
Kepala Jonathan bagaikan disiram air dingin. Segar sekali rasanya. Belum…, batinnya bersukacita. Berarti...akan, dong. Seulas senyum penuh harapan mulai tersungging di sudut bibirnya. Karin yang melihat pria itu tidak berkomentar apapun, langsung melanjutkan ceritanya.
“Pak Simon lalu menatap saya tajam sekali sampai saya merasa risih dan menunduk. Tak lama kemudian beliau berkata bahwa Pak Jon seorang pria yang baik. Bila sudah bercerai dengan Bu Theresia nanti, Pak Jon bebas dan berhak menjalin hubungan dengan wanita lain….”
Jonathan terkesiap mendengar penuturan gadis itu. Jadi…, batinnya terharu. Papa sudah menerima kenyataan bahwa aku menaruh hati pada Karin. Beliau tidak masalah jika setelah bercerai, aku melanjutkan hidupku….
Terima kasih, Pa, ucap laki-laki itu dalam hati. Takkan pernah kulupakan budi baik Papa selama ini. Dirimu seorang ayah mertua yang baik dan pebisnis yang selalu menjadi suri tauladan Jon.
“Pak Jon, untuk selanjutnya apa yang akan Bapak kerjakan?”
Pertanyaan Karin membuyarkan lamunan mantan bosnya itu. Setelah berdeham sebentar, pria yang sangat dikagumi keponakan Rosa itu bercerita tentang rencananya membuka sebuah kantor pemasaran properti.
“Tapi aku akan mendiskusikannya dulu dengan Bastian nanti malam di gym. Terus terang ini hal yang baru buatku. Karena sebelumnya kan aku cuma fokus memasarkan apartemen yang dibangun perusahaan milik Pak Simon. Sedangkan di kantor yang akan kubuka nanti aku beserta tenaga-tenaga pemasaran harus mampu menawarkan berbagai macam properti. Entah itu ruko, rumah, gudang, tanah, pabrik, macam-macam deh.”
“Memangnya Pak Bastian mempunyai pengalaman di bidang properti?”
“Nggak, sih. Cuma dia sudah lama sekali bergelut di dunia marketing. Sekarang dia merupakan marketing manager sebuah dealer mobil ternama. Mobil Sigra-ku kan kubeli dari dia.”
“Sepertinya Bapak berniat mengajak Pak Bastian kerja sama, ya?”
“Hahaha…. Kamu kok bisa membaca jalan pikiranku, Rin?”
Si gadis tersenyum malu-malu. Aku selalu berusaha memahami isi kepala dan maksud hati orang yang kucintai, jawabnya dalam hati. Dipandanginya pria matang itu dengan perasaan kagum. Pak Jon orang yang cerdas dan ulet bekerja. Apapun yang Bapak kerjakan pasti berhasil, batinnya mendukung.
__ADS_1
“Pak Jon,” katanya kemudian. “Bolehkah saya membantu Bapak merintis usaha yang baru? Saya kan sudah jadi pengangguran sekarang.”
Jonathan menatap gadis itu penuh sukacita. Ingin sekali direngkuhnya tubuh semampai itu dalam pelukannya. Akan dilindunginya sehingga tak seorang pun dapat menyakitinya.
“Terus terang aku merasa ikut bersalah kamu kehilangan pekerjaan secepat ini, Rin. Apa kata Bu Rosa kalau kau tahu kamu dipecat Pak Simon?”
Gadis itu tersenyum pasrah. Reaksinya yang demikian justru membuatnya tampak sangat cantik di mata Jonathan. “Saya mungkin akan menyembunyikan hal ini sampai memperoleh pekerjaan yang baru, Pak. Karena itu tolong segera beri saya job supaya bisa segera berterus terang pada Tante Rosa. Hehehe….”
Lawan bicaranya tersenyum lembut. Hati Karin dag dig dug melihatnya. Ganteng sekali dia kalau tersenyum begini, pujinya dalam hati.
“Apakah…kamu siap bersusah payah membangun bisnis bersamaku, Karin?” tanya Jonathan dengan suara bergetar. Dia sekarang hanya punya sedikit uang, pengalaman, dan keberanian untuk memulai hidup baru. Apakah gadis ini bersedia menjalani suka dan duka bersama dirinya?
Dan…pria yang masih menjadi suami sah Theresia itu sungguh terkesima tatkala Karin meraih kedua tangannya dan menciuminya sepenuh hati. “Saya bersedia mengikuti Bapak kemanapun…. Sudah tak ada lagi keraguan dalam diri saya. Tolong segera tuntaskan perceraian dengan Bu Theresia. Saya tunggu….”
