
Karin mendesah. Dia tak berani menatap mata sang kekasih. "Yah, mumpung masih kuat kerja, pelan-pelan mau kualihkan tugas-tugasku sama Maya, Mas. Jadi kalau nanti aku nggak enak badan lagi, dia bisa menangani pekerjaan administrasi tanpa harus bergantung terus padaku," jawabnya hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan laki-laki itu.
Jonathan tertawa geli. "Memangnya kamu mau ke mana? Kalau Maya butuh bantuan saat kamu nggak masuk kerja, dia kan bisa nelepon kamu. Oya, gimana kabarnya baby kita?" tanyanya sembari berjongkok dan mendekatkan telinganya pada perut Karin. Gadis itu merasa terenyuh. Bagaimana mungkin dia sanggup meninggalkan pria sebaik ini?
Jangan terlalu menyayangiku, Mas Jon, jeritnya dalam hati. Itu membuatku semakin berat pergi jauh darimu.
"Belum ada suara tendangan bayi, kok," gurau Jonathan menggoda. "Malah kudengar bunyi perut keroncongan. Hehehe...."
Karin tak mampu menahan gelak tawanya. Sang kekasih terpana melihatnya. "Kamu cantik sekali kalau tertawa, Sayang. Tau nggak, aku kangen sekali melihatmu gembira seperti ini. Akhir-akhir ini wajahmu tampak serius sekali. Sikapmu juga beda dibanding biasanya. Seolah-olah kamu lebih suka menyendiri. Ada masalah apa, sih? Ayo cerita sama Mas Jon-mu ini."
Gadis itu berkelit. "Nggak ada masalah apa-apa, kok. Cuma aku merasa kondisi badanku berubah aja. Nggak se-fit dulu," jawabnya sembari mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh perhatian sang kekasih.
Jonathan menyentuh wajah Karin dengan kedua tangannya. Gadis itu terpaksa memandang ke arahnya. Hatinya meleleh menyaksikan sorot mata teduh itu menatapnya penuh cinta.
"Sadar nggak?" tegur laki-laki itu halus. "Sedari tadi kamu bicara tanpa sedikit pun memandang ke arahku. Ada apa, sih? Seakan-akan aku ini manusia buruk rupa yang tak patut dilihat wajahnya. Ya udahlah. Karena aku cinta banget sama kamu, anggap aja kamu ini The Beauty dan aku The Beast-nya."
Gurauan Jonathan yang terdengar konyol itu membuat Karin tertawa terbahak-bahak. Secepat kilat sang kekasih ******* bibir indah yang terbuka itu dan mencumbunya penuh perasaan. Karin terkejut sekali. Sesaat dia menikmati pagutan hangat bibir sang kekasih dan membalasnya sepenuh hati. Namun tiba-tiba wajah Theresia yang cemburu berkelebat dalam benaknya. Sontak dilepaskannya bibirnya dan dia berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu.
"Ada apa, Karin?" tanya Jonathan keheranan melihat perilaku gadis itu yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Ma...maaf, Mas," jawab Karin gelisah. "Aku...aku merasa nggak nyaman lagi melakukannya."
"Oh," sahut kekasihnya mahfum. "Bawaan janin, ya? Ya udah, nggak apa-apa. Dituruti aja, Sayang. Yang penting anak kita nanti lahir normal dan sehat."
Karin melongo mendengar ucapan Jonathan yang terdengar santai. Bawaan janin? Yah, masuk akal sih, Mas Jon sampai berpikiran seperti itu, gumamnya dalam hati. Perempuan kan suka aneh-aneh perangainya kalau sedang mengandung.
"Udah, jangan melamun. Aku beneran nggak apa-apa kok, Sayang. Ayo kita makan siang aja di luar. Perutmu kan udah keroncongan. Kasihan anak kita kelaparan. Mau makan apa? Kuantar kemanapun kamu mau," rayu Jonathan sambil meremas jari-jemari Karin.
"Hmmh..., sori. Aku udah bawa bekal hari ini, Mas. Rasanya malas pergi kemana-mana. Enakkan di kantor aja. Mas pergi makan sendiri aja, ya. Maaf, aku masih harus membimbing Maya lagi biar dia cepat paham."
