Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Harmonis Kembali


__ADS_3

Lima hari kemudian Theresia sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Wajahnya sudah segar kembali dan tubuhnya terasa sehat. Dia semakin tampak cantik di mata suaminya. Laki-laki itu menepati janjinya untuk kembali lagi ke rumah dan tinggal bersama sang istri tercinta.


Simon merasa sangat bersyukut rumah tangga putrinya berhasil diselamatkan. Dengan bijaksana laki-laki tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu memberikan wejangan kepada anak dan menantunya agar lebih menghargai ikatan perkawinan mereka dibanding sebelumnya.


“Ingatlah perjuangan kalian berdua untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah berumur sepuluh tahun ini. Untuk selanjutnya bersikaplah lebih bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan. Itu ujian yang harus dihadapi. There, jadilah istri yang baik dan menghargai suami. Jonathan juga bersikaplah lebih tegas sebagai kepala rumah tangga. Jangan suka menyimpan segala persoalan sendirian. Supaya tidak meledak seperti dulu. Intinya perbanyaklah komunikasi yang baik sebagai suami-istri. Apakah kalian berdua mengerti?”


Anak dan menantunya manggut-manggut mengiyakan nasihat-nasihat orang tua yang sangat mereka hormati itu. Selama dua minggu berikutnya rumah tangga mereka adem-ayem saja tanpa gesekkan yang berarti. Theresia tetap menjalani aktivitas-aktivitas terapinya sedangkan sang suami bekerja di pabrik cat dan developer properti seperti biasanya.


Hanya satu yang berubah. Jonathan memutuskan untuk menghentikan kegiatannya berlatih kebugaran supaya tidak intens lagi bertemu dengan Mina. Dia belum menemukan cara yang tepat untuk memberitahu istrinya bahwa dirinya sudah bersahabat baik dengan teman sekelasnya sewaktu SMA itu. Laki-laki itu kuatir istrinya akan salah paham dan membuat perkawinan mereka yang sudah tenang  menjadi rusuh lagi.


“Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dari There?” tanya Bastian ketika mereka berdua sedang makan siang bersama di sebuah restoran masakan Jepang.


Sahabatnya hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. Dia tidak mempedulikan pria di depannya yang tertawa keras menyaksikan reaksi acuh tak acuhnya. Konsentrasinya diarahkan sepenuhnya pada mie kuah pedas yang terhidang dengan begitu menggoda di hadapannya.


“Hai, sori aku telat,” ucap sebuah suara kenes yang begitu dikenal sepasang sahabat itu. Siapa lagi kalau bukan…Mina! Jonathan sebelumnya memang sudah meminta Bastian untuk mengajak teman akrab mereka itu makan siang bersama.


“Halo,” sapa Jonathan cuek. “Duduk di samping Bastian sana. Terus pesan menu. Aku yang traktir.”


“Eh, eh, eh…,” sahut wanita yang baru datang itu tidak terima. “Udah lama nggak ada kabarnya, kok aku nggak dianggap, sih? Emangnya kenapa kalau duduk di sebelahmu? Jual mahal banget, deh!”


Bastian tersenyum-senyum menyaksikan aksi Mina yang dianggapnya sangat lucu. Dia lalu berusaha menengahi dengan berkata santai, “Sudahlah, Min. Duduk di sebelahku aja. Kan enak bisa langsung liat muka bos kita yang ganteng ini! Hehehe….”


“Gundulmu!” maki Jonathan sambil mendelik.


Ketiga sahabat itu tertawa berbarengan. Senang sekali rasanya berkumpul kembali seperti dulu. Mina lalu memesan makanan dan minuman pada pelayan yang dengan sigap mendekatinya. Setelah itu dia asyik berceloteh yang didengarkan dengan sabar oleh kedua teman laki-lakinya.

__ADS_1


“Oya, sekretarismu yang lama hari ini terakhir bekerja, kan?” tanya Mina pada Jonathan.


Laki-laki di depannya mengangguk dan balik bertanya, “Kamu kok tahu? Kayak detektif aja.”


Mina tergelak mendengar sindiran yang sama sekali tidak menyinggung hatinya itu. Dia malah melanjutkan ucapannya, “Tiga hari lagi dia akan menikah, kan?”


Jonathan terbelalak dan berkata, “Ngapain kamu menyelidiki sekretarisku, Min? Emangnya nggak ada kerjaan lain?”


