
“Jadi kamu masih bekerja pada Pak Jonathan, Rin? Bukankah beliau sudah membuka bisnis sendiri? Kantor pemasaran properti, ya? Aku pernah bertemu Pak Jon di acara product knowledge di sebuah kantor developer. Sepertinya bisnis barunya itu cepat berkembang, ya?” cerocos Eric pada gadis di sampingnya. Ia tidak menyadari Karin sedang berpikir keras bagaimana cara meninggalkan tempat itu.
“Oh, iya. Syukurlah. Semua berkat anugerah Tuhan, Ric,” jawab gadis itu apa adanya. Tiba-tiba dia mempunyai ide. “Ehm, sori. Aku mau pergi ke toilet dulu. Permisi, Ric,” pamitnya sopan seraya berdiri dan beranjak meninggalkan sang pemuda.
“Hati-hati, Rin,” sahut Eric penuh perhatian. Dia dapat merasakan mantan kekasihnya itu merasa kurang nyaman berbicara lama-lama dengannya. Padahal aku hanya bermaksud baik ingin menyapanya, batinnya pasrah. Aku sekarang sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain, Rin. Kamu bagiku adalah masa lalu. Tapi aku tak masalah menjalin pertemanan denganmu.
Saat pemuda itu sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. “Kamu Eric, kan?”
Seketika dia mendongak. Tampak Jonathan sedang berdiri menjulang dengan gagahnya sambil tersenyum ramah. Eric langsung berdiri dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. “Oh, halo, Pak Jonathan. Apa kabar?” sapanya sopan.
Lawan bicaranya menjabat tangannya. Beberapa saat kemudian mereka langsung terlibat percakapan hangat layaknya kawan yang sudah lama saling mengenal.
***
Di dalam toilet, Karin menelepon kekasihnya. “Mas Jon, aku berada di toilet. Kamu antrinya masih lama?” tanyanya was-was.
Gadis itu mendengarkan baik-baik jawaban lawan bicaranya di telepon. Tiba-tiba matanya mendelik. “Hah? Kamu lagi ngobrol sama Eric?!” cetusnya tak percaya. Aku lari ke toilet buat menghindari laki-laki itu. Kok Mas Jon sekarang malah asyik ngobrol sama dia? pikirnya tak mengerti. Aneh-aneh aja.
“Ya sudah,” ucap Karin kemudian. “Hati-hati ngobrol sama dia. Aku tadi nggak ngomong apa-apa soalnya. Cuma jawab tentang bisnis Mas Jon yang baru abis itu langsung ngibrit ke toilet.”
Sang kekasih mengiyakan saja instruksi gadis itu. Tak lama kemudian pembicaraan di telepon berakhir. Karin diminta keluar dari toilet lima belas menit lagi dan kembali ke tempat duduknya di ruang tunggu farmasi. Jonathan menunggunya di sana.
__ADS_1
Ketika seperempat jam kemudian gadis itu kembali ke tempatnya tadi, dilihatnya Jonathan tengah duduk menunggu dengan sebuah kantung kresek kecil berwarna putih di tangannya. Eric sudah tak kelihatan batang hidungnya.
Karin menghela napas lega. Dia lalu duduk di samping kekasihnya yang tersenyum lebar memandanginya. “Hehehe…, ketemu pacar lama kok kabur?”goda laki-laki itu sembari merangkul pundak gadis yang dicintainya itu.
Si gadis terkekeh. “Nggak nyaman rasanya ngobrol sama mantan, Mas. Dulu waktu beberapa kali nggak sengaja ketemu kan ada Mas Jon juga. Kelihatan kan kalau aku malas bicara dengannya?” jawabnya terus terang.
“Iya, aku tahu. Tapi kali ini kunasihati ya, Sayang. Jangan kau pertahankan sikapmu itu. Nggak baik. Kita nggak tahu kapan mungkin akan bersinggungan dengan Eric. Bisa dalam hal pekerjaan atau lainnya. Selama dia tidak terlalu menjengkelkan dan mengganggu, terimalah ajakan pertemanan darinya. Ini kami saling bertukar kartu nama. Kamu bawa saja kartu namanya, Rin. Siapa tahu kantor kita kelak bisa bekerja sama dengannya. Nomor WA dan emailnya sendiri sudah kusimpan dalam ponselku.”
Karin mengangguk pelan. Diterimanya kartu nama tebal berwarna putih itu. Disimpannya dalam saku depan tasnya. Lalu dia bertanya, “Ngobrolin apa aja tadi?”
