Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Kelumpuhan Kaki Valentina


__ADS_3

Sang istri menelan ludah. Dia berusaha berkata dengan tenang, "Kemarin aku membawa Valentina ke dokter untuk divaksin. Lalu dokter merasa heran melihat kedua kakinya tidak bergerak-gerak sebagaimana anak seusianya. Beliau lalu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Hasilnya keluar besok. Ehm..., maukah kamu menemaniku menemui dokter besok malam, Mas? Biar kita sama-sama tahu diagnosisnya. Valentina dan Bi Sum kita ajak juga. Bagaimana?"


Jonathan mendelik ke arahnya. "Kenapa kau tidak rajin melatih kaki Valen?!" tanyanya dengan nada menuduh. "Niat nggak sih, mengasuhnya? Apa perlu kucarikan baby sitter untuk merawatnya? Ngomong aja terus terang!"


Air mata Theresia berlinang. Hati suaminya sedikit berdesir melihatnya. Timbul perasaan kasihan, tapi disembunyikannya rapat-rapat. Dia tetap memasang wajah garang. Gengsi sekali kalau sampai kelihatan dirinya menaruh iba pada sang istri.


"Aku melatihnya setiap hari, Mas. Berkali-kali tanpa kenal lelah. Silakan kroscek ke Bi Sum kalau nggak percaya. Dia sering membantuku. Kalau Mas merasa semua yang kulakukan terhadap Valentina selama ini kurang maksimal, itu hak Mas Jon. Yang penting aku sudah melakukan yang terbaik."


Ucapan wanita itu bagaikan palu godam yang menghantam ulu hati suaminya. Apakah aku selama ini sudah terlalu keras pada There? batin pria itu sedikit menyesal.


"Mengenai baby sitter," lanjut sang istri kemudian. "Kalau setelah mendengar diagnosa dokter besok malam kamu merasa membutuhkan bantuan baby sitter untuk mengasuh Valentina...itu hakmu. Aku tak bisa melarang."


Selanjutnya Theresia membalikkan badan. Ia berjalan meninggalkan suaminya dengan wajah menunduk dan air mata yang mengucur semakin deras. Jonathan yang memperhatikannya dari belakang merasa semakin bersalah.


***


Dokter mendesah. Berat sekali rasanya mengutarakan diagnosanya di hadapan orang tua pasien yang duduk di hadapannya. Namun bagaimanapun juga sebagai petugas medis, dirinya wajib mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah menghela napas panjang, pria itu berkata tenang, "Sebelumnya saya minta maaf, Bapak dan Ibu. Berita yang akan saya katakan ini kurang menggembirakan...."


Pasangan suami-istri di depannya menjadi tegang. Yang wanita sampai menggigit bibirnya.  Pertanda betapa gelisahnya perasaannya saat ini. Sementara itu sang pria menatap tajam dokter spesialis anak di hadapannya.


"Putri Bapak dan Ibu...," lanjut dokter tersebut kemudian. "Mengalami gangguan pada saraf tulang belakangnya. Otak dan bagian-bagian tubuh lainnya berfungsi dengan normal. Akan tetapi kedua kakinya lumpuh...."

__ADS_1


"Ya, Tuhan!" cetus Theresia sembari menutup mulutnya yang ternganga. Anakku lumpuh kakinya? Benarkah? Kenapa? Apa kesalahannya? tanyanya bertubi-tubi dalam hati. Ia tidak terima anaknya yang tak berdosa mendapat cobaan sebesar itu.


"Maaf, Dok," tanya Jonathan yang lebih mampu menguasai perasaannya. "Bagaimana hal ini bisa terjadi pada diri anak saya? Apakah dia terkena virus, penyakit langka, atau ada hal lain yang memicu kelumpuhan pada kedua kakinya?"


Dokter mendesah. Dia lalu menjelaskan, "Valentina tidak terkena virus ataupun penyakit langka, Pak. Gangguan pada saraf tulang belakangnya itu adalah kelainan bawaan yang tidak terdeteksi pada saat kehamilan. Namun berdasarkan informasi dari jurnal-jurnal penelitian yang saya pelajari, kelainan yang dialami putri Bapak biasanya terjadi pada waktu ibu sedang mengandung."


Pria itu lalu bertanya pada Theresia, "Apakah sewaktu hamil Ibu pernah mengalami flek atau bahkan pendarahan yang menyebabkan harus menjalani bed rest? Coba Ibu ingat-ingat. Barangkali ketika kehamilan trisemester pertama...."


