Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Menerima dengan Pasrah


__ADS_3

Rosa yang hatinya terkoyak menyaksikan keadaan gadis yang telah dianggapnya seperti anak sendiri itu berkata lirih, "Sudahlah, Nak. Mari kita hadapi persoalan ini sama-sama, ya. Mulai sekarang bersikaplah jujur pada Tante. Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi. Belajarlah mengambil hikmah dari kejadian ini."


Karin mengangguk. Dia merasa sedikit terhibur dengan dukungan tantenya. Theresia yang menyaksikan adegan melodrama di depannya merasa muak. Dia mencibir penuh kebencian.


"Bagaimana, Karin?!" tanyanya dengan nada tinggi. Matanya berapi-api menatap rivalnya yang terpuruk, seolah-olah hendak menunjukkan kekuasaannya yang tak terbatas. Ujung cutter kembali ditempelkan pada pergelangan tangannya. "Kuasa hukumku kuberi hak penuh untuk menghabiskan harta kekayaanku demi menghancurkan hidupmu, Mas Jon, dan anak kalian. Bahkan juga Tante Rosa dan Om Bernard kalau perlu...."


"Sudah, cukup!" teriak Karin emosional. "Kuterima tawaranmu! Kuterima!"


Jantung Theresia seperti mau copot mendengar rivalnya menyerah kalah. Dia tersenyum lebar. Namun entah mengapa batinnya tidak merasa bahagia....


***


Sore harinya setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor, Jonathan menelepon Karin. Dia ingin menjenguk gadis itu di rumahnya. Namun kekasihnya itu menolak dengan halus. Katanya ada Rosa yang datang mengunjunginya. Laki-laki itu langsung mengerti. Dia berkata akan menelepon gadis itu kembali nanti malam. Karin mengiyakan saja lalu mengakhiri pembicaraan.


Rosa menatap gadis itu prihatin. Dia tahu keponakannya tadi berusaha keras menahan tangisnya agar tidak ketahuan oleh sang kekasih. Seandainya Pak Jon tahu apa yang sudah dilakukan istrinya pada Karin, dia pasti marah besar, gumam wanita itu dalam hati. Ingin sekali rasanya dia memberitahu mantan atasannya itu tentang ancaman Theresia pada keponakannya. Namun ia berusaha menghormati keputusan Karin untuk menerima solusi dari istri pria yang dicintainya itu.


"Karin nggak mau membuat persoalan semakin runyam, Tante," kilah gadis itu ketika Rosa menyarankannya agar berterus terang pada Jonathan. "Bu Theresia benar. Hubungan yang didasari oleh perselingkuhan tidak akan bertahan lama. Sanksi sosial yang diberikan masyarakat sangat berat. Karin tidak masalah digunjingkan maupun dikucilkan. Namun tak sampai hati rasanya melihat Mas Jonathan dan anak kami menanggungnya. Jalan yang terbaik adalah Karin mundur, Tante. Biarlah Mas Jon bersatu kembali dengan istrinya. Karin percaya mereka akan membesarkan anak Karin dengan baik...."


"Tapi...," sela Rosa tak puas. "Bagaimana caramu meninggalkan Pak Jon? Tante bisa melihat kalau dia benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hati."


Sang keponakan memaksakan diri untuk tersenyum. "Karin punya rencana, Tante. Tapi rencana itu hanya dapat terlaksana dengan dukungan Tante dan seseorang...," jawab gadis itu penuh teka-teki.

__ADS_1


"Siapa orang itu, Karin?" tanya wanita di depannya penasaran. Ekspresi wajahnya menunjukkan kekuatiran.


Gadis yang ditanya menjawab singkat, "Tante sebentar lagi akan tahu. Karin akan meneleponnya sekarang."


Lalu dia meraih tasnya yang tergeletak di atas meja. Dibukanya saku bagian depan. Di dalamnya terdapat sebuah kartu nama berwarna putih. Dikeluarkannya kartu itu dan diteleponnya nomor ponsel yang tertera.


Setelah terdengar nada sambung beberapa kali, tiba-tiba suara seorang laki-laki muda menyapa dengan ramah, "Halo?"


Karin menyahut dengan tenang, "Halo, Eric. Ini Karin. Bisakah kita bertemu?"


