
Dengan sorot mata penuh penyesalan, wanita itu berkata, "Aku mau minta maaf atas perangaiku yang tidak menyenangkan selama kita tinggal satu atap, Mas. Hal itu seringkali terjadi di luar kemauanku. Depresi yang kualami akibat tak mampu memberimu keturunan benar-benar membuatku terpuruk."
Selanjutnya wanita itu menghela napas panjang. Ditatapnya sang suami dengan sorot mata bersahabat. Lalu ia melanjutkan ucapannya, "Aku senang kau akhirnya menemukan wanita yang mampu memberimu apa yang tak sanggup kuberikan. Tuhan tidak tidur. Ia memberikan apa yang patut diperoleh umatNya yang baik hati. Aku sudah menghubungi pengacaraku agar mempercepat proses perceraian kita."
"Terima kasih banyak, Theresia," sahut Jonathan bahagia. Digenggamnya tangan istrinya. Jantung wanita itu deg-degan. Perasaan hangat menyelimuti hatinya. Terima kasih, Tuhan. Akhirnya aku berhasil menyentuh hati suamiku, ucapnya penuh syukur dalam hati. Tak lama lagi kami akan bersama lagi dan hidup bahagia seperti dulu.
***
Sepanjang sore hingga malam hari pameran properti Jonathan dipenuhi pengunjung. Beberapa transaksi properti dilakukan saat itu juga. Dia dan segenap anggota tim merasa puas sekali dengan hasil pameran yang dilaksanakan selama dua hari tersebut.
"Lain kali kita mesti mengadakan pameran lagi seperti ini, Pak," usul salah seorang anggota marketingnya ceria. Dia senang sekali berhasil menutup tiga buah transaksi selama pameran. Jonathan mengangguk sambil tersenyum lebar. Anak-anak buahnya sudah semakin ahli dalam memprospek klien sekarang. Dia sudah tak perlu terlalu campur tangan lagi.
Dilihatnya jam tangannya. Pukul setengah sembilan malam. Kalau dia keluar mal sekarang, maka akan sampai di rumah Karin sekitar jam sembilan.
"Mohon maaf semuanya," katanya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. "Saya harus pulang sekarang. Ada hal penting yang harus segera saya urus. Kalian semua sudah bekerja keras selama dua hari ini. Terima kasih banyak."
Anak-anak buahnya menanggapi kalimat-kalimat bos mereka dengan ucapan-ucapan terima kasih, hati-hati di jalan, dan sebagainya. Jonathan tersenyum lebar kemudian berlalu meninggalkan arena pameran. Dia melangkah cepat menuju ke lift yang akan membawanya ke tempat parkir mobil. Hatinya benar-benar tak sabar ingin bertemu dengan Karin, gadis yang tengah mengandung darah dagingnya.
***
Jonathan terheran-heran melihat sebuah mobil yang tak dikenalnya diparkir di depan rumah Karin. Siapa itu malam-malam begini bertamu di rumah Karin? Apakah itu mobil Pak Bernard, suami Bu Rosa? pikirnya penuh tanda tanya.
__ADS_1
Laki-laki itu turun dari mobil lalu melangkah ke arah pagar. "Tumben tidak dikunci," komentarnya melihat pintu pagar yang sama sekali tidak digembok dan terbuka sedikit. Mobil yang biasa dikendarai Karin seperti biasa berada di carport. Dilewatinya mobil itu dan melangkah mantap menuju teras rumah.
Diketuknya pintu masuk rumah Karin. Beberapa saat kemudian benda itu dibuka seseorang dari dalam. Alangkah terkejutnya Jonathan melihat orang tersebut.
.
"Eric!" serunya sambil terbelalak tak percaya. Ngapain orang ini bertamu kemari malam-malam? Dan kenapa Karin menerimanya? Bukankah dia tidak suka menjalin hubungan dengan mantan? pikir Jonathan tak mengerti.
Kemudian dilihatnya pemuda itu mengenakan kaos oblong dan celana pendek seperti sedang bersantai di rumah sendiri. Apa-apaan ini?!
"Oh, Pak Jonathan. Mari masuk," sapa pemuda tampan itu sambil tersenyum lebar. Dia mundur beberapa langkah supaya pria yang lebih senior darinya itu bisa lewat. "Silakan duduk, Pak. Saya panggilkan Karin dulu," lanjutnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Jonathan melongo mendengar ucapan pemuda itu barusan. Apa nggak keliru? batinnya jengkel. Seharusnya kamu yang duduk menunggu di sini dan aku yang masuk ke dalam mencari kekasihku!
