
Dia lalu duduk di samping istrinya. Diraihnya tangan wanita itu. Diciuminya punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
"Kita pulang ke Indonesia saja, yuk. Menenangkan diri sejenak sembari mencari-cari informasi lagi tentang pengobatan buat Valentina," ajaknya sembari tersenyum lembut pada Theresia.
"Kamu capek ya, Mas, bolak-balik Surabaya-Singapore terus?" tanya istrinya seraya mengusap pipi Jonathan mesra.
"Nggak juga. Udah biasa, kok. Cuma aku menguatirkan kesehatanmu, Sayang. Aku mau mengajakmu berlibur mencari udara segar di pegunungan seperti Batu atau Tretes gitu. Setelah refreshing selama beberapa hari, pikiranmu pasti akan lebih rileks. Tubuh juga menjadi lebih segar. Kamu nggak akan terus-terusan pusing seperti ini. Bagaimana?"
Sang istri mengangguk pasrah. Dia lalu bergelayut manja pada pundak suaminya. "Kupikir-pikir aku juga kangen sama rumah kita di Surabaya, Mas. Udah satu tahun aku nggak menengoknya. Juga makam Papa dan Tante Mila," cetusnya sedih.
Jonathan mengangguk. "Nanti begitu sampai di Surabaya, hari kedua kita langsung mengunjungi makam mereka, ya," ajaknya sembari mengecup lembut kening Theresia. Wanita itu mengangguk setuju.
Benar kata Mas Jon, aku butuh refreshing. Selama ini aku terlalu tegang dengan rutinitas sehari-hari menemani anakku terapi ini-itu sampai mengabaikan kesehatanku sendiri, cetus wanita itu dalam hati. Selanjutnya aku akan berusaha lebih rileks menghadapi semuanya. Kemarin aku mendapatkan informasi dari salah satu pasien terapi tentang beberapa klinik spesialis saraf terbaik di negeri Tiongkok. Akan kuteliti satu per satu nanti kalau sudah tiba di Indonesia. Pengobatan di negeri Singa ini cukuplah sudah. Metodenya itu-itu terus dan tidak membawa hasil apapun bagi anakku. Sudah waktunya aku mencoba metode lain.
Sementara itu Jonathan dalam hati merasa lega. Dia senang istrinya mau diajak pulang kembali ke Indonesia. Laki-laki itu sendiri sebenarnya sudah merasa kerepotan harus bolak-balik Surabaya-Singapore terus. Sungkan juga membiarkan Bastian dan Mina mengembangkan bisnis properti mereka bertiga tanpa dirinya.
Meskipun kedua sahabatnya itu sama sekali tak pernah mengeluh, namun Jonathan merasa dirinya kurang profesional. Bagaimanapun juga, ide membuka kantor pemasaran properti itu berasal darinya. Jadi laki-laki itu merasa bertanggung jawab untuk menjalankan bisnis itu sebaik mungkin.
Lagipula dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia sudah pasrah dengan keadaan Valentina. Kasihan juga anak sekecil itu harus dibombardir dengan berbagai terapi selama tiga tahun belakangan di Surabaya, Malaysia, dan Singapore. Perasaannya sebagai ayah merasa tak tega menyaksikan anaknya sering menangis saat menjalani terapi. Namun dia diam saja karena tahu semua itu dilakukan Theresia demi kebaikan putri mereka. Dirinya pun dapat melihat ekspresi tidak sampai hati wanita itu setiap kali mendengar erangan maupun rengekan Valentina.
Kami bertiga sama-sama menderita dengan kapasitas masing-masing, batinnya berusaha tegar. Semoga kepulangan kami nanti ke Indonesia membuat There agak rileks menghadapi semuanya.
__ADS_1
Kembali dikecupnya kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Theresia membalasnya dengan pelukan manja. Mereka berdua lalu melanjutkannya dengan hubungan intim yang penuh cinta dan gairah.
Kemudian Jonathan memeluk tubuh polos istrinya dari belakang dan berbisik mesra, "I love you, Sayang."
Theresia mengangguk dan menjawab dengan kalimat serupa. Dia lalu memejamkan mata dan segera melayang ke alam mimpi.
Keesokkan paginya Jonathan terbangun. Dilihatnya sang istri sudah tidak berbaring di sampingnya. Dengan perlahan laki-laki itu bangkit dari tempat tidur. Alangkah terkejutnya dia menyaksikan tubuh istrinya tergeletak tak berdaya di lantai! Kedua matanya tertutup rapat.
"There, There! Ya, Tuhan. Apa yang terjadi pada dirimu, Sayang?!" seru laki-laki itu panik. Didekatkannya telinganya pada dada istrinya. Theresia masih bernapas dengan teratur. Jonathan merasa bersyukur sekali.
