
“Kalau begitu istirahat saja di rumah, Rin,” saran Rosa penuh perhatian. “Atau kamu mau Tante temani pergi ke dokter?”
“Nggak usah, Tante. Sakit ringan kok ini. Karin olesi seluruh badan dengan minyak kayu putih aja biar kepanasan supaya cepat keringatan. Hehehe…, biar lekas sembuh.”
Rosa tergelak. Karin meniru metodenya kalau sedang tidak enak badan. Setelah berkeringat, tubuh memang terasa jauh lebih segar dan siap beraktivitas kembali.
“Baiklah. Kalau begitu, Tante akan segera berangkat dengan Om Bernard. Jaga dirimu baik-baik, ya Karin.”
“Terima kasih, Tante.”
Gadis itu lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menghela napas panjang. Mungkin kondisi kesehatanku menurun akibat terlalu banyak pikiran, duganya dalam hati. Jonathan kembali bertemu Theresia setiap hari dan agak melalaikan dirinya. Sebenarnya gadis itu bukan merasa cemburu. Hanya sebuah kekuatiran menyeruak dalam sanubarinya. Bagaimana jika seandainya bersemi kembali benih-benih cinta dalam hati sang kekasih terhadap istrinya? Apakah Jonathan akan memilih dirinya atau rujuk kembali dengan Theresia?
Walaupun hubungannya dengan laki-laki itu sudah sangat dekat layaknya suami-istri, namun hati kecil Karin menyadari bahwa di mata hukum maupun tatanan sosial, dirinya berada pada posisi yang paling lemah. Jonathan dapat dengan mudah sewaktu-waktu meninggalkannya untuk bersama kembali dengan istrinya. Tak ada seorang pun yang akan menyalahkannya. Bahkan mungkin memujinya karena akhirnya bertobat dan kembali pada ikatan perkawinan yang sah.
“Dan aku…,” ujar gadis itu pedih. “Hanya akan memperoleh caci-maki karena telah menjalin cinta dengan pria yang masih sah berstatus suami orang.”
Kepalanya tiba-tiba terasa berat. Perutnya mual kembali. Kali ini seperti ada sesuatu yang akan tumpah. Karin bergegas menuju ke kamar mandi. Ia muntah-muntah di kloset. Wajahnya pucat pasi seketika. Matanya melotot. Ya Tuhan! serunya dalam hati. Jangan-jangan aku….
***
“Apa?!” seru Mina di telepon setelah Karin menceritakan kondisinya. Gadis itu mengatakan badannya meriang, perutnya mual, dan barusan muntah-muntah. Selain itu sudah dua bulan ini dia tidak haid. “Kamu sudah check pakai test pack?” tanya wanita itu lebih lanjut.
“Belum, Mbak. Aku nggak kuat pergi-pergi. Mas Jon juga sedang sibuk di tempat persemayaman Tante Mila. Aku nggak mau mengganggunya,” jawab Karin lemah. Perasaannya benar-benar tak karuan sekarang.
Mina yang memang cukup dekat dengannya langsung berpikir cepat. “Nanti sepulang dari kantor aku mampir ke rumahmu, ya. Kubawain dua macam test pack.”
__ADS_1
“Buat apa dua, Mbak?” tanya gadis itu lugu. “Satu aja kan sudah cukup.”
Lawan bicaranya menjawab tak sabar, “Adik Manis, test pack itu tingkat keakuratannya tidak seratus persen. Jadi sebaiknya kamu mengecek dengan dua merek yang berbeda. Biar lebih yakin. Kalau dua-duanya positif, barulah kamu pergi ke dokter.”
“Oh gitu, Mbak. Ok. Terima kasih, ya.”
Dasar bocah lugu, cetus Mina dalam hati. Si Jon juga tega-teganya nidurin gadis bau kencur kayak gini! Gemas aku jadinya.
“Tolong jangan bilang ke Mas Jon dulu ya, Mbak. Biar saya aja yang ngasih tahu dia kalau ternyata hasilnya positif,” pinta Karin memohon.
“Beres.”
Lalu Mina mengakhiri pembicaran dan meletakkan ponselnya kembali. Mudah-mudahan hasilnya negatif, doanya dalam hati. Bisa runyam nanti kalau Karin hamil sebelum Jon resmi menceraikan istrinya!
