Cinta Yang Terenggut

Cinta Yang Terenggut
Pakai Logika


__ADS_3

“Aku percaya padamu, There. Kulihat kau sudah berubah sekarang. Lebih dewasa, tenang, dan mandiri,” puji pria itu terus terang. Tatapan matanya menunjukkan kesungguhan ucapannya.


Theresia tersenyum kecut. “Maafkan aku sudah menyusahkanmu selama ini. Syukurlah ada Karin yang setia mendukungmu. Kau bisa bangkit kembali dan kelihatan jauh lebih bahagia dibanding waktu dulu bersamaku.”


Jonathan bagaikan disambar geledek mendengar ucapan istrinya. Sebelum dia sempat menjawab, Theresia langsung berkata, “Aku sudah tahu tentang hubunganmu dengan Karin. Tidak apa-apa, Mas Aku bisa mengerti kenapa kau lebih menyukainya dibandingkan diriku. Semuanya terjadi akibat kesalahanku sendiri. Sekarang aku sudah sadar. Kepergian Papa telah membuat mata batinku terbuka. Terima kasih selama ini sudah menjadi suami yang baik dan sabar ya, Mas. Maafkan sekali lagi segala kesalahanku padamu.”


Tutur kata wanita itu yang begitu tenang membuat pria di hadapannya melongo tak percaya. Inikah There yang selama sepuluh tahun menjalani biduk rumah tangga bersamaku? Aku seperti tak mengenalinya lagi, cetusnya kebingungan dalam hati. Ternyata kepergian Papa yang begitu tiba-tiba merupakan pukulan telak bagi There sehingga sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat!


Theresia mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis “Mulai sekarang kita berteman ya, Mas. Kudoakan hubunganmu dengan Karin langgeng sampai ke jenjang perkawinan.”


“Te…terima kasih, There,” jawab Jonathan terbata-bata sambil menerima uluran tangan istrinya. Dia tidak tahu istrinya itu mati-matian berperang dengan perasaannya sendiri mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar bijaksana tadi. Dada Theresia berdesir saat tangannya bersentuhan dengan tangan pria yang masih sangat dicintainya itu.


“Aku dan Tante Mila mau pulang sekarang, Mas,” ucapnya lekas-lekas sebelum hatinya semakin hancur. “Terima kasih sudah hadir di pemakaman Papa. Beliau pasti bahagia kau masih bersedia meluangkan waktu demi memberikan penghormatan terakhir baginya.”


“Sama-sama, There. Kau tahu sendiri, selama ini aku selalu menganggap Papa bagaikan ayah kandungku sendiri. Beliau juga memperlakukan aku dengan baik seperti putranya sendiri.”


Theresia mengangguk setuju. Selanjutnya dia berbalik dan melangkah meninggalkan suaminya yang berdiri terpaku menatapnya. Blessing in disguise, cetus Jonathan dalam hati. Di balik sebuah musibah selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Setelah kepergian Papa, kepribadian Theresia berubah menjadi lebih baik. Aku turut bersyukur karenanya. Semoga kedewasaannya ini tidak bersifat sesaat saja.

__ADS_1


Pria itu lalu membalikkan badan kekarnya dan berjalan ke arah mobilnya diparkir. Dia tak menyadari istrinya tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan memperhatikannya dari belakang.


Mas Jon, maafkan aku terpaksa membohongimu, ucap Theresia dalam hati. Aku juga tidak menuruti permintaan Papa agar mengikhlaskan dirimu. Sungguh aku tak mampu. Kali ini akan kurebut cintamu dengan cara yang lebih baik. Menggunakan logika, bukan sekedar emosi….


***


Jonathan langsung kembali ke apartemennya. Dia merasa lelah sekali. Tiba-tiba kerinduannya pada Karin menyeruak. Akhir-akhir ini gadis itu agak diabaikannya karena dia sibuk membantu persemayaman dan pemakaman Simon. Sekarang semuanya sudah selesai. Dia akan menelepon gadis itu dan menceritakan kabar baik yang didengarnya langsung dari mulut Theresia tadi.


“Halo, Sayang. Kamu masih di kantor?” tanyanya ketika sang kekasih menerima teleponnya.


“Ya, Mas. Kamu ada di mana? Sudah selesai acara pemakamannya?” balas Karin balik bertanya.


