Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
I Love You, Karin


__ADS_3

Sekretarisnya itu menghela napas panjang. Pandangannya masih lurus ke depan. Lalu dia mulai membuka mulutnya, “Besok saya akan mengajukan surat pengunduran diri. Menurut Bapak, apakah kepala HRD bersedia menerima pengunduran diri saya bersamaan dengan Bapak minggu depan?”


Jonathan terhenyak. Dia tiba-tiba merasa tak sanggup lagi melanjutkan mengemudi. Pelan-pelan dia membelokkan mobilnya memasuki parkiran sebuah supermarket.


“Kita mau ke mana, Pak?” tanya Karin kaget.


“Aku butuh tempat parkir, Rin. Supaya bisa konsentrasi bicara denganmu,” jawab laki-laki itu lugas.


“Oh,” cetus gadis itu singkat.


Setelah mobil hitam itu diparkir di belakang sebuah mobil sedan di halaman supermarket, Jonathan segera membalikkan tubuh kekarnya menghadap sekretaris yang duduk di jok sebelahnya.


“Kenapa kamu bersikeras untuk mengundurkan diri bersamaku?” tanya laki-laki itu sambil menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Karin mencoba menengadahkan wajahnya untuk membalas tatapan bosnya, namun lehernya terasa kaku untuk digerakkan.


“Tataplah aku, Rin. Jangan menunduk begitu,” perintah Jonathan tegas.


Seketika gadis di hadapannya terisak. Laki-laki itu jadi merasa bersalah. “Ma…maafkan aku, Rin. Aku terlalu keras padamu, ya? Sori…sori….”


Spontan tangan sang direktur merangkul tubuh sekretarisnya itu dan membawanya mendekat pada tubuhnya. Dielus-elusnya rambut halus gadis itu. Entah kenapa hatinya merasa sakit sekali melihat Karin menangis. Seakan-akan dirinya turut merasakan kepedihan sekretarisnya itu.


“Saya…saya bingung sekali, Pak,” ucap Karin mengungkapkan kegelisahan hatinya. “Bapak ini atasan saya di kantor. Tante Rosa sudah wanti-wanti supaya saya bisa menjaga hubungan seprofesional mungkin dengan pimpinan sebagaimana sikap beliau dulu terhadap Pak Simon. Tapi ternyata hal itu sangat tidak mudah untuk saya terapkan….”


Perasaan pria yang memeluknya girang sekali. Hatinya seakan melambung tinggi ke angkasa. Sudah waktunya aku mengungkapkan perasaanku pada gadis ini. Jangan sampai dia yang menyatakannya duluan, tekadnya dalam hati.


“Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, Karin,” kata laki-laki itu sejujurnya. “Dan lambat-laun perasaan itu semakin dalam menjadi…cinta. Aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama. Bukankah begitu?”

__ADS_1


Dilepaskannya pelukannya. Disentuhnya dagu gadis itu. Ditengadahkannya wajah cantiknya yang bersimbah air mata. Entah mengapa di matanya Karin terlihat begitu cantik dalam keadaan demikian. Tanpa sadar didekatkannya bibirnya dan diciumnya bibir mungil gadis yang sudah mengisi tempat istimewa dalam relung-relung hatinya itu.


Karin tersentak. Otaknya memerintahkannya mengelak dari ciuman itu, namun hati kecilnya tak kuasa menolaknya. Dinikmatinya sentuhan bibir dan lidah pria dewasa yang telah berhasil membangkitkan getar-getar cinta kembali di hatinya setelah perpisahannya yang menyedihkan dengan Eric, mantan pacarnya.


Ketika ciuman penuh cinta itu berakhir, terdengar suara lembut Jonathan mengalun di sisi telinganya, “I love you, Karin. Will you be my girlfriend?”


Sang gadis terpaku tak percaya. Dia memintaku menjadi kekasihnya. Tiba-tiba bayangan wajah Rosa yang begitu kecewa melintas dalam benaknya. Sontak dia bergerak mundur menjauhi pria pujaan hatinya itu.


“Saya…saya takut sama Tante Rosa, Pak. Lagipula Bapak masih berstatus suami orang. Saya takut dianggap pelakor, perebut laki orang,” ucapnya jujur.


Jonathan tersenyum penuh pengertian. Dia menyadari kesalahannya sendiri. Statusnya sekarang memang masih suami sah Theresia. Tak adil rasanya meminta gadis ini menjadi kekasihnya sekarang. Bagaimanapun dirinya harus menjaga martabat Karin sebagai perempuan baik-baik yang tidak akan menjalin hubungan terlarang dengan pria beristri.


