diberi sanksi.”
Karin melongo memandang pria itu. Ekspresi Jonathan tampak begitu serius. Hati gadis itu langsung ciut. Dengan pasrah dia bertanya, “Sanksi apa, Pak?”
Pria tampan beralis tebal dan bermata tajam bagaikan elang itu menjawab diplomatis, “Sanksinya…temani aku makan siang setiap hari. Ok?”
Raut wajah Karin yang semula mendung langsung berubah cerah bagaikan matahari terbit. Dirinya dan Jonathan saling berpandangan sejenak. Lalu kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu tertawa berbarengan.
***
“Baiklah, Pak Jonathan. Saya sudah memahami duduk persoalannya. Saya bersedia menangani kasus ini. Jadi Bapak sudah yakin untuk menggugat cerai Bu Theresia secepatnya?” tanya Lusia, pengacara berumur tiga puluh tiga tahun itu berwibawa.
Kliennya mengangguk mantap. Sudah tak ada yang perlu dipikirkan lagi, batin Jonathan lapang dada. Perkawinanku sudah usai.
“Baiklah kalau begitu. Ini saya berikan daftar berkas-berkas apa saja yang harus diberikan pada saya,” kata wanita cantik berambut pendek cepak itu lugas. Dia memang tidak suka bertele-tele dalam bekerja. Sikapnya begitu profesional dan membuat kliennya merasa yakin telah mempercayakan kasusnya pada orang yang tepat.
Jonathan membaca dalam hati daftar yang diberikan kepadanya. Semua berkas ini bisa kulengkapi besok kecuali surat keterangan dari kelurahan, gumamnya dalam hati.
__ADS_1
“Maaf, Bu Lusia. Apakah semua berkas ini harus saya serahkan secara bersamaan? Karena hanya surat keterangan dari kelurahan yang masih harus saya urus. Yang lain-lain seperti surat nikah asli, fotokopi KTP, dan sebagainya bisa saya berikan besok siang.”