***


Eric berjanji datang ke rumah Karin malam itu juga. Karin yang merasa tak enak hati mengajaknya untuk bertemu di luar saja. Tapi pemuda itu berkata sebaiknya gadis itu tidak kemana-mana dulu karena sedang hamil muda. Karin terkejut sekali. Dari mana dia tahu aku sedang hamil? tanyanya dalam hati.


"Karin harus mempunyai alasan yang kuat kenapa mau putus dari Mas Jon, Tante. Selama ini kami tidak pernah dilanda masalah yang berat. Mas Jon pasti akan curiga kalau Karin tiba-tiba minta putus."


"Tapi kenapa harus Eric, Rin?" tanya tantenya itu tak mengerti. "Bisakah dia dipercaya? Dia dulu pernah mengkhianatimu, Nak."


"Justru itu, Tante. Kini waktunya Eric menebus kesalahannya pada Karin. Dia pasti bersedia membantu. Percayalah. Tante nggak usah kuatir. Oya, hari sudah sore. Apakah Tante tidak kembali ke kantor untuk menjemput Om Bernard? Beliau pasti bertanya-tanya Tante kok lama sekali meninggalkannya. Hehehe...."


"Karin, Karin...," cetus Rosa kasihan. "Menghadapi persoalan runyam seperti ini kok kamu masih bisa bergurau, Nak."

__ADS_1


Sang keponakan tersenyum getir. "Sudahlah, Tante. Nggak usah terlalu dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah...," ucapnya tegar seraya memeluk erat wanita yang sangat disayanginya itu.


Keponakanku yang baik, batin Rosa pilu. Malang sekali nasibmu. Hanya karena cinta buta, hidupmu jadi porak-poranda seperti ini. Semoga Tuhan senantiasa melindungimu, Nak.


***


Tepat pukul delapan malam, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Karin. Gadis itu segera beranjak ke luar rumah untuk menyambut kedatangan orang yang ditunggu-tunggunya. Alangkah terkejutnya dia melihat Eric turun dari dalam mobil bersama seorang perempuan yang sangat dikenalnya.


"Mbak Mina...," ucap Karin heran. Bagaimana bisa kedua orang ini saling mengenal? pikirnya bingung. Hatinya semakin bertanya-tanya ketika melihat mantan kekasihnya menggandeng mesra tangan Mina.


"Hari, Rin!" seru Mina mengagetkan sang nona rumah. "Sampai kapan kamu berdiri melamun di situ? Apakah kami nggak dipersilakan masuk?"


Karin tersentak. Dia lalu bergegas membuka gembok pintu pagar dengan kunci yang dibawanya. Dengan suara bergetar dipersilakannya kedua tamunya masuk.


"Sini, biar kubantu kuncikan gembok pagar, Rin. Kamu masuk aja ke dalam sama Mina," kata Eric menawarkan maksud baiknya. Sang nona rumah mengucapkan terima kasih. Diserahkannya  gembok dengan kuncinya pada  pemuda itu. Ia lalu digandeng Mina dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang tamu, Mina langsung menghempaskan tubuh sintalnya di atas sofa. Karin menawarinya minum air mineral gelas yang tersedia di meja. Sang tamu menggelengkan kepala. Ia malah menanyakan kabar Karin.


"Masih mual dan muntah-muntah, Mbak," jawab Karin lemah. "Ternyata hamil itu nggak seindah yang diceritakan di film-film, ya. Hepi terus si bumilnya."


Mina tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba muncul Eric yang mengembalikan kunci pagar pada sang nona rumah. Pemuda itu lalu duduk di samping Mina. Dirangkulnya bahu wanita itu mesra.

__ADS_1


"Sebenarnya sudah dua bulan ini aku pacaran sama Mina, Rin," jelas pemuda itu dengan mata berbinar-binar. "Cuma aku baru tahu tadi kalau dia ternyata salah satu pemilik saham kantor pemasaran properti Pak Jonathan. Gara-gara tadi menemukan kartu nama Pak Jon di dalam dompetku, barulah dia ngaku kalau berteman baik dengan kamu, Pak Jon, dan Pak Bastian. Nggak tahu kok dari awal nggak terus terang sama aku. Suka main rahasia-rahasiaan deh, orang ini."


__ADS_2