“Ih, sinis banget komentarmu. Dengerin ya , Sahabatku Tersayang…. Aku itu dimintai tolong Karin untuk menata rambut dan merias wajahnya di hari pernikahan tantenya itu. Aku akhirnya diundang sekalian.”


“Hah?! Kamu masih kontak-kontakkan sama Karin?” tanya Jonathan tak percaya.


“Iya, dong. Emang kenapa? Nggak boleh?” tanya Mina beruntun. Mulutnya sampai mencucu saking sebalnya.


Jonathan mengusap keringatnya dengan tisu. Sementara itu Mina yang kebingungan memandangi pria itu dan Bastian bergantian.


“Ada apa sih, ini? Cerita, dong,” pintanya penasaran.


“Kamu aja yang cerita, gih!” tukas Jonathan pada Bastian yang masih tertawa.


Setelah puas dengan ketawanya, laki-laki yang duduk di samping Mina itu lalu bercerita bahwa Jonathan belum mengungkapkan pada istrinya bahwa sekarang sudah berteman baik dengan perempuan kenes itu. Giliran Mina yang sekarang tertawa terbahak-bahak hingga rambut ungunya yang keren bergoyang-goyang.


“Sudah, sudah. Sampai kapan mau ketawa terus. Itu pesananmu udah datang,” cetus Jonathan seraya menggerakkan kepalanya menunjuk pada pelayan yang datang membawa baki berisi makanan dan minuman pesanan Mina.


“Terima kasih, Mbak,” kata perempuan itu kepada pelayan yang menanggapinya dengan anggukan dan senyuman sopan. “Ayo makan. Aku udah kelaparan sekali,” ucap Mina seraya menyantap ramen tidak pedas pesanannya.

__ADS_1


Setelah Jonathan selesai makan, dia bercerita pada Mina bahwa sudah serumah lagi dengan istrinya. Rumah tangga mereka berjalan begitu harmonis dan dia jadi bingung mencari cara yang tepat untuk bercerita tentang persahabatan yang terjalin diantara dirinya, Bastian, dan Mina.


“Nah, kamu kan barusan sudah mengatakannya secara tepat,” cetus Mina menanggapi cerita Jonathan.


“Hah?! Maksudnya gimana, Min? Aku nggak ngerti,” sahut laki-laki itu kebingungan.


“Makanya…jangan ruwet-ruwet kalau mikir! Kamu tadi kan bilang kalau persahabatan ini terdiri dari kita bertiga. Aku, kamu, dan Bro Bastian ini. Itulah jawabannya, Jon! Ceritakan pada istrimu kalau kita selalu bertiga. Bukan berdua!”


“Seratus buat Mimin!” seru Bastian menimpali.


Mina menatapnya sewot. “Sejak kapan kamu ikut-ikutan si Jon manggil aku Mimin? Haram, tau! Cuma teman SMA-ku yang kubolehin menyebutku dengan nama itu.”


Bastian membalas tak mau kalah, “Lho, katanya berteman baik bertiga. Kalau nanti There dengar aku manggil kamu Mina sedangkan suami tercintanya nyebut kamu Mimin, entar dikira panggilan kesayangan lagi! Bisa ribut lagi, lho.”


Mina tercenung sejenak mendengar penjelasan laki-laki di sebelahnya. Benar juga katanya, pikirnya serius. Sebaiknya disamain aja deh, nama panggilan buatku. Daripada nanti merusak rumah tangga Jonathan yang udah harmonis.


“Ya udahlah,” katanya menyerah. “Mulai sekarang panggil aku Mimin nggak apa-appa, Bas. Supaya hubungan Bro Ganteng kita ini tetap mesra dengan istri tercinta. Amin!”


Jonathan akhirnya membuka mulutnya, “Ok-lah. Kupikir kamu benar juga, Min. Aku nanti akan cerita ke There tentang persahabatan kita bertiga….”


“Nah, gitu, dong. Masa temenan biasa pakai kucing-kucingan begini. Makan siang bertiga juga sembunyi-sembunyi dari istri. Kayak masih remaja aja.”


“Iya, iya…. Tapi nanti di acara pernikahan Bu Rosa kamu jangan berlebihan, ya. Sok dekat sama aku. Demi menjaga perasaan istriku tercinta….”


“Beres, Bos! Terus Bro Bastian sendiri apa ada permintaan khusus juga?” tanya Mina seraya memalingkan wajahnya pada pria yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


__ADS_2