
Lawan bicaranya menatap Karin tak percaya. Benarkah apa yang kudengar ini? batinnya kegirangan. Dengan mata berseri-seri dianggukkannya kepalanya. Gadis di depannya tersenyum tipis dan mulai membereskan barang-barangnya. Bosnya sendiri melangkah dengan ringan menuju ke dalam ruangan kerjanya. Dibereskannya mejanya. Lalu dia meninggalkan ruangan itu sambil menenteng tas kerja berwarna hitam.
Begitulah, kedua insan yang sudah lama dimabuk asmara namun berusaha menahan perasaan selama berbulan-bulan itu akhirnya keluar dari ruko tiga lantai itu dan berpamitan pada office boy yang duduk menunggu di teras. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Jonathan meraih tangan Karin yang duduk di sebelahnya. Diremas-remasnya jari-jemari lentik itu penuh perasaan. Sang gadis tersipu malu.
Beberapa saat kemudian, mobil Sigra hitam itu meluncur meninggalkan pelataran ruko untuk menuju ke apartemen yang di hari-hari selanjutnya akan menjadi saksi bisu gelora asmara pria yang masih berstatus suami orang itu dengan karyawatinya.
***
Begitu sampai di depan apartemennya, Jonathan segera membuka pintu, menyalakan lampu, dan mempersilakan gadis yang bersamanya masuk ke dalam. Karin yang dadanya berdebar-debar melangkahkan kakinya dengan agak takut. Ia memang pernah berpacaran serius dengan Eric. Mereka pun sempat bermesraan namun tetap menjaga mahkota kehormatannya. Sekarang dia dengan kehendak sendiri memasuki tempat tinggal bosnya untuk melakukan perbuatan yang layaknya diperbuat oleh sepasang kekasih.
Dia belum resmi bercerai dengan istrinya, Rin, cetus isi kepalanya memperingatkan. Tapi mereka sedang dalam proses perceraian dan aku sangat mencintainya, sergah isi hati gadis itu. Tak tega rasanya melihatnya sering duduk tepekur memikirkan statusnya yang tak jelas. Secara hukum masih suami sah Bu Theresia, tapi sudah berbulan-bulan tidak tinggal satu atap. Mencintai gadis yang setiap hari dilihatnya di kantor, namun tak dapat menunjukkan perasaannya.
Sementara pikiran dan hati Karin masih berperang, kedua tangan kekar Jonathan memeluk pinggang rampingnya dari belakang. “I love you, Karin,” bisiknya lembut di sisi telinga mungil itu. Harum rambut panjang lurus itu begitu memabukkan. Pria itu menciuminya penuh cinta.
Sang gadis membalikkan tubuhnya menghadap laki-laki yang belasan tahun lebih tua darinya itu. Ditatapnya sepasang mata elang itu lekat-lekat. “Saya tidak ingin pacaran lama-lama. Apakah…Mas Jonathan bersedia menikahi saya begitu resmi bercerai dengan Bu Theresia?” tanyanya lugu.
Mata elang itu tampak bersinar bahagia. Bibir di bawahnya menyunggingkan senyuman manis dan berkata, “Aku bahagia sekali kau mengatakannya, Karin. Umurku sudah tak muda lagi. Bukan waktunya menjalin hubungan main-main. Aku berjanji akan langsung menikahimu begitu resmi bercerai dengan Theresia. Dia bagiku adalah masa lalu. Kaulah masa kini dan masa depanku, Sayang.”
Dimajukannya bibirnya mendekati bibir merah merekah di depannya. Dipagutnya hangat dan lidahnya menari-nari dengan lincah membuat Karin semakin pasrah tak berdaya. Ciuman mereka semakin panas menggelora hingga akhirnya gadis itu membiarkan saja pria yang dicintainya itu menggendong tubuhnya masuk ke dalam kamar….
__ADS_1
***
“Maafkan aku, Karin…,” cetus Jonathan begitu melihat noda darah pada spreinya. Dia benar-benar merasa bersalah telah merenggut mahkota kesucian gadis itu.
Karin tersenyum bahagia. “Mas Jon telah berjanji akan menikahiku,” ucapnya polos. “Itu sudah cukup untuk membuatku menyerahkan harta milikku yang paling berharga….”
