
“Kamu…kamu tertarik terjun ke bisnis properti?” tanya Jonathan terbata-bata.
Mina langsung terpingkal-pingkal. “Jon, Jon…. Kamu kok kaget gitu. Memangnya aku nggak pantas ya berbisnis properti? Cocoknya cuma bisnis kecantikan aja?” tanya perempuan itu kenes.
“Bu…bukan gitu, Min.”
“Terus apa?”
“Yah, selama ini kamu kan nggak pernah nyinggung-nyinggung soal properti. Jadi kupikir kamu nggak berminat sama sekali.”
“Ya, abis kalian nggak pernah ajak aku bahas tentang itu, sih.”
“Emang kamu ngerti bisnis properti?”
“Hahaha…nggak. Nti kalian ajarin, ya.”
Mina lagi-lagi tertawa terpingkal-pingkal. Kali ini air matanya bahkan sampai keluar. Kedua pria di depannya melongo. Emang nyentrik cewek ini, pikir Bastian. Sulit ditebak jalan pikirannya.
“Udah, udah. Itu kantor pemasaran propertinya jadi dibuka, nggak? Aku mau join sepertiga bagian. Tapi ada syaratnya,” tandas Mina menegaskan.
Jonathan menatapnya ingin tahu. “Apa syaratnya, Min?” tanyanya penasaran. Dahinya sampai berkerut memandang sahabat perempuannya itu.
“Aku mau jadi kepala akunting. Udah bosan bertahun-tahun ikut orang kerja jadi staf akunting. Kayaknya sekarang saat yang tepat bagiku buat mengembangkan diri.”
__ADS_1
Bastian terbelalak saking kagetnya. “Kamu mau mengundurkan diri dari pekerjaan tetapmu, Min? Gila, nekad banget! Aku belum berani. Kalau bisnis ini nanti nggak berhasil, gimana?” celetuknya spontan. Namun kemudian dia menyesali ucapannya ketika melihat pandangan tak suka Jonathan kepadanya.
“Ups, sori, Bro. Bukannya aku nggak percaya sama visi misimu di bisnis properti. Cuma istriku kan nggak kerja. Aku bertanggung jawab penuh terhadap kehidupannya dan dua anak kami. Jadi aku belum berani ambil risiko melepaskan pekerjaanku yang sekarang. Ok-lah kalau sekedar setor sepertiga modal, aku masih mampu. Bantu-bantuin soal marketing juga masih bisa. Tapi pekerjaanku sekarang tetap kuprioritaskan.”
Mina segera menengahi suasana yang agak memanas. “Bas benar sih, menurutku. Memang di antara kita bertiga cuma dia yang masih punya tanggungan, kan. It’s ok-lah. Aku juga masih akan nyambi kerjaan freelance-ku sebagai make-up artist. Nggak apa-apa kan, Jon? Nti kamu aja yang jadi direktur. Aku megang akuntingnya, Bas bantuin urus konsep marketing dan IT. Kamu yang mengelola operasional kantor. Gimana?”
Jonathan mengangguk setuju. Dia cukup puas dengan gagasan manajemen yang diutarakan sahabatnya barusan. Bastian juga tampak tak berkeberatan. Dia lalu menambahkan, “Kita juga butuh seorang sekretaris atau kepala administrasi yang bisa diandalkan. Siapa ya, kira-kira?”
“Karin aja,” jawab Jonathan lugas. Kedua sahabatnya menatapnya penuh tanda tanya. “Karin kan masih kerja di perusahaan ayah mertuamu, Jon,” celetuk Mina dengan ekspresi kebingungan.
Jonathan langsung menjelaskan, “Udah nggak lagi. Dia dipecat hari ini sama Papa.”
“Hah?!” seru Bastian dan Mina bersamaan. Mereka berdua sangat terkejut mendengar berita ini.
“Karin memang sudah mengajukan pengunduran diri pada kepala HRD. Tapi dia diminta untuk menunggu dulu sampai ada penggantinya. Cuma waktu Papa tahu tentang itu hari ini, beliau merasa nggak suka dan langsung memecat Karin.”
“Katanya sih, begitu. Entahlah,” sahut pria yang ditanya sambil mengangkat bahunya. Dalam hati dia berdoa agar sahabatnya itu tidak curiga ada sesuatu yang terjadi antara dirinya dengan mantan sekretarisnya itu.
Bastian menyela pembicaraan, “Udah malam, nih. Aku mesti pulang sekarang. Ya udahlah, pakai Karin aja buat kepala administrasi. Tapi kamu mesti ngomong ke dia, Jon, gajinya nggak bisa sebesar waktu bekerja di kantormu dulu. Soalnya kita kan masih merintis. Mau nggak dia digaji standar?”
