Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Mama Karin


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar dibuka. Karin terperanjat. Di depan pintu muncullah seorang gadis kecil yang... ya, Tuhan. Mirip sekali dengan dirinya semasa kecil! Bedanya anak perempuan itu duduk di atas kursi roda yang didorong ayahnya. Sedangkan si Karin kecil dulu bebas berjalan dan berlarian kemana pun dia suka.


"Mama, kenapa menangis? Tante ini juga. Apa yang membuat kalian sedih?" tanya anak itu polos. Dia memandang kedua wanita itu bergantian. Tatapan matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.


Anak ini kritis sekali, puji Karin dalam hati. Dia juga mempunyai empati yang tinggi terhadap orang lain. Dia adalah...anak kandungku!


Theresia langsung meminta Jonathan agar menaruh anak mereka di atas ranjang, supaya dekat dengan dirinya dan Karin. Suaminya menyanggupi. Diangkatnya sang putri dari atas kursi roda dan didudukkannya di depan dua wanita tersebut.


"Valen, kenalkan ini...Mama Karin," kata Theresia bersemangat.


Anaknya berpaling padanya. "Kenapa harus manggil Mama? Bukan Tante Karin?" tanyanya tak mengerti.


Hati Karin bagaikan disayat-sayat sembilu mendengarnya. Perih sekali. Sementara itu Theresia menggelengkan kepalanya dan berkata lirih pada sang putri, "Dia ini mamanya Valen juga. Jadi harus dipanggil Mama Karin, ok?"


"Kenapa tiba-tiba Valen punya dua mama? Aneh," cecar Valentina penasaran. Diperhatikannya Karin dengan tatapan penuh tanda tanya. Ibu kandungnya itu diam saja tak menanggapi komentar anak yang masih polos itu.


Theresia menyentuh punggung tangan Karin. Ditepuk-tepuknya lembut tanda memintanya bersabar. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum getir. Dia memaklumi Valentina masih  merasa asing dengan keberadaan dirinya.


"Valen tahu, kenapa Mama There dan Mama Karin menangis? Karena ini adalah pertemuan kami yang pertama kali setelah lama sekali berpisah. Kami berdua merasa terharu. Tahu tidak, Mama Karin ini siapa?" balas Theresia balik bertanya.


Valentina menggeleng pelan.


Theresia lalu menjawab bijak, "Mama Karin ini adiknya Mama Theresia, Sayang. Semua yang Mama There punya adalah kepunyaan Mama Karin juga. Termasuk Valentina, Papa, dan rumah ini. Karena itulah mulai sekarang Valen harus memanggilnya Mama juga. Mengerti, Nak?"


Senyuman sukacita mulai tersungging di bibir Valentina. "Sepertinya enak ya, punya dua mama. Hehehe.... Jadi bisa dipeluk begini."

__ADS_1


Anak berusia hampir enam tahun itu lalu memeluk Theresia penuh kasih sayang. Ibunya itu tertawa keras. Ia lalu memeluk Karin dan anaknya bersama-sama. Gadis itu bahagia sekali berada begitu dekat dengan putri kandungnya.


Sementara itu Jonathan yang sejak tadi diam saja memperhatikan mereka tersenyum bahagia. Matanya berkaca-kaca. Dia lega sekali menyaksikan pemandangan di depannya. Tiga perempuan yang dicintainya saling berpelukan dengan penuh kehangatan. Theresia, Karin, dan Valentina.


***


Karin menghabiskan sore dan malam itu dengan bercengkerama bersama Valentina dan Theresia. Anak kandungnya sudah mulai biasa memanggilnya dengan sebutan Mama Karin. Bahkan sewaktu makan malam, Valentina dengan manja minta disuapi gadis itu. Katanya dia ingin tahu bagaimana rasanya disuapi mama baru. Karin tentu saja mengabulkan permintaan putrinya tersebut.


Theresia yang sudah merasa lelah berbincang-bincang sejak tadi tidak ikut makan di ruang makan. Dia makan sendiri di dalam kamar tidurnya. Jonathan bermaksud menemaninya, tapi dicegahnya.


"Temanilah Karin makan malam bersama Valentina," pintanya dengan sorot mata memohon. "Mereka masih dalam masa pengenalan."


Jonathan mengangguk. Dikecupnya kening sang istri, lalu dia memanggil perawat pribadi Theresia yang sejak tadi menunggu di luar.


