
Jonathan lalu menyiapkan piring kosong, sendok, dan garpu untuk istrinya.
“Mau kuambilkan nasi atau kamu ambil sendiri, Yang?” tanya laki-laki itu sabar.
Yang ditanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Aku nggak mau makan sendiri,” sahutnya ketus.
“Ok. Kusuapin, ya. Sebentar kutiup dulu, masih panas soalnya.”
Setelah meniup pelan-pelan nasi campur rawon diatas sendok makan, Jonathan lalu menyuapi istrinya. Tiba-tiba Theresia menyemburkan makanan yang sudah berada di dalam mulutnya itu ke muka suaminya. Jonathan sampai terkejut sekali.
“Rawon apa ini?! Asin sekali!”
Jonathan mencicipi nasi rawon di piringnya. Tidak asin. Enak kok, seperti masakan Bi Sum biasanya. Kemudian dilihatnya istrinya yang tersenyum sinis memandang mukanya yang belepotan nasi rawon. Sorot matanya tampak senang melihat suaminya dalam keadaan berantakan seperti itu.
Dia sengaja melakukannya untuk mempermalukanku! batin laki-laki itu geram. Cukup sudah…. Aku benar-benar tak tahan lagi.
__ADS_1
Laki-laki yang sudah habis kesabarannya itu lalu bangkit berdiri meninggalkan istrinya di meja makan. “Hai, Brengsek! Mau ke mana, kau? Aku masih lapar!” teriak wanita itu belum puas.
Tak lama kemudian Jonathan datang kembali menghampirinya dengan wajah yang sudah dicuci bersih. Ia berkata tegas, “It’s over, There. Aku sudah nggak sanggup lagi hidup denganmu. Saat ini juga aku akan membawa barang-barangku pergi dari rumah ini. Besok aku akan mengajukan gugatan cerai di pengadilan. Selamat tinggal!”
Theresia bagaikan disambar geledek mendengar ucapan berwibawa suaminya barusan. Dia langsung berdiri dan memukul-mukuli dada Jonathan yang bidang sambil berteriak-teriak, “Bajingan kau, Jonathan! Kau mau menceraikanku supaya bisa bebas main gila sama si Mimin itu, kan?! Baru kemarin kalian bertemu kembali, sekarang kau sudah berani melawanku. Apa yang dipunyai perempuan itu yang tidak kumiliki? Apa kekuranganku dibandingkan dia?! Ayo, jawab. Jawab!”
Laki-laki itu malas meladeni emosi istrinya yang semakin meledak-ledak. Didorongnya perempuan itu hingga jatuh tersungkur ke lantai. Tapi entah seperti mendapat kekuatan dari mana, Theresia segera bangkit berdiri dan mengejar suaminya yang berjalan cepat menuju ke kamar tidur mereka untuk mengemasi barang-barang pribadinya. Ditariknya kaos yang dipakai laki-laki itu dan dipukulinya punggung kokoh itu tanpa ampun. Jonathan yang melihat istrinya semakin beringas akhirnya membalikkan badannya dan menampar keras wajah perempuan itu.
Theresia terperangah. Baru pertama kali ini dalam sepuluh tahun pernikahannya dia dipukul oleh Jonathan. Wanita itu bagaikan sedang bermimpi. Dia terpaku lama sekali. Suaminya mengambil kesempatan itu untuk segera berlari menuju ke kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Ia ingin secepatnya mengemasi barang-barang pribadinya dan segera menyingkir dari rumah neraka itu.
Aduh, ternyata barangku banyak juga, ya, keluh laki-laki itu dalam hati. Sepertinya perlu dua koper besar ini. Mudah-mudahan There nggak datang menggedor-gedor pintu. Aku bisa nggak konsentrasi mengemasi semuanya nanti.
Habis mau bagaimana lagi?! ucapnya membela diri dalam hati. Kalau tidak kutampar, dia akan semakin beringas memukuliku. Meskipun tidak begitu sakit karena tenaga seorang wanita, tapi aku sudah merasa tidak tahan diperlakukan secara semena-mena selama ini. Harga diriku sudah hancur, martabat sudah tidak ada. Aku bisa mati kena serangan jantung kalau tetap bertahan di sisinya. Kedua orang tuaku memang sudah tiada dan aku tidak mempunyai saudara. Tetapi hidupku masih bisa berguna untuk melakukan banyak hal daripada terus-terusan meladeni istri yang sudah tak punya akal sehat!
