
“Masakannya enak ya, Mas,” puji Theresia ketika sedang duduk menikmati hidangan bersama suaminya. Jonathan mengangguk mengiyakan. Perjamuan prasmanan diselenggarakan di aula besar yang letaknya di samping ruang ibadah. Rosa dan suaminya tampak bahagia. Mereka bersama-sama mendekati para tamu dan menyapa bergantian.
“Terima kasih atas kehadirannya, Pak Jonathan, Theresia. Kenalkan, ini Bernard. Suami saya,” ucap Rosa ramah. Wajahnya tampak berseri-seri. Make-up pengantinnya benar-benar menonjolkan kecantikannya. Gaun pengantin berwarna putih tulang yang dihiasi brokat berwarna senada menambah keanggunannya. Gaun itu berpotongan sederhana, hanya mengikuti lekak-lekuk tubuh pemakainya yang ramping dan panjangnya hanya sampai mata kaki.
Barangkali Rosa merasa sudah terlalu berumur mengenakan gaun yang menyolok di hari pernikahannya. Namun pilihannya justru tepat sekali. Dia tampak begitu anggun bersanding dengan mempelai pria yang tinggi besar dan mengenakan jas pengantin berwarna hitam. Bernard, sang suami, tersenyum ramah sembari mengulurkan tangannya mengajar Jonathan dan Theresia bersalaman. Pasangan suami istri tersebut meletakkan piring-piring makanan mereka sejenak dan menyalami pengantin pria bergantian.
Kemudian Theresia memeluk mempelai wanita. “Selamat ya, Tante Rosa,” ucapnya tulus. “Semoga perkawinannya langgeng.”
“Terima kasih banyak, There. Aku pun ingin seperti kalian yang sudah menikah lama sekali. Ada sepuluh tahun, ya?”
Theresia mengangguk. Selanjutnya sang suami menyalami Rosa untuk mengucapkan selamat. “Pak Jon, seandainya nanti Karin melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, silakan ditegur saja tidak apa-apa,” pesan mempelai wanita bersungguh-sungguh. “Demi kebaikannya sendiri….”
“Baik, Bu Rosa,” jawab si bos sembari mengangguk mengiyakan. “Tapi saya rasa Ibu sudah membimbingnya dengan baik selama satu setengah bulan ini. Dia tidak akan melakukan kesalahan yang fatal.”
“Syukurlah kalau begitu, Pak,” cetus Rosa lega. Sementara itu Theresia diam-diam meringis dan mengeluh dalam hati. Kenapa Tante merekomendasikan gadis secantik itu untuk menjadi sekretaris Mas Jon? Aku jadi bingung sekarang bagaimana cara menyingkirkan gadis itu dari suamiku. Nggak enak sama Tante Rosa yang sudah lama bekerja dengan setia di kantor, keluh wanita itu dalam hati.
“Silakan dinikmati kembali hidangannya, Pak Jon, There. Maafkan kalau terlalu sederhana, ya,” kata Rosa mohon maklum.
“Enak sekali kok hidangannya, Tante,” sahut Theresia jujur.
__ADS_1
“Terima kasih, There. Kami permisi sebentar ya, mau menyapa Pak Simon dan Bu Mila di sana.”
Theresia dan suaminya mengangguk. Pasangan mempelai lalu melangkah meninggalkan mereka. Mereka hendak mendekati Simon dan istrinya yang sedang memilih-milih hidangan yang tersaji di meja prasmanan.
Setelah piringnya dan piring There kosong, Jonathan menawarkan untuk mengambilkan hidangan pencuci mulut.
“Mana piring kotormu, Sayang. Biar kukembalikan sekalian,” pinta sang suami. Theresia menyodorkan piringnya lalu ditumpuk oleh Jonathan diatas piringnya sendiri. Selanjutnya laki-laki itu beranjak menuju ke sebuah meja yang letaknya di ujung sendiri dan diatasnya terdapat sebuah keranjang besar berisi piring-piring kotor.
Setelah meletakkan piring-piring yang dibawanya ke dalam keranjang tersebut, Jonathan lalu beralih ke meja yang agak jauh dimana terdapat aneka hidangan pencuci mulut. Diambilnya dua buah mangkuk dan dua sendok kecil. Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang teramat dikenalnya.
“Itu puding lumutnya enak. Fruit tart-nya juga yummy. Aku udah makan tadi. Ini mau ambil lagi.”
