Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Rujuk


__ADS_3

"Bagaimana, Mas?" tanya Theresia gamang.


Jonathan menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata. Bersatu kembali dengan There? Apakah aku bisa? batinnya ragu-ragu.


Akhirnya pria itu mengakui perasaannya pada sang istri, "Terus terang aku takut, There...."


Wanita itu beringsut mendekati suaminya. "Apa yang kau takutkan, Mas?" tanyanya ingin tahu.


Jonathan menghela napas panjang. Lalu dengan suara berat dia berkata, "Aku takut akan mengalami lagi hal-hal yang membuatku memutuskan bercerai denganmu. Aku ini sudah tidak muda lagi, There. Sudah tak sanggup lagi menghadapi kemanjaan, kebawelan, keegoisan, dan kekerasan hati seorang wanita yang tidak mau kalah, hingga akhirnya berujung pada drama yang menyedihkan. Lebih baik aku hidup seorang diri daripada harus menghadapi semua itu lagi."


Theresia tercenung. Berarti itulah perasaan Mas Jon yang sesungguhnya terhadap diriku, batinnya malu. Aku orang yang manja, bawel, egois, dan tidak mau kalah. Baiklah, aku akan merendahkan diriku dengan berjanji takkan bersikap seperti itu lagi.


"Mas Jon," ucap wanita itu sembari meraih tangan suaminya. Diremas-remasnya telapak tangan kokoh itu dengan penuh perasaan. "Aku sungguh menyesal sudah sangat menyakitimu di masa lalu. Aku benar-benar minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam."


Diciuminya punggung tangan suaminya dengan sepenuh hati. Dia sampai menangis sesenggukkan. Jonathan benar-benar tak tega melihatnya. Hatinya sungguh tersentuh dengan sikap merendah sang istri.


"Aku tahu diriku sudah tak berharga lagi di matamu, Mas. Kesalahanku dulu terlalu besar. Oleh karena itu, izinkan aku menebusnya dengan mendampingimu lagi seperti dulu. Aku berjanji akan belajar menjadi istri yang baik. Mendiang Tante Mila adalah panutanku. Tapi jika nanti aku tanpa sadar berulah lagi, tolong bersikaplah tegas. Jangan terlalu mengalah seperti dulu. Tegur aku. Bentak aku. Bahkan kalau perlu, pukullah aku. Asalkan semuanya demi kebaikan kita bersama, aku sanggup menerimanya...."


Dengan tubuh berguncang-guncang karena menangis tersedu-sedu, Theresia menjatuhkan dirinya dalam pangkuan suaminya. Jonathan mendesah. Dia akhirnya menyerah.


***


Demikianlah Jonathan dan Theresia bersatu kembali sebagai suami istri. Laki-laki itu memboyong semua barang pribadinya kembali ke rumah istrinya. Bi Sum kelihatan sumringah sekali menyambut kedatangannya.

__ADS_1


"Selamat datang kembali, Pak Jon," sapa pembantu yang setia itu ramah. "Mari saya bawakan kopernya."


"Terima kasih, Bi Sum," sahut Jonathan sambil tersenyum lebar. "Hari ini Bibi masak apa?"


Bi Sum terkekeh. "Bu Theresia sudah berpesan supaya hari ini saya masak rawon yang enak buat Pak Jonathan."


Laki-laki itu tertawa. Akhirnya dirinya kembali lagi ke rumah ini. Makan masakan buatan Bi Sum lagi. Tidur sekamar dengan Theresia lagi....


Mudah-mudahan There menepati janjinya takkan ada drama lagi, batinnya penuh harap. Seandainya hal itu terjadi lagi...aku tak dapat membayangkan apa tindakanku nanti menghadapinya!


***


Kehidupan pasangan suami-istri itu selanjutnya begitu damai dan tenteram. Hal itu sungguh di luar dugaan Jonathan. Theresia rupanya menepati janjinya untuk menjadi istri yang baik. Dia tak pernah berbicara dengan nada tinggi. Sikapnya sangat santun, hormat, dan selalu perhatian terhadap kebutuhan suaminya.


Waktu sore atau petang hari, sang istri dengan dandanan rapi selalu setia menyambut kedatangannya pulang kerja di depan pintu utama. Dibawakannya tas kerja Jonathan masuk ke dalam rumah dan menaruhnya dalam kamar kerjanya. Sementara itu suaminya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Di sana sudah tersedia handuk untuk mandi dan baju ganti buatnya.


