Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Karin Menyadari Perasaannya


__ADS_3

“Oya Mbak, unit ini menghadap ke mana, ya?”


“Selatan, Pak. City view.”


Jonathan melangkah ke arah jendela di ruang keluarga. Terlihat pemandangan jalan raya yang macet dan gedung-gedung tinggi. Kalau malam hari, pasti telihat lebih indah karena lampu-lampu yang memancar dari gedung-gedung dan mobil-mobil, gumamnya dalam hati. Lagipula aku sebenarnya lebih membutuhkan tempat tinggal yang tenang daripada melihat view macam-macam. Apartemen ini letaknya paling ujung, jadi kurasa suasananya paling tenang.


“Berapa tarif sewa nett-nya kalau saya menyewa unit ini selama dua tahun, Mbak?” tanyanya ingin tahu.


Sang karyawati menyebutkan nominal yang diinginkan oleh pemilik unit tersebut. Jonathan mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia berkata budget-nya tidak sampai segitu. Lalu pria itu menyebutkan nominal yang dikehendakinya dan menunggu jawabannya selambatnya besok sebelum jam dua belas siang.


“Maaf, Pak,” ujar sang karyawati sambil mengernyitkan dahinya. “Interior unit ini kualitasnya sedikit diatas tiga unit sebelumnya yang tadi saya perlihatkan. Jadi sepertinya agak berat deal di angka yang Bapak ajukan. Tapi saya akan tetap menyampaikannya kepada pemilik supaya dipertimbangkan. Jadi besok sebelum jam dua belas siang harus sudah ada jawaban ya, Pak?”


“Betul, Mbak. Karena saya butuh cepat. Seandainya besok belum ada jawaban atau sang pemilik tidak menyetujui penawaran saya, maka pada jam makan siang saya akan keliling apartemen-apartemen lainnya. Besok kita tidak ada meeting kan, Rin?” tanya sang bos sembari menatap sekretarisnya penuh arti.


Karin yang memahami taktik negosiasi pimpinannya segera mengangguk mengiyakan. “Besok dan lusa sama sekali tidak ada meeting, Pak. Jadi siang hari kita punya banyak waktu untuk survey-survey apartemen di lokasi yang Bapak inginkan,” sahut gadis itu mantap.


Jonathan mengangguk setuju. Kemudian dia berpaling kepada karyawati yang termangu memandangnya. “Saya kira sudah cukup kita melihat-lihat, Mbak. Saya tunggu kabarnya besok, ya,” ucapnya sambal tersenyum manis.


“Baiklah, Pak. Besok sebelum jam dua belas siang akan saya kabari perkembangannya. Oya, seandainya jadi menyewa unit ini, maka ada beberapa ketentuan umum yang harus disepakati oleh kedua belah pihak ya, Pak.”


“Maksudnya bagaimana? Tolong dijelaskan lebih detil.”


“Seperti biaya-biaya PBB, air, listrik, service charge, dan kerusakan-kerusakan yang mungkin timbul selama masa sewa ditanggung oleh pihak penyewa. Serta ada jaminan sebesar sepuluh persen dari total nilai sewa yang dititipkan penyewa kepada pemilik selama masa sewa. Nanti saat masa sewa berakhir dan tidak ada tanggungan biaya-biaya yang saya sebutkan tadi, maka jaminan sepuluh persen tersebut akan dikembalikan sepenuhnya kepada pihak penyewa.”


“Baiklah, saya mengerti. Tidak menjadi masalah. Karena itu prosedur standar setiap transaksi sewa-menyewa.”


“Baiklah kalau begitu. Besok saya kabari ya, Pak.”

__ADS_1


Jonathan mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu dia mengajak Karin keluar dari apartemen tersebut dengan diikuti oleh sang karyawati property management di belakangnya.


***


“Sekarang kita pergi ke mana, Pak?” tanya Karin begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


“Kembali ke kantor. Sudah sore. Atau kamu ada rencana mau pergi ke mana?” balas Jonathan balik bertanya.


Sang sekretaris tergelak. “Ini kan masih jam kerja, Pak. Jadi waktu saya sepenuhnya milik Bapak.”


Tiba-tiba gadis itu terkejut sendiri dengan ucapannya. Jangan-jangan bukan waktuku saja yang sepenuhnya milik Pak Jon, tapi hatiku juga…, batinnya malu. Wajahnya tiba-tiba bersemu merah.