Setelah makan bersama Karin dan putrinya, laki-laki itu menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang.


"Baiklah," jawab Karin mengalah. "Terima kasih, Mas."


Demikianlah akhirnya mantan pasangan kekasih itu kini duduk berdua di dalam mobil yang dikemudikan dengan kecepatan standar oleh Jonathan dalam keremangan malam. Mereka berbicara tentang banyak hal, terutama tentang pengalaman Karin selama tinggal di Tiongkok. Ternyata gadis itu menyempatkan diri untuk bertamasya ke beberapa kota terkenal di negeri Tirai Bambu tersebut. Seperti Shanghai, Guangzhou, dan beberapa tempat lainnya.


"Mas Jon," katanya kemudian. "Mbak Theresia tadi menunjukkan folder berisi data klinik-klinik pengobatan medis dan alternatif di Tiongkok yang berpengalaman menangani masalah gangguan saraf tulang belakang seperti Valentina...."


Atas permintaan yang bersangkutan, dia kini memanggil istri Jonathan dengan sebutan Mbak Theresia, bukan Bu Theresia lagi seperti sebelumnya.


Jonathan mendesah. "Kuakui, There ulet sekali mencari-cari informasi di internet dan mengumpulkan data-data itu, Rin. Dia mulai melakukannya sejak satu tahun yang lalu. Semenjak dia mulai jenuh dengan berbagai rutinitas perawatan untuk penyakitnya. Aku sebenarnya bermaksud membantunya, tapi dia bersikeras melakukannya sendiri," urai pria itu panjang lebar.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas," ucap Karin lirih.


"Untuk apa?" tanya Jonathan sambil mengerutkan dahi. "Apa yang telah kulakukan sampai patut mendapatkan terima kasih darimu?"


"Terima kasih telah memberanikan diri menemuiku di tempat kerja. Aku jadi tak berdaya mengusirmu karena malu. Coba kalau kamu datang ke rumah, pasti tidak kuterima."


"Oh, begitu," komentar pria itu sambil terkekeh geli. "Jadi aku benar-benar akan kau usir kalau mencarimu di rumah?"


Gadis itu mengangguk tegas. "Bagiku hal yang sudah berlalu biarlah berlalu. Sudah ditutup rapat-rapat dan sebaiknya tidak dibuka-buka lagi."


"Aku tahu betul pendirianmu itu, Rin," sahut Jonathan sambil meringis. "Oleh karena itulah aku tak mencarimu di rumah."


"Oya?" tanya gadis itu keheranan. "Bagaimana kau bisa tahu, Mas Jon?"


"Aku mengenalmu lebih daripada yang kau duga, Karin."


Laki-laki itu lalu memperlambat laju mobilnya dan masuk ke dalam parkiran sebuah supermarket. "Lho, kok berhenti di sini, Mas? Kamu mau beli sesuatu di supermarket?" tanyanya penasaran.


Sang pria menggeleng. Setelah memarkir mobilnya, dia tetap menyalakan mesin. Lalu ditatapnya gadis yang duduk di sebelahnya. Hati Karin jadi dag dig dug tak karuan. Jonathan tersenyum.


"Kamu lupa dulu kita pernah bicara di dalam mobil, di parkiran supermarket ini?"


Ingatan Karin melayang-layang pada peristiwa tujuh tahun yang lalu. Ketika dia pertama kali diajak menonton bioskop oleh Jonathan yang masih menjadi pimpinannya. Setelah itu dia diantar pulang ke rumah tapi di tengah jalan tiba-tiba bosnya memarkir mobilnya di halaman parkir sebuah supermarket....


"Ya, Tuhan!" pekik gadis itu seraya menutup mulutnya dengan tangan. "Di sini kan, kita pertama kali...."

__ADS_1


"Berciuman!" tandas laki-laki itu. Ditatapnya Karin penuh kerinduan. "Tapi aku takkan melakukan itu kali ini. Aku hanya ingin memastikan kamu masih mengingat kenangan-kenangan indah di antara kita."


Karin tersenyum getir. Bagaimana dirinya bisa lupa? Pada laki-laki inilah diserahkannya mahkota kesuciannya sebagai seorang wanita. Pada laki-laki inilah diberikannya hatinya seutuhnya hingga tak ada ruang bagi pria lain semenjak mereka berpisah. Pada laki-laki inilah dia....


__ADS_2