Hati Jonathan sungguh berbunga-bunga. “I love you, Karin…,” ucapnya sepenuh hati.
Demikianlah sejoli yang sedang dimabuk asmara itu saling berpandangan dengan mesra. Perasaan mereka terpapar dengan jelas melalui sorot mata, senyuman, serta gerak tangan mereka yang saling meremas penuh kasih.
***
“Idemu bagus sekali, Bro,” puji Bastian setelah sahabatnya menjelaskan gagasannya untuk membuka kantor pemasaran properti.
“Maukah kamu menjadi partner-ku, Bro?” pinta Jonathan dengan nada suara memohon. Sorot matanya tak kalah sendu sehingga membuat kawan baiknya tak sampai hati menolak.
__ADS_1
“Ok-lah kalau kau butuh rekan bisnis. Tapi aku nggak bisa ninggalin pekerjaanku di dealer mobil, Jon.”
“No problem. Aku cuma butuh rekan kerja untuk bertukar pendapat dan …paruhan modal bisnis. Hahaha…,” aku Jonathan sambil tertawa terbahak-bahak. Akal bulusnya sudah dibongkarnya sendiri sekarang. Bastian cuma nyengir sambil geleng-geleng kepala.
“Memangnya butuh duit berapa untuk memulai usaha itu, Jon?” tanyanya kemudian dengan serius.
Lawan bicaranya mulai bertutur, “Membeli waralaba kantor pemasaran properti yang sudah punya nama itu biasanya minimal lima tahun, Bro. Nanti mereka akan mengajari sistem dan manajemennya sampai kita mahir. Jadi kita harus menyewa ruko tiga lantai untuk dijadikan kantor, membeli sejumlah perangkat komputer, printer, meja, kursi, dan lain-lain. Terus mempekerjakan beberapa orang karyawan untuk bagian administrasi, akunting, office boy, dan kurir. Jujur saja uangku sudah banyak terkuras untuk beli mobil dan menyewa apartemen, Bro. Kalau aku membuka kantor itu murni dengan sisa uang tabunganku sendiri, aku kuatir bakalan puasa selama berbulan-bulan! Keburu mati mengenaskan sebelum menikmati hasil investasi buka kantor. Hahaha….”
“Hei, hei…. Ada apa ini kok dari tadi ketawa-ketawa terus?” sela sebuah suara kenes yang sangat mereka kenal.
“Hai, Min!” seru Bastian. “Tumben baru datang. Brother kita yang satu ini udah resmi jadi pengangguran hari ini. Dia ada rencana bikin usaha baru.”
Mina langsung berpaling pada Jonathan. Sorot matanya menampakkan keingintahuan yang besar. “Usaha apa, Bos?” tanyanya penasaran. “Coba cerita. Barangkali aku tertarik buat menanam modal.”
“Nah, lho! Udah ada calon investor di sini. Hajar, Jon! Kayaknya Mimin lagi banyak duit,” seru Bastian mengompori.
Yang diminta bicara malah menatap Mina dengan perasaan bimbang. Cewek kayak gini mana tertarik menanam modal pada bisnis properti? Bukannya minat Mimin sebenarnya pada bisnis tata rias? batinnya ragu-ragu.
“Kok diam, Jon? Kenapa?” tanya sahabat perempuannya itu heran. Dipandanginya laki-laki itu penuh tanda tanya. “Kamu mau buka usaha apa?”
Akhirnya pria itu terpaksa menceritakan gagasannya. Mina manggut-manggut seolah-seolah memahami apa yang dibicarakan sahabatnya itu. “Idemu bagus. Aku suka. Butuh modal berapa?” tanyanya lugas.
Jonathan terkesima mendengar pertanyaan yang tak disangka-sangkanya akan keluar dari mulut wanita berpenampilan nyentrik itu. Namun dipaksakannya lidahnya untuk menyebutkan nominal yang dibutuhkan. Dahi Mina tampak mengernyit sesaat lamanya.
__ADS_1
“Hmm…jumlah yang lumayan. Tapi kalau dibagi tiga antara kamu, Bas, dan aku, jadinya modal tiap orang nggak besar. Ok deh, aku ikut. Kapan setor modal?”
Kini bukan hanya Jonathan yang terperangah. Bastian pun sampai mematung saking kagetnya. Mina yang merasa dijadikan tontonan jadi nyerocos sendiri, “Woi! Kalian kenapa jadi kayak patung gitu? Kesambet makhluk halus, ya?” selorohnya bergurau.