Theresia tampak gugup. Dia tak tahu harus bagaimana menerangkan pada laki-laki itu bahwa dirinya bukanlah ibu kandung Valentina. Tiba-tiba terdengar suara suaminya berkata lirih, "Mamanya Valentina pernah stres berat dan mengalami pendarahan waktu hamil muda, Dok. Dia sampai dirawat di rumah sakit selama dua hari...."


Theresia tersentak. Dipandangnya sang suami tak percaya. Karin pernah masuk rumah sakit akibat pendarahan? Kapan? Dan bagaimana Mas Jon bisa tahu? batinnya penuh tanda tanya.


Dokter menghembuskan napas panjang. "Sepertinya kita sudah tahu jawabannya, Bapak dan Ibu. Ya sudahlah. Semua itu telah berlalu. Tak perlu disesali. Yang penting sekarang kita berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi Valentina. Saya menyarankan...."


***


Sesampainya di rumah, Bi Sum diminta untuk menidurkan Valentina di kamarnya. Sementara itu kedua orang tua bayi tersebut bercakap-cakap di kamar lain.


"Dokter itu salah, Mas!" teriak Theresia sambil bersimbah air mata. "Aku nggak percaya kaki Valen mengalami kelumpuhan. Besok kita cari second opinion pada dokter lain. Kalau perlu sampai ke Malaysia atau Singapore sekalian! Di sana banyak dokter yang jauh lebih pintar dan teliti kalau memeriksa anak."


"Tidakkah kamu belajar dari pengalaman, There?!" bentak Jonathan naik darah. "Berapa dokter yang dulu kita temui untuk mempunyai anak? Di negeri ini, Malaysia, maupun Singapore? Semuanya mengatakan hal yang sama! Kamu mandul. Takkan bisa punya keturunan!"


"Mas Jon!" seru wanita itu histeris. "Tega sekali kamu mengatakannya! Aku memang mandul. Mandul! Bahkan seluruh dunia mungkin menertawakan diriku! Puas kamu sekarang? Puas?!"

__ADS_1


Emosi Jonathan semakin menggelegak. Ditariknya bagian atas blus istrinya sampai dia merintih kesakitan. Namun laki-laki itu tak peduli. Wajahnya merah padam saking marahnya.


"Tahukah kau betapa aku ingin membunuhmu sewaktu di tempat praktek dokter tadi? Kau benar-benar pembawa petaka, Theresia Hidayat! Menyesal sekali aku menjadikanmu istriku! Dasar perempuan culas, egois, tidak punya perasaan! Kamu dengar kan, tadi aku bilang pada dokter kalau mamanya Valentina pernah mengalami pendarahan dan dirawat selama dua hari di rumah sakit?"


Theresia mengangguk ngeri. Dia takut akan dipukul oleh suaminya yang amarahnya tengah meluap-luap.


Jonathan menggertakkan giginya. Ingin sekali dihajarnya wanita ini. Dialah yang telah mencelakai Valentina! Buah cintaku dengan Karin, batinnya sedih.


Ditatapnya mata istrinya dengan garang. Entah kenapa hatinya tiba-tiba luluh melihat air mata Theresia yang bercucuran tiada henti. Akhirnya dilepaskannya wanita itu dengan kasar hingga terdorong ke belakang.


Wanita itu menghembuskan napas lega. Ia tidak jadi dipukul suaminya.


Jonathan menghela napas panjang. Hatinya sakit sekali. "Musibah pendarahan itu terjadi tak lama setelah aku meninggalkan rumah Karin. Ketika dia memutuskan hubungan kami dengan alasan sudah kembali berpacaran dengan Eric...."


"Bohong!" seru istrinya tak percaya. Wanita itu terpukul sekali.


Jonathan menatapnya getir. Dia menganggukkan kepalanya. "Itulah yang sebenarnya terjadi, There. Ada saksinya. Mimin...."


"Mimin?" tanya Theresia penasaran. "Bagaimana mungkin dia tahu?"


"Mimin berpacaran dengan Eric tanpa sepengetahuan Karin. Sewaktu Karin meminta Eric untuk berpura-pura menjadi pacarnya supaya punya alasan buat memutuskan hubungan kami, Mimin ikut datang ke rumah Karin menemani pacarnya itu."


Theresia lemas seketika mendengar penuturan suaminya.

__ADS_1


Jonathan meneruskan ceritanya, "Mimin bersembunyi ketika aku datang ke rumah Karin. Dia mendengar semua pembicaraan kami. Dia juga menjadi saksi betapa hancurnya hati Karin ketika terpaksa berbohong demi memutuskan hubungan kami. Mimin juga yang membawanya ke rumah sakit beberapa jam kemudian akibat pendarahan. Mimin juga yang sering mengunjunginya sewaktu Karin mengasingkan diri di Sidoarjo demi menghindariku...."


__ADS_2