
“Oh, ok. Maafkan aku sudah mengganggu.”
Karin mengangguk dan kemudian berpaling pada Jonathan. “Mari kita keluar, Pak.”
Jonathan mengangguk dan tersenyum untuk berpamitan kepada pemuda yang menyapa Karin tadi. Teman Karin yang bernama Eric itu balas mengangguk dan melihat kedua orang tersebut berjalan menghilang dari kerumunan pengunjung pameran. Kemudian dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perasaan gundah. Dikepalkannya kedua tangannya kuat-kuat. Kapan kamu akan memaafkanku, Karin? batinnya merana. Aku sudah menuai benih buruk yang kutabur. Apakah tak ada kesempatan lagi bagiku untuk bersatu kembali denganmu?
***
“Siapa itu, Karin? Temanmu?” tanya Jonathan begitu mereka sudah berada di luar aula pameran. Sekretarisnya termenung sejenak lalu menjawab pelan, “Mantan pacar saya, Pak.”
“Oh, I see,” sahut atasannya mengerti. Pantas saja sikap Karin acuh tak acuh menanggapi pertanyaan pemuda itu. Sepertinya hubungan mereka putus tidak dengan baik-baik, komentar laki-laki itu dalam hati.
“Kita mau pergi ke mana lagi, Pak?” tanya Karin sambil menatap pimpinannya dengan sorot mata penuh tanda tanya. Bening sekali bola matanya, puji Jonathan dalam hati. Sinar matanya memancarkan kesejukkan bagi siapapun yang memandangnya.
“Sudah pukul setengah tujuh malam. Kamu lapar, nggak? Makan, yuk.”
“Baik, Pak.”
“Eit, tapi ini weekend, apa kamu nggak ada janjian ketemu sama…ehm…teman spesial?”
“Maksud Bapak pacar?”
“Ya, begitulah.”
“Saya belum punya pacar baru, Pak. Yang tadi itu sudah putus enam bulan yang lalu.”
“Oh, kenapa?”
Karin terdiam mendengar pertanyaan bosnya. Apa harus kujawab, ya? Ini kan urusan pribadi, pikirnya gelisah. Jonathan sepertinya dapat menerka pikiran bawahannya itu. Dengan segera ia mengalihkan pembicaraan.
“Kamu suka makan apa, Karin?”
“Apa aja, Pak. Saya fleksibel kok orangnya.”
“Mau Western food, Chinese food, atau Indonesian food?”
“Saya terserah Bapak saja.”
“Kamu sungkan sama saya atau memang sikapmu selalu mengalah begini kalau soal makanan?”
Karin tertawa geli mendengar ucapan menohok atasannya. “Saya terbiasa menyesuaikan diri dengan orang yang sedang bersama saya, Pak.”
“Berarti kamu nggak punya pendirian, dong?”
__ADS_1
“Bukan begitu. Ada beberapa hal yang menurut saya tidak perlu dipermasalahkan, seperti mau makan apa misalnya. Selain itu ada juga hal yang tidak bisa ditolerir kalau sudah bertentangan dengan prinsip saya.”
Gadis yang cerdas, puji Jonathan dalam hati. Dan berpegang teguh pada prinsipnya. Akhirnya laki-laki itu mengalah.
“Ok deh, kalau begitu. Aku yang tentukan kita makan apa, ya. Suka ramen, nggak?”
“Suka, Pak.”
“Ayo kita makan itu. Ada resto ramen di sini yang belum pernah kucoba. Tepat di bawah lantai ini. Kita turun lewat eskalator saja.”
“Baik, Pak.”
Lalu kedua anak manusia yang berbeda jabatan itu melangkah menuju ke eskalator yang letaknya hanya beberapa meter dari situ.
***
“Hmm…sedap sekali!”
“Hehehe…, Bapak suka sekali makan ramen, ya?”
“Suka banget. Apalagi kalau pedas begini. Kuahnya juga pas sekali rasanya.”
“Nambah lagi, Pak.”
“Wah, latihanku gagal nanti kalau aku kebanyakan makan mie.”
Jonathan mau menjawab iya ketika tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan menyapanya centil. “Hai! Nggak datang nge-gym ternyata lagi asyik nge-date, nih.”
Laki-laki itu tersedak mendengar suara cempreng khas Mina. Ia langsung terbatuk-batuk. Karin yang duduk di depannya segera menyodorkan ocha hangat di atas meja.
“Minum dulu, Pak,” saran gadis itu cemas.
