
Sang suami mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia senang wanita yang tak lama lagi akan menjadi mantan istrinya itu menunjukkan perhatiannya pada Karin. Berarti There memang sudah sepenuhnya merestui hubungan kami, batin laki-laki itu lega. Mudah-mudahan setelah urusan pemakaman Tante Mila selesai, aku dan There bisa segera melanjutkan sidang perceraian.
Ketika Jonathan bercerita tentang besarnya perhatian istrinya pada Karin, gadis itu menatapnya dengan perasaan ragu. Benarkah apa yang diutarakan Bu Theresia sesuai dengan isi hatinya? Masa ada seorang istri yang begitu saja merelakan suaminya berhubungan dengan perempuan lain setelah menjalani biduk rumah tangga selama sepuluh tahun! Apalagi sewaktu di pernikahan Tante Rosa dia begitu tampak cemburu pada Mbak Mina yang disangkanya menaruh perasaan pada Mas Jon. Tak dinyana justru akulah yang merebut hati suaminya. Bukan wanita yang selama ini dicemburuinya.
“Gimana keadaanmu sekarang, Sayang?” tanya Jonathan penuh perhatian. Disentuhnya dahi sang kekasih. Terasa hangat. Paling suhunya sekitar 37 derajat celcius. Tercium aroma minyak kayu putih di sekujur tubuh gadis itu. Berarti dia benar-benar merasa tidak badan kalau sudah begini, cetus laki-laki itu dalam hati. Pria itu tahu persis kebiasaan kekasihnya yang suka mengoleskan minyak herbal tersebut ke tubuhnya supaya berkeringat dan merasa segar kembali.
“Masih pusing? Tenggorokan rasanya gimana? Kering, nggak? Takutnya kamu kena radang,” cecar pria itu bawel. Karin tersenyum. Dia senang diperhatikan seperti itu. Gadis itu menggeleng pelan.
“Tenggorokanku baik-baik saja, Mas. Pusingnya masih ada sedikit,” jawabnya singkat.
“Kuantar ke dokter aja, yuk. Biar ketahuan kamu sakit apa. Aku nggak tega melihatmu lemas terus-terusan kayak gini, Rin.”
Karin menatap kekasihnya sambil tersenyum penuh teka-teki. Lalu gadis itu berkata lirih, “Sepertinya kamu harus membiasakan diri melihatku lemas begini dalam beberapa waktu ke depan, Mas. Yaaa…harapanku sih, nggak sampai lama. Mudah-mudahan satu-dua bulan lagi sudah normal kembali.”
“Hah? Satu-dua bulan? Lama sekali!” protes Jonathan dengan mata terbelalak lebar.
Gadis di depannya tergelak. Sang kekasih memandanginya keheranan. Sikap Karin aneh sekali, cetusnya dalam hati. Seakan-akan ada yang dirahasiakannya.
“Mas,” ujar Karin kemudian. “Mau ngajak aku periksa ke dokter mana?”
“Ya dokter umum-lah. Di rumah sakit dekat sini aja. Supaya pulangnya nggak malam-malam. Jadi kamu bisa beristirahat kembali.”
__ADS_1
Gadis itu terkekeh geli. Dibaringkannya kepalanya di pangkuan Jonathan. Ini adalah posisi favoritnya kalau sedang ingin dimanja. Sang kekasih yang memahami kebiasaan Karin langsung mengelus-elus rambutnya dengan lembut. Diciuminya ubun-ubun gadis itu penuh kasih sayang.
“Aku mau ditemani pergi ke dokter, Mas,” jawab Karin pada akhirnya. “Tapi bukan dokter umum. Nggak pas.”
“Lho,” komentar kekasihnya heran. “Terus dokter apa yang pas?”
“Dokter...,” jawab Karin sambil menatap dalam-dalam mata sang kekasih. “Spesialis kandungan.”
Jonathan terbelalak. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dokter spesialis kandungan? Ya Tuhan! batinnya berteriak kegirangan. Apakah Karin…?
“Sayang,” ucapnya tak sabar. “Kamu bilang apa tadi? Coba katakan sekali lagi.”
“Berita nggak bisa diulang!” tolak Karin berpura-pura merajuk. Jonathan jadi gemas melihatnya. Digelitikinya pinggang ramping itu sampai si gadis berteriak-teriak kegelian.
“Hahaha…, sudah. Sudah, Mas. Nggak tahan aku. Iya, iya. Ayo buruan antar aku ke dokter spesialis kandungan. Aku mengandung anakmu!”