Jonathan merasa terharu mendengar pernyataan tulus itu. Dikecupnya lembut dahi mulus Karin lalu berkata, “Aku bahagia kau mempercayaiku, Sayang. Mulai sekarang, jangan panggil aku Pak Jon di depan orang-orang. Panggil saja Mas seperti barusan. Aku ingin memberimu status sebagai kekasihku. Orang-orang sudah tahu bahwa aku sudah lama berpisah dari istriku. Takkan ada yang menganggapmu sebagai perebut suami orang.”
Karin tampak termenung sejenak. Dirinya sebenarnya tak peduli dengan pendapat orang lain. Hanya ada satu orang yang dicemaskannya akan menentang hubungannya dengan pria ini. Orang itu adalah Rosa, bibi yang telah membesarkannya sepeninggal kedua orang tuanya!
“Kamu kenapa, Rin? Apakah tidak suka orang-orang tahu tentang hubungan kita?” tanya Jonathan resah.
Jonathan lalu mengambil posisi duduk di samping perempuan yang menutup rapat tubuh polosnya dengan selimut. Dirangkulnya bahu indah itu. Diciuminya rambut Karin yang harum.
“Jangan kuatir,” ucapnya menghibur. “Aku akan menemui Bu Rosa dan mengungkapkan hubungan kita. Selama ini aku sangat menghormatinya sebagai senior di kantor. Untuk ke depannya aku akan sangat bersyukur kalau dia berkenan menjadi mertuaku.”
Hati Karin terenyuh mendengar pernyataan tulus pria yang kini telah resmi menjadi kekasihnya tersebut. “Apakah aku perlu menemanimu menemui Tante Rosa, Mas?” tanyanya menawarkan diri. Dikecupnya dada bidang laki-laki itu penuh cinta.
“Nggak perlu,” jawab Jonathan sambil tersenyum. “Aku akan menjelaskannya sendiri pada beliau secara pribadi. Setidaknya kamu tidak langsung dimarahi begitu dia tahu tentang hubungan kita.”
__ADS_1
Karin menarik napas lega. Jari-jari tangannya memain-mainkan ujung dada Jonathan hingga pria itu merasa geli. “Kata orang, ini merupakan salah satu spot yang dapat meningkatkan gairah seorang pria. Betul tidak, Mas?” tanya gadis itu dengan nada menggoda.
Jonathan nyengir geli mendengarnya. Dengan lembut dijauhkannya jari-jemari gadis itu dari dadanya. “Anak nakal. Kalau kamu terus melakukannya, aku bisa tergoda untuk bercinta lagi,” kilah laki-laki itu.
“Lho, memangnya masih sanggup?” tanya Karin dengan nada menantang. Sang kekasih jadi gemas mendengarnya.
“Ya masih, dong. Aku kan masih umur tiga puluh lima tahun. Tenagaku belum letoy seperti kakek-kakek,” tukas suami Theresia itu lantang.
Gadis pujaannya tersenyum lebar. “Kalau begitu,” balasnya dengan sorot mata menggoda. “Ayo lakukan lagi.”
“Hah?!” seru sang kekasih terkejut. Matanya menatap lawan bicaranya tak percaya. Gadis yang baru kurenggut kehormatannya ini meminta kami berhubungan intim lagi? batinnya campur aduk antara kaget dan gembira.
Dan dirinya melongo tatkala Karin menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Kini terpampang jelas di hadapan Jonathan dua bukit kembar yang ranum dan kencang dengan ujung-ujungnya yang berwarna merah muda, pinggang ramping yang melekuk dengan indahnya bagaikan biola, serta sepasang kaki jenjang yang mengapit pintu gua rahasia yang tadi sudah dibobolnya dengan pedang pusakanya.
Adik kecil Jonathan seketika menegang minta diperhatikan. Tanpa ragu-ragu lagi pria yang sudah lama tak merasakan sentuhan wanita itu menerkam buas karya Tuhan yang maha indah di depannya….
Karin yang merasakan tubuhnya mendapatkan sensasi luar biasa dari pria yang sudah berpengalaman dalam bercinta itu mengerang-ngerang penuh kenikmatan. Suaranya terdengar begitu seksi di telinga Jonathan dan membuat hasrat laki-laki itu semakin bergelora. Setelah melakukan hubungan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri itu, Karin menangis dalam hati.
Tuhanku, ampunilah perbuatan kami. Aku tahu ini berdosa. Tapi aku tak sanggup menahan perasaan cintaku lagi. Kumohon restuilah hubungan kami hingga ke jenjang pernikahan. Aku ingin sekali menjadi Nyonya Jonathan Aditya….
__ADS_1
***