“Sekali lagi maafkan aku, Karin. Aku…aku tadi terbawa emosi sampai mencium dan memintamu menjadi kekasihku. Maaf, ya. Akan kutuntaskan dulu perceraianku dengan Theresia. Selama proses itu…ehm…, maukah kamu menungguku dan tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain?”


“Laki-laki siapa, Pak?” tanya gadis itu seraya menghapus bekas air mata di wajahnya dengan tisu.


“Mantan pacarmu itu,” jawab atasannya gemas.


“Oh, Eric? Hihihi….”


“Kok ketawa lagi?”


“Kalau saya masih mencintainya, kenapa saya tadi mau dicium oleh Bapak?”


Kini giliran Jonathan yang tertawa. Lalu dia berkilah, “Tapi aku sudah nggak bisa menciummu lagi sampai resmi bercerai dengan There.”

__ADS_1


Karin menatapnya dengan sorot mata nakal. “Itu konsekuensinya kalau mau menjadi kekasih saya, Pak.”


“Jadi kamu bersedia menungguku?”


Sang gadis hanya tertawa kecil. Dia lalu berkata riang, “Ayo antar saya pulang, Pak. Keburu sekuriti supermarket nanti datang karena curiga kenapa kita sejak tadi berada di dalam mobil terus.”


Keduanya lalu tertawa berbarengan. Selanjutnya Jonathan mengemudikan mobilnya keluar dari halaman supermarket untuk kembali menuju ke rumah Karin. Sepanjang perjalanan mereka sudah bercakap-cakap seperti biasa lagi. Ketika mobil sudah berhenti tepat di depan rumahnya, gadis itu tiba-tiba mengecup mesra pipi Jonathan seraya berkata lirih, “I love you, too. I’m waiting for you, Mas Jon….”


Hati laki-laki itu bagaikan terbang mendengar kalimat gadis pujaannya barusan. Mas Jon.... Dia memanggilku Mas Jon! pekiknya gembira dalam hati. Dilihatnya Karin keluar dari mobilnya dengan terburu-buru untuk menyembunyikan perasaan malunya. Gadis itu dengan tergesa-gesa membuka pintu pagar rumahnya dan segera menguncinya kembali.


Jonathan yang masih diam terpaku di belakang kemudi lamat-lamat mengulas senyum bahagia di bibirnya. Ia menunggu sekretarisnya benar-benar masuk ke dalam rumah. Kemudian pria yang tak lama lagi menjadi duda itu pelan-pelan memundurkan mobilnya dan berlalu meninggalkan tempat itu.


***


Sesampainya di hotel, Jonathan langsung mandi lalu bersantai di atas tempat tidur sambil menonton televisi. Tiba-tiba perutnya berbunyi tanda merasa lapar.


“O iya, aku kan belum makan malam tadi,” cetusnya pada dirinya sendiri. Gara-gara tadi merasa canggung sudah menciumi tangan Karin di bioskop, laki-laki itu sampai lupa mengajak gadis pujaannya itu makan malam. “Ah, malu-maluin aja kamu, Jon. Masa habis nonton film sama cewek lupa ngajak makan malam!” serunya membodohi dirinya sendiri.


Dipandanginya ponselnya dengan  perasaan galau. Ingin diteleponnya Karin untuk meminta maaf karena lupa mengajaknya makan tadi. Namun dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Nggak enak, ah, nelepon malam-malam, pikirnya sungkan. Nanti aja kalau kami sudah resmi pacaran.


Dia jadi tertawa geli sendiri memikirkan kemungkinan dirinya berpacaran dengan sekretarisnya sendiri. Karin sampai rela melepaskan pekerjaannya demi tetap bersama diriku, batinnya terharu. Wanita seperti itu jangan sampai kukecewakan.


Tiba-tiba perutnya berbunyi kembali seakan-akan protes tidak diperhatikan sejak tadi. Jonathan beranjak menuju bufet di depan tempat tidurnya. Dibukanya salah satu lacinya dan dikeluarkannya dua buah cup mie instan yang masih tersegel. Dibukanya tutup kedua cup tersebut dan dicampurkannya semua bumbu ke dalam cup masing-masing.


“Mie instan kuah rasa ayam bawang dan bakso sapi,” ucapnya keras-keras. “Yah, inilah menu makan malam favorit Jonathan Aditya kalau lagi malas pesan makanan di luar. Hahaha….”

__ADS_1


__ADS_2