
Paras Mila pucat seketika. Perasaannya hampa, seakan-akan kehilangan separuh jiwanya. Sementara itu Theresia yang shock spontan berteriak-teriak histeris memohon-mohon pada dokter agar menyelamatkan ayahnya. Air matanya jatuh bercucuran. Betapa dirinya merasa sangat bersalah. Gara-gara dia berkeras menemui pengacara Jonathan, ayahnya sampai murka, memukulinya, dan mengalami serangan jantung. Entah bagaimana dia dapat menebus dosa pada satu-satunya orang tuanya yang masih hidup ini.
Mendengar teriakan-teriakan anak tirinya, Mila seketika tersadar. Dipeluknya Theresia dan ditenangkannya dengan kata-kata yang menghibur. Sementara itu dokter berkata bahwa Simon akan dipindahkan ke ruangan ICU. Keluarga pasien dapat menjenguknya di sana.
“Terima kasih banyak, Dok,” jawab Mila pilu. Sang dokter mengangguk dan tersenyum. Dia pun berlalu meninggalkan kedua wanita tersebut.
Di sela-sela isak tangisnya, Theresia berkata sedih, “Tante, Papa begini karena aku. Karena aku! Seandainya aku tidak berkeras menemui pengacara Mas Jon, hal ini tidak akan terjadi. Semua ini salahku. Salahku!”
Mila hanya bisa menghela napas panjang. Akhirnya kau sekarang memahami dimana letak kesalahanmu, Nak, batinnya pedih. Setelah ayahmu sendiri yang menjadi korban.
Air mata istri yang setia itu perlahan-lahan menitik. Perasaannya begitu sakit. Belahan hatinya akan pergi untuk selama-lamanya….
***
“Papamu tidak suka melihatmu cengeng dan emosional, There. Dia ingin anaknya tegar dan dewasa. Jadi jagalah sikapmu di depannya nanti. Jangan sampai papamu pergi dengan penyesalan…,” nasihat Mila terhadap anak sambungnya beberapa saat sebelum mereka menemui Simon di ruang ICU.
Theresia mengangguk. Dihapusnya air matanya. Aku akan menjadi seperti yang Papa inginkan, tekadnya bulat dalam hati. Aku ingin Papa pergi dengan tenang dan tidak menyesal mempunyai anak sepertiku.
Dua wanita berbeda generasi yang sangat mencintai Simon itu lalu bersama-sama masuk ke dalam ruangan ICU. Di dalamnya terdapat beberapa bilik kaca yang masing-masing dihuni oleh satu orang pasien. Setelah mengenakan gaun biru muda yang wajib dipakai oleh pengunjung, Mila dan Theresia masuk ke dalam bilik pria tua yang kondisinya tengah kritis itu.
“Papa…,” gumam Theresia melihat keadaan ayahnya yang terbaring lemah ditemani berbagai perlengkapan medis. Dia berusaha menahan tangisnya melihat kondisi orang tuanya yang tak berdaya.
Simon membuka matanya perlahan. Dilihatnya dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Dibukanya masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya. Senyuman hangat menghiasi wajahnya yang bijaksana.
__ADS_1
“Waktu Papa tidak lama lagi, There…,” ucapnya lembut. “Kamu dan Tante Mila saling menjaga, ya. Papa akan segera bertemu mamamu di surga….”
Sang putri menatap ayahnya sedih. Dikecupnya dahi orang tuanya itu penuh kasih. “Maafkan There, Pa. Gara-gara There, Papa jadi seperti ini,” sesalnya begitu dalam hingga menitikkan air mata.
Simon meraih tangan anak semata wayangnya itu. Ditepuk-tepuknya penuh perasaan. “Papalah yang bersalah dulu tidak mendidikmu dengan baik, Nak. Sekarang Papa menuai buahnya. Ambillah hikmah dari kejadian ini, There. Mulai sekarang…jadilah wanita yang dewasa, tegar, dan mandiri. Berhentilah bersikap manja, egois, dan diktator. Itulah yang menyebabkan suamimu meninggalkanmu.”
Air mata semakin deras berjatuhan membasahi wajah Theresia. Mila yang berdiri di sampingnya memberinya tisu untuk menghapus air matanya.
“Hati Jonathan sudah bukan untukmu, Nak,” lanjut Simon kemudian. “Hanya keajaiban yang mampu mengembalikan dia padamu. Relakanlah dia….”
Theresia manggut-manggut mendengar petuah terakhir sang ayah. Kali ini dia bersedia menelan apapun yang dikatakan Simon demi menyenangkan hatinya.