Selanjutnya Karin merasakan sebuah pelukan hangat yang penuh perasaan. Jonathan merasa sangat terharu mendengar kabar baik itu. Baru beberapa hari yang lalu dia mengatakan ingin mempunyai anak dari Karin. Kini impiannya itu menjadi kenyataan. Pria yang akan segera menjadi duda itu sangat bersyukur atas anugerah Tuhan kepadaNya.
“Sayang, thank you, ya,” ucapnya lirih di sisi telinga sang kekasih. “Kamu sudah memberikan hadiah yang paling indah dalam hidupku. Sepuluh tahun aku membina rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak. Sebenarnya aku tak mempermasalahkannya asalkan perkawinanku bahagia. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Rumah tanggaku hancur dan aku menemukanmu sebagai pemberian Tuhan yang sangat indah. Sekarang kamu mengandung darah dagingku. Berkat apalagi yang dapat kuminta pada Yang Maha Kuasa?”
Kalimat-kalimat penuh rasa syukur yang diucapkan Jonathan itu membuat hati Karin tersentuh. Kedua matanya berkaca-kaca. Akan kulahirkan anak ini untukmu, Mas Jon, putusnya dalam hati. Aku janji.
__ADS_1
***
“Selamat ya, atas kehamilan pertamanya, Ibu Karin. Janinnya baik-baik saja. Usianya saya perkirakan sekitar dua bulan. Nanti saya beri beberapa vitamin untuk kesehatan si jabang bayi. Mohon dikonsumsi secaera teratur. Lalu minggu depan Ibu datang kontrol lagi kemari,” jelas pria setengah baya yang merupakan dokter senior di rumah sakit tersebut.
Karin mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Sang dokter kemudian berpaling pada Jonathan yang duduk di samping sang kekasih. “Mulai sekarang Bapak tolong lebih perhatian lagi pada Ibu Karin. Kehamilan di tiga bulan pertama merupakan masa-masa paling rawan. Jangan sampai Ibu terlalu lelah akibat bekerja terlalu keras. Selain itu juga jaga kondisi hati agar tidak emosional. Karena apa yang dirasakan ibu hamil sangat berpengaruh terhadap tumbuh-kembang janin yang dikandungnya,” jelasnya mendetil.
Jonathan manggut-manggut mengiyakan nasihat dokter tersebut. Dalam hati dia berjanji akan melakukan apa saja yang diperlukan agar Karin menjalani masa-masa kehamilannya dengan bahagia sehingga anak mereka lahir dengan sehat dan tak kurang suatu apa.
Tak lama kemudian kedua insan yang saling mencintai itu keluar meninggalkan ruang praktek dokter kandungan. Perawat meminta mereka untuk menebus sejumlah vitamin yang harus dikonsumsi Karin. Jonathan mengangguk. Digandengnya Karin dan mereka berjalan pelan-pelan menuju ke bagian farmasi.
“Kamu duduk sini dulu aja ya, Rin,” kata Jonathan begitu sampai di deretan bangku tempat para pengunjung bagian farmasi duduk menunggu. “Biar aku yang mengurus pembelian vitamin-vitaminmu.”
Karin mengangguk. Dia duduk di salah satu bangku di belakang. Sementara itu Jonathan berdiri mengantri di depan kasir. Gadis itu sedang asyik bermain game pada ponselnya ketika sebuah suara laki-laki muda mengejutkannya, “Karin? Apa kabar?”
Ditengadahkannya wajahnya. Kini terlihat seorang pemuda yang dulu pernah mengisi hatinya tengah berdiri menatapnya dengan sorot mata berbinar-binar.
“Eric,” sahut gadis itu sambil berdiri. Sang pemuda langsung mencegahnya, “Nggak usah berdiri, Rin. Biar aku yang duduk aja. Aku sebentar lagi mau pulang, kok. Ini obatku sudah kuambil. Kamu sama siapa kemari, Rin?”
“Oh, sama….”
Kata-kata Karin terputus. Dia hampir saja menyebut Mas Jonathan. Untung gadis itu segera sadar. Dia lalu melanjutkan ucapannya, “Aku bersama Pak Jonathan. Itu beliau sedang mengantri di kasir.”
__ADS_1
Eric duduk di sebelahnya. Gadis itu merasa risih. Dia takut Jonathan akan melihat mereka duduk berdampingan dan merasa cemburu.