Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Bertemu Eric Lagi


__ADS_3

“Tapi kalau misalnya ada orang yang memberitahunya tentang Mina gimana? Apa nggak tambah berabe?”


“Siapa yang akan bilang? Aku cuma kenal kamu sama Mimin di sini. Masa kalian  tega ngancurin rumah tanggaku?”


“Ya nggak-lah, Bro. Tapi kita kan rutin datang kemari. Takutnya ada teman istrimu yang melihat dan melaporkan padanya. Itu kemungkinan terburuk yang bisa kupikirkan, sih. Mudah-mudahan saja nggak terjadi.”


Jonathan mengangguk setuju. Jangan sampai hal itu terjadi, harapnya dalam hati. Bisa bubrah beneran rumah tanggaku nanti!


***


Suatu hari Jonathan pergi memantau perusahaan propertinya. Karin ikut serta bersamanya. Gadis itu kini sudah terbiasa menangani sebagian besar pekerjaan Rosa. Dia memang gadis yang cerdas, puji bosnya itu dalam hati. Kecekatan dan keterampilannya juga hampir setara dengan tantenya. Mudah-mudahan dia betah bekerja padaku dalam jangka panjang, batin Jonathan penuh harap.


Ketika ia dan Karin berjalan melewati lobi kantor pemasaran, didengarnya suara seorang laki-laki memanggil nama sekretarisnya itu. Oh, laki-laki yang tempo hari ketemu di pameran, gumamnya dalam hati. Mantan pacar Karin. Mau apa dia datang kemari?


“Eric,” sahut Karin terkejut.


Pemuda yang dimaksud berjalan mendekatinya dan tersenyum manis. “Ternyata kita berjodoh, Karin. Dua kali bertemu tanpa sengaja,”katanya riang.


“Kamu sedang apa di sini, Ric?” tanya gadis itu canggung.


“Aku bekerja sama dengan marketing inhouse, Rin. Aku tinggal membawa klien dan marketingnya yang akan menjelaskan produk apartemennya panjang lebar. Aku sendiri sebenarnya paham tapi tentu saja kurang mendetil. Kamu sendiri sedang apa di sini?”


“Aku bekerja sebagai sekretaris di sini. Sama di perusahaan cat. Ini bosku.”


“Oh, perkenalkan saya Eric, Pak. Agen dari kantor X-Property,” ucap pemuda berpenampilan necis itu sambil mengulurkan tangannya pada Jonathan.


“Jonathan, atasannya Karin,” jawab Jonathan seraya menjabat tangan yang terulur di depannya. “Terima kasih sudah membantu memasarkan produk apartemen kami. Sudah pernah closing?”


“Baru satu unit, Pak. Tiga bedroom.”


“Wah, itu bagus sekali.”

__ADS_1


“Terima kasih. Semoga klien saya yang ini juga jadi ambil satu unit. Kelihatannya sih, tertarik sama yang tipe dua bedroom.”


“Semoga berjalan lancar ya, Pak Eric.”


“Panggil Eric saja, Pak. Saya seumuran kok sama Karin.”


“Ok, kalau begitu. Apakah kalian berdua butuh waktu untuk bicara sebentar? It’s ok, Karin. Meeting kita masih setengah jam lagi, kan?”


Eric tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini. Sebelum Karin sempat menjawab, pemuda itu langsung menyela, “Terima kasih banyak, Pak. Memang ada hal penting yang perlu saya bicarakan sama Karin.”


“Oh, silakan. Temani Eric ngobrol-ngobrol dulu, Karin. Saya tunggu kamu di ruangan saya,” ujar Jonathan lugas. Dia sempat menangkap tatapan sekretarisnya yang melotot jengkel pada pemuda di hadapannya. Ah, seperti kekasih yang sedang ngambek aja, pikirnya geli. Biarlah mereka menyelesaikan persoalannya sendiri. Aku tak perlu turut campur.


Lalu orang nomor satu di kantor itu pun berlalu meninggalkan Karin dan Eric. Sang sekretaris lalu mengajak mantan pacarnya itu duduk di salah satu sofa di lobi. Dia bertanya dengan nada dingin, “Nggak apa-apa klienmu ditinggal lama dengan marketing inhouse? Ntar kamu dicariin, lho.”


“Hehehe…, orangnya sudah pulang, kok. Tepat sebelum kamu datang. Aku tadi ke toilet dulu terus mau balik ke kantor. Eh, malah ketemu kamu. Udah lama kerja di sini?”


“Hampir sebulan.”


“Memangnya kamu sering datang kemari?”


“Nggak juga. Tapi dalam sebulan bisa tiga-empat kali kemari. Ikut training product knowledge, antar klien, minta brosur, macam-macamlah.”


