Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Ada Mimin di Rumah Sakit


__ADS_3

“Bu Theresia cocok dengan mama tirinya?”


“Sepertinya nggak terlalu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena papanya kan butuh pendamping hidup di masa tuanya.”


“Oh, begitu.”


“Kamu kenapa begitu tertarik dengan kehidupan keluarga Pak Jon?” tanya Rosa curiga. Keponakannya jad gelagapan dibuatnya.


“Eng….nggak kok, Tante. Cuma sebentar lagi Karin kan ditinggal Tante kerja di sini sendirian. Jadi Karin perlu tahu lebih mendalam tentang Pak Jon dan keluarganya. Supaya nanti tidak salah sebut  kalau bertemu.”


“Oh, begitu.”


Gadis itu menunduk menutupi pipinya yang bersemu merah. Bibinya memperhatikannya sejenak lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Satu pesanku, Karin. Jangan sampai terjadi hubungan tak pantas antara kamu dengan Pak Jon. Profesi yang kita jalani ini riskan soalnya. Godaan bukan berasal dari luar, tapi dari diri kita sendiri. Kedekatan dengan bos anggaplah sebagai hubungan profesional semata. Tante bersyukur selama bekerja di sini tak pernah sekalipun terjadi hubungan yang tak semestinya dengan Pak Simon.”


Keponakannya mengangguk tanda mengerti.


***


Jonathan memutuskan untuk pulang membersihkan tubuhnya dulu bau pergi menjenguk istrinya di rumah sakit. Di sana dia bertemu dengan Mila yang setia menjaga Theresia di samping tempat tidur. Simon sendiri sudah pulang karena kelelahan.


“Mas Jon!” pekik sang pasien merasa surprise dengan kedatangan suaminya.


Laki-laki yang baru datang itu tersenyum lebar dan menyahut, “Halo, Sayang. Apa kabar?”


Theresia menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan. Mas Jon kelihatan segar, tampan, dan semakin gagah. Barangkali karena rajin berlatih kebugaran semenjak tinggal sendiri, gumamnya dalam hati. Wanita itu merasa rendah diri bertemu kembali dengan pria yang dicintainya dalam kondisi yang tidak prima.


Jonathan mencium pipi istrinya dan langsung memegang tangannya. There agak gemukan dan tambah cantik, pujinya dalam hati. Walaupun dalam keadaan sakit, tapi wajahnya kelihatan lebih berisi dibanding waktu terakhir kali aku melihatnya.


Mila yang menyaksikan pertemuan yang harmonis itu langsung tahu diri. Dia berpamitan dengan alasan harus melihat keadaan suaminya di rumah.


“Saya akan menginap di sini untuk menjaga There. Jadi Tante di rumah saja menemani Papa. Besok pagi saya baru berangkat ke kantor setelah dokter berkunjung kemari,” cetus Jonathan menyatakan niatnya.


“Baiklah kalau begitu, Jon. Kata suster biasanya dokter datang sekitar pukul sembilan pagi. Tante akan datang untuk bergantian denganmu menjaga There. Sekarang Tante pulang dulu, ya. Kasihan papa kalian sendirian di rumah.”


“Silakan, Tante. Terima kasih sudah mengurus segala sesuatunya buat There.”


“Sama-sama.”

__ADS_1


Lalu wanita berhati mulia itu berpaling pada si pasien dan berpesan supaya banyak beristirahat. “Terima kasih, Tante. Hati-hati di jalan,” ucap putri tirinya sepenuh hati.


Mila mengangguk dan kemudian melangkah keluar ruangan. Tinggallah Jonathan berdua dengan istri yang tidak dilihatnya selama dua bulan lebih.


“Mas Jon, kamu kelihatan keren sekali. Sedangkan aku jelek banget begini,” keluh si pasien manja.


Suaminya tersenyum memaklumi sifat dasar istrinya yang susah berubah itu. Tak apalah, pikirnya tak mempersoalkan. Asalkan jangan marah-marah dan merendahkan diriku, manja sedikit tidak menjadi masalah.


“Kamu kan lagi sakit, Sayang. Kalau sudah sehat, kamu pasti jauh lebih keren dariku.”


Sang istri tersenyum mendengar ucapan manis suaminya. “Lihat ini,” lanjutnya sambil menyentuh rambutnya yang kini panjang sebahu dan berwarna coklat tua. “Aku sampai mengubah warna rambutku lagi menjadi coklat tua seperti yang kamu suka.”