Apa yang sedang dilakukan mantan pacar Karin itu di sini? batinnya geram. Waktu terakhir kali bertemu dengannya di rumah sakit, Karin bahkan sampai melarikan diri ke toilet karena tidak mau berlama-lama bicara dengannya. Lha, ini kok malah bertamu malam-malam. Pakai baju santai seperti di rumah sendiri lagi!
Tak lama kemudian muncul Karin yang memakai kaos oblong dan celana pendek. Yang membuat hati Jonathan runtuh, gadis itu berjalan ke arahnya sambil dirangkul oleh Eric!
Oh, My God! Apa aku nggak salah lihat?! seru Jonathan dalam hati. Api amarah mulai berkobar dalam hatinya.
"Mas Jon," sapa Karin canggung. "Kenapa datang kemari malam-malam? Apa nggak kecapekan habis menjaga pameran seharian di mal?"
__ADS_1
Sang kekasih melotot mendengar pertanyaan yang tak diduganya akan keluar dari mulut gadis itu. Kenapa datang kemari malam-malam? Lalu apa yang dilakukan Eric berada di sini malam-malam juga?! batinnya tak terima.
Terdengar suara pemuda itu berdeham pelan. "Sayang," ucapnya mesra pada Karin. "Kurasa sebaiknya kamu ngobrol berdua saja dengan Pak Jon di sini. Aku menunggu di dalam saja, ya."
Sayang? pekik Jonathan dalam hati. Memangnya kamu siapa berani memanggil pacarku semesra itu? Juga berani-beraninya tanganmu menyentuh bahu Karin!
Si gadis mengangguk pelan. Disentuhnya tangan pemuda itu sejenak sebelum berlalu meninggalkannya. Bara api dalam hati Jonathan semakin berapi-api menyaksikan adegan itu.
Begitu sosok Eric tak tampak lagi, Jonathan langsung meluapkan amarahnya. "Ada apa ini, Karin? Kenapa Eric bisa ada di sini dan kau biarkan dia menyentuhmu?!" pintanya menuntut jawaban.
Karin menghela napas panjang. Tak dijawabnya pertanyaan sang kekasih. Justru dia menyodorkan sebuah amplop kecil tertutup berwarna coklat.
"Ini surat pengunduran diriku, Mas Jon. Tugas-tugasku sudah kulimpahkan semuanya pada Maya. Dia sudah menguasainya sekarang. Seandainya ada yang terlupa, dia bisa menghubungiku lewat telepon. Dan ini...," katanya sambil menyerahkan kunci dan kartu tanda masuk apartemen pria itu. "Kukembalikan semuanya padamu. Barang-barang pribadiku di apartemenmu sudah kuambil kembali semuanya tadi siang. Terima kasih atas semua kenangan indah di antara kita. Aku minta maaf terpaksa menyakitimu dengan cara seperti ini...."
Kali ini Jonathan tak tahan lagi. "Menyakitiku? Apa maksudmu melakukan semua ini? Kau bukan sekadar menyakitiku, Karin! Tapi menghancurkanku!" teriaknya histeris.
Ia sudah tak peduli lagi suaranya akan terdengar sampai ke luar rumah. Hatinya sungguh hancur berkeping-keping. Tak pernah disangkanya gadis yang pembawaannya lembah lembut ini akan tega sekali mengkhianati cintanya.
Karin menelan ludah. Hatinya terasa luar biasa perih. Ingin sekali dia membenamkan dirinya ke pangkuan Jonathan seperti biasanya kalau sedang membutuhkan penghiburan. Ingin sekali dia berteriak mengungkapkan ancaman Theresia terhadap orang-orang yang dicintainya apabila dirinya menolak untuk menyetujui tawaran perempuan itu. Ingin sekali dia....
Yah, keinginannya begitu banyak. Tapi tak satupun yang mampu diutarakannya pada pria yang teramat dikasihinya ini. Maafkan aku, Mas Jon, batinnya pilu. Aku benar-benar terpaksa melakukan ini semua. Demi kebaikan semua pihak. Barangkali jika Tuhan menghendaki, tabir ini akan dibukakanNya padamu....
__ADS_1
"Kenapa kau mau berhubungan lagi dengan Eric? Bukankah waktu kita bertemu dia rumah sakit tempo hari, kau bahkan melarikan diri ke toilet karena tak tahan berlama-lama dengannya?" sergah Jonathan menuntut penjelasan.