Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Meminta Restu Rosa


__ADS_3

Demikianlah, hubungan Jonathan dan Karin semakin dekat dari hari ke hari. Sang wanita sudah tak segan-segan memanggil kekasihnya dengan sebutan Mas Jon, sedangkan sang pria selalu berada di sisi gadis pujaannya ke mana pun dia pergi. Di luar kantor mereka sudah biasa bergandengan tangan ataupun saling merangkul. Ekspresi keduanya tampak begitu bahagia.


Pada suatu hari Jonathan menemui Rosa di tempatnya bekerja sekarang, yaitu perusahaan garmen milik suaminya. Mantan sekretarisnya itu terkejut sekali dengan kedatangan pria yang diketahuinya sudah keluar dari perusahaan milik mertua dan membangun bisnis bersama sahabat-sahabatnya.


“Waduh, saya merasa tersanjung dengan kedatangan seorang tamu terhormat di kantor yang sederhana ini,” selorohnya sambil menjabat tangan Jonathan. Senyum ramah tersungging di wajahnya. “Apa kabar, Pak Jon? Kata Karin bisnis baru Bapak berjalan dengan baik,” ujarnya bersemangat.


“Syukurlah selalu ada saja rejeki, Bu Rosa. Silakan mampir kapan-kapan. Atau jika Bu Rosa dan Pak Bernard tertarik untuk berinvestasi properti, kami siap membantu,” sahut sang tamu diplomatis.


“Hahaha…, tentu saja saya dan suami akan segera mencari Pak Jon kalau hendak berkonsultasi mengenai properti. Tinggal tunggu waktu saja, Pak,” jawab perempuan itu ceria. Dia lalu berkata bahwa kebetulan hari itu suaminya tak masuk kerja karena kurang enak badan. Jadi Bu Rosa memintanya untuk beristirahat di rumah saja sampai kondisi kesehatannya benar-benar  pulih.


“Cuaca akhir-akhir ini memang kurang bersahabat,” komentar tamunya agak mengeluh. “Pagi hujan deras, siang panas sekali, sore hujan gerimis. Beberapa marketing saya sempat tidak masuk kerja akibat terserang flu.”


Begitulah kedua orang yang sudah berbulan-bulan tak bertemu itu berbasa-basi sejenak di ruang kerja Rosa yang cukup luas. Hingga akhirnya Jonathan mulai menyinggung tentang hubungan spesialnya dengan keponakan mantan sekretarisnya itu. Rosa tertegun mendengar pengakuan terus terang mantan bosnya tersebut.


Hah?! Pak Jon berpacaran dengan Karin? batinnya tak percaya. Rasa cemas mulai mengusik hati wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu.

__ADS_1


“Saya tahu,” kata pria itu menerangkan. “Bu Rosa pasti tak menyangka hal ini dapat terjadi. Saya dan Karin pun sama-sama tak merencanakannya. Hubungan kami terjalin begitu saja secara natural. Perlu saya tekankan juga bahwa Karin bukanlah orang ketiga dalam keretakkan rumah tangga saya dan Theresia. Perkawina kami berdua sudah lama bermasalah. Bu Rosa masih ingat kan, kejadian memalukan di acara pernikahan Ibu? Saya terus terang merasa sangat menyesal telah mengusik hari paling membahagiakan dalam kehidupan Ibu. Saya minta maaf….”


Rosa masih terpaku bagaikan patung. Kejadian yang menghebohkan itu tak mungkin dilupakannya. Siapapun yang melihat kejadian memalukan itu dapat mengambil kesimpulan bahwa perkawinan Jonathan dan istrinya sudah berakhir. Tapi tak pernah diduganya pria yang sangat dihormatinya ini akan melabuhkan hati pada keponakan perempuannya! Apa kata orang-orang di luar sana kalau mengetahuinya? Mereka akan mengira Karin adalah wanita idaman lain yang merusak rumah tangga bosnya!


“Ma…maafkan pertanyaan saya ini, Pak Jon,” ucapnya agak terbata-bata. “Kalau boleh saya tahu, bagaimanakah status Bapak saat ini? Apakah sudah resmi berpisah dengan Theresia?”


Tamunya menjawab dengan jujur, “Gugatan cerai sudah saya ajukan sejak berbulan-bulan yang lalu melalui pengacara, Bu Rosa. Bahkan sejak peristiwa memalukan di pernikahan Ibu, saya sudah meninggalkan rumah dan tinggal di hotel. Lalu saya menyewa sebuah apartemen yang saya tempati sendirian. Menurut pengacara saya, Theresia tidak bersedia bercerai sehingga meminta kuasa hukumnya untuk mengulur-ulur jadwal persidangan. Bu Rosa tentunya tahu, di negeri ini banyak hal mustahil yang ternyata bisa dilakukan asalkan ada pelicin….”


