
Simon melotot marah. Dibentaknya menantunya dengan kasar, “Apakah kau tidak mendengar ucapan sekretarismu itu barusan? Dia sudah menyebutkan nama orang yang tepat untuk menggantikannya. Sudahlah, aku tak mau mempertahankan orang yang hatinya sudah tidak berada di perusahaan ini. Pergilah kau dengan sekretaris tercintamu itu, Jon. Enyahlah kalian berdua dari kantor ini!”
Karin segera pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari calon pengganti yang disebutnya tadi di departemen akunting. Sementara Jonathan masih bersitegang dengan ayah mertuanya.
“Maafkan Jonathan, Pa. Tapi terus terang Jon tidak mengerti maksud ucapan Papa barusan.”
Mata Simon berkilat-kilat marah. Ia berkata garang, “Aku ini sudah banyak makan asam garam kehidupan, Jon. Kau pikir aku tidak bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi antara dirimu dengan keponakan Rosa itu? Kalian berdua sama-sama saling menyukai! Barangkali itu sebabnya kau sudah menutup pintu hatimu untuk istrimu, Jon. Ya sudahlah. Lebih baik begini daripada nanti anakku lebih kecewa lagi mengetahui sudah ada perempuan lain dalam hati suaminya.”
Jonathan berkelit, “Papa, saya sama sekali tidak berselingkuh dengan Karin. Saya berani bersumpah bahwa selama sepuluh tahun perkawinan dengan There, tak pernah sekalipun saya bersetubuh dengan perempuan lain!”
“Tidak bersetubuh bukan berarti tidak berpaling hati kan, Jon?” sindir Simon sinis. Sang menantu tertegun mendengar ucapan ayah mertuanya yang bagaikan peluru menembus ulu hatinya. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Sikapnya berubah menjadi canggung. Diambilnya napas dalam-dalam lalu dihembuskannya pelan-pelan untuk menenangkan hatinya yang gundah.
Lalu laki-laki itu menundukkan wajahnya untuk memberi hormat pada pria tua yang duduk dengan tegak di hadapannya. “Jonathan tak akan membela diri, Pa. Yang pasti selama sepuluh tahun menjadi menantu Papa, saya tak pernah sekalipun melakukan perbuatan yang mempermalukan nama baik keluarga. Tapi karena saya sudah memutuskan untuk mengakhiri perkawinan dengan There, maka segala perbuatan saya selanjutnya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga Hidayat. Terima kasih atas bimbingan Papa selama ini. Mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan, baik yang disengaja maupun tidak.”
Kemudian mantan orang nomor satu di pabrik cat tersebut mengangkat wajahnya kembali. Dilihatnya ekspresi wajah Simon mulai melunak. Jonathan memberanikan diri untuk berjalan mendekati pria yang sangat dihormatinya itu. Ketika sudah berada di samping Simon yang masih duduk di atas kursi kerjanya, sang menantu mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman.
Entah kenapa hati kecil pria tua itu menyuruhnya untuk menerima uluran tangan pria muda yang berdiri di sampingnya itu. Dan ketika ia memajukan tangannya, tiba-tiba Jonathan meraihnya dan mencium punggung tangan yang sudah keriput itu. Simon terperangah. Seketika rasa haru membuncah dalam dadanya.
__ADS_1
Sontak dipeluknya menantu yang sangat disayanginya itu erat-erat. Kedua matanya berkaca-kaca. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya merasa sangat kehilangan laki-laki ini. Di mana lagi anakku bisa memperoleh pendamping hidup sebaik Jonathan? pikirnya sedih.
Jonathan yang tak menyangka akan diperlakukan sedemikian rupa oleh pria yang tadinya marah-marah itu merasa terharu. Air matanya berlinang membasahi wajahnya yang tampan.
“Jonathan Anakku,” ujar Simon seraya menepuk-nepuk punggung laki-laki itu penuh kasih sayang. “Sesungguhnya aku merasa sangat kehilangan dirimu. Kau seorang menantu dan suami yang baik. Maafkan kesalahan-kesalahan Papa dan Theresia ya, Nak.”
Setelah mengutarakan isi hatinya, ayah kandung Theresia itu melepaskan pelukannya. Kemudian ditatapnya Jonathan lekat-lekat. Rupanya dia juga merasa sedih dengan perpisahan ini, batinnya tersentuh menyaksikan wajah sang menantu yang juga basah oleh air mata.
