
"Eh, halo, There," sahut Jonathan ramah. "Sama siapa?"
"Sendirian aja, Mas. Lagi pengen jalan-jalan. Suntuk terus-terusan di rumah. Kamu kelihatan capek banget. Sibuk terus dari tadi, ya?" tanya Theresia sembari mengulas senyuman manis.
Penampilannya sangat eyecatching. Wajahnya dipoles make-up natural sehingga tampak segar. Ia mengenakan gaun hijau muda terusan lengan pendek yang panjangnya selutut. Gaun itu tidak ketat, namun pas menempel di badannya yang ramping. Sekilas dia tidak kelihatan seperti wanita berumur tiga puluh empat tahun, namun seorang gadis yang mencapai puncak kecantikannya di akhir usia dua puluhan.
"Kamu kelihatan segar sekali, There. Aku senang melihatmu sudah bangkit kembali," puji Jonathan tulus.
Istrinya terkekeh. "Ya cukuplah berduka buat Papa dan Tante Mila. Mereka sekarang sudah berkumpul di surga. Sudah damai sejahtera. Kalau aku bersedih terus-terusan, mereka pasti nggak suka. Iya, kan?" sahutnya bijaksana.
Sang suami manggut-manggut setuju. Tiba-tiba salah seorang anak buahnya berkata, "Pak Jonathan, tamu mulai berkurang. Mungkin mereka sedang makan siang bersama keluarga. Bapak silakan makan dulu, biar kami yang berjaga di sini."
"Oh, baiklah kalau begitu. Kalian mau kupesankan apa? Biar sekalian."
"Hehehe..., nggak usah, Pak. Biar kami nanti makan sendiri aja," jawab anak muda itu sungkan.
"Kubelikan cemilan aja kalau gitu. Biar tambah semangat. Hehehe...."
"Terima kasih, Pak."
Sang bos mengangguk. Lalu dia berpaling pada Theresia. "Kamu sudah makan siang, There? Kalau belum, makan sama-sama, yuk," ajaknya berbasa-basi. Dia tidak berpikir apa-apa saat mengajak istrinya itu. Hanya sekadar menawari demi norma-norma kesopanan saja.
Tak disangkanya perempuan itu mengangguk. Ya sudahlah, pikir Jonathan. Tak apalah makan berdua dengan There. Toh, kami hanya kebetulan saja ketemu di mal. Bukan sengaja janjian. Kurasa Karin takkan merasa keberatan.
Akhirnya mereka berdua makan siang bersama. Jonathan merasa heran sekali istrinya itu menyerahkan sepenuhnya pemilihan tempat makan maupun menu kepadanya. "Lho, kamu sendiri mau makan apa, There?" tanya laki-laki itu sungkan. "Mau makan burung dara kayak biasanya?"
__ADS_1
Wanita itu menggeleng. "Aku ingin mencoba menu lain, Mas. Ikut saja sama pilihanmu. Kamu mau makan apa?" tanyanya manis.
Sang suami mengernyitkan dahi. "Yah, kamu kan tahu sendiri aku bisa makan apa aja. Fleksibel," jawabnya lugas.
Theresia tercenung. Sepertinya kali ini aku yang harus bersikap fleksibel, putusnya dalam hati. "Ya udah, Mas. Kali ini giliran aku yang fleksibel. Hehehe.... Ayo cepat putusin mau makan apa. Kamu kan juga masih mau belikan cemilan buat anak-anak buahmu. Keburu mereka kelaparan ntar," katanya mengingatkan.
"Oh, iya. Benar juga. Kalau gitu, makan ramen aja, yuk. Cepat penyajiannya," ajak pria itu.
"Ok," jawab istrinya penuh semangat. Dia sebenarnya tidak terlalu suka mie kuah ala Jepang itu. Namun demi bisa bersantap bersama sang suami, makanan model apapun rela dilahapnya.
Sesampainya di restoran yang dimaksud, pasangan suami-istri yang sudah berbulan-bulan tidak makan berdua itu langsung memilih menu dan memesannya pada pelayan. Tiba-tiba saja Jonathan teringat pada Karin. Dia meminta izin Theresia untuk keluar sebentar menelepon seseorang.
"Telepon di sini aja nggak apa-apa, Mas," kata wanita itu menyarankan. "Nggak terlalu ramai kan restonya. Kamu masih bisa bicara dengan tenang di telepon."
