
“Aku tidak akan menanyakan kamu mengetahuinya dari siapa. Kukira suaraku waktu itu cukup keras sehingga ada yang mendengarnya dan kemudian menjadikannya bahan gunjingan.”
Sang sekretaris mengangguk mengiyakan. Joshua lalu mendesah panjang dan menceritakan konflik rumah tangganya. Ia sudah tak merasa malu lagi berterus terang pada anak buahnya ini. Toh, dirinya sekarang sudah menjadi headline pergunjingan di kantornya sendiri! Menceritakan semuanya pada Karin mungkin akan membuat hatinya terasa sedikit lebih lega.
Karin terpaku mendengar curhatan atasannya. Ternyata dugaannya selama ini keliru. Dikiranya pimpinannya itu hidup bahagia dengan istrinya yang cantik dan kaya raya. Mendengar cerita Jonathan saat ini, dia jadi menaruh iba pada bosnya itu. Tiba-tiba gadis itu terpikir akan nasibnya sendiri.
“Maaf, Pak,” ucapnya penuh hati-hati. “Seandainya Bapak jadi mengundurkan diri minggu depan, lalu bagaimana dengan nasib saya?”
“Kamu akan tetap bekerja di sini, Karin. Sebagai sekretaris direktur. Job desc-mu tetap sama seperti sebelumnya. Hanya pimpinanmu saja yang berbeda.”
“Boleh saya tahu, kira-kira siapa pengganti Pak Jon?”
“Kemungkinan besar Pak Simon, ayah mertuaku. Karena dialah pemilik perusahaan. Tapi karena kondisi kesehatannya yang sudah tak memungkinkannya untuk bekerja berat, bisa jadi Theresia akan ditariknya untuk membantu di sini. Karena pada akhirnya dialah yang akan mewarisi perusahaan ayahnya.”
“Lalu Pak Jon akan bekerja di mana?”
Yang ditanya menghela napas panjang. Pandangannya menerawang ke langit-langit ruangan kantornya. “Terus terang aku belum ada ide mau bekerja apa, Rin. Prioritasku sekarang adalah menggugat cerai Theresia dan menyelesaikan pekerjaanku sehingga minggu depan bisa melakukan serah-terima dengan Papa.”
“Bolehkah...ehm…, saya juga mengundurkan diri, Pak?” tanya Karin malu-malu.
Jonathan heran mendengar pertanyaan gadis itu. “Buat apa kamu ikut-ikutan resign?”
Gadis itu menjawab dengan terbata-bata, “Tan…Tante Rosa merekomendasikan saya bekerja di sini supaya bisa…ehm…mengabdi pada Pak Jon menggantikan dirinya. Saya juga sudah telanjur cocok bekerja di bawah Bapak, jadi…gimana, yah. Saya…merasa nggak nyaman beradaptasi lagi dengan atasan yang baru….”
__ADS_1
Sang pimpinan hanya bisa melongo mendengar jawaban sekretarisnya yang dirasanya tak masuk akal itu. Aneh sekali alasannya, gumamnya dalam hati. Nggak nyaman beradaptasi dengan atasan baru? Bukankah dia baru satu setengah bulan bekerja di sini? Malah dia sampai keluar dari pekerjaan lamanya yang sudah setahun dijalaninya demi pindah kemari! Berarti dia seharusnya sudah biasa beradaptasi dengan pimpinan yang baru, kan?
“Karin, jujur aku tidak mengerti apa maksudmu. Kamu kan sudah pernah berganti pekerjaan. Seharusnya sudah biasa beradaptasi dengan bos baru, bukan?”
Yang ditanya jadi tercengang. Betul juga, batin gadis itu merasa heran dengan dirinya sendiri. Kenapa aku memaksakan diriku untuk bekerja pada Pak Jonathan, ya? Tapi rasanya kok nggak enak kalau nggak melihat dia di sini….
Jonathan yang melihat sekretarisnya tak mampu berkata-kata akhirnya berinisiatif mengungkapkan hal penting lainnya.
“Ketahuilah, Karin. Sebagaimana kebiasaan konglomerat lainnya, ayah mertuaku dulu memintaku menandatangani perjanjian pisah harta sebelum aku menikahi anaknya. Isinya menyatakan bahwa aku tidak akan memperoleh harta gono-gini jika suatu saat bercerai dengan Theresia. Aku hanya berhak atas income yang kuterima selama aku bekerja di perusahaan. Jadi aku benar-benar memulai dari nol sekarang….”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya yakin Bapak akan segera menemukan jalan untuk bangkit kembali. Saya akan selalu mendukung Pak Jon apapun yang terjadi….”
