Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Karin Menghapus Keringat Jonathan


__ADS_3

Tiba-tiba Karin merasa malu sendiri dengan pertanyaan yang spontan dilontarkannya tadi. Wajahnya tersipu. Joshua tertawa geli melihatnya. Dia menjawab ringan, “Kuanggap begitu, sih. Boleh, nggak?”


“Oh, ten..tentu saja boleh, Pak,” sahut Karin terbata-bata. “Saya justru merasa sangat terhormat.”


“Kalau Eric?”


Gadis itu terdiam sejenak. Lalu dia berkata pelan, “Eric sudah menjadi bagian dari masa lalu saya, Pak.”


“I see. Tapi dia kelihatannya nggak beranggapan demikian.”


“Itu urusannya sendiri. Bagi saya pribadi, kami berdua sudah selesai.”


Jonathan memandang gadis di depannya dengan takjub.


“Kamu orangnya keras juga ya, ternyata.”


“Bukannya begitu, Pak. Tapi saya kalau sudah memutuskan sesuatu, berarti itu sudah dipikirkan matang-matang. Jadi susah sekali untuk dirubah.”


“Pemuda itu begitu menyakitimu ya, Rin? Sampai-sampai kamu sudah tidak mau berteman dengannya.”


Karin tersenyum pahit dan berkata, “Apa enaknya berteman dengan mantan pacar, Pak? Bisa-bisa justru CLBK atau malah lebih sakit hati kalau dia dekat sama cewek lain.”


“Pintar juga kamu. Hehehe….”


“Eh, sebentar, Pak.”


“Kenapa?”


Gadis itu mengambil sehelai tisu di atas meja. Ketika akan diberikannya pada bosnya, dia tersadar tangan laki-laki itu masih belepotan nasi dan sambal. Lalu dia berinisiatif menghapus sendiri keringat di pelipis pimpinannya itu dengan tisu yang dipegangnya.


“Maaf ya, Pak. Saya bantu menghapus keringatnya. Nah, selesai sudah. Silakan makan kembali.”


Jonathan terpaku menyaksikan kepedulian sekretarisnya pada dirinya. Dulu Theresia yang selalu menghapus keringatnya dengan tisu. Ya, pada masa-masa pacaran hingga tahun-tahun awal perkawinan mereka. Laki-laki itu menatap gadis yang duduk di depannya penuh terima kasih.


“Terima kasih, Karin. Aku memang suka keringatan kalau makan pedas.”


“Hehehe…, iya Pak. Nggak apa-apa. Kalau saya kepedasan, malah seperti orang pilek. Hidung memerah.”


Pimpinannya terkekeh geli mendengar gurauan gadis itu.

__ADS_1


“Eric sungguh tidak beruntung.”


“Kenapa, Pak?”


“Kehilangan seorang kekasih yang begitu perhatian seperti kamu.”


“Salahnya sendiri sudah berselingkuh.”


“Heh?!”


“Ups, saya keceplosan!” cetus Karin sambil menutup mulutnya. Ekspresi kagetnya tampak lucu sekali sehingga membuat pria di depannya terpingkal-pingkal.


“Kok saya diketawain, Pak?”


“Hahaha…, ekspresimu barusan lucu sekali. Sayang kamu nggak bisa melihatnya sendiri. Hahaha….”


Gadis itu cemberut. Ia merasa jengkel sekali. Pikirnya aku badut apa?! batinnya sedikit gusar.


“Udahan dong, Pak, ketawanya. Nggak enak dilihatin orang-orang,” pintanya memohon.


“Ok, ok. Hehehe…. Sori, sori. Ya udah, kita lanjutin makan aja, ya.”


“Nanti begitu Bu Rosa menikah, kamu tinggal sendirian, dong?”


“Iya, Pak. Nggak apa-apa. Kan saya sudah dewasa. Lagipula rumah Tante Rosa dan suaminya nanti tidak jauh, kok. Sekitar dua puluh menit kalau naik mobil dari rumah kami yang sekarang.”


Jonathan manggut-manggut, “I see. Jujur saja aku sempat merasa surprise Bu Rosa mau menikah. Mengingat usianya sudah tidak muda lagi. Eh, rupanya CLBK dengan mantan pacarnya. Ternyata kalau jodoh nggak lari kemana.”


“Betul, Pak. Om Bernard baik sekali orangnya.”


“Oh, namanya Bernard. Keren juga.”


“Orangnya keren juga sih, Pak. Masih suka pakai celana jeans. Hehehe….”


“Yah, selera Bu Rosa kukira tak perlu diragukan lagi, kan?”


“Betul, Pak.”


“Kalau seleramu sendiri gimana, Rin?”