Jonathan mendongak dan dilihatnya Mina sedang tersenyum kecil di hadapannya. “Eh, halo, Min. Penampilanmu beda banget. Aku tadi hampir tak mengenalimu di ruang ibadah,” komentar laki-laki itu lugas.
Sahabatnya mengangguk mengiyakan. Dia lalu sibuk memilih-milih kue-kue yang kelihatan enak buat istrinya. Sementara itu wanita di depannya masih sibuk berbicara sendiri, “Karin hari ini juga kelihatan beda, kan? Kudandani gitu malah kelihatan makin cantik dan makin muda. Aku sendiri terkejut sekali melihat hasilnya….”
“Mas Jon kok lama sekali? Siapa orang ini?” tanya sebuah suara tiba-tiba menyela ucapan Mina. Baik Jonathan maupun Mina terkesiap melihat seorang wanita tiba-tiba menyeruak dalam perbincangan mereka. Theresia rupanya. Wajahnya cemberut menunjukkan perasaan tak senang melihat sang suami bercakap-cakap dengan perempuan lain.
Mina segera menguasai keadaan. “Oh, halo Theresia. Saya Mina, teman SMA Jonathan. Kita pernah bertemu di gedung bioskop beberapa bulan yang lalu. Masih ingat nggak, ya?”
__ADS_1
Yang ditanya terkesima. Lho, ini Mina? Bukankah kata Mas Jon rambutnya sekarang cepak dan dicat warna ungu? Kok ini panjang, lurus, dan hitam? batinnya penuh pertanyaan. Dipandanginya wanita muda di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Mina yang agak jengah ditatap sedemikian rupa berusaha tersenyum ramah dan berkata sopan, “Oh, barangkali kamu nggak mengenaliku ya, There? Waktu itu rambutku pendek dan dicat warna pirang. Sekarang aku mengecatnya dengan warna hitam supaya sopan menghadiri acara perkawinan di gereja.”
“Tapi rambutmu kok cepat panjang?” tanya Theresia seraya menunjuk rambut Mina yang panjangnya hingga sepunggung.
“Hehehe..., iya. Biar lebih kelihatan anggun aku pakai hair extension. Kan lama kalau nunggu panjang sendiri.”
Tiba-tiba Theresia merasa dirinya bodoh sekali. Kenapa sampai tak terpikir olehnya Mina menyambung rambutnya secara instan begitu? Padahal dia sendiri dulu pernah melakukannya.
Karin yang sedang celingukan mencari-cari Mina tiba-tiba melihat make-up artist-nya itu. Ia lalu berjalan mendekatinya.
“Mbak Mina ternyata ada di sini, toh. Kucari-cari dari tadi. Oh, halo, Bu Theresia,” ujar gadis itu polos seraya tersenyum manis pada istri Jonathan yang perasaan hatinya sedang tidak enak. Ngapain gadis ini tiba-tiba muncul di depanku? ucapnya sebal dalam hati. Urusanku dengan Mimin masih belum selesai.
“Kamu Karin, kan?” tanya Theresia dengan wajah masam. Dia tidak suka melihat betapa muda dan cantik gadis yang berdiri di hadapannya ini. Gadis yang sepanjang hari menemani suamiku di kantor! batinnya dengan perasaan cemburu.
Karin yang tak dapat membaca perasaan istri bosnya itu mengangguk dan menjawab lugu, “Iya, Bu Theresia. Saya Karin, sekretaris Pak Jonathan.”
“Saya tahu kamu sekretaris suami saya, pengganti Tante Rosa. Cuma saya tidak tahu kamu berteman baik dengan perempuan ini,” kata Theresia sengit sembari menunjuk ke arah Mina. Jonathan yang mempunyai firasat tidak enak segera menggamit istrinya dan berkata setengah berbisik, “Ayo Sayang, kita makan desert. Lihat, sudah kuambilkan beberapa buatmu. Kita duduk kembali di tempat tadi, yuk.”
__ADS_1
Theresia menatap suaminya itu sewot, “Kenapa sih, ikut-ikutan segala! Aku kan belum selesai ngomong sama Karin dan Mimin. Takut ya, aku ngobrol sama mereka? Ada apa memangnya? Jangan-jangan ada yang kamu sembunyikan.”
Kalimat-kalimat yang diucapkan Theresia dengan keras itu langsung menarik perhatian orang-orang yang berada di dekat meja prasmanan tersebut. Jonathan yang merasa malu karena para tamu kebanyakan adalah pagawainya di kantor menatap istrinya dengan sorot mata memohon.