“Mulai sekarang,” lanjut Simon sedih, “Berbuatlah sesuai kata hati nuranimu, Nak. Tak usah pedulikan pendapat orang lain. Aku juga mau meminta maaf atas semua kesalahan yang Theresia lakukan. Terima kasih banyak atas kesabaranmu selama ini menghadapi anakku.”
“Tolong sampaikan permintaan maaf saya juga pada There ya, Pa,” pinta sang menantu sendu. Dihapusnya air mata dengan punggung tangannya.
“Mengenai itu, Jonathan benar-benar….”
“Sudahlah, Nak,” sela Simon memotong ucapan menantunya. “Aku ini juga seorang laki-laki. Bisa kulihat ada sesuatu di antara dirimu dengan keponakan Rosa itu. Barangkali tanpa sadar, kau jatuh hati pada gadis itu karena ketidakharmonisan rumah tanggamu. Aku tak dapat menyalahkan dirimu sepenuhnya. Anakku juga turut bertanggung jawab terhadap kegagalan perkawinan kalian,” pungkas pria tua itu bijaksana.
Jonathan tak bisa berkata apa-apa lagi. Namun hatinya merasa lega ayah mertuanya sudah mampu berbesar hati menerima keputusannya untuk bercerai.
__ADS_1
“Jon…,” ucap Simon lirih. Ditatapnya menantunya itu sungguh-sungguh.
“Iya, Pa.”
“Untuk selanjutnya panggil saja aku dengan sebutan Om. Kuharap dirimu tidak berburuk sangka. Aku hanya tak ingin membebanimu dengan urusan keluarga Hidayat lagi. Cukup sudah baktimu kepadaku selama ini. Terima kasih sudah mengurus perusahaan-perusahaanku dengan baik. Terus terang aku sangsi bisa memperoleh pengganti yang memiliki kredibilitas dan dedikasi setara denganmu.”
Terdengar ******* panjang Simon. Semuanya sudah berakhir, gumamnya pedih dalam hati. Theresia kehilangan suami yang sabar, perusahaan kehilangan pimpinan yang kredibel, dan aku kehilangan…seorang anak laki-laki yang baik.
“Sekarang pergilah…,” pinta Simon sedih. “Raihlah impianmu di luar sana. Kalau butuh apa-apa, silakan menghubungiku. Akan kubantu sebisanya. Selamat tinggal, Anakku. Doaku selalu besertamu….”
Jonathan mengangguk. Ia lalu menundukkan kepala lagi mengambil sikap hormat kepada pria tua itu lalu melangkah melangkah pergi. Kedua kakinya terasa berat berjalan meninggalkan ruangan yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempat kerjanya itu.
Begitu pintu ruangan ditutupnya, hatinya terasa hilang separuh. Baru kusadari ternyata aku begitu mencintai kantor ini, cetusnya dalam hati. Mudah-mudahan There kelak bisa mengembangkan perusahaan ini dengan baik. Kasihan ayahnya yang sudah merintisnya dengan susah payah. Kini aku sudah tidak ada sangkut-pautnya dengan bisnis keluarga Hidayat lagi. Aku hanya bisa mendoakan dari jauh, batinnya sendu.
Dilihatnya Karin tengah menjelaskan pekerjaannya pada seorang karyawati yang dikenalnya sebagai salah seorang staf departemen akunting. Kedua gadis itu mengangguk dan menyapa dirinya dengan sopan. Jonathan tersenyum ramah pada mereka berdua. Ia lalu mengucapkan salam perpisahan.
Kemudian mantan orang nomor satu di pabrik cat terbesar di pulau Jawa itu menguatkan hatinya melangkah meninggalkan perusahaan yang telah dikembangkannya dengan susah payah itu. Ia sendiri masih belum tahu selanjutnya akan mencari nafkah dengan cara bagaimana. Yang penting kewajibannya menjalankan perusahaan keluarga Hidayat sekarang sudah tuntas….
__ADS_1
***
Sepulang dari pabrik cat, Simon mengajukan pertanyaan yang sangat serius kepada istrinya, “Menurutmu bagaimana kalau perusahaan-perusahaanku kujual saja, Mila?”