Tiba-tiba Karin menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Gila! Ngomong apa aku ini? Karin, Karin…. Kamu sedang nggak waraskah? batinnya keheranan. Seketika wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Dia lalu berkata dengan nada tegas, “Cobalah pertimbangkan dulu keputusanmu baik-baik, Rin. Masih ada waktu. Jangan terburu-buru. Aku merasa nggak enak sama Bu Rosa kalau kamu sampai berhenti bekerja hanya gara-gara berempati terhadap diriku. Sekarang kembalilah bekerja. Jangan lupa carikan data tiga pengacara laki-laki yang kuminta tadi. Oya, nanti kamu makan siang sama siapa?”
“Sendiri, Pak.”
“Baiklah,” putus sang bos cepat. “Nanti siang tolong temani saya makan ayam penyet. Kita pergi berdua saja tanpa sopir.”
“Siap, Pak.”
Hati Karin berbunga-bunga mendengar ajakan atasannya itu. Dia berusaha menyembunyikannya dengan buru-buru pamit keluar ruangan. Jonathan menatap sosoknya hingga menghilang dari balik pintu. Gadis sebaik dan sepolos itu, gumamnya dalam hati. Mana mungkin mempunyai perasaan terhadapku? Jangan berkhayal, Jonathan. Ayo kembali ke dunia nyata. Bereskan pekerjaanmu, gugat cerai istrimu, dan bangkit lagi dari keterpurukkanmu!
__ADS_1
***
“Jadi Bapak adalah menantu Bapak Simon Hidayat, pemilik pabrik cat dan pengembang properti terkemuka itu?” tanya pengacara pertama yang dikunjungi oleh Jonathan sesudah makan siang bersama Karin.
“Betul. Apakah Bapak mengenal ayah mertua saya?”
Sang pengacara yang berkumis tipis itu mendesah panjang. “Pak Simon dulu pernah beberapa kali memakai jasa almarhum kakak saya yang juga berprofesi sebagai pengacara, Pak Jonathab,” ujarnya sambil menatap calon kliennya dengan sorot mata sendu.
“Oh, almarhum kakak Bapak?”
“Betul. Akibat banyaknya kasus perdata yang dilimpahkan pada kakak saya dengan kompensasi materi yang cukup besar, almarhum mampu menyekolahkan adik-adiknya termasuk saya, Pak. Sebelum kakak meninggal dunia akibat penyakit kanker paru-paru, beliau sempat berpesan agar saya siap membantu Pak Simon Hidayat jika beliau membutuhkan jasa pengacara. Orangnya lurus kata kakak saya.”
“Apakah ayah mertua saya pernah memakai jasa Bapak?”
Sang pengacara menggelengkan kepalanya. “Belum pernah, Pak Jonathan. Beliau sepertinya mempercayakan kasus-kasus perusahaannya pada pengacara lain yang lebih senior. Tapi saya merasa harus menjalankan amanah almarhum kakak. Selalu siap membantu Pak Simon Hidayat kalau dibutuhkan. Dan hal itu sama artinya dengan tidak menentang kepentingan beliau beserta keluarganya. Jadi mengenai gugatan cerai yang hendak Pak Jonathan ajukan terhadap putri beliau, mohon maaf…saya tidak bisa membantu.”
Jonathan menggigit bibirnya kecewa. Namun dia berusaha menerima keputusan pengacara tersebut dengan lapang dada. Disalaminya orang itu sambil mengucapkan terima kasih. Lalu sang pengacara mengantarkannya sampai keluar ruangan kantornya.
Terlihat Karin sedang duduk menunggu di lobi yang ukurannya tidak besar itu. “Ayo, Karin. Kita pergi,” ajak sang bos dengan raut wajah suram. Karin mengangguk dan beranjak mengikuti atasannya meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di mobil, Jonathan langsung bercerita singkat tentang penolakkan sang pengacara untuk menangani kasusnya. “Maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu kalau orang itu ternyata mengenal Pak Simon,” ucap Karin penuh sesal.
“Bukan salahmu,” kata sang bos menghibur hatinya. “Dia kan nggak ada dalam daftar pengacara yang pernah dipakai perusahaan. Siapa sangka kalau almarhum kakaknya dulu pernah bekerja untuk ayah mertuaku.”
__ADS_1