Selesai mandi, Jonathan beranjak menuju meja makan. Theresia yang telah stand-by di sana dengan sigap mengambilkan nasi buat suaminya. Terkadang dia juga mengambil nasi bagi dirinya sendiri. Mereka lalu mengisi sendiri piring nasi  dengan lauk dan sayur yang terhidang di atas meja. Tak ketinggalan segelas teh tawar hangat kesukaan Jonathan telah disediakan istrinya di hadapan suami tercinta.


Pria itu benar-benar angkat jempol atas perubahan sikap dan perilaku istrinya yang luar biasa. Jauh berbeda dengan sewaktu mereka masih bersama dulu. Setelah dua minggu tidur di atas ranjang yang sama namun tak bersentuhan, akhirnya laki-laki itu memeluk sang istri yang tengah berbaring membelakanginya.


"Terima kasih, Sayang," bisik pria tampan itu mesra. "Dua minggu terakhir ini merupakan hari-hari yang sangat membahagiakan bagiku. Aku tahu tak mudah bagimu melakukannya. Karena itu aku sangat menghargainya, There...."


Hati sang istri berbunga-bunga sekali. Dia lega suaminya mampu melihat usaha kerasnya menjadi seorang istri yang baik. Dengan perlahan dia membalikkan tubuhnya menghadap Jonathan.

__ADS_1


"Aku bahagia berhasil menyenangkan hatimu, Mas Jon," ucapnya tulus. "Kumohon izinkan aku melakukannya terus untukmu. Selama-lamanya...."


Jonathan merasa terharu sekali. Tangannya membelai-belai lembut wajah cantik sang istri. Dengan sepenuh hati laki-laki itu mengangguk. Lalu dimajukannya wajahnya. Diciuminya bibir Theresia. Wanita itu menitikkan air mata.


Akhirnya Mas Jon menciumku sebagai Theresia, bukan perempuan lain..., batinnya penuh syukur. Disambutnya ungkapan kasih sayang suaminya itu sepenuh hati. Akhirnya pasangan suami-istri itu bersatu sepenuhnya secara jasmani dan rohani.


***


Kehidupan rumah tangga pasangan yang berbahagia itu semakin berwarna ketika beberapa bulan kemudian Theresia membawa seorang bayi mungil ke dalam rumahnya. Waktu itu Jonathan baru pulang dari kantor. Ia heran sekali mendapati istrinya tidak menyambut kedatangannya di teras depan seperti biasa.


"Di mana Bu Theresia, Bi Sum?" tanya pria itu pada pembantu rumah tangga yang menyambutnya di teras. Perempuan setengah baya itu tersenyum. Dia menjawab singkat, "Bu Theresia ada di dalam kamar, Pak Jon."


"Oh, tumben. Apakah istriku sakit?" tanya Jonathan kuatir.


"Oh, tidak, Pak Jon. Bu Theresia berpesan supaya Bapak mandi dulu baru menemuinya di kamar. Ada kejutan. Hehehe...," jawab Bi Sum penuh teka-teki.


Meskipun merasa penasaran, Jonathan memutuskan untuk mematuhi saja pesan istrinya tersebut. Dia bergegas mandi lalu masuk ke dalam kamar tidurnya. Alangkah terkejutnya laki-laki itu melihat istrinya tengah menimang-nimang seorang bayi mungil yang kelihatan masih merah!


"Anak siapa ini, Sayang?" tanyanya antusias. Dia takjub sekali menyaksikan betapa luwesnya sang istri menggendong si bayi sambil bersenandung merdu.


"Anak kita, Mas," jawab Theresia dengan wajah berseri-seri. "Aku sudah lama memesannya di panti asuhan, tapi tidak memberitahumu. Kupikir buat kejutan. Hehehe.... Orang tua kandungnya sudah mempunyai dua orang anak dan kehidupan mereka prihatin sekali. Anak  ini didaftarkan di panti asuhan sejak masih dalam kandungan agar bisa diadopsi oleh orang tua yang membutuhkan."


"Cantik sekali," komentar suaminya takjub. Dia sungguh terpesona, bagaikan jatuh cinta pada pandangan pertama.

__ADS_1


Theresia menatapnya heran. "Bagaimana kamu tahu ini anak perempuan, Mas? Padahal selimutnya berwarna hijau muda, warna netral. Aku sudah membelikannya baju-baju dan aksesoris serba pink , ungu, kuning, dan warna-warna girly lainnya. Tapi masih dicuci sama Bi Sum."


__ADS_2