Jonathan yang tidak menyadari perubahan ekspresi gadis yang duduk di sampingnya sibuk ngoceh sendiri, “Kurasa hari ini sudah cukup kita berkeliling. Besok kalau tidak ada kabar atau penawaranku ditolak, tolong kamu temani aku survey apartemen lainnya, ya. Kalau sempat juga  mencari pengacara untuk menangani kasus perceraianku. Hmm…, coba nanti kutanyakan pada Mimin. Siapa tahu pengacara yang mengurus perceraiannya dulu mau menangani kasusku.”


Karin diam saja tak menanggapi kalimat-kalimat bosnya. Tiba-tiba dia menyadari sudah jatuh hati pada pria yang sedang mengemudi di sebelahnya ini. Aduh, bagaimana ini? Tante Rosa bisa marah kalau tahu aku menyukai Pak Jon. Beliau sudah wanti-wanti agar aku bersikap profesional seperti dirinya dulu ketika bekerja pada Pak Simon, pikirnya panik. Tak sekalipun mereka pernah terlibat hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan.


Tapi namanya perasaan, siapa yang sanggup mengaturnya seratus persen? kilahnya membela diri. Lagipula Pak Jon sebentar lagi akan menjadi duda. Nggak ada salahnya kan kalau dia menjalani hidup baru dengan perempuan lain?


Aduh, jangan bodoh, Karin! Sadarlah, dirimu ini siapa? Cuma gadis bau kencur yang berasal dari keluarga sederhana. Berani-beraninya menaruh hati pada pria yang matang, mapan, dan sukses seperti Jonathan Aditya! Banyak perempuan yang kualitasnya jauh diatas dirimu yang bisa menarik hati pria ini!


Saking peningnya dengan pikirannya yang berkecamuk sendiri, gadis itu sampai menundukkan kepalanya. Kedua tangannya memegang kepalanya berusaha mengenyahkan ide-ide tentang Jonathan yang menggerogoti benaknya.


“Kamu kenapa, Karin? Sakit kepala?” tanya Jonathan keheranan melihat sikap sekretarisnya itu. Tiba-tiba dia merasa sangat kuatir akan kesehatan gadis itu.


“Oh, nggak apa-apa, Pak. Cuma agak capek saja.”


“Oh, kalau begitu besok saya pergi sendiri saja. Sori ya Rin, sudah bikin kamu kelelahan.”

__ADS_1


“Saya nggak apa-apa kok, Pak. Beneran. Besok saya menemani Bapak pergi lagi, ya.”


“Beneran nggak apa-apa?”


Si gadis mengangguk sambil memandang bosnya dengan tatapan sendu. Aku akan ikut kemana pun kau pergi, batinnya penuh cinta. Sampai ke ujung dunia pun tak masalah….


Jonathan terkesima melihat cara Karin menatap dirinya. Itu tatapan seorang gadis yang sedang jatuh cinta! pekiknya dalam hati. Tiba-tiba sebuah perasaan bahagia menyeruak dalam sanubarinya. Tapi kemudian ditekannya agar tidak ketahuan oleh gadis di sampingnya.


“Kamu sekarang kalau datang ke kantor naik apa, Rin?” tanyanya berusaha tenang.


“Naik mobil Tante Rosa, Pak. Beliau kan sudah pindah ke rumah Om Bernard. Mobilnya dipinjamkan pada saya.”


“Jadi kamu sekarang tinggal di rumah sendirian?”


“Iya, Pak.”


“Nggak takut?”


“Nggaklah, Pak. Udah biasa. Dulu waktu masih pacarana sama Om Bernard, Tante Rosa juga jarang pulang, kok.”


“Oh, begitu.”


Jonathan manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba dia merasa penasaran akan sesuatu.


“Eric suka datang mencarimu, Rin?”


Sang gadis terperangah. Ngapain tiba-tiba Pak Jon bertanya tentang mantan kekasihku? pikirnya penuh tanda tanya. Ia lalu menjawab dengan enggan, “Beberapa kali, Pak. Tapi saya tidak mau menemuinya. Tante Rosa lalu bicara baik-baik agar dia tidak datang mencari saya lagi.”

__ADS_1


“Ehm…, boleh tahu kenapa hubungan kalian berdua jadi nggak enak begini?


Karin menghela napas panjang. Dengan berat hati gadis itu berkata lirih, “Dia tidur dengan perempuan lain sewaktu kami masih pacaran, Pak.”


__ADS_2