“Kamu kelihatan jauh lebih cantik dengan warna rambut ini, Sayang.”


“Nggak horor lagi ya seperti rambut Mina? Hahaha….”


Sang suami cuma nyengir menanggapi gurauan istrinya. Kamu tidak tahu rambut pirang Mimin sudah bergonta-ganti warna menjadi merah menyala dan sekarang ungu tua! Benar-benar hebat rambutnya tidak sampai rusak sering dicat.


“Kamu sudah makan malam, Mas?” tanya Theresia penuh perhatian.


“Belum. Tadi sepulang kantor aku langsung mandi dan berangkat kemari.”


Jonathan mengecup punggung tangan istrinya. There benar-benar sudah membaik sikapnya, batinnya lega. Dulu dia jarang sekali mengucapkan terima kasih. Seakan-akan apapun yang kulakukan untuknya adalah suatu hal yang sudah wajar sekali diterimanya.


“Aku sudah ada jatah makanan dari rumah sakit. Itu,” lanjut Theresia seraya menunjuk ke arah hidangan di atas meja dorong yang terletak agak jauh darinya.


“Apa kamu mau makan sekarang, Sayang? Kusuapi, yuk,” sahut suaminya menawarkan.


“Oh, bukan itu maksudku, Mas. Aku cuma mau nunjukkin jatah makanan dari rumah sakit aja. Banyak, kan? Kelihatannya enak-enak. Tapi aku nggak sanggup habisin semuanya.”


“Biar kumakan sebagian, Sayang. Nggak apa-apa, kok.”


“Tapi kan kurang, Mas. Kalau mau, pergilah ke kantin membeli makanan untukmu sendiri. Nanti kita sama-sama makan malam di sini. Bagaimana?”


“Kamu nggak apa-apa kutinggal sendirian di sini?”


“Hehehe…. Kan ada bel buat manggil suster kalau aku butuh sesuatu. Aku juga masih bawa ponsel. Bisa meneleponmu kalau ada apa-apa.”

__ADS_1


There sudah bisa bersikap mandiri sekarang, pikir suaminya puas. Syukurlah perpisahan sementara kami membawa perkembangan yang baik bagi kepribadiannya.


“Baiklah, Sayang. Aku pergi ke kantin sebentar, ya.”


“Hati-hati, Mas.”


Jonathan mengangguk. Ia kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu keluar. There juga sudah bisa berpesan agar aku berhati-hati, batinnya senang. Tuhan memang mempunyai caraNya sendiri untuk menyelamatkan sebuah perkawinan yang hampir berakhir.


Lalu laki-laki itu melangkah ringan menuju ke lift dan menekan tombol turun. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan muncullah seorang wanita berambut cepak berwarna ungu tua!


“Mimin!” pekiknya terperanjat.


“Halo, Jon,” sahut Mina sambil tersenyum lebar. Ia keluar dari dalam lift dengan santainya dan berkata, “Ngapain kamu di sini? Nggak nge-gym?”


“Istriku opname di sini karena demam berdarah. Kamu sendiri ngapain datang kemari?”


“Mau menjenguk teman sekantorku. Dia sakit tipes.”


“Di lantai ini juga?”


“Iyalah. Kalau nggak, ngapain aku naik lift kemari?”


“Kamar nomor berapa?”


Sahabatnya itu lalu menyebutkan nomor kamar rekan sekantornya. Jonathan bersyukur kamar itu dekat dengan lift dan jauh jaraknya dengan kamar istrinya yang terletak di ujung lorong.


“Istrimu sendiri di kamar nomor berapa? Boleh sekalian kujenguk?” ujar Mina balik bertanya.


Kawan karibnya menggeleng dan berkata, “Lebih baik jangan, Min. Aku kan pernah cerita istriku cemburuan orangnya. Terutama sama cewek yang penampilannya modis kayak kamu.”


“Oh, ok. Aku nggak akan besuk dia. Titip salam aja, kalau begitu. Hehehe….”


Jonathan melotot mendengar candaan wanita centil itu. Mina tertawa geli melihat ekspresinya. “Sabar, Bro,” ucapnya ringan. “Aku nggak akan cari gara-gara, kok. Kamu sendiri mau pergi ke mana sekarang?”


“Ke kantin. Mau beli makanan.”


“Terus dibawa ke kamar istrimu?”

__ADS_1


“Yes. Biar bisa makan sama-sama.”


__ADS_2