Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Amanah Theresia


__ADS_3

"Aku senang sekali bertemu Karin, Mas. Terima kasih sudah membawanya padaku," ucap Theresia lirih. Seulas senyum bahagia tersungging di bibirnya. Sorot matanya tampak teduh, menenangkan hati Jonathan yang memandanginya.


"Apa lagi yang kau inginkan, Sayang? Akan berusaha kupenuhi," kata pria itu sepenuh hati. Dirinya benar-benar hendak membahagiakan istrinya ini di sisa-sisa hidupnya.


Tangan Theresia menyentuh wajah suaminya. Terasa rambut-rambut kasar di sekeliling mulut laki-laki itu. "Dulu kamu rajin sekali bercukur, Mas. Kenapa sekarang malas?" tanyanya ingin tahu.


Jonathan mendesah. Dia memang sudah tak memperhatikan penampilannya lagi semenjak dokter berkata umur istrinya tinggal menunggu waktu. Kesedihan dalam hatinya begitu besar sehingga tak ingin apapun selain menemani Theresia sepanjang waktu. Pekerjaannya pun ditinggalkannya untuk sementara. Untungnya Bastian dan Mina tak keberatan. Mereka memahami sang sahabat harus berkonsentrasi mengurus keluarganya.


"Kamu ingin aku bercukur?" tanya laki-laki itu.


Istrinya mengangguk.


"Tunggu sebentar, ya."


Sang suami lalu bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian dia sudah muncul kembali dengan penampilan yang baru. Wajahnya terlihat bersih dan rapi sehabis dicukur. Dia kelihatan lebih muda dan segar.


Tatkala dirinya sudah berbaring kembali di samping sang istri, wanita itu mengelus-elus wajahnya penuh cinta. "Mukamu kelihatan muda dan fresh kalau sudah dicukur begini, Mas," ujarnya sambil tersenyum. "Cocok sekali bersanding dengan Karin."


"There...," tegur suaminya lembut. Tatapannya menunjukkan rasa tak suka terhadap perkataan wanita itu barusan.

__ADS_1


Sang istri justru tertawa kecil. "Karin sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Parasnya pun semakin cantik. Sikapnya kini tampak berwibawa tapi hatinya tetap selembut dulu. Dia pantas sekali mendampingimu dan Valentina, Mas...."


"There...," tegur Jonathan sekali lagi. Ada penekanan pada nada suaranya kali ini. Dia tak suka istrinya menjodoh-jodohkan dirinya dengan Karin. Bukannya apa. Laki-laki itu hanya ingin Theresia hidup lebih lama sehingga dia punya lebih banyak waktu untuk membahagiakan wanita itu. Dijodoh-jodohkan terus dengan wanita lain membuat hati Jonathan terasa pedih. Seakan-akan dirinya diingatkan terus bahwa Theresia akan segera meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dirinya dan Valentina.


Istrinya itu menatapnya sungguh-sungguh. "Dengarkan kata-kataku, Mas Jon. Ini penting sekali. Tolong jangan menyela. Please...."


Dengan berat hati Jonathan mengangguk. Dia tak sampai hati menolak permintaan wanita yang sangat dicintainya ini.


Theresia tersenyum lega. Dia lalu berkata, "Kalau aku sudah pergi, kumohon jangan terlalu lama bersedih. Pikirkan masa depan anak kita. Segera nikahi Karin. Juallah rumah ini dan aset-asetku lainnya. Selain biaya pengobatan anak kita, kalian juga butuh uang untuk tempat tinggal dan biaya hidup sehari-hari di Tiongkok. Kartu-kartu ATM, alamat email, dan akun investasi virtual-ku sudah lama kuganti sandinya dengan tanggal ulang tahun Valentina. Jadi kamu takkan kesulitan mengaksesnya. Aku mohon dirimu dan Karin mengupayakan yang terbaik buat anak kita. Umurnya sudah hampir enam tahun. Kalian harus bergerak cepat sebelum saraf-sarafnya semakin matang dan susah untuk dipulihkan...."


Jonathan tak sanggup berkata apa-apa. Dia hanya menganggukkan kepalanya berulang-kali. Matanya berkaca-kaca. Theresia tampak senang. Dia berkata lembut, "Terima kasih banyak, Mas. Aku percaya Tuhan akan membukakan jalan bagi orang tua yang berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan anaknya."


