Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Roda Kehidupan Berputar


__ADS_3

Wanita itu lalu terdiam. Hatinya begitu sedih mengenang perpisahan memilukan yang menimpa dua sahabat yang sangat dikasihinya.


Jadi Valentina adalah darah dagingku sendiri, batin Jonathan pedih. Pantas hatiku merasa begitu dekat dengannya sejak aku pertama kali melihatnya.


Kini diperhatikannya anak yang mulai tertawa-tawa akibat digoda-goda oleh Theresia itu. Kalau diamati baik-baik, bentuk muka dan warna kulitnya memang ada kemiripan dengan Karin, aku Jonathan dalam hati.


Laki-laki itu menghela napas panjang. Karin kekasihku, betapa bodohnya aku percaya kamu sanggup menggugurkan buah cinta kasih kita, sesalnya dalam hati. Aku Jonathan Aditya memang bodoh sekali! Bodoh sekali!


"Mas Jon," kata Theresia ceria. "Lihatlah. Valentina juga menyayangiku. Dia tak sanggup berpisah denganku. Kumohon maafkanlah aku, Mas. Beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku dengan cara membahagiakan dirimu dan anak kita ini."


Jonathan mendengus kesal. Tak ditanggapinya permintaan istrinya itu. Dia justru membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaiannya. Theresia terpana melihatnya.


"Kamu mau pergi ke mana, Mas? Please, jangan tinggalkan aku dan anak kita...," ucapnya setengah menangis.


Suaminya berbalik menghadap dirinya. Ia berkacak pinggang menatap Theresia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sorot matanya tampak sangat merendahkan.


"Aku tak sudi tidur di ranjang yang sama denganmu, Theresia Hidayat! Bagiku kau adalah wanita yang culas dan menjijikkan sekali! Kuduga kau sengaja membuatku mabuk dan menidurimu di apartemenku waktu itu. Entah obat apa yang kau campurkan ke dalam gelas wine yang kuminum. Benar kan, dugaanku?!"


Theresia tak berani membalas tatapan mengerikan suaminya. Dia menunduk malu. Suaminya semakin merasa berada di atas angin. "Benar-benar tak kukira selama ini aku tertipu olehmu, Wanita Tak Berhati Nurani! Kau boleh memelihara anakku. Tapi jangan harap aku akan mau bersentuhan denganmu lagi. Dasar perempuan hina! Menjijikkan sekali!"


Segala cercaan dan makian suaminya diterima Theresia dengan lapang dada. Katakan dan lakukan apapun yang kau mau, Mas Jon, batinnya pasrah.  Asalkan kau dan Valentina tetap tinggal bersamaku di rumah ini.


Demikianlah wanita itu hanya diam saja menahan perasaannya ketika sang suami memindahkan semua pakaian dan barang pribadinya dari dalam kamar mereka ke kamar lain di rumah itu....


***

__ADS_1


Roda kehidupan benar-benar berputar. Dahulu Theresia, istri kaya raya yang depresi akibat divonis mandul oleh dokter, berbuat sewenang-wenang pada suaminya yang baik hati dan penyabar.


Kini sang suami yang dulunya sabar sekali itu telah berubah menjadi monster yang mengerikan. Setiap hari tak henti-hentinya dia mencari-cari kesalahan Theresia. Dimaki-maki istrinya itu dengan kata-kata yang amat kasar.


"Theresia, mana teh hangatku? Kan sudah menjadi tugasmu menyiapkannya begitu aku pulang dari kantor!"


"Oh, maaf, Mas. Tadi Valentina tiba-tiba buang air besar. Aku harus membersihkannya dulu...."


"Alasan! Bilang saja kamu tidak mau membuatkannya untukku. Dasar istri pemalas! Ya sudah, mulai sekarang biar aku yang membuatnya sendiri. Kamu sibuk saja dengan urusanmu!"


Sang istri menelan ludah. Dia tahu persis suaminya itu sengaja mencari gara-gara untuk memaki-makinya. Tapi dia berusaha menahan diri. Baginya yang penting Jonathan tetap bertahan di rumah ini dan tidak membawa Valentina pergi darinya.


Pada suatu hari Minggu siang, Theresia keluar dari dalam kamarnya. Ia baru saja menidurkan Valentina. Perutnya terasa lapar sekali. Dengan segera dia berjalan menuju ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Lalu wanita itu bersiap untuk makan siang.