“Selesai sudah,” gumam Jonathan puas. Dua buah koper besar sudah penuh terisi barang-barang pribadinya. Tak ada satupun yang ketinggalan. Cuma tinggal tas kerja berisi berkas-berkas yang tadi ditaruhnya di atas sofa ruang keluarga. Nanti dia tinggal menggamitnya sekalian waktu ke luar rumah. Dialihkannya pandangannya ke arah jam dinding. Wah, aku tadi menghabiskan waktu setengah jam lebih untuk berkemas! Tumben There bisa diam selama itu dan tak menggangguku sama sekali? pikirnya heran.
__ADS_1
“Masa bodoh,” ujarnya sembari melepaskan pakaian santainya dan menggantinya dengan yang lebih sopan. Dia akan menginap untuk sementara waktu di hotel yang dekat dengan pabrik catnya. Jadi besok dia tidak usah bangun terlalu pagi untuk berangkat ke kantor.
Besok aku akan menemui Papa di rumahnya dan mengundurkan diri dengan baik-baik. Tetapi aku berjanji akan menyelesaikan semua permasalahan di pabrik terlebih dahulu baru keluar dengan hormat, pikirnya bijaksana. Ia sangat menghormati Simon Hidayat, ayah mertuanya yang mempercayakan perusahaan-perusahaannya dikelola olehnya semenjak laki-laki tua itu memutuskan untuk pensiun tiga tahun yang lalu. Ayah kandung Theresia itu menikah lagi dengan seorang janda tanpa anak yang dulu pernah menjadi kekasihnya semasa muda.
“Siap sudah,” ujar Jonathan puas menatap bayangan dirinya di depan cermin. Mulai sekarang aku akan menjalani hidup baru. Bebas, lepas, merdeka! Stop menjadi bodyguard, pelayan, maupun jongos Theresia Hidayat!
“Selamat tinggal, Sayangku,” ucapnya lembut seraya menatap foto pernikahannya yang tergantung di dinding. “Aku sebenarnya nggak sampai hati meninggalkanmu seorang diri. Tapi aku berhak menikmati kehidupan yang nyaman dan tenteram. Hidup bersama dirimu itu bagaikan naik roller coaster. Aku selalu merasa cemas, deg-degan, dan tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menyenangkan hatimu. Rasanya luar biasa capek, Sayang….”
Selanjutnya laki-laki yang merasa beban di hatinya mulai berkurang itu membuka pintu dan menggiring kedua koper besarnya keluar dari kamar.
“Kamu mau pergi ke mana, Jonathan?” tanya sebuah suara berat yang sangat dikenalnya.
“Papa!” serunya terperanjat. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki berkepala botak dan berkaca mata yang menatapnya dengan sorot mata yang sukar dideskripsikan maknanya. Pantas, gerutu Jonathan dalam hati, Theresia nggak kedengaran suaranya. Rupanya dia menelepon ayahnya untuk menghadapiku. Dasar anak manja!
Ia celingukan mencari-cari istrinya yang tak kelihatan batang hidungnya.
__ADS_1
“There sedang berada di kamar tamu bersama Mila,” ujar lelaki tua yang rupanya adalah Simon, ayah kandung There, tenang. Mila adalah istri keduanya. Theresia sebenarnya tidak terlalu menyukai perempuan itu karena tidak rela posisi mendiang ibunya digantikan oleh siapapun. Namun karena ayahnya membutuhkan seorang pendamping hidup terutama sejak menjalani operasi bypass jantung tiga setengah tahun yang lalu, istri Jonathan itu akhirnya mengalah. Hatinya tersentuh menyaksikan betapa telatennya Mila merawat ayahnya waktu dalam keadaan tak berdaya. Pernikahan mereka dilaksanakan secara sederhana di gereja dan diresmikan secara hukum
Hubungan antara Theresia dan ibu tirinya tidak terlalu dekat. Namun dia tidak berani menyalahi pendamping hidup ayahnya itu, karena tahu Simon sangat menyayangi Mila. Mereka pernah berpacaran semasa muda namun berpisah baik-baik karena keluarga Simon tidak menyukai latar belakang perempuan itu yang yatim piatu dan tidak jelas bibit, bebet, dan bobotnya.