“Aku kebetulan bawa mobil hari ini. Ya nanti sehabis dari kantor aku langsung ke sana saja, Mas. Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Kasihan kecapekan.”


“Kangen pijatanmu, Sayang,” goda Jonathan genit.


Terdengar suara di seberang sana tertawa keras. Ini adalah salah satu sifat Karin yang sangat disukai Jonathan. Suka tertawa meskipun karena hal-hal kecil. Bersama gadis itu membuat hatinya merasa aman, nyaman, dan terhibur.

__ADS_1


“Ya, nanti tunggu aku datang kasih kejutan, ya. Sekarang aku lanjutin kerjaan dulu, ok? Bye.”


“Bye, Sayang.”


Jonathan meletakkan ponselnya dengan hati begitu ringan. Rasanya ia ingin segera membagi kebahagiannya dengan kekasih tercinta. Karin pasti senang mendengar There sudah merestui hubungan kami dan takkan mengulur-ulur perceraian lagi, batinnya penuh sukacita. Akhirnya setelah melalui jalan yang berlika-liku, aku Jonathan Aditya bisa bersatu dengan gadis yang kucintai. Terima kasih, Tuhan.


***


Petang hari, Karin tiba di apartemen sang kekasih. Dia bisa masuk sendiri karena sudah diberi kunci cadangan oleh Jonathan sejak pertama kali mereka memadu kasih. Dalam seminggu  gadis itu bisa beberapa kali mampir di tempat tinggal pujaan hatinya ini. Mereka tak pernah bercengkerama di rumah Rosa yang ditempatinya seorang diri. Dia merasa sungkan kalau tantenya itu memergoki dirinya berduaan dengan Jonathan.


Walaupun wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu berusaha bersikap bijaksana dengan tidak menentang hubungan mereka, namun hati kecil Karin dapat merasakan kebimbangan tantenya itu dalam memberikan restu. Bagaimanapun juga Jonathan masih berstatus menantu Simon Hidayat. Pria yang selama dua puluh tahun lebih mempekerjakan Rosa. Memberinya gaji sehingga bisa hidup layak dan bahkan membiayai Karin semenjak ditinggal berpulang kedua orang tuanya. Secara tidak langsung gadis itu berhutang budi pada Simon. Jadi  bagaimana Rosa bisa sepenuh hati merestui hubungan keponakannya dengan pria yang masih berstatus suami sah Theresia, putri kandung Simon?


Karin menghela napas panjang. Ya Tuhan, mudah-mudahan proses perceraian Mas Jon segera selesai dan restu Tante Rosa kami peroleh, doa gadis itu dalam hati. Jujur saja aku lama-lama merasa tak tenang menjalin hubungan cinta dengan pria yang masih resmi berstatus suami perempuan lain. Bagaimanapun juga pasti akulah yang disalahkan dalam cinta segitiga ini. Posisiku yang paling lemah. Orang-orang yang tidak mengerti duduk persoalannya bisa menganggapku perebut suami orang.


Setelah meletakkan bungkusan berisi nasi dan sup ayam yang dibelinya untuk makan malam bersama sang kekasih, Karin masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan. Lalu dia melangkah ke arah lemari dapur untuk mengambil dua buah piring kosong. Piring-piring itu diisinya dengan nasi. Kemudian dimasukkannya sup ayam ke dalam sebuah panci berukuran sedang. Setelah semuanya ditata dengan rapi di atas meja, gadis itu beranjak masuk ke dalam kamar tidur Jonathan.


Dilihatnya pria yang sangat dicintainya itu tengah tidur nyenyak. Lampu kamar dibiarkannya menyala. Begitulah kebiasaan Jonathan kalau bermaksud tidur sebentar. Kalau mau tidur malam, barulah lampu dimatikan.

__ADS_1


Karin memperhatikan wajah tampan kekasihnya. Mas Jon pulas sekali tidurnya, komentarnya dalam hati. Dengkurannya yang halus terasa merdu di telingaku. Ya Tuhan, seandainya usiaku sepuluh tahun lebih tua dan Mas Jon belum menikah, siapakah yang akan dipilih olehnya? Aku atau Bu Theresia? batinnya penuh tanda tanya.


__ADS_2