Bosnya segera meraih gelas berisi teh hijau ala Jepang itu dan meneguknya pelan-pelan. Mina tersenyum geli melihatnya. “Makanya kalau mau makan enak, ajak-ajak dong,” ujarnya bercanda.
Jonathan yang sudah tenang kembali menatapnya heran, “Kamu baru selesai nge-gym?”
Mina menganggukkan kepalanya dan tersenyum lucu sampai Karin tertawa melihatnya. “Kamu nggak ngenalin aku sama cewekmu, Jon?” sindir perempuan nyentrik berambut merah menyala itu.
“Halo, Mbak. Nama saya Karin, sekretaris baru Pak Jonathan,” ucap Karin berinisiatif memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya mengajak teman baik bosnya itu bersalaman.
“Aku Mina, teman SMA Jonathan. Tapi dia suka memanggilku Mimin. Terserah kamu mau manggil aku apa. Eh, aku kok rasanya nggak asing sama wajahmu, ya? Pernah lihat dimana gitu,” cerocos perempuan bawel itu sambil mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat.
Jonathan langsung menimpali, “Karin kan kemarin sempat nge-gym sama temannya. Aku menyapanya dan kamu sempat melihatnya.”
__ADS_1
Mina langsung teringat kembali dan berkomentar, “Oh, iya. Aku ingat. Wah, penampilanmu beda sekali kalo begini. Aku sampai hampir nggak mengenali. Habis pulang kerja?”
Sang sekretris mengangguk membenarkan. “Benar, Mbak. Tadi sehabis dari kantor langsung diajak Bapak meninjau lokasi pameran properti di aula lantai tujuh.”
“Oh, jadi kalian cuma berdua saja ini?” tanya Mina menyelidik.
“Udah bertiga sekarang. Ayo duduk sini. Kamu mau makan apa? Kutraktir sekalian. Bastian mana?” ucap Jonathan bertubi-tubi sebelum kawannya itu bertanya macam-macam lagi.
“Bastian nggak datang hari ini. Jadi aku tadi nge-gym sama ibu-ibu muda para sosialita itu.”
“Asyik, dong.”
“Lama-lama bosan juga, Jon. Obrolannya reseh, pamer melulu.”
“Yaaa…, karena mereka kan nggak kerja. Cuma terima duit bejibun dari suami masing-masing. Jadi aktivitasnya apalagi kalau bukan shopping, treatment, dan macam-macam yang intinya untuk menghabiskan uang.”
“Betul juga.”
“Ayo buruan order sana. Ntar kemaleman, lho. Nanti bingung lagi kok perut melembung.”
Mina terkekeh mendengar gurauan kawannya. Dilihat-lihatnya buku menu dan kemudian dipanggilnya pelayan untuk memesan hidangan pilihannya. Selanjutnya ketiga orang itu tenggelam dalam percakapan yang santai dan akrab. Tak lama kemudian makanan dan minuman pesanan Mina datang dan dia langsung menyantapnya dengan penuh semangat. Mereka masih terus berbincang-bincang hingga akhirnya Jonathan melirik jam tangannya. Ia kaget sekali melihat sudah hampir pukul sembilan malam.
“Pulang, yuk. Hampir jam sembilan. Udah selesai semua, kan?” ucapnya sambil menatap kedua perempuan yang makan bersamanya bergantian.
Karin dan Mina sama-sama mengangguk. Jonathan memanggil pelayan dan menyodorkan kartu kreditnya untuk membayar tagihan. Beberapa saat kemudian kartunya itu dikembalikan beserta struk bukti pembayaran yang harus ditandatanganinya. Diperiksanya sebentar tagihan tersebut lalu dia membubuhkan tanda tangannya.
“Thanks a lot, Jon. Lain kali lagi, ya,” goda Mina sambil tertawa manja.
“Your welcome.”
“Terima kasih, Pak,” kata perempuan satunya sambil tersenyum.
“Sama-sama, Karin. Ayo kita pulang sekarang. Mobilmu diparkir di lantai berapa, Min?” tanya Jonathan seraya berpaling pada Mina.
“Lantai ini. Kamu?”
“Aku di lantai dua. Kalau begitu, aku sama Karin turun dulu, ya. Bye.”
“Bye, Jon, Karin.”
“Karin pulang dulu ya, Mbak Mina.”
“Hati-hati Rin, sama bosmu itu. Ganas lho, dia. Hahaha….”
__ADS_1
Jonathan menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi lelucon sahabatnya. Karin sendiri cuma tersenyum saja. Akhirnya mereka berdua berpisah dengan Mina di depan restoran ramen yang mulai lengang tersebut.
***