Jonathan menjawab sambil meringis, “Dia nanya siapa yang sakit?”
“Kujawab aku yang sakit,” sahut kekasihnya sambil cengengesan. “Sakit maag. Aku beralasan bahwa mobilmu belum selesai diservis di bengkel dan kita kerja lembur hari ini. Jadi akhirnya aku mengajakmu menemaniku pergi ke dokter dulu baru kuantar pulang ke rumah. Masuk akal kan, alasanku?”
Karin mengangguk. Syukurlah Mas Jon pintar mengarang cerita, batinnya lega. Maklum, dia dulu kan seorang bos besar. Pintar berdiplomasi.
“Pulang, yuk,” ajak Jonathan. “Atau mau makan di luar dulu?”
“Nggak usah, Mas. Kita makan di rumahku saja. Aku masak tim ayam kampung tadi. Kebanyakkan. Kamu bantuin abisin, ya.”
“Siap, Madam!”
__ADS_1
Jonathan senang sekali akhirnya Karin menjamu dia di rumahnya. Selama ini gadis itu selalu takut ketahuan Rosa. Sekarang tantenya itu sudah mengetahui hubungan mereka. Walaupun belum keluar kata restu dari mulut mantan sekretaris Jonathan itu, namun dia juga tidak melarang hubungan keponakannya dengan mantan bosnya itu.
Kedua insan yang saling dimabuk asmara itu pun berlalu meninggalkan rumah sakit. Mereka tidak menyadari sepasang mata yang secara diam-diam memperhatikan mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra.
Orang itu tengah berada di dalam mobil yang diparkir di halaman rumah sakit yang luas. Dia adalah Eric. Pemuda itu sengaja menunggu di sana sejak tadi karena ingin membuktikan sesuatu. Firasatnya tadi mengatakan bahwa aneh sekali seorang atasan pergi berdua dengan karyawannya ke rumah sakit di luar jam kantor. Apalagi Karin tadi kelihatan sekali menghindarinya dengan buru-buru pergi ke toilet.
Eric menghela napas panjang. “Karin, Karin. Kita kan sudah menempuh jalan masing-masing. Buat apa kamu kucing-kucingan seperti tadi. Pak Jon juga ikut-kutan main rahasia-rahasiaan. Hehehe…,” ujarnya geli.
Dipandanginya kartu nama Jonathan. “Bahagiakanlah Karin, Pak Jon,” ucapnya setulus hati. “Aku pernah mengecewakannya sekali. Benar-benar kusesali. Semoga Pak Jon tidak melakukan kesalahan yang sama.”
Disimpannya kartu nama itu ke dalam saku kemejanya. Lalu dijalankannya mobilnya meluncur meninggalkan rumah sakit.
***
Setelah prosesi pemakaman Mila selesai, Theresia dikejutkan suaminya dengan berita yang luar biasa. Dia sampai ternganga tak percaya. Hatinya terasa begitu hampa.
Karin hamil, batinnya pedih. Dia mengandung darah daging Mas Jon, suamiku sendiri. Dan sekarang pria tak berperasaan ini memintaku untuk segera menuntaskan proses perceraian kami agar bisa segera menikah dengan perempuan sundal itu! Jahanam kalian berdua, benar-benar tak tahu malu! maki wanita itu dalam hati. Ya, Tuhan. Adilkah aku mendapat perlakuan seperti ini? Papa dan Tante Mila baru saja pergi meninggalkanku. Aku sekarang hanya mempunyai suami. Lalu akan Kau ambil juga pendamping hidupku ini dariku. Jadi buat apa aku hidup lagi? Buat apa?!
“There…,” ucap Jonathan lirih. “Aku tahu kau sangat terkejut mendengar kabar ini.Tapi terpaksa kusampaikan sekarang sebelum perut Karin semakin besar. Statusnya masih gadis. Kasihan kalau dia sampai menjadi pergunjingan orang karena hamil di luar nikah….”
Kasihan? Enak saja memintaku mengasihani pelakor itu! protes Theresia dalam hati. Lalu bagaimana dengan diriku? Tak adakah yang merasa kasihan padaku? Menikah selama sepuluh tahun lebih tanpa dikaruniai anak. Suamiku kabur dan menghamili perempuan lain yang jauh lebih muda dan segar. Kenapa aku yang harus merasa kasihan pada Karin?! Justru akulah yang patut dikasihani. Aku!
__ADS_1