Lalu gadis itu melepaskan tangan kekasihnya yang menatapnya dengan sorot mata kecewa. Dengan cepat ditinggalkannya ruangan itu sebelum Jonathan sempat mencegahnya.
Laki-laki itu mendesah panjang. Ya sudahlah. Aku harus bersabar, cetusnya dalam hati. Karin masih beradaptasi dengan kehamilannya. Emosinya belum stabil. Tak apalah. Toh, hal ini cuma akan berlangsung selama beberapa bulan saja. Nanti kalau rasa tak nyaman dalam tubuhnya sudah terkendali, hubungan kami pasti baik kembali seperti dulu.
"Mbak Karin juga, Pak?" tanya pesuruh kantor itu menawarkan. Biasanya bosnya ini selalu memesan dua porsi makanan untuk dirinya dan sang kekasih.
Namun kali ini pimpinannya itu menggeleng. "Nggak usah, dia sudah bawa bekal sendiri. Kembaliannya buat kamu aja," jawabnya lugas.
"Terima kasih banyak, Pak," sahut laki-laki itu seraya tersenyum lebar. Sesaat kemudian dia sudah meninggalkan ruangan itu untuk menjalankan tugas dari sang pimpinan.
__ADS_1
Jonathan lalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Ditepisnya hati kecilnya yang mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Karin. Dia tak menyadari sang kekasih tadi meninggalkan ruangannya dengan dada sesak dan mata berkaca-kaca....
***
Keesokan harinya, mulai pukul 10 pagi Jonathan dan tim marketing-nya berada di dalam mal tempat kantor mereka melangsungkan pameran tunggal selama dua hari di akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu.
Mereka mempersiapkan berbagai perlengkapan yang diperlukan seperti seperangkat meja dan kursi, laptop, printer, brosur, pamflet, X-banner, dan lain-lain. Selama dua hari tersebut Jonathan tak segan-segan menyewa jasa seorang MC untuk berkoar-koar di area pameran demi menarik perhatian para pengunjung.
Karin ikut datang membantu kesibukkan mereka di hari pertama. Namun siangnya dia meminta izin untuk kembali ke kantor karena Maya membutuhkan bantuannya untuk mengurus sesuatu.
Jonathan yang sebenarnya dalam hati merasa heran kenapa urusan gadis itu dengan Maya belum selesai juga, hanya mengangguk dan menatap kepergian sang kekasih dengan penuh tanda tanya. Namun rasa penasarannya tidak berlangsung lama karena salah seorang anggota tim-nya membutuhkan bantuan dirinya untuk menjelaskan secara mendetil produk-produk properti mereka kepada pengunjung mal. Dalam waktu sekejap, pria itu fokus kembali pada pekerjaannya dan melupakan kegundahannya atas keanehan sikap Karin.
Pada hari kedua, yaitu hari Minggu, Karin tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Jonathan mulai merasa kuatir. Diteleponnya gadis itu, namun tak ada yang mengangkat. Dikirimnya pesan WA, centang dua namun berwarna abu-abu. Berarti tidak dibaca oleh kekasihnya itu. Perasaan gemas menyeruak dalam hati pria itu. Ingin sekali dia meninggalkan pameran dan mencari sang pujaan hati, namun kedua kakinya tak kuasa bergerak.
Hari Minggu banyak sekali pengunjung datang ke mal. Ditambah pula sekarang ini tanggal muda. Orang-orang baru gajian dan menghabiskan uangnya di tempat hiburan bersama keluarga. Sedari tadi banyak kepala keluarga yang mampir ke booth untuk mendapatkan informasi mengenai properti.
Bastian dan Mina kemarin datang untuk melihat-lihat. Keduanya berusaha membantu sebisa mungkin. Namun tentu saja Jonathan yang paling mengetahui seluk-beluk properti dibandingkan kedua rekan bisnisnya itu.
Setelah menutup transaksi dua unit ruko dengan seorang pengunjung mal, akhirnya Jonathan bisa duduk beristirahat sejenak. Diteguknya air mineral botol di atas meja. Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang sangat dikenalnya.
__ADS_1
"Lho, Mas Jon? Kamu sedang pameran di sini rupanya?"
Pria itu memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut. Dilihatnya Theresia tengah tersenyum memandangnya.