__ADS_1


Giliran Jonathan yang sekarang menyesal dengan pertanyaan yang dilontarkannya. Apa urusannya hal itu dengan diriku? batinnya merasa sebal sendiri. Untunglah pelayan datang membawa nota tagihan dan menyelamatkannya dari situasi canggung itu.  Jonathan memeriksa nota itu sejenak lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya. “Kembaliannya ambil aja,” katanya santai. Pelayan tersebut tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


“Yuk, Rin. Kita balik ke kantor,” ajak sang bos lugas.


“Baik, Pak,” jawab si sekretaris sembari bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti pimpinannya menuju ke parkiran mobil.


Fiuh! Untung pelayan itu datang tepat pada waktunya, batin Karin lega. Aku nggak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Pak Jon tadi. Jangan sampai dia tahu bahwa aku sudah mengaguminya sejak kami pertama kali bertemu!


***


Di dalam mobil, Jonathan memeriksa ponselnya dan menemukan sebuah pesan WA dari Theresia.


[Mas Jon sudah makan siang?]


Laki-laki itu tersenyum membaca pesan istrinya yang penuh perhatian. Dengan segera dia membalas pesan itu singkat: [Sudah, Sayang.]


Theresia langsung bertanya: [Makan di mana?]


Suaminya mengetik dengan cepat: Di depot ayam penyet kegemaranku. Yang tempatnya nggak jauh dari kantor properti. Tadi aku sama sekretaris meeting di sana. Kamu sendiri tadi makan apa, Sayang?


Muncul jawaban singkat: [Makan rawon buatannya Bi Sum.]


Jonathan menghentikan chat WA-nya sebentar. Ingatannya kembali melayang pada peristiwa dua bulan yang lalu. Ketika istrinya menyemburkan nasi rawon buatan Bi Sum ke mukanya hingga membuat emosinya meluap dan memutuskan untuk bercerai.


Tak terasa waktu berlalu, gumamnya dalam hati. Aku memang merindukan There, tapi jujur saja aku juga menikmati kesendirianku seperti sekarang. Rasanya aku menjadi diriku yang sesungguhnya. Tak perlu kuatir sikap, ucapan, maupun perbuatanku akan menyinggung hati istriku sendiri.


Apakah aku akan siap serumah lagi dengan There, ya? tanyanya pada dirinya sendiri. Aku akan kehilangan kebersamaanku dengan Bastian dan Mimin di gym. Tidak bisa bercakap-cakap dan bergurau dengan akrab lagi bersama mereka. There pasti tidak akan membiarkanku meninggalkannya sendirian di rumah waktu malam. Kemungkinan besar sih, dia minta diajak nge-gym juga. Tapi kalau melihat Mimin berada di sana, takutnya dia berpikiran yang tidak-tidak dan malah memicu pertengkaran, keluh Jonathan dalam hati.


Jangan-jangan aku sudah telanjur nyaman dengan keadaanku sekarang, jadi takut berkumpul lagi dengan istriku! pikirnya terkejut sendiri. Tapi…kami sudah sepuluh tahun menikah dan aku sudah berjanji pada Papa untuk memberi There kesempatan sekali lagi. Masa aku harus menelan ludahku sendiri?


Laki-laki itu berkecamuk dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar bahwa sejak tadi ponselnya berkali-kali berbunyi.


“Maaf, Pak. Sepertinya banyak chat WA yang masuk,” ucap Karin mengingatkan.


“Oh, iya. Terima kasih.”


Sang direktur langsung membalas pesan-pesan istrinya yang masuk beruntun. Aku tidak boleh mengingkari janjiku sendiri, tekadnya dalam hati. Jerih-payah There yang secara rutin menjalani konseling dengan psikiater, terapi meditasi, dan menjauhi pergaulan dengan kawan-kawan sosialitanya harus kuhargai. Kasihan kalau keadaannya yang sudah membaik nanti malah memburuk karena kutinggalkan begitu saja. Aku tidak boleh egois. Pernikahan kami dulu disaksikan Tuhan dan aku telah berjanji akan selalu bersamanya dalam suka maupun duka.


Sementara sang bos berkonsentrasi pada ponselnya, sekretaris cantiknya yang duduk di sampingnya diam-diam mencuri-curi pandang. Bagaimana ya, rupa istri Pak Jon? batinnya penasaran. Beruntung sekali dia mempunyai seorang suami yang tampan, gagah, pintar, dan baik hati. Orangnya juga suka bekerja keras dan kelihatannya tidak suka bermain wanita. Jauh berbeda dengan Eric yang mata keranjang, makinya sebal dalam hati. Mudah-mudahan aku nggak akan pernah bertemu dengannya lagi!

__ADS_1


***


__ADS_2