Terima kasih, Tuhan, batinnya bahagia. Semuanya berakhir dengan baik. Baik sekali....


Malam itu keduanya tidur saling berpelukan. Keesokkan paginya saat terbangun, Jonathan menemukan istrinya berbaring telentang di sampingnya. Matanya tertutup rapat. Bibirnya menyungging senyuman damai. Dadanya sudah tak bergerak naik-turun tanda bernapas.


Air mata laki-laki itu mengalir. Dikecupnya kening Theresia. "Selamat jalan, Sayang," bisiknya lembut di sisi telinga wanita itu. "Aku selalu mencintaimu."


Lalu dipeluknya jasad istrinya itu sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


***


Jonathan akhirnya menikah secara sederhana di gereja dengan Karin. Pernikahan itu dihadiri keluarga dan teman-teman dekat saja. Rumahnya dengan Theresia laku terjual meski dengan harga di bawah nilai pasar.


"Nggak apa-apa, Bas. Aku bisa menginvestasikan uangnya pada reksa dana. Dalam jangka panjang akan memperoleh hasil yang besar. Daipada rumahku tidak laku-laku, biaya perawatannya juga besar," kilahnya waktu Bastian menanyakan apakah tidak sayang rumahnya yang megah dijual sebesar tiga puluh persen di bawah nilai pasar.


Bastian mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa sahabatnya itu sangat paham tentang investasi. Maklum, dia pernah menjadi direktur dua perusahaan terkemuka di Surabaya ini. Pengetahuannya tentang keuangan dan bisnis sangat luas.


Lima bulan setelah Theresia berpulang, Jonathan dan Karin melaksanakan amanah yang dipercayakan pada mereka. Pasangan suami-istri itu membawa Valentina pergi ke Tiongkok. Dengan ikhlas mereka melepaskan karir masing-masing. Karin menngundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru bahasa Mandarin, sementara suaminya melepaskan bagian sahamnya di perusahaan pemasaran propertinya. Bagian sahamnya itu diberikan secara cuma-cuma kepada Bastian dan Mina.


"Jangan begitu, Bro," kata Mina merasa tidak enak sewaktu Jonathan mengutarakan maksudnya. "Kami beli saja bagian sahammu. Atau tidak usah kau jual. Kami ngerti kok, kamu sekarang harus memprioritaskan anak dulu. Tak apalah kamu cuti bekerja sementara, tapi tetap mendapatkan bagi hasil."


Jonathan terkekeh. "Kepergianku kali ini bukan sekadar satu-dua tahun, Min. Aku dan Karin sudah membicarakannya dengan sungguh-sungguh. Tiongkok itu negeri besar. Di sana banyak sekali tempat-tempat pengobatan medis maupun alternatif untuk gangguan saraf tulang belakang. Theresia telah mengumpulkan informasi tempat-tempat itu dengan sangat detil dan rapi. Kami tinggal mengunjungi dan mencoba metodenya buat Valentina. Tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama dan ketelatenan yang luar biasa. Ini bukan seperti pengobatan yang dulu kulakukan buat anakku di Malaysia maupun Singapore. Kali ini aku dan Karin akan mengeliling negeri Tirai Bambu itu sampai kondisi anak kami mengalami perkembangan! Kalau tidak, Theresia di tempat peristirahatannya akan merasa kecewa...."


Bastian mendesah. Dia manggut-manggut mengerti. "Mendiang istrimu itu memang luar biasa. Sungguh berhati besar. Dia mengorbankan seluruh hartanya demi memulihkan kaki anak yang bukan putri kandungnya sendiri. Hebat!" pujinya setulus hati.


Jonathan mengangguk setuju. "Oleh karena itulah, aku dan Karin bertekad akan mencurahkan segenap pikiran, waktu, dan tenaga kami demi Valentina. Hal yang dulu pernah dilakukan There dengan luar biasa."


Mata Mina berkaca-kaca. Dia merasa terharu sekali. Dirinya juga pasti akan melakukan hal yang sama pada anak-anak angkatnya. Begitulah keikhlasan seorang ibu, ada pertalian darah maupun tidak.

__ADS_1


"Semoga kamu dan Karin diberkati Tuhan dalam memenuhi amanah Theresia ya, Jon," ucapnya tulus. Diulurkannya tangannya, mengajak sahabatnya itu bersalaman.


__ADS_2