“Rajin juga.”


“Aku kan kerja tanpa digaji, Rin. Murni dari komisi transaksi jual-beli atau sewa-menyewa properti. Kalau nggak rajin, mana bisa dapat uang.”


“Kan papanya Emma kaya, punya showroom mobil mewah. Kamu bisa bekerja di sana.”


Eric terdiam sejenak. Ditatapnya Karin lekat-lekat sampai gadis itu merasa risih. “Aku  sudah putus sama Emma….”


Lawan bicaranya terbelalak tak percaya. “Ta…tapi…Emma kan sedang hamil, Ric,” tanya Karin terbata-bata. Pikiran gadis itu menjadi galau seketika.

__ADS_1


“Janin yang dikandungnya ternyata bukan anakku.”


“Ya, Tuhan!”


“Emma rupanya menjalin hubungan gelap dengan kakak iparnya sendiri. Dia sengaja menjebakku dan berpura-pura bahwa janin yang dikandungnya itu anakku supaya hubungan terlarangnya itu tidak ketahuan. Tapi akhirnya kakaknya mengetahuinya dan terjadi pertengkaran hebat. Emma jatuh dari tangga rumahnya dan terguling-guling sampai ke lantai. Akibatnya ia mengalami keguguran….”


Karin begitu terkesima mendengar cerita pemuda itu. Teringat olehnya Emma, rekan kerja Eric di kantornya yang lama, memohon-mohon kepadanya agar memutuskan hubungan dengan pemuda itu. Gadis itu bercerita sambil menangis bahwa ia telah berhubungan intim dengan Eric hingga mengandung. Karin frustasi berat waktu itu. Ia susah makan, tidur, dan beraktivitas. Tantenya-lah yang berjasa besar membangkitkan semangatnya kembali untuk membuka lembaran baru tanpa Eric.


“Kamu tahu dari mana Emma berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri?” tanya Karin menyelidik.


“Aku berada di rumah Emma waktu itu. Kami berdua sedang berunding dengan orang tuanya mengenai rencana pernikahan. Tiba-tiba kakak perempuannya datang dalam keadaan marah besar. Suaminya ikut serta dan cuma diam saja dimaki-maki di depan orang tua Emma.”


Karin mengernyitkan dahinya dan bertanya, “Emma kok tega berselingkuh dengan kakak iparnya sendiri?”


“Menurut pengakuannya sebenarnya mereka sudah saling jatuh hati ketika kakak iparnya itu masih lajang. Namun orang tua kedua belah pihak sepakat untuk menjodohkan laki-laki itu dengan kakak Emma karena anak sulung. Jadi dinikahkan sesuai urutan kelahiran.”


“Oh, pernikahan hasil dari perjodohan antar orang tua?”


“Yes.”


“Lalu sekarang bagaimana nasib Emma?”


“Dia berencana menikah dengan kakak iparnya. Mumpung perkawinan laki-laki itu dengan kakaknya belum membuahkan anak. Kakak Emma sendiri sudah menggugat cerai. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Emma semenjak dia keluar dari rumah sakit. Dia meminta maaf kepadaku dan sekaligus….”


Tiba-tiba ucapan Eric terputus. Ditatapnya kembali Karin lekat-lekat. Lalu dia meneruskan kalimatnya, “Emma menitipkan permintaan maafnya untukmu. Dia merasa malu sekali untuk mengatakannya langsung padamu. Dia bilang akan merasa lega kalau kita kembali bersama….”


Sang gadis tercenung untuk beberapa saat lamanya. Hatinya sakit sekali. Perempuan bernama Emma itu benar-benar tidak tahu diri, umpatnya dalam hati. Seenaknya saja memintaku melakukan kehendaknya! Dulu memohon-mohon supaya aku merelakan Eric menjadi miliknya. Sekarang laki-laki ini dicampakkannya kembali padaku setelah tidak dibutuhkan lagi. Sungguh luar biasa!


“Rin…,” ucap Eric lembut seraya meraih tangan gadis yang masih dicintainya itu. Karin terkesiap. Bagaikan tersengat arus listrik ia menyentakkan tangan mantan kekasihnya tersebut. Pemuda itu lalu mundur dan mengangkat kedua tangannya.


“Ok, aku mengerti, Rin. Kamu masih belum bisa memaafkanku,” katanya memaklumi. “Aku tahu tak mudah bagimu untuk menerimaku kembali. Karena itulah aku belum mencarimu begitu putus dengan Emma. Biar kuberi waktu  dirimu untuk menyembuhkan luka hati. Tapi kemudian aku melihatmu di pameran properti. Kukira itu waktu yang diberikan Tuhan supaya aku menceritakan semuanya kepadamu….”

__ADS_1


__ADS_2