Sahabat laki-lakinya itu mengangguk. Dijawabnya pertanyaan Bastian dengan penuh percaya diri, “Dia pasti mau, Bas. Orangnya baik, kok. Nggak perhitungan masalah gaji.”
“Baguslah kalau begitu,” komentar Bastian senang. “Ok, Bro and Sis. Berarti kita kompak jadi rekan bisnis, ya.”
__ADS_1
Laki-laki itu lalu memajukan punggung tangannya di depan yang langsung disambut dengan tepukan tanda sepakat oleh kedua sahabatnya.
***
Demikianlah akhirnya Jonathan, Bastian, dan Mina bahu-membahu membuka kantor pemasaran properti. Jonathanlah yang sehari-hari berada di kantor sebagai direktur. Bastian dan Mina hanya datang beberapa kali dalam seminggu untuk menjalankan bagian pekerjaan yang memang tidak membutuhkan kehadiran mereka setiap hari.
Sementara itu Karin yang bekerja sebagai kepala administrasi semakin dekat dengan Jonathan. Mereka setiap hari bertemu karena urusan pekerjaan. Karin masih menyebut pria yang dicintainya itu dengan sebutan Pak Jon, layaknya pegawai kepada atasannya. Keduanya tak pernah menyinggung-nyinggung soal akan dibawa ke mana hubungan mereka selanjutnya karena proses perceraian Jonathan yang tersendat-sendat.
Lambat-laun pria itu berkeluh-kesah tentang kepiawaian pengacara Theresia dalam mengulur-ngulur jadwal persidangan. Sudah lima bulan berlalu dan Lusia, pengacara Jonathan, belum menerima kepastian kapan sidang pertama akan dilaksanakan.
“Kalau begini caranya, buat apa aku menyewa jasa pengacara, Rin. Sudah lima bulan berlalu dan tak ada perkembangan sama sekali,” desah laki-laki itu kesal. Wajahnya tampak murung. Dia sekarang cuma berduaan dengan Karin di kantor. Kantor sudah sepi karena hari sudah menunjukkan pukul enam petang. Mereka berdua terpaksa lembur untuk mempersiapkan pameran properti yang akan dilaksanakan tiga hari lagi di mal.
Karin berusaha menenangkan hati bosnya itu. “Sabar, Pak. Lawannya Bapak kali ini kan memang seorang konglomerat yang ternama di Surabaya. Jadi dia pasti mempunyai kenalan orang-orang berpengaruh di aparat pemerintahan. Barangkali Bu Lusia sudah berusaha. Tapi karena lawannya terlalu kuat, dia agak sulit memperjuangkan kasus Bapak.”
“Aku sudah tak tahan lagi berada dalam posisi seperti ini, Rin. Sampai kapan statusku nggak jelas begini?”
Sang gadis tersenyum sabar, yang membuat hati bosnya meleleh melihatnya. “Kamu cantik sekali kalau tersenyum begini, Rin,” komentar Jonathan sendu. Sontak dia bangkit berdiri dari kursinya dan menghampiri gadis yang tengah duduk di depannya itu. Ditundukkannya wajah tampannya dan dipagutnya bibir hangat Karin dengan mesra.
Gadis yang sudah lama tidak disentuh sedemikian rupa oleh bosnya itu terkesiap. Secepat kilat dilepaskannya ciuman yang sebenarnya sangat dirindukannya itu. “Oh,” ucap Jonathan kecewa sikap romantisnya ditolak oleh Karin. “Maaf, aku tak tahan melihatmu tersenyum tadi. Begitu cantik dan….”
“Saya mau dicium,” sela gadis itu memotong ucapan bosnya. “Tapi tidak di sini. Malu kalau terlihat oleh office boy.”
Dada Jonathan bergemuruh mendengar pernyataan Karin barusan. “Kalau begitu, ayo kita pergi ke tempat yang aman. Di rumahmu bagaimana?” usul pria itu tak sabar.
__ADS_1
Karin menggelengkan kepalanya. “Saya takut Tante Rosa tiba-tiba datang. Beliau memang sudah tahu saya sekarang bekerja ikut Bapak. Tapi sama sekali tidak curiga ada apa-apa di antara kita….”
Bosnya tampak memikirkan sesuatu, namun tak berani diutarakannya pada gadis itu. Justru Karin yang berkata lembut, “Di tempat Bapak saja tidak apa-apa….”