Perempuan setengah baya yang kini sudah menjadi wirausaha itu mengangguk tanda mengerti. “Jadi, sampai saat ini Bapak masih berstatus sebagai suami sah Theresia?” tanyanya tajam bagaikan pisau yang menghujam dada tamu kehormatannya.


Rosa termenung kembali. Pantas Karin sepertinya agak canggung kalau kutanya lebih jauh tentang proses perceraian Pak Jon. Dia selalu menjawab tidak tahu. Ternyata keponakanku itu telah menjalin hubungan istimewa dengan bosnya sendiri. Karin, Karin. Kenapa kau tak mengindahkan nasihatku untuk bersikap profesional dengan pimpinan, Nak? keluhnya dalam hati.


“Bu Rosa jangan kuatir. Hubungan saya dengan keponakan Ibu bukanlah cinta semusim,” jelas Jonathan dengan sepenuh hati. “Setelah saya dan Theresia resmi bercerai, Karin akan segera saya persunting untuk menjadi pendamping hidup saya.”


“Secepat itukah, Pak Jon?” tanya Rosa lagi-lagi tak percaya. Mimpi apa aku kemarin malam tiba-tiba mendapatkan kabar tak terduga secara beruntun? Karin dan Pak Jon belum lama menjalin hubungan, kenapa mesti secepat itu menikah? Apakah…apakah keponakanku telah…?

__ADS_1


Pertanyaan mengerikan dalam hatinya itu tak berani diteruskan Rosa. Dia memilih untuk tak menduga-duga terlalu jauh. Rasa percayanya pada keponakannya masih besar. Karin bukanlah gadis bodoh. Dengan Eric yang masih bujangan saja dulu dia bisa menjaga diri dengan baik. Apalagi dengan pria yang masih berstatus suami orang! dalihnya dalam hati.


“Usia saya sudah tak muda lagi, Bu Rosa. Menjelang tiga puluh enam tahun. Ibu sendiri juga tahu kalau saya sejak dulu termasuk tipe pria rumahan. Kegiatan sehari-hari cuma bekerja di kantor, pulang, nge-gym, terus pulang lagi. Saya membutuhkan kehadiran seorang istri untuk melengkapi hidup ini.”


Seandainya kau bukan menantu Simon Hidayat, aku akan senang sekali dirimu mempersunting keponakanku, batin Rosa pilu. Sekarang kau datang menemuiku demi merestui hubunganmu dengan Karin. Bagaimana kalau nanti Theresia atau bahkan ayahnya tiba-tiba muncul dan memintaku memisahkan dirimu dengan keponakanku?


Oh, Tuhan! jeritnya pedih dalam hati. Menyesal sekali aku dulu menawari Karin bekerja menggantikanku sebagai sekretaris Pak Jonathan. Seandainya hal itu tak pernah kulakukan, keponakanku pasti takkan pernah terseret dalam persoalan pelik ini!


“Percayalah, Bu Rosa. Saya takkan pernah menyia-nyiakan Karin,” ucap Jonathan berusaha menenangkan hati wanita di hadapannya. Ekspresi wajah Rosa yang berubah muram cukup menjadi tanda bagi pria itu untuk membaca keragu-raguan mantan sekretarisnya itu terhadap hubungannya dengan Karin.


Sepertinya bukan dirimu yang menyia-nyiakan Karin, batin wanita itu pedih. Tapi keponakanku yang naif itulah yang menyia-nyiakan hidupnya sendiri….


***


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Tiga hari kemudian Jonathan datang ke pengadilan ditemani Lusia, pengacaranya. Theresia yang datang bersama pengacara laki-lakinya tak henti-hentinya memperhatikan gerak-gerik suaminya beserta kuasa hukumnya tersebut.

__ADS_1


Mas Jon memakai jasa pengacara perempuan, pikirnya sebal. Perasaan cemburu mulai singgah dalam hatinya. Dia tak suka Jonathan dekat dengan perempuan manapun. Hanya satu perempuan yang dipercayainya takkan merebut suaminya yang tampan itu, yaitu Rosa. Wanita itu sudah berumur dan tak mungkin dianggap menarik oleh Jonathan.


__ADS_2