
Sepulang dari gereja, Jonthan duduk merenung di dalam kamar hotelnya. “Urusan serah terima perusahaan sudah selesai. Besok pagi aku akan meninggalkan hotel ini untuk menandatangani akta sewa-menyewa apartemen di notaris. Setelah itu aku pindah ke tempat tinggal yang baru. Akan kutata barang-barangku di sana dan membeli perlengkapan rumah tangga yang belum tersedia. Lalu…apa lagi, ya?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Setelah berpikir sejenak, ia melanjutkan ucapannya, “Dokumen-dokumen untuk menggugat cerai sudah lengkap kuserahkan semua pada Lusia. Selanjutnya aku tinggal menunggu kabar darinya untuk menghadiri sidang di pengadilan. Dan kurasa sudah waktunya aku memikirkan mau bekerja apa. Uang tabunganku sudah berkurang banyak untuk membeli mobil dan menyewa apartemen. Belum lagi untuk membayar honor Lusia. Ah, kerja apa ya, yang profitable dan membutuhkan modal yang tidak terlalu besar?”
Dibaringkannya tubuhnya yang kekar di atas ranjang hotel yang empuk. Kedua matanya menatap kosong langit-langit ruangan. Selama ini pengalaman kerjanya adalah sebagai agen asuransi yang kemudian ditinggalkannya untuk berkarir di pabrik cat Simon. Baru selama tiga tahun terakhir semenjak ayah mertuanya itu pensiun, dia dipercaya juga untuk mengelola perusahaan developer properti. Namun sebelum-sebelumnya Jonathan yang pada dasarnya memang suka mempelajari hal-hal baru sudah mengikuti perkembangan properti milik Simon, sehingga tak sulit baginya untuk meneruskan tongkat estafet perusahaan tersebut.
Apakah aku sebaiknya membuka kantor pemasaran properti saja, ya? pikirnya tiba-tiba. Tinggal membeli waralaba kantor yang sudah terkenal jadi langsung mengikuti system dan role model yang sudah ada. Modalnya kurasa tidak terlalu besar. Hanya perlu menyewa ruko tiga lantai dan melengkapinya dengan sejumlah peralatan kantor seperti meja, kursi, komputer, printer, telepon, wifi, dan lain-lain. Perlengkapan-perlengkapan lain seperti banner, plang kayu, dan alat-alat tulis harganya juga relatif terjangkau. Lalu juga tidak perlu menggaji banyak karyawan. Cukup bagian administrasi, akunting, IT, dan kurir. Tenaga-tenaga pemasaran kan tidak perlu digaji. Penghasilan mereka diperoleh dari bagi hasil transaksi penjualan dan sewa properti, analisanya jeli.
Senyuman lebar menghiasi wajahnya yang tampan. Jonathan senang sudah mempunyai bayangan tentang mata pencahariannya di kemudian hari.
“Hmm, ide bagus. Coba nanti kudiskusikan dengan Bastian sewaktu nge-gym. Siapa tahu dia bisa memberikan masukan yang berharga,” katanya senang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama Karin pada layarnya. “Ya ampun!” serunya kaget. “Kok aku bisa lupa menelepon Karin, ya? Kan dia dipecat hari ini. Aku harus memberinya dukungan.”
Segera diterimanya telepon dari gadis yang telah mengisi tempat istimewa di hatinya itu. “Halo, Karin,” sapanya penuh semangat. Ingin segera diceritakannya idenya untuk membuka sebuah kantor pemasaran properti.
“Halo, Pak Jon,” jawab suara di seberang sana lirih. Setelah itu tak terdengar suara apapun lagi. Jonathan merasa kuatir.
“Karin, kamu nggak apa-apa? Kamu berada di mana sekarang?”
Terdengar helaan napas panjang gadis itu sejenak. Lalu dia menjawab pelan, “Saya berada di lobi hotel Bapak….”
__ADS_1
“Hah?!” pekik Jonathan terkejut. “Kamu…kamu sekarang berada di bawah?” tanyanya tak percaya. Timbul sebersit perasaan senang karena gadis tersebut dan dirinya sekarang berada di dalam gedung yang sama. Tiba-tiba perasaan rindu membuncah dalam dadanya.
“Iya, Pak Jon.”
“Ngapain kamu datang kemari, Rin? Kamu mencariku?”