Diangkatnya tubuh istrinya dan diletakkannya di atas ranjang. Ditutupinya tubuh polos itu dengan selimut. Perlahan mata wanita itu terbuka. "There, kau sudah sadar? Syukurlah," cetus Jonathan lega. Dibelai-belainya kepala istrinya dengan lembut.
"Aku kenapa, Mas?" tanya Theresia perlahan. Dia memandang suaminya tak mengerti.
"Sekarang sih, nggak ngerasa apa-apa," jawab wanita itu lirih. Dirinya lalu berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Beberapa saat kemudian Theresia berkata, "Seingatku tadi pas bangun tidur aku merasa kepalaku pening sekali. Ya, benar. Pening yang agak berbeda. Sakitnya tak tertahankan sampai aku terduduk di lantai. Barangkali itu yang menyebabkanku pingsan."
"Untungnya kamu tidak gegar otak, Sayang. Masih dapat mengingat dengan jelas apa yang sudah terjadi. Ayo, sekarang bersiap-siaplah. Kubawa kamu ke rumah sakit untuk diperiksa."
Theresia langsung memprotes, "Aku kan sudah nggak apa-apa, Mas. Sudah segar gini, kok."
Suaminya melotot dan berkata tegas, "Aku tidak mau kejadian ini terulang kembali, There. Bagaimana kalau terjadi lagi saat aku tidak berada di sampingmu? Siapa yang akan menolongmu? Sudahlah, tolong menurutlah padaku kali ini. Periksakan dirimu secara menyeluruh di rumah sakit!"
__ADS_1
Akhirnya wanita itu pun mengangguk setuju. Dia tak berdaya menghadapi suaminya yang sudah mulai menunjukkan kewibawaannya.
***
Dokter laki-laki setengah baya keturunan orang Indonesia itu memandang Theresia prihatin. Dia sedang menimbang-nimbang kata-kata yang akan diutarakan pada pasiennya ini. Sementara itu suami si pasien tampak lebih penasaran dengan kondisi kesehatan istrinya.
"Penyakit apa yang sebenarnya diderita istri saya, Dok? Kenapa dia sering sekali mengalami sakit kepala? Bahkan tadi pagi sampai pingsan karena tak kuat menahan rasa sakitnya."
Si dokter berdeham. Dia lalu menjelaskannya dengan hati-hati, "Begini, Pak. Berdasarkan hasil pemeriksaan secara menyeluruh terhadap Bu Theresia, ditemukan adanya sel-sel kanker di bagian otak...."
Theresia langsung tak sadarkan diri mendengar penuturan dokter tersebut.
***
"Aku nggak mau dirawat di sini, Mas. Aku mau pulang saja ke Surabaya. Bukankah kemarin kita sudah setuju untuk kembali ke tanah air dan refreshing di daerah pegunungan?" cetus Theresia ketika sudah sadar dari pingsannya. Dia dirawat di ruang perawatan intensif di rumah sakit. Dokter mencemaskan keadaannya yang mengalami pingsan sampai dua kali dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Jonathan menghela napas panjang. Dia tampak sangat sedih. "Kemarin kita belum tahu kondisi kesehatanmu yang sebenarnya, Sayang. Makanya aku mengajakmu pulang ke Surabaya. Tapi sekarang sudah berbeda keadaannya. Kamu harus mendapatkan perawatan. Kamu...kamu menderita kanker otak stadium tiga, There. Harus dirawat secara intensif supaya sel-sel kanker tidak menyebar ke organ-organ tubuh yang lain."
Sang istri termangu. "Kanker otak...stadium tiga?" tanyanya terbata-bata. Matanya mulai berkaca-kaca.
Suaminya mengangguk. "Itulah yang dikatakan dokter padaku tadi sewaktu kamu pingsan. Sepertinya kita harus menunda kepulangan ke Indonesia."
__ADS_1
Ya Tuhan! teriak Theresia dalam hati. Belum cukupkah penderitaanku? Bertahun-tahun kuhabiskan waktu, pikiran, dan tenagaku untuk mendamping putriku menjalani beraneka-ragam terapi dan pengobatan. Kepentingan diriku sendiri sampai kuabaikan. Mengapa sekarang Kau tega memberiku penyakit seganas ini?!
"Tidak adil. Tuhan benar-benar tidak adil!" seru wanita itu kesal. Air matanya jatuh bercucuran. "Di dunia ini banyak sekali orang jahat, tapi hidup sehat-walafiat dan berumur panjang. Kenapa aku yang ditimpa penyakit kanker otak, Mas Jon? Kenapa aku?!