Dia tengah asyik menyantap makanannya ketika tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar tidurnya.


Secepat kilat wanita itu menghentikan makan siangnya dan berlari menuju kamar tidurnya.


Jonathan menyeringai lebar. Dia puas sekali dapat melampiaskan kekesalannya pada istrinya itu.


Demikianlah, setiap hari selalu ada saja bentakan dari suami yang frustasi itu pada istrinya yang malang. Theresia berusaha menerima segala caci-maki pria yang dicintainya itu dengan tabah. Sudah biasa baginya dikata-katai sebagai perempuan hina, rendah, tidak tahu malu, tidak punya hari nurani, tidak tahu diri, jahat, culas, dan lain sebagainya.


Setiap siang dan malam hari Valentina selalu tidur di dalam kamar ibunya. Kalau Jonathan ingin bermain-main dengan anaknya, dia menyuruh Theresia menaruh bayi itu di dalam stroller atau kereta dorong. Kemudian sang ayah akan mengajak anaknya bermain di dalam kamarnya sendiri, teras depan, atau halaman belakang.


Pasangan suami-istri itu sudah tak pernah lagi melakukan kegiatan bersama-sama. Jonathan sangat antipati memasuki kamar istrinya, makan bersama di meja makan, duduk di sofa yang sama, bahkan bepergian bersama. Mereka bagaikan dua orang asing yang kebetulan berstatus sebagai suami-istri.

__ADS_1


Setiap bulan Jonathan selalu mentransfer sejumlah uang untuk biaya keperluan Valentina ke rekening pribadi Theresia. Bukti transfernya selalu difoto dan dikirimkan melalui pesan WA pada istrinya itu. Pria itu enggan berbicara baik-baik dengan wanita yang dianggapnya sebagai penghancur kebahagiaannya dengan Karin. Sekalinya membuka mulut, pasti bentakan atau cacian yang dilontarkannya pada perempuan yang sebenarnya mencintainya dengan tulus itu.


Setiap malam Theresia selalu menitikkan air mata di samping putrinya yang tertidur pulas.


"Valen Sayang, Mama harus kuat menahan amarah Papa. Semuanya demi kebahagiaan kita, Nak. Valen mesti percaya, Mama sayang sekali sama Valen. I love you so much, my baby...."


Diciumnya pipi bulat menggemaskan buah hatinya. Didekapnya putri kecilnya itu penuh kasih sayang. Hatinya merasa damai setiap kali melakukan hal itu. Tak lama kemudian wanita yang dulunya manja namun kini telah bertransformasi menjadi seorang ibu yang baik itu, akhirnya terlelap di samping putri tercinta.


***


"Apakah Ibu sudah melatih kaki Valentina setiap hari sesuai dengan yang saya ajarkan?" tanya dokter spesialis anak kepada Theresia.


Wanita itu menjawab lugas, "Saya melatihnya sesering mungkin setiap pagi, siang, dan malam, Dok. Terkadang dibantu Bi Sum. Benar kan, Bi?"


Bi Sum mengangguk mengiyakan. Dia memang kadang diminta membantu majikannya melatih kaki Valentina.


Dokter pria berusia empat puluhan itu mengernyitkan dahinya. Ia heran melihat kedua kaki bayi berusia enam bulan itu tidak bergerak-gerak aktif sebagaimana biasanya anak seusianya.


"Seharusnya anak seumur Valentina sudah bisa berdiri sendiri dengan kedua tangan berpegangan pada suatu benda. Pinggiran tempat tidur misalnya. Hmm..., ada yang tidak wajar pada perkembangan anak ini. Bagaimana jika saya melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Valentina? Apakah Ibu bersedia?"


Theresia mengangguk setuju. Tiba-tiba perasaannya menjadi  tidak enak. Ya, Tuhan. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak baik pada kaki putriku, doanya dalam hati.


***


"Mas Jon, bolehkah aku bicara sebentar?" tanya istrinya hati-hati. Suaminya tengah asyik menggoda-goda putri mereka hingga tertawa terbahak-bahak. Theresia sengaja mengajaknya bicara di saat suasana hati laki-laki itu sedang baik.

__ADS_1


"Tentang apa?" tanya Jonathan acuh tak acuh.


__ADS_2