“Ehm…iya, Pak. Saya tadi kuatir sekali melihat Bapak meninggalkan kantor dengan raut wajah sedih. Sepertinya…Bapak habis menangis. Jadi setelah selesai melakukan serah terima pada karyawati bagian akunting itu, saya langsung berpamitan pada Pak Simon. Lalu saya langsung datang kemari untuk…untuk…melihat barangkali ada yang bisa saya lakukan untuk menghibur Pak Jon,” tutur gadis itu terus terang. Nada suaranya terdengar begitu tulus di telinga Jonathan. Mantan bosnya itu sampai merasa terharu.
“Terima kasih banyak atas perhatianmu, Rin. Maafkan aku belum sempat meneleponmu. Malah kamu yang duluan menghubungiku. Malu rasanya aku ini,” jawab laki-laki itu tak enak hati.
“Tidak apa-apa. Kalau boleh, saya ingin bicara berdua saja dengan Bapak…,” pinta gadis itu dengan nada memohon.
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Ok. Tunggu sebentar.”
Jonathan menghentikan pembicaraan. Dimatikannya sambungan teleponnya lalu dia bercermin sebentar untuk memeriksa penampilannya. Kaus oblong lengan pendek putih polos dan celana pendek selutut berwarna abu-abu tua. Ok-lah, ketemu cewek dengan penampilan begini, putusnya dalam hati. Dengan langkah ringan, ia berjalan meninggalkan kamarnya untuk menemui gadis pujaan hatinya di lobi.
Sesampainya di tempat yang dituju, Jonathan langsung melihat gadis itu duduk sendirian di sofa hitam di ruang tunggu hotel tersebut. Wajah cantiknya yang semula murung langsung berubah ceria melihat pria yang ditunggu-tunggunya datang dengan penampilan segar. Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum lebar.
__ADS_1
“Halo, Pak Jon,” sapanya dengan ekspresi wajah berseri-seri. Ditatapnya laki-laki itu dengan sorot mata penuh cinta. Jonathan senang sekali melihatnya.
“Halo, Karin,” balas pria matang itu sambil tersenyum bahagia. “Tak kusangka kamu akan datang kemari menemuiku.”
Diajaknya gadis itu duduk kembali. Lalu didengarkannya mantan sekretarisnya itu menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Simon ketika berpamitan. “Pak Simon sudah nggak marah lagi waktu saya pamitan. Bahkan dia menitip salam buat Tante Rosa dan….”
Tiba-tiba ucapan gadis itu terhenti. Wajahnya tertunduk malu. Jonathan merasa gemas melihat sikapnya yang demikian. Ingin rasanya disentuhnya dagu mungil itu dan ditengadahkannya wajah lugunya. Namun ditepisnya keinginan itu jauh-jauh mengingat mereka berdua sedang berada di tempat umum.
“Dan apa, Rin?” tanyanya tenang. Ditatapnya perempuan muda di hadapannya itu dengan lembut. Sikap gadis ini selalu membuat batinnya merasa sejuk dan bersemangat. Sungguh berbeda dengan Theresia yang seringkali membuat suasana hatinya seperti sedang naik roller coaster. Senang dan cemas pada waktu yang bersamaan. Awalnya mungkin terasa seru, tapi lama-kelamaan membuat hidupnya tak tenang. Apalagi di usianya yang menginjak tiga puluh lima tahun ini. Sudah waktunya bersikap lebih serius dan tenang dalam menjalani kehidupan.
“Pak Simon…ehm…menanyakan hubungan kita berdua, Pak,” jawab Karin malu-malu. Lawan bicaranya terkejut mendengar pernyataannya barusan. Matanya sampai terbelalak tak percaya. “Heh?! Kok bisa?” tanyanya spontan.
“Saya juga tidak tahu, Pak. Barangkali beliau merasakan ada yang tidak beres waktu tadi saya hampir terjatuh dan Pak Jon menangkap tubuh saya dari belakang….”
Jonathan terdiam sejenak. Dia teringat tadi ayah mertuanya itu juga menyatakan kecurigaannya. Ya sudahlah, pikirnya pasrah. Terserah apa kata orang. Yang penting aku dan Karin belum menjalin hubungan sebagai kekasih.
“Lalu apa jawabanmu, Rin?” tanyanya sambil menatap gadis itu menanti jawaban.
Karin mengangkat wajahnya perlahan dan memberanikan diri menatap wajah mantan atasannya itu. “Saya…saya bilang kita belum ada hubungan apa-apa, Pak.”
__ADS_1