Jonathan berpikir sebentar. Hmm...nggak apa-apa ya, aku nelepon Karin di depan There? pikirnya ragu-ragu. Ya sudahlah, kan aku nggak ngomong yang aneh-aneh. There juga sudah merestui hubungan kami.
Dia tak menyadari sang istri diam-diam memperhatikannya. Siapakah yang ditelepon Mas Jon? batin wanita itu penuh tanda tanya. Jangan-jangan perempuan itu....
Tiba-tiba nada sambung berhenti. Terdengar Karin menyahut dengan suara parau, "Halo, Mas."
"Kamu baik-baik saja? Kok dari tadi nggak angkat telepon?" tanya Jonathan cemas.
"Aku tadi di dalam kamar mandi," jawab Karin singkat.
"Oh, muntah-muntah lagi?" tebak kekasihnya pelan. Dia merasa tak enak kalau ucapannya terdengar jelas oleh Theresia. Dulu istrinya itu selalu merasa rendah diri terhadap perempuan hamil.
__ADS_1
Sementara itu Theresia justru menundukkan wajahnya. Ia pura-pura berkonsentrasi penuh menyantap mie kuahnya. Padahal perempuan itu tengah memasang telinga, berusaha mendengarkan percakapan sang suami dengan kekasihnya. Dan hatinya merasa cemburu merasakan perhatian Jonathan yang begitu besar pada Karin.
Tenang, There. Tenang, batinnya menguatkan hatinya yang gundah. Tak lama lagi gadis itu akan pergi dan Jonathan menjadi milikmu seorang. Bersabarlah. Tinggal sedikit lagi....
Beberapa saat kemudian Jonathan mengakhiri pembicaraan di telepon. Ia mulai menyantap ramen pedasnya kembali. Sang istri tadi mendengarnya berkata pada Karin akan mampir ke rumahnya sebentar sepulang dari pameran malam ini.
Hati Theresia melonjak gembira. Malam ini akan ada tontonan yang sangat menarik di rumah perempuan itu, pikirnya penuh sukacita. Sayang sekali aku tak dapat menyaksikannya langsung. Tapi bisa kuawasi dari luar rumah. Semoga semuanya berjalan lancar sesuai rencana, batinnya harap-harap cemas.
"Oya, There. Sudah ada penawaran buat rumah mendiang Papa. Calon pembelinya seorang ekspatriat yang menikah dengan WNI dan mereka mempunyai banyak anak. Ada enam anak totalnya," ujar Jonathan memberikan laporan kepada istrinya.
"Wow, banyak sekali anak mereka!" seru Theresia terkejut.
"Hehehe..., sebenarnya ekspatriat itu seorang duda dan istrinya seorang janda. Masing-masing membawa dua orang anak dari pernikahan sebelumnya. Perkawinan mereka sendiri membuahkan seorang anak. Jadi kalau dijumlahkan total anak mereka enam orang, kan?"
"Anak...," gumam wanita itu pelan. "Anak memang merupakan harta yang paling berharga dalam perkawinan. Bukankah begitu, Mas?"
Kerongkongan Jonathan tercekat. Ditatapnya Theresia dengan perasaan bersalah. Ia sungguh tak bermaksud menyinggung hati wanita yang masih berstatus sah istrinya itu. Theresia yang melihat kecanggungan dari sikap suaminya tersenyum kecil. Dia lalu berkata menenangkan, "It's ok, Mas. Jangan merasa nggak enak begitu. Aku tadi cuma nyeletuk aja, kok."
Sang suami semakin terpana. "Kamu...kamu benar-benar sudah berubah, There. Semakin dewasa dan memahami orang lain," pujinya jujur.
Istrinya merasa tersanjung. "Terima kasih, Mas. Berarti aku sudah berhasil menunaikan amanah Papa sebelum menutup mata," ujarnya senang. Senyuman lebar mengembang dari wajahnya yang segar. Sekilas Jonathan seperti melihat kembali sosok Theresia muda yang dikenalnya hampir dua belas tahun yang lalu. Begitu cantik, ceria, ramah, dan menyenangkan.
"Aku lega kondisimu telah membaik, There. Semoga semakin lama keadaannya semakin menggembirakan."
"Terima kasih, Mas."
__ADS_1
Setelah mengucapkan kalimat itu, Theresia menyentuh tangan suaminya yang tergeletak di meja. Jonathan seperti tersengat arus listrik. Sontak berusaha dilepaskannya tangan istrinya itu, tapi Theresia menahannya.