“Bagus, Anakku. Bagus…,” kata sang ayah lega. “Mulai sekarang kalau hendak mencapai sesuatu, gunakan cara yang elegan. Pakailah logika, jangan sekedar emosi….”
“Iya, Papa. Semua nasihat Papa akan There turuti. Percayalah…,” jawab Theresia terharu.
“I love you, Papa. Maafkan segala kesalahan There….”
“I love you, too, There. Maafkan Papa juga….”
Mila yang sejak tadi diam saja akhirnya tak kuasa menahan perasaan harunya. Air matanya mengalir deras.
“Mila istriku,” ucap Simon setelah selesai berpelukan dengan anaknya. “Kemarilah. Aku ingin memelukmu.”
__ADS_1
Sang istri menyanggupi. Dipeluknya belahan jiwanya itu dengan penuh perasaan.
“Terima kasih banyak telah berjuang merawatku selama ini, Sayang. Maafkan aku harus meninggalkanmu secepat ini. Tolong bantu aku menjaga Theresia….”
Mila mengangguk-angguk berulang kali. Suaminya puas sekali melihatnya. “Aku bahagia sekali diberi kesempatan menikmati tahun-tahun terakhirku bersamamu, Mila. Tuhan maha baik, telah mempertemukan kita kembali setelah berpisah puluhan tahun. Tuhan maha baik….Tuhan maha baik…. Aaahhh….”
Saat itulah Simon Hidayat, mantan pengusaha yang sangat disegani di kota Surabaya, menghembuskan napasnya yang terakhir. Kepedihan menyelimuti hati istri dan putri kandungnya. Kedua wanita itu bertangis-tangisan sementara pria yang sangat mereka kasihi menutup mata dan tersenyum penuh kedamaian.
***
Jonathan terkejut sekali mendengar kabar duka itu dari Mila. “Ya, Tuhan! Bagaimana bisa terjadi, Tante?” tanyanya tak percaya saat diberitahu bahwa ayah mertuanya telah berpulang ke rumah Tuhan. Terkenang olehnya pertemuan terakhirnya dengan Simon beberapa bulan lalu di kantor. Pertemuan yang berujung pada perpisahan yang mengharukan.
Mila menceritakan kronologis serangan jantung yang dialami oleh mendiang suaminya berikut penyebabnya.
“Oh,” gumam Jonathan pelan. Dia merasa sangat prihatin dengan musibah yang menimpa ayah mertuanya. “Lalu bagaimana keadaan Theresia sekarang?”
Karin yang sedang menyiapkan makan malam menoleh ke arah kekasihnya waktu mendengar nama Theresia disebut-sebut. Ada apa, ya? Bukankah tadi pagi mereka sudah bertemu di pengadilan? Kata Mas Jon setelah sidang, istrinya itu membuat ulah, cetusnya dalam hati.
Diperhatikannya pria yang dicintainya itu diam berkonsentrasi mendengarkan suara lawan bicaranya. Sesekali dia menimpali dengan kata-kata oh, baik, ok, terima kasih. Ekspresi wajahnya sesekali tampak tegang, namun kemudian berganti prihatin. Apa ada hal buruk yang terjadi? pikir gadis itu cemas. Dia kuatir Theresia kumat depresinya dan menghalalkan segala cara untuk mengulur-ulur proses perceraiannya.
“Baik, Tante. Saya akan datang besok pagi dan ikut bantu-bantu di sana. Terima kasih Tante Mila sudah memberitahu Jon,” ucap Jonathan mengakhiri pembicaraan.
Laki-laki itu menghempaskan tubuh kekarnya di sofa. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Kenangan-kenangan akan ayah mertuanya yang selalu memperlakukannya dengan baik muncul bergantian dalam ingatannya. Selamat jalan, Papa, batinnya berduka. Terima kasih sudah menjadi mertua yang sangat pengertian selama ini. Jon belum sempat membalas budi baik Papa….
__ADS_1
Seketika matanya berkaca-kaca. Hidungnya mulai berair. Karin yang sejak tadi memperhatikannya lekas tanggap. Diambilnya dua helai tisu dan dihampirinya pria pujaan hatinya itu. Disodorkannya tisu pada Jonathan yang menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Air mata pria itu mengalir semakin deras.
Karin yang duduk di sebelahnya tidak bertanya apa-apa. Gadis itu hanya merangkul kekasihnya sebagai tanda memberi dukungan. Dibiarkannya Jonathan menumpahkan segenap kesedihannya dengan menangis sepuas-puasnya.