***
Dirangkulnya gadis yang belasan tahun lebih muda darinya itu. Perasaan iba tiba-tiba timbul dalam hatinya. Sebagai sesama kaum hawa, dia dapat memahami apa yang dirasakan Karin sekarang. Bingung, sedih, senang, semua bercampur jadi satu.
“Mbak Mina,” kata gadis itu setelah tenang. “Sebenarnya beberapa hari yang lalu Mas Jon pernah menyatakan keinginannya untuk mempunyai anak. Eh, kok sekarang beneran jadi kenyataan.”
“Ya berarti kamu nggak usah sedih dong, Rin. Jon pasti akan bertanggung jawab,” hibur Mina.
“Tapi dia kan belum resmi bercerai….”
“Udah tau gitu kenapa kamu masih mau berhubungan begitu jauh dengannya?”
__ADS_1
Karin tertunduk malu. Sikapnya itu membuat Mina curiga. “Rin, jangan-jangan kamu masih perawan ya waktu pertama kali disentuh Jonathan?” cecar wanita itu. “Padahal sebelumnya kamu udah pernah pacaran, kan? Sama siapa itu yang dulu kamu pernah cerita?”
“Eric….”
“Yes! Eric,” sahut Mina lugas. “Selama pacaran dulu, kalian nggak ngapa-ngapain?”
Karin tersenyum getir. “Yah mesra-mesraan biasa, Mbak. Gandengan tangan, pelukan, ciuman. Itu doang. Eric pernah minta lebih, tapi aku nggak mau.”
“Kenapa?” tanya Mina keheranan. Sama pemuda yang sebaya dengannya Karin menolak. Lha, sama Jonathan yang pantas menjadi om-nya kok dia mau, pikir wanita itu tak mengerti. Jangan-jangan si Jon ini yang pintar merayu sampai gadis lugu ini tak kuasa menolak.
“Nggak tahu, Mbak. Belum siap aja mungkin waktu itu.”
“Lha, memang sama Jon kamu udah siap? Wong sekarang kamu kebingungan sampai nangis, kok.”
Karin tercenung mendengar komentar perempuan yang telah dianggapnya sebagai kakak perempuannya sendiri itu. Lalu diutarakannya isi hatinya, “Mas Jon orangnya beda, Mbak. Entah kenapa saya ikhlas menyerahkan diri saya sepenuhnya. Bahkan sebenarnya waktu itu kami belum pacaran. Setelah melakukannya di apartemen, barulah kami resmi menjalin hubungan.”
Glodak! Kepala Mina bagaikan kejatuhan benda berat. Dia tak sanggup berkata-kata. Direbahkannya tubuhnya di atas sofa. Karin menyerahkan dirinya sebelum resmi berpacaran dengan Jon, sesalnya dalam hati. Bercinta di apartemen laki-laki itu pula! Benar-benar kalah telak kamu, Rin. Sayang sekali gadis sebaik dirimu melakukan kesalahan fatal seperti itu….
Jonathan pasti akan bersedia bertanggung jawab, batinnya penuh keyakinan. Tapi aku kuatir kehamilan Karin akan menjadi bumerang bagi hubungan mereka jika Theresia sampai tahu. Wanita itu takkan semudah itu melepaskan suaminya walaupun telah menghamili perempuan lain.
“Saya juga kuatir kalau Tante Rosa sampai tahu, Mbak…,” aku Karin lirih. Wajahnya tampak semakin cemas. Kini lidah Mina terasa kelu. Badannya menjadi lemas. Jon, Jon, batinnya kasihan. Kau akan menghadapi masalah besar akibat kecerobohanmu sendiri. Semoga Tuhan memberkatimu, Bro.
***
Sore harinya Jonathan datang ke rumah Karin. Ia tadi bertemu Rosa sewaktu datang melayat. Wanita itu berkata pada dirinya dan Theresia bahwa Karin tidak bisa ikut karena sedang tidak enak badan. Theresia menyampaikan salam buat gadis itu dan mengucapkan semoga lekas sembuh. Bahkan dia mengusulkan agar suaminya segera pergi menjenguk Karin.
__ADS_1
Rosa, Bernard, dan Jonathan terperangah mendengar ucapannya. “Iya Mas, kamu nanti pulang sore aja. Nggak usah sampai malam di sini. Keadaan bisa kutangani dengan baik, kok. Kamu jenguk aja Karin. Kasihan dia sakit dan nggak ada yang menemani,